Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
68. Badai


__ADS_3

Luna terdiam mendengar pernyataan Jessika. Sementara temannya yang lain menatapnya, menunggu respon dari Luna.


"Kakak beneran suka sama si om itu?" Arga tidak sabar menunggu jawaban Luna.


Luna diam seribu bahasa, dia menarik nafas panjang lalu melipat kedua tangannya di atas meja, menyurukkan dahinya ke atas lipatan tangan itu. "Iya."


Arga memukul meja kasar, membuat semua orang melonjak kaget. Setelahnya dia pergi tanpa berkata apapun.


"Kenapa dia?" Tyo bertanya bingung.


"Perlu dikejar ga?" Reina bertanya pada Luna.


"Ah, gue ga tau. Terserah lah!" Luna menempelkan dahinya di meja lagi kemudian menimpanya dengan kedua lengannya. Mencoba melindungi dirinya dari segala suara yang mengganggu.


"Emmm..." Jessika berpikir sejenak. "Kejar, ay. Takut dia kenapa-kenapa gitu."


Tyo akhirnya bangkit dari kursinya dan menyusul Arga.


"Ya udah gue pesenin makanan dulu, deh. Kalian mau makan apa?" Tiara bertanya pada Jessika dan Reina. Luna masih setia menunduk, belum berniat mengangkat kepalanya.


"Gue mau bakso. Sama jus mangga." Tanpa diduga Luna menjawab.


"Gue samain aja, deh." Jessika menyusul.


"Gue ikut pesan sama elo aja." Reina memutuskan untuk ikut bersama Tiara. Dia belum memutuskan mau makan apa.


Jessika sibuk mengelus kepala temannya yang masih menunduk karena frustasi, sampai tangannya tiba-tiba bergeser karena lagi-lagi ada yang menganiaya meja yang tak bersalah itu. Seseorang menendangnya. Monika.


Luna mengangkat kepalanya tidak senang. Dia sempat kejedot meja tadi.


"Akhirnya bangun juga elo." Monika berucap sinis. Angel berdiri di sebelahnya.


Luna malas menanggapi mereka. Dia mengacuhkan ucapan Monika dan mencoba melihat ke arah lain.


"Dengerin kalau orang lagi ngomong!" Angel mencengkram wajah Luna dan memaksanya melihat ke Angel.


"Elo apa-apaan sih?!" Jessika berdiri dari kursinya. "Gue laporin ke guru ya."


"Laporin aja. Nanti pas guru dateng, sekalian gue kasih tau kalau temen elo ini kerjaannya cuma godain om-om." Monika mengibaskan tangannya tidak perduli pada peringatan Jessika.


Luna muak. Dia akhirnya memutuskan untuk berdiri. "Mau elo apa?"


"Wah, ternyata elo bisa ngomong juga ya." Angel mendecak keras. "Gue kan udah bilang, gue ga mau elo godain cowok gue lagi."

__ADS_1


Luna menghela nafas panjang. "Gue udah pernah bilang juga, kalau gue ga pernah deketin cowok elo."


"Selain godain cowok gue, ternyata elo godain om-om juga ya. Gue ga nyangka." Angel mengabaikan perkataan Luna. "Dapet berapa elo semalem?"


PLAK!


Luna akhirnya menampar Angel. Kata-katanya sudah sungguh sangat keterlaluan.


"ELO BERANI NAMPAR GUE, HAH?!"


"Gue ga pernah takut sama elo."


"Sombong banget, yang jadi simpanannya om-om..."


PLAK!


Luna menampar Angel sekali lagi. Dia benar-benar muak. Dia sudah tidak perduli lagi dengan keadaan sekitarnya atau apa yang akan terjadi setelah ini. Kata-kata Angel sudah melewati batas.


Setelahnya Angel langsung menjambak rambut Luna dengan brutal. Jessika mencoba melerai, sementara Monika hanya membiarkannya saja.


"Ada apa disini?!" Teriakan Pak Deni menghentikan pertengkaran mereka. Reina dan Tiara muncul di belakang Pak Deni. Mereka datang di saat yang tepat.


"Kalian lagi?!" Pak Deni menatap wajah-wajah tak asing di depannya. "Kalian ikut saya ke kantor."


Luna dan Angel terpaksa mengikuti Pak Deni menuju ruang guru.


"Ga tau, Pak. Dia yang tampar saya duluan." Angel langsung menunjuk Luna yang sedang tertunduk.


"Benar Luna?"


"Iya, Pak." Luna mengangguk. Dia harusnya tidak terpengaruh dengan kata-kata Angel, orang yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan. "Saya minta maaf, Pak. Saya yang salah."


"Bapak terpaksa memanggil orang tua kalian. Tunggu disini, Bapak akan buatkan suratnya."


"Pak, saya janji ga akan mengulangi lagi!" Luna berseru sambil memohon. "Tolong sekali lagi ini saja." Dia menarik tangan sang guru, berharap agar luluh dan memaafkannya.


"Maaf Luna. Sudah ada tiga kali kesempatan."


Luna menutupi wajahnya dan mulai terisak. Mencoba tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.


"Elo lebay banget sih!" Angel sengaja berteriak keras. "Ortu gue juga dipanggil, biasa aja kali."


Luna yang mendengar itu membuka tangannya. Luna menahan tangisnya sejenak kemudian menatap Angel lurus. "Elo mau tukeran hidup sama gue?"

__ADS_1


***


Luna melarang El untuk menjemputnya hari ini. Dan juga beberapa hari ke depan. Ia beralasan akan pulang bersama Jessika.


Di depan pintu rumahnya, Luna berdiri mematung. Tidak masuk, hanya menatap kosong. Di tangan kirinya dia sudah memegang surat panggilan orang tua. Haruskah ia memberikannya pada Bunda? Ataukah ke Ayah saja biar lebih aman? Atau sekalian tidak usah diberikan?


Luna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan.


Luna membuka pintu rumahnya dengan hati-hati, kemudian mencari sosok Bunda di dalam rumahnya. Tidak ada. Hanya terdengar suara-suara dari dalam kamar Arga. Tanpa sadar Luna bersyukur dalam hati lalu segera masuk ke kamarnya. Mungkin setelah makan malam. Mungkin saat ayahnya juga ada di rumah.


Luna menunggu detik demi detik berlalu. Perasaannya makin tak tenang dan pikirannya kalut. Sekarang sudah hampir waktu makan malam. Dan barusan Ayah pulang. Luna tidak bisa menunda lagi, dia harus memberikan suratnya saat ini juga.


Luna keluar kamar dan melihat Bunda yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Luna membantunya. "Bunda,"


Luna menunggu balasan, tapi Bunda tidak menjawab walaupun Luna yakin Bunda pasti mendengarnya.


"Ada surat dari sekolah. Bunda harus datang ke sekolah besok." Luna menyerahkan surat ke hadapan Bundanya.


"Ada acara apa?"


Luna menggigit bibir cemas. Haruskah ia mengaku sekarang?


"Arga ga kasih surat ke Bunda hari ini. Ini surat apa?" Suara Bunda mulai meninggi, dan Luna langsung ketar-ketir dibuatnya.


Tenang Luna.... Elo harus tanggung jawab. Bunda ga mungkin hukum elo sampai mati, kan...


"Di sekolah..... Luna.... melakukan..... kesalahan..." Luna mulai menunduk, dia tidak berani melihat wajah Bunda.


"Kamu ngapain?" Bunda melemparkan suratnya ke atas meja makan. Suaranya terdengar sangat kesal. "Kamu sudah mau lulus, bukannya belajar yang benar malah bikin masalah! Kalau kamu ga mau sekolah lagi, bilang, jangan malah buat keributan!"


Luna menunduk semakin dalam. Ia menggenggam tangannya sendiri, erat, dan lebih erat lagi.


Tahan Luna, jangan bilang apa pun.


"Belakangan ini kamu juga sering keluar rumah. Kamu sebenarnya lagi ngapain sih? Kamu udah bosan sekolah? Udah bosan tinggal di rumah juga?"


Luna menggigit bibir, mengatupkan kedua mulutnya rapat-rapat.


"Apa kamu punya pacar?"


Luna melotot kaget. "Enggak, Bun. Luna ga punya pacar!"


"Sudah, sudah. Ga usah teriak. Kamu berisik. Sekarang siapin aja makanan. Besok kita lihat apa kesalahan kamu."

__ADS_1


Luna memilih diam dan membantu Bunda tanpa pembelaan apapun.


Bersambung..


__ADS_2