Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
37. Kencan (6)


__ADS_3

"Mami pasti lagi gosipin aku kannnnnn....." El muncul dari dapur.


"Yakin banget kamu...." mami mencibir El.


"Itu kok cuma minuman? Makanannya mana?" mami protes saat melihat secangkir teh hangat.


"Emmm..." El tampak ragu untuk mengatakannya. "Tadi Luna sama El udah makan banyak banget, mi. Pasti Luna masih kenyang, soalnya perut El juga masih kerasa penuh."


"Benar begitu, Luna?" Luna mengangguk. "Wah, padahal mami tadi siang habis buat cheesecake loh..."


Luna langsung menatap mami.


Cheesecake....


Luna menatap El yang duduk di sebelahnya. El balas menatap Luna. Luna mencoba mengirim telepati ke El.


Mau, mau, mau. Luna mau cheesecake.


Tapi El tidak bergeming.


Ish, kok dia ga bisa baca pikiran gue, sih??? Biasanya bisa...


Luna menoel El dengan ujung jari telunjuknya. "Kak..."


"Kenapa?" El melihat wajah Luna tersipu.


"Mau..." Luna mengucap pelan sambil menarik ujung baju El.


"Hm?" El masih belum nyambung. "Apa?"


"Mau..." Luna merasa wajahnya memanas saking malunya.


"Mau apa?" El masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Mau..." Luna mendekat ke telinga El dan berbisik, "kue..."


"OH!" El akhirnya mengerti. "Kamu mau kue?"


Luna mengangguk malu-malu. Masih memegang ujung baju El.


Ya ampun... Dia terlalu imut. Sekarang akhirnya terbongkar alasan kenapa El tergila-gila sama Luna. Keimutannya tidak tertahankan...


Mami mengambil foto Luna dan El diam-diam. Untuk koleksi pribadi.


"Tunggu sini, kakak ambilin." El beranjak dari sofa dan menuju ke dapur lagi.


"Luna," mami El menghampirinya. "Foto bareng mami, yuk." Mami langsung mengarahkan kamera ponselnya ke mereka berdua tanpa menunggu persetujuan Luna. Mami mengambil beberapa foto.


Tak lama El datang membawa sebuah piring berisi 5 potong kue.


Luna mengambil sepotong dan mencobanya. Matanya langsung berbinar bahagia.


"Bu," Luna menggenggam tangan mami tanpa sadar. "Ini enak banget..."


"Luna belum pernah makan ini, kalau lihat di TV sih sering. Ternyata rasanya seenak ini!" Dia berseru senang.


"Kamu belum pernah makan ini?" Mami El bingung.


Luna menggeleng. "Kalau kue bolu sama brownies pernah. Tapi kalau kue yang cantik begini belum pernah."


El, kamu sepelit itu sampai ga pernah beliin kue?


Dan Luna menghabiskan semuanya dalam waktu kurang dari 10 menit.


Kok perutnya masih muat ya? El.


Aku masih mau lagi. Luna.

__ADS_1


Luna mencoba telepati ke El lagi. Tapi gagal.


Entah kenapa gagal. Apa mungkin karena dia sedang ada di rumah El jadi ada gangguan sinyal?


Karena bosan mencoba telepati, Luna memutuskan untuk menonton TV saja.


Mami sedang menonton drama dengan serius sambil sesekali makan cookies di toples yang ada di meja.


El bosan menonton drama, dia mulai protes. "Mi, ganti dong. Masa nonton beginian terus, ga bosen apa?"


"Berisik, El..." mami mengacuhkan El.


Tuk.


Kepala Luna terkulai ke mami El. Dia tidur nyenyak karena lelah dan kenyang.


"Kok ke mami sih??" El protes lagi. "Kenapa ga ke El bersandarnya?"


"Sssttt...! Kamu berisik banget sih, El." Mami membelai kepala Luna.


Harusnya gue yang di situ!


El sangat kesal.


Mami merebahkan kepala Luna ke pangkuannya agar Luna bisa tidur dengan nyaman kemudian mengelusnya lembut.


Mami menyadari El yang menatapnya sebal.


"Udah, kamu naikin aja kakinya tuh. Kasian nanti dia pegel..." Mami menunjuk kaki Luna.


Bersambung...


EPILOG

__ADS_1


"Jadi sekarang mami lebih sayang Luna daripada El?!"


"Iya,"


__ADS_2