Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
69. Badai (2)


__ADS_3

Pukul 11.58. Dua menit sebelum waktu yang ditentukan dalam surat terjadi. Luna tidak bisa duduk tenang dari tadi pagi.


"Tenang, Lun." Jessika yang memperhatikan gerak-gerik temannya yang gelisah mulai prihatin.


"Gue takut, Jess." Manik mata Luna jelas menunjukkan ketakutan. "Ini pertama kalinya Bunda dipanggil ke sekolah. Gue ga bisa bayangin hukumannya. Gue lebih takut sama hukuman dari Bunda daripada hukuman dari sekolah!"


"Elo berlebihan deh, Lun."


"Ga tau, Jess. Gue udah ga bisa mikir lagi. Biasanya gue ga salah aja gue yang dihukum, potong uang jajan lah, ga boleh keluar lah, kerjain pekerjaan rumah. Tapi ini gue yang salah, Jess! Kira-kira gue bakal dihukum apa ya? Kalau gue diusir dari rumah gimana, Jess? Gue ngungsi ke rumah elo ya?"


Jessika mengecek kening temannya. Tidak panas.


"Ih!" Luna menepis tangan temannya itu. "Gue serius, Jess. Gue beneran takut ini."


"Ga akan separah itu, Luna. Dia masih orang tua elo."


Luna terdiam. Mungkin Jessika benar. Dia yang berlebihan.


Tak selang berapa lama, Luna dipanggil oleh guru piket. Saatnya tiba, dia harus menghadapi ini, siap atau tidak.


Luna masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Padahal kesalahannya tidak separah itu, tapi karena Angel adalah kerabat kepala sekolah, Luna sudah bisa menduga hal akan menjadi seperti ini.


"Duduk, Luna." Kepala sekolah menunjuk sofa tempat Bunda duduk.


Luna melihat kedua orang di hadapannya. Angel dan ibunya.


Angel, bagaimana ya menggambarkannya. Dia cantik, seperti biasa. Wajahnya blasteran dengan kulit putih dan rambut hitam panjang. Ditambah dengan badan seksi yang menjadi pujaan laki-laki. Tipe cewek idaman dengan kualitas A. Kekurangannya cuma satu, sikapnya yang bar-bar.


Ibunya Angel, tidak kalah cantik dari putrinya. Ini yang dinamakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dengan tubuh dan wajah yang sangat terurus, orang lain mungkin tidak menyangka kalau dia sudah memiliki seorang anak remaja.


"Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk datang hari ini." Pak kepala sekolah memulai pembicaraan.


"Saya akan menyampaikan perihal mengenai kedua putri ibu sekalian." Pak kepala mengambil jeda sejenak. "Kedua putri ibu terlibat perkelahian, dan kemarin sudah yang ketiga kalinya."


Bunda langsung melotot ke arah Luna. Luna cuma bisa menunduk dan diam, memegang erat ujung roknya sampai kusut.


"Tapi dia yang salah, Pak. Dia udah ngambil pacar saya." Angel menunjuk Luna tak sabaran, ingin meluapkan semua kebencian yang ia pendam selama ini.

__ADS_1


Bagai menyiram minyak ke api, Ibu Angel membesarkan pernyataan anaknya. "Wah, sungguh kurang ajar anak ini." Ibu Angel menatap Luna dari atas hingga bawah. "Kelihatannya saja yang polos. Apa Anda yang mengajarkan anak Anda mengambil pacar orang lain?"


Luna harus membela dirinya, perkataan Angel bahkan sama sekali tidak benar. "Maaf Bu, saya tidak pernah mengambil pacar Angel."


"Wah, dia suka menyela pembicaraan orang tua juga." Ibu Angel memandang Luna dengan tatapan tak percaya.


Bunda menoleh pada Luna yang langsung membuat Luna diam, tak bicara juga tak bergerak. Bahkan kalau bisa tidak bernafas.


"Dia juga tampar aku, mom." Angel mulai mengadu.


"What?!" Ibu Angel memekik tak percaya. "Di sebelah mana sayang?" Ibunya langsung memeriksa wajah anaknya. "Dimana dia tampar kamu?"


"Disini, mom." Angel menunjuk pipi kirinya. Ibu Angel mengelusnya.


"Kamu memang tidak bisa mengajar anak ya?!" Ibu Angel langsung berdiri emosi. "Atau memang kamu yang mengajarkan anak kamu seperti itu?!"


"Sabar, Bu." Pak Kepala Sekolah mencoba menenangkan. Dia sudah menduga pertemuan ini tidak akan berjalan damai. Tapi dia tidak tau kalau akan ada drama di dalamnya.


Ibu Angel yang sudah berdiri mendecak kesal lalu duduk di kursi kembali.


Sedari tadi Luna cuma menunduk. Dia tidak ingin melihat siapapun, dan dia tidak berani melihat Bunda, meliriknya pun takut. Luna cuma bisa melihat tangan Bunda yang terkepal, menahan amarah.


"Dua kali. Saya ga balas dia malah--


PLAK! PLAK!


Bunda menampar Luna dua kali. Semua orang di ruangan terkejut dibuatnya. Sedetik kemudian, Angel mengulum senyum kemenangan.


Pak Kepala Sekolah yang kaget coba menenangkan Bunda kali ini. "Bu, sabar ya Bu. Ibu kan, belum mendengarkan penjelasan Luna. Dia salah satu murid terbaik di sekolah ini, saya rasa ada kesalahan pahaman..."


"Luna, minta maaf." Bunda melirik ke Luna yang masih terdiam. "Minta maaf sekarang!"


Mendengar bentakan itu, Luna mengangkat wajahnya sedikit. Pipinya sudah memerah dan dia berusaha mati-matian agar air matanya tidak mengalir saat itu juga.


Luna menatap Angel yang sekarang tersenyum senang. "Maaf."


"Minta maaf aja memang cukup?" Angel seolah tidak merasa puas. Kalau bisa ia ingin Luna hancur sekarang juga di depannya. "Kalau bisa minta maaf, apa gunanya polisi coba? Seenggaknya kita harus kasih mereka kerjaan."

__ADS_1


"Angel!" Kepala sekolah mencoba memperingati Angel. Dia sudah berlebihan. Hal seperti ini harusnya tidak perlu membawa polisi segala.


Angel diam sejenak. Melihat kepala sekolah yang tampak tidak senang dengan perkataannya yang asal tadi. Walaupun dia sebenarnya memang ingin memperbesar masalah ini, tapi sepertinya tidak akan baik untuk kepala sekolah, yang jelas-jelas masih ada hubungan kerabat dengannya. Dia pasti akan sudah kalau nama sekolah sampai tercoreng.


Angel menatap Luna, memberikan tatapan tajam agar Luna takut. "Sekarang elo bilang di depan kita semua, kalau elo ga akan ganggu cowok gue lagi! Elo janji, kalau perlu sumpah sekalian, biar kalau elo ingkar ada saksinya. Dan nantinya gue bisa menuntut elo lebih dari sekarang."


Walaupun dia berkata seperti itu, sebenarnya, Angel hanya berdalih. Hubungannya dengan Alex jelas seperti apa yang Alex bilang. Tidak ada hubungan. Ia hanya tidak suka cowok yang ia kejar ternyata lebih tertarik pada Luna. Ia ingin menyelamatkan harga dirinya saja di depan teman-temannya dan semua orang. Itu karena dia telah mengaku-ngaku kalau Alex yang dicap sebagai badboy sekolah sudah berhasil dia taklukkan, dan malah menjadi pacarnya. Dia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri.


Tapi untuk Luna, bukan Angel yang Luna takuti, ia hanya takut pada Bunda. Bunda tidak bicara apapun setelah menamparnya dan sedari tadi dia sudah berkali-kali menghela nafas kesal. Luna mencoba mengumpulkan kewarasannya, kemudian mengontrol emosinya. "Maaf, aku ga akan deketin cowok kamu lagi."


Angel hampir saja tertawa bahagia mendengar ucapan Luna. Persis seperti yang dia inginkan. Pengakuan. "Oke, karena gue orang baik, kali ini gue maafin."


"Terima kasih." Luna menatap Angel nanar, dia tidak menyangka Angel selicik itu, membuatnya mengakui hal yang bahkan tidak pernah dilakukannya.


Karena merasa sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, Angel ingin segera pergi. "Sudah kan, Pak? Soalnya mom ada kerjaan sekarang, dia terlalu sibuk kalau harus datang ke sekolah cuma untuk mengurus masalah begini. Mom ada flight sore ini."


Kepala Sekolah menatap Luna iba. Dia sebenarnya masih ingin meluruskan masalah ini. Tapi dia juga tidak mau menahan orang-orang ini di ruangannya karena tidak bisa menebak apa yang akan terjadi nanti. Apakah nantinya akan membaik atau menjadi lebih buruk untuk Luna. Dengan berat hati, dia mengiyakan. "Baiklah, karena sudah diselesaikan antara kedua pihak, sekolah tidak akan memberikan hukuman."


"Terima kasih, Pak." Angel dan ibunya berdiri.


Ibu Angel berhenti sejenak sebelum melangkah. Berbeda dengan anaknya yang sudah tersenyum puas, dia masih ingin menghina wanita sombong yang duduk di depannya sedari tadi. "Lain kali kalau punya anak diawasi yang benar, ya. Hidup kalian sudah susah, ga perlu banyak tingkah. Orang miskin kok sombong."


Ibu Angel mengambil kacamata hitam dari tas bermerk-nya dan memakainya dengan angkuh. Berjalan melewati mereka kemudian keluar dari ruangan.


"Kalau begitu, saya juga permisi." Akhirnya Bunda mengucap kalimat untuk undur diri.


"Tunggu Bu, apa ibu tidak mau mendengarkan penjelasan Luna? Saya rasa dia belum mengatakan apapun barusan." Pak Kepala Sekolah masih memandang Luna dengan sorot mata mengiba. Setidaknya, ia ingin membersihkan nama Luna di depan ibunya sendiri.


"Tidak perlu, Pak. Semuanya sudah jelas. Terima kasih banyak, maaf mengganggu waktunya." Bunda berdiri kemudian menarik Luna keluar bersamanya.


Setelah menutup pintu ruangan kepala sekolah, Bunda mengulurkan tangannya. "Kemarikan ponsel kamu."


Bunda mengambil ponsel dari saku rok Luna dengan paksa. "Kamu ga perlu ini lagi. Bunda akan jual ini. Bunda akan bilang ke Ayah, dan tunggu hukuman buat kamu!"


Setelah Bunda tak terlihat, Jessika menghampiri Luna. Dia dari tadi sudah menunggu di depan pintu, sejak bel istirahat berbunyi. Dan dia tidak sendirian, dia bersama Reina dan Tiara.


"Elo ga papa?" Jessika menyelipkan rambut Luna di telinganya, melihat pipi sahabatnya itu memerah karena bekas tamparan.

__ADS_1


"Jess..." Luna menyandarkan kepalanya di bahu Jessika. Jessika merangkulnya, membiarkan Luna bersandar di dadanya. Karena sudah mendapatkan tempat bersandar, air mata Luna tumpah tak tertahan lagi.


Bersambung...


__ADS_2