
Luna beberapa kali mengintip keluar kamarnya, memantau keadaan. Belum aman. Dia masih bisa melihat Bunda keluar masuk kamar memakaikan baju Arya.
Luna menutup pintu kamarnya perlahan dan menguncinya. Hari ini hari Sabtu, hari bertemu kak El.
Biasanya kalau di hari Sabtu, karena libur sekolah Luna akan mencuci bajunya. Tapi karena dia sedang dihukum sekarang, tadi pagi-pagi sekali dia cuma mencuci baju keluarganya saja. Terlalu capek dan tidak akan sempat.
Luna memandang tas ranselnya yang ada di atas meja belajar kecilnya. Tas ranselnya sudah ia isi dengan dengan barang-barang penting dan di sebelahnya ada sebuah Goody Bag berisi baju kotor miliknya, ya, dia berencana mencuci di rumah Jessika.
Beberapa menit kemudian Luna mendengar suara pintu terbuka dan deruman motor menjauh. Bunda sudah berangkat mengantar Arya sekolah. Sekolah Arya tetap masuk di hari Sabtu.
Luna membuka pintu kamarnya perlahan lagi. Melihat ke kanan-kiri. Memastikan tidak ada orang. Semuanya aman. Ayah pergi kerja. Bunda mengantar Arya. Ketiga adiknya yang lain masih berbaring di dalam kamar, ia rasa. Masih terlalu pagi bagi mereka untuk keluar kamar di hari libur. Luna mengendap-endap dengan ransel di punggungnya dan Goody Bag di bahunya. Sementara di tangan kirinya, Luna menjinjing sepatu dari mami yang rencananya akan ia pakai, dan di tangan kanannya dia memegang sebuah catatan kecil yang akan ia tempel di kulkas.
Bunda, Luna pergi menginap di rumah Jessika mengerjakan tugas kelompok. Maaf tidak bilang tadi Bunda sudah berangkat.
Setelah menempelkan pesan, Luna setengah berlari menuju pintu keluar rumahnya. Dia membuka pintu itu tanpa mengeluarkan suara, kemudian keluar dengan berjinjit dan menutupnya lagi perlahan.
Luna memakai sepatunya di depan pintu rumah dengan cepat dan langsung menuju gerbang rumah dan sesegera mungkin keluar dari sana.
Luna mengetuk pintu rumah Jessika jam 08.10. Jessika pasti ada di rumah, dia belum akan keluar sepagi ini. Luna tahu, dia harusnya memberitahukan sebelumnya kalau dia akan datang ke rumah Jessika. Tapi dia tidak sempat, dia baru terpikirkan rencana ini tadi malam. Tau lah, ide cemerlang baru akan muncul di saat terdesak. Dan otaknya tampaknya baru merasa terdesak malam tadi.
Pintu dibuka dan muncul seorang wanita seumuran bundanya di depan pintu. Sepertinya ibu Jessika, karena Luna belum pernah melihatnya. Biasanya beliau bekerja, mungkin hari ini hari liburnya.
Luna tersenyum. "Pagi, Bu. Jessika nya ada?"
Wanita tersebut memandang Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ada. Masuk."
Luna masuk ke ruang tamu Jessika dan duduk di sana. "Temannya Jessika?" Wanita itu bertanya sambil terus menatap tas besar dan Goody Bag yang dibawa Luna.
Banyak sekali bawaannya.
"Iya, Bu." Luna mencoba tersenyum semanis mungkin. "Oh iya, ini saya ada sedikit buah." Luna menyerahkan sebuah kantung plastik hitam dari dalam Goody Bag pink pemberian Alex ke tangan wanita itu. Dia bersyukur untung saja tadi dia sempat berpikiran untuk membeli sesuatu sebelum bertamu ke rumah temannya itu.
"Oh iya, makasih." Wanita itu mengambil bingkisan dari Luna. "Saya panggil Jessika dulu."
Kamar Jessika di lantai atas. Dia tau, karena pernah datang dulu saat tugas kelompok. Tak lama, Jessika muncul masih memakai piyama. Jessika duduk di antara Luna dan wanita itu.
"Iya, ma. Ini teman aku, namanya Luna." Jessika akhirnya mengenalkan mamanya.
Tuh, kan. Benar kalau itu ibunya.
"Elo ngapain datang pagi begini?" Jessika melihat tas Luna yang besar, dia menutup mulutnya. "Elo kabur dari rumah?!"
Mama Jessika langsung melotot dan menatap Luna tak percaya.
Mulut Jessika itu sungguh berbahaya.
__ADS_1
"Ahhahahahaha..." Luna tertawa maksa. "Aku cuma bawa buku aja kok, buat kita belajar bareng. Masa kamu lupa?" Luna mengedipkan sebelah matanya, membuat kode ke Jessika. "Kita kan ada tugas kelompok. Ya kan?" Luna meremas tangan Jessika.
"Ah! Iya... Gue lupa. Sorry, gue kebanyakan belajar kayaknya." Jessika menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Mama Jessika tampak masih curiga, tapi dia memutuskan untuk meninggalkan dua anak itu. "Mama mau siap-siap berangkat kerja dulu ya. Kalian baik-baik di rumah."
"Iya, ma."
"Makasih Bu," Luna menjawab sopan.
"Yuk, ke kamar gue." Jessika berdiri dari sofanya sambil menarik Luna.
"Jess, sepatu gue di luar. Gue bawa masuk ya?"
"Elah, sepatu mahal." Jessika mendecak kesal. "Ya, bawa aja."
Luna langsung pergi ke luar dan membawa sepatunya masuk, lalu mengikuti Jessika ke kamarnya.
Jessika duduk di atas kasurnya. Kemudian berbaring. "Elo datang pagi banget sih. Elo beneran kabur dari rumah?"
"Gue mah gak bakalan kabur dari rumah, kecuali gue diusir." Luna menjulurkan lidahnya meledek Jessika.
"Terus elo mau ngapain kesini pagi-pagi?"
"Gue mau numpang nginap di rumah elo--
"Ish!" Luna melempar bantal ke Jessika. "Dengerin dulu gue belum selesai ngomong!"
"Iya, gue dengerin." Jessika berbaring malas di tempat tidurnya.
Luna duduk di sisi tempat tidur, bersiap menjelaskan. "Gue kan nanti siang mau ketemu kak El. Gue ga tau bakal pulang jam berapa karena mau ke undangan sama dia. Ga mungkin kan undangan makan siang karena kak El jemput jam 2. Pasti undangan makan malam, tuh. Daripada gue kemalaman pulang terus dimarahin, mending sekalian gue ijin nginep di rumah elo."
Jessika mengangguk mengerti. "Hmmm.... Terus sekarang elo udah ijin ke bunda elo jadinya, nih?"
"Tadi gue tinggalin pesan aja terus gue pergi pas Bunda lagi keluar."
"Itu namanya kabur dari rumah oncom..."
Luna yang kesal naik ke atas badan Jessika dan menindihnya. Dia pura-pura mencekik Jessika. "Elo nyebelin, deh!"
"Ohookkk!!! Udah, Lun. Gue kecekek beneran nih! Elo mau gue mati, heh?!" Jessika menepuk-nepuk tangan Luna yang mencekiknya.
Luna melepaskan Jessika dan duduk di sisi tempat tidur lagi.
"Ya udah, iya. Terus itu elo bawa apaan banyak banget?"
__ADS_1
"Gue bawa baju."
Dia tiba-tiba mau nginep. Dia ga ijin sama orang tua. Dia bawa baju. Tapi dia masih bilang bukan kabur dari rumah? Kita ikutin aja apa maunya dia, dah.
"Ngapain bawa baju? Katanya engga kabur dari rumah...?" Jessika memojokkan Luna.
"Engga, ini baju kotor. Gue mau numpang nyuci di rumah elo. Tadi gue ga sempet. Ini seragam gue." Luna masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Jessika. "Gue numpang nyuci ini ya."
"Lun, kenapa elo ga pakai mesin cuci aja?" Jessika bertanya saat Luna sedang mencuci potongan baju terakhir.
***
"Jess, pinjem telepon elo." Luna sudah selesai mencuci daritadi, dan mereka juga sudah makan siang.
"Nih," Jessika memberikan ponselnya sambil terus mengunyah cemilan yang ada di tangannya. Matanya fokus menonton drama yang baru saja dia download.
"Gue pinjem buat telepon ya?"
"Hmmm..."
📞 Halo, kak El?
📞 Halo, Luna! Sudah lama ga dengar suara kamu, kakak kangen.
📞 ....
Luna tersipu sesaat.
📞 Kamu sama Jessika lagi?
📞 Iya, kak. Aku lagi di rumah Jessika. Nanti jam dua bisa ketemu di tempat lain?
📞 Nanti kakak kesana. Kamu share aja lokasi kamu sekarang.
📞 Iya, kak. Ya udah, udah dulu ya.
📞 Oke. Bye, see you later baby...
Tut.
Baby....
"Lun, kedip Lun. Muka elo mupeng banget."
Jessika sungguh merusak suasana.
__ADS_1
Bersambung...