Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 18


__ADS_3

Chapter 18: Tidur


"Aku belum mau mati muda, itu saja alasannya." -Luna-


Luna was-was menunggu El pulang, tapi ternyata El tidak kembali dan dia ketiduran di sofa saat sedang belajar. Dan lagi-lagi saat ia terbangun, ia sudah ada di atas ranjang. Apa dia berjalan sambil tidur?


Keesokan malamnya hal yang sama terjadi lagi. Dia sungguh penasaran. Luna bertekad untuk tidak tidur malam ini, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi karena pengaruh obat tidur terkuat (baca: belajar), Luna ketiduran lagi.


"Hmmmm.. harus ngapain biar ga ketiduran?" gumam Luna saat istirahat.


"Ngapain emang? Jangan bilang belajar?" tanya Jessika curiga.


"Minum kopi," jawab Tyo.


"Kalau gue sih minum vitamin C," jawab Reina.


"Gue mah, makan. Kalau sambil ngemil biasanya ga ngantuk," jawab Tiara.


Sekarang semua beralih ke Jessika, satu-satunya orang yang belum menjawab.


"Kalau gue mah.... Ngapain begadang, tidur aja," ucap Jessika.


"Elah..." mereka mendecak bersamaan.


Malamnya, Luna mencoba saran teman-temannya, sekaligus.


Dia sudah membuat kopi, vitamin C, dan makan cemilan. Tapi tepat jam 11 dia malah tumbang karena kekenyangan.


"Gimana caranya?!" Luna berteriak frustasi saat sedang berlatih di studio Alex.


"Cara apaan?" tanya Alex bingung.


"Cara biar ga ketiduran, elo tau?" tanya Luna.


"Elo mau begadang? Ngapain? Belajar? Mending tidur aja daripada elo sakit," jawab Alex.


"Elo, tidak, membantu." Luna mendecak kesal.


Alex menghela nafas. "Elo pasti ketiduran kalau sambil belajar. Coba sambil main ponsel, pasti terang mata elo...."


"Hmmmm... gue coba ya, entar malem, awas kalau ga berhasil," ucap Luna.


"Lah, kenapa elo jadi ngancem gitu?" cibir Alex. "Gue kan cuma kasih saran," ucapnya.


Keesokan harinya Luna datang sambil mencak-mencak. "Gue tetep ketiduran!" protesnya pada Alex.


"Luar biasa, elo sekebo itu?" Alex menggeleng tak percaya.


"Diem Lo! Tidak membantu!" Luna mendengus kesal.


"Coba, elo tidur dulu sebentar siangnya atau sore. Gue jamin, entar malemnya elo pasti kebangun dan ga bisa tidur," ucap Alex.


Luna langsung berdiri. "Oke, kalau gitu gue balik dulu. Bay!" Luna langsung menghilang dari pandangan.


"Kita mau take hari ini woy!" seruan Alex tak didengar Luna. "Elo ga mau duit, heh?!"


Kata 'duit' berhasil membuat Luna berbalik. "Tapi jangan sampai malem ya? Sejam aja please?" pinta Luna.

__ADS_1


"Sepuluh menit beres kalau elo bisa perfect," jawab Alex.


Jam 6 sore....


Sepuluh menit apaan?! Alex emang biang anzeyyy....!!!


Sesampainya di rumah, Luna langsung tidur. Dia bahkan tidak mengganti seragam dan mencopot kaus kakinya. Dia bisa melakukannya nanti setelah bangun. Sekarang, tidur lebih penting karena dia harus melotot nanti malam.


Tengah malam, El baru pulang ke rumah. Dia sangat lelah. Semalam apa pun, dia selalu pulang ke rumah untuk melihat Luna. Memangnya untuk apalagi?


El membuka pintu dan melihat Luna yang terbaring di atas kasur masih dengan seragam lengkap dengan kaus kakinya.


Kenapa dia ga ganti baju? Apa dia selelah itu, langsung tidur begini?


El mencopot kaus kaki Luna dan menyelimutinya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju.


Luna terbangun kaget, dia langsung mencari ponsel dan melihat jam. Jam 1 pagi. Dilihatnya sekeliling, tidak ada El. Luna masuk kamar mandi untuk ganti baju, dia mau makan setelah ini karena perutnya keroncongan belum makan malam.


Saat masuk kamar mandi, Luna merasa ada yang hilang. Sepertinya tadi dia pakai kaus kaki, apa dia lupa?


Memutuskan untuk tidak perduli, Luna turun ke dapur dan membuat mi instan yang dia temui di lemari. Luna makan dengan tenang dan menyeruput teh hangatnya bahagia, sampai dia mendengar suara, seperti suara pintu terbuka.


Suara apa itu?!


Ini sangat menyeramkan, Luna bisa mendengar langkah kaki juga. Sangat gelap, dia tidak bisa melihatnya karena hanya lampu dapur yang menyala. Luna mau menyalakan lampu, tapi dia terlalu takut untuk bergerak. Luna berharap makhluk apapun itu nanti akan terlihat kalau sudah di dekatnya.


"Luna..."


"AAAAAAAAAA!!!!" Luna berteriak ketakutan dan bisa merasakan sesuatu langsung menariknya dan menutup mulutnya.


"Sssttt! Luna, ini kakak..." ucap El.


Lampu-lampu langsung menyala dan orang-orang mulai berdatangan.


"Astaga...." Mami yang sebelumnya sudah panik langsung mendesah panjang dan berbalik pergi. Ternyata cuma anak dan menantunya yang sama-sama bocah pembuat keributan.


Penghuni lain pun mengikuti mami melangkah kembali ke tempat masing-masing.


"Maaf, kamu kaget ya?" tanya El melonggarkan pelukannya.


Luna mengangguk dengan air mata berderai. "A-a-aku kira hantu..." suara Luna masih bergetar ketakutan.


"Duduklah, minum dulu." El memberikan segelas air. Luna meminumnya perlahan dan mulai tenang. "Habiskan makanan kamu," ucap El. Luna mengangguk dan melanjutkan makannya sambil terisak.


"Tidurlah lagi, masih malam. Kakak antar ke kamar," ucap El.


Luna tersentak, dia baru menyadari sesuatu. "Tunggu di sini sebentar, kak," pintanya. Luna berlari naik ke kamar lalu kembali lagi secepat yang ia bisa. Luna merasa lega melihat El masih di tempat yang sama.


Luna memegang gitarnya erat, lalu mulai membuat alunan untuk menyanyikan lagu berjudul Maaf yang dipopulerkan oleh Jikustik.


🎤Kau, menyisakan tangis


pertengkaran semalam


di antara kita


Kini, 'ku harus berdiri

__ADS_1


di tepian hati


bimbang 'tuk memilih


🎤Kau harus tahu, dalam hatiku


bergetar waktu 'ku tahu,


kau terluka saat aku...


🎤Buatmu menangis


Buatmu bersedih


Ingin 'ku memelukmu


dan ucapkan maaf


Maafkan aku, maafkan aku


maafkan aku


Luna menatap El di sepanjang lagunya, memendarkan seluruh rasa penyesalan lewat matanya. Ia berharap El bisa mengerti.


"Maafin aku, kak..." Luna mengeluarkan sebuah cokelat dari sakunya dan memberikannya ke El.


El mengambil cokelat itu lalu tersenyum.


Luna melanjutkan kalimatnya. "Aku... bukannya ga mau sama kakak..."


"Di sini...." Luna memegangi dadanya. "Berdetak kencang sekali, aku takut aku cepat mati..."


"Pfft..." El menahan tawanya mendengar pengakuan Luna. Jadi karena itu Luna tidak mau di dekatnya. El melepaskan gitar Luna dan meletakkan di atas meja. "Baiklah, kakak mengerti. Kakak akan jaga jarak aman," ucapnya.


"Sekarang sudah malam, kita tidur ya. Kamu ngantuk kan?" tanya El. Luna mengangguk.


"Masuklah," ucap El. Mereka sudah ada di depan kamar.


"Kakak tidur dimana?" tanya Luna.


"Di ruang kerja." El mengusap kepala Luna. "Tidur nyenyak ya," ucapnya lalu berbalik pergi.


"Kak," Luna menarik tangan El lalu menariknya masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu dan menyuruh El duduk di tepi tempat tidur.


"Kakak tunggu aku tidur, setelah itu kakak bisa tidur disitu." Luna menunjuk tempat tidur sebelah kanan. "Aku ga akan jantungan karena aku udah tidur."


El terdiam.


"Atau kakak tidurlah di kasur, aku bisa tidur di sofa," ucap Luna.


El menarik tangan Luna. "Tidurlah di kasur, kakak yang di sofa."


"Tidak." Luna menggeleng. Dia memegangi bahu El agar El tidak bisa berdiri. "Tunggu disini. Tidur di kasur." Luna menaikkan dirinya ke atas ranjang dan memasukkan tubuhnya dalam selimut. "Tunggu 15 menit," ucap Luna lalu memejamkan matanya.


El memandangi Luna, menunggu. Dan baru lima menit berlalu sudah terdengar suara dengkuran halus.


Dasar...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2