
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Luna sudah malas berpikir apa hal yang akan dia hadapi selanjutnya.
Tapi, satu hal yang jadi pelajaran hari ini, jangan PERNAH ngomong sembarangan lagi.
"Ibu Luna?" Luna terhenyak saat seseorang berpakaian kemeja rapi menghampirinya.
"Saya supir Pak El. Ayo, kita masuk ke mobil."
Terserah lah.
Luna masuk ke mobil sedan yang sama seperti yang biasa dia dan El naiki. Hanya saja kali ini dia duduk di kursi belakang.
"Kita mau kemana, Pak?"
"Kita mau ke restoran dekat kantor, Bu."
"Bapak jangan panggil saya Bu, bapak kan lebih tua. Atau panggil aja saya Adek, atau Neng. Saya sering dipanggil begitu." Luna menyandarkan kepalanya ke belakang, mencari posisi ternyaman.
"Iya, Dek Luna."
"Oiya, pak. Saya ga bisa hubungin kak El." Luna memainkan ponsel, melihat kalau pesan dan teleponnya belum direspon El.
"Pak El masih meeting, Dek Luna."
"Oh, saya mau bilang saya ga bisa pergi lama. Saya harus cepet pulang." Sebenarnya Luna udah ijin ke toko buku membeli paket soal ujian. Dia cuma mau alasan biar cepat pulang saja.
"Iya, dek Luna. Cuma sebentar aja. Kata Pak El nanti akan diantar pulang ke rumah sebelum jam 6 sore."
__ADS_1
Sultan mah, bebas kan ya... Tauk ah..
Luna tanpa sengaja terlelap karena keheningan yang lama di dalam mobil. Tentu saja karena dia tidak tau harus ngobrol apa sama Pak Ahmad, supir yang dikirim El.
Beberapa saat kemudian, mobil sedan hitam tiba di pelataran parkir sebuah restoran. Karena Luna masih tertidur nyenyak, Pak Ahmad memutuskan untuk menghubungi El.
📞 Maaf Pak, Dek Luna nya tidur di mobil. Mau saya bangunin aja, Pak?
📞 Ga usah, Pak. Biar saya kesana.
Tak lama, El menghampiri mobilnya dan masuk ke dalam.
"Beneran tidur.." El menoel pipi tembem Luna. Seperti bakpao.
Imut banget, sih.
Kangen banget. Kalau dipeluk bangun ga ya?
El mengalah pada rasa rindunya, dia melebarkan tangannya dan mencoba membuat Luna nyaman dalam dekapannya.
"Nyenyak banget sih, tidurnya." El mengelus kepala Luna lembut kemudian mendekatkan wajahnya ke kepala Luna. Harum.
Coba bisa dibawa pulang terus dipeluk setiap hari.
Sementara itu saat El sibuk dengan pikirannya, Luna sibuk menahan nafasnya.
Luna terbangun beberapa saat lalu dan menghadapi situasi yang bahkan tidak pernah ia mimpikan.
__ADS_1
Tolong, cepet lepasin. Ayah, Bunda, tolong...
Luna meratapi keadaannya sekarang. Dia ingin bangun tapi tidak tau harus bagaimana bangun tanpa menimbulkan masalah.
Luna menggerakkan jarinya sedikit. Kemudian berpura-pura bangun secara sangat natural.
El langsung melepaskan pelukannya. "Kamu udah bangun?"
Kenapa dia nanya tanpa rasa bersalah, sih! Dia ga mau menjelaskan, gitu, kenapa sembarangan peluk orang tanpa ijin?
"Maaf, aku ketiduran, kak." Luna mengucek matanya sedikit, akting.
"Nih buat kamu," El memakaikan penjepit rambut perak berbentuk bulan sabit di sisi rambut Luna.
"Apa ini kak?" Luna meraba rambut dengan jari-jarinya.
"Bulan yang selalu bersinar di tengah kelamnya malam." Setelah membelai rambut Luna, El tersenyum sesaat. "Luna untuk Langit."
"Maksudnya?" Luna menautkan alis tak mengerti.
"Turun yuk," El mengulurkan tangannya mengajak Luna turun. Tapi Luna memutuskan untuk tidak menyambutnya. El mengepalkan tangannya sesaat. Kemudian menghela napas panjang.
Bersambung
EPILOG
"Pak Ahmad, jangan panggil Luna Adek,"
__ADS_1
Cuma gue yang boleh manggil begitu.