Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 11


__ADS_3

Chapter 11: Kejutan


"Melihatmu setiap ekspresimu adalah hiburan paling menyenangkan untukku." -El-


"Elo mau nyuruh gue ngamen?!!" Luna berteriak tak percaya. Kata-kata Jessika yang dia pikir hanya asal bicara tiba-tiba menjadi nyata!


Alex mengangguk kemudian melebarkan tangannya menunjuk ke hamparan rumput di taman kota. "Ada banyak orang disini, elo samperin aja mereka. Nyanyi, hitung-hitung latihan. Bersyukur aja kalau misalnya dikasih duit nanti."


Luna memicingkan matanya tak percaya.


"Gue serius! Elo butuh latihan tampil di depan orang banyak." Alex menunjuk ke tempat duduk di bawah pohon. "Gue tunggu disana."


Luna masih memelototi Alex.


"Elo ga mau----


"Iya, gue mau!" Luna menjawab geram lalu melangkah pergi.


Alex anzeyyyy banget emang!


Luna memaki dalam hati. Lalu melihat sekeliling mencari orang yang mungkin akan mendengarkannya bernyanyi, tidak mengusirnya atau berlari pergi.


Dia menemukan tiga orang laki-laki sedang duduk tak jauh dari situ. Luna menarik nafas panjang.


Ayo, Luna. Elo ga mungkin terus-terusan ngumpet di ketiak kak El!


***


Luna terbangun dari tidurnya. Dia bisa melihat tangan seseorang ada di dahinya, langsung saja ia membuangnya jauh-jauh. Itu tangannya Jessika ternyata. Luna mendapati kepala Reina di perutnya dan Tiara yang memeluk pahanya.


"Awas!!!" Luna menyingkirkan temannya satu-persatu.


Semalam terjadi chaos di kamar Jessika. Luna pulang jam 9 malam setelah disiksa habis-habisan oleh si kambing jantan Alex yang menyuruhnya take rekaman video berulang-ulang. Saat mengira dia bisa langsung tidur sesampainya di rumah, tiga temannya ini malah mengadakan Pajamas Party. Demi Tuhan, kenapa mereka tidak belajar saja padahal Minggu depan adalah hari ujian.


Luna turun dari tempat tidur Jessika dan tak sengaja menginjak bungkus makanan ringan yang bertebaran di lantai. Oh, tentu saja bukan hanya bungkus makanan, ada kulit kacang, kulit kuaci, botol minuman dan banyak tissu bekas air mata dan air hidung mereka yang mengalir setelah menonton drama semalam.


"BANGUNNN!!!" teriak Luna setelah membuka jendela kamar Jessika dan menampilkan silau sinar matahari yang sudah meninggi. Hari ini hari Sabtu, mereka tidak sekolah, tapi setidaknya mereka harus bangun.


Tidak ada yang bergerak. Astaga, mereka tidur atau pingsan sebenarnya? Luna menggulingkan badan temannya satu persatu sampai mereka terjatuh dari kasur Jessika.


"AW!" Teriak Tiara memegangi kepalanya. Disusul oleh teriakan Jessika dan Reina. Jangan khawatir, mereka berlebihan, karena ranjang Jessika tidak setinggi itu, dan ada karpet tebal dan banyak bantal berserakan di lantai. Entah bagaimana, tapi semua selimut dan bantal sudah ada di bawah sana.


"Cepet bangun, lihat nih jam berapa sekarang!!!" Luna menunjuk jam dengan jarum ke angka 11.


"Beresin kamarnya kalau enggak kalian gue ga kasih makan!" teriak Luna lalu menuju dapur. Dia belum mandi, tapi dia sangat lapar. Lebih baik masak makanan dulu, mama Jessika pasti sudah berangkat kerja, jadi dia tidak perlu sungkan.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Luna selesai membuat nasi goreng, menu tercepat yang ia bisa buat. Setelah itu, Luna setengah berlari menaiki tangga mengajak teman-temannya turun dan makan bersama.


"Anzeyyy kalian!" BANGUN!" Luna berteriak kesal. Bukannya bangun dan membereskan kamar ternyata malah tidur lagi!


Capek berteriak, Luna menyerah dan memutuskan untuk makan duluan saja. Biarkan saja teman-teman laknat itu mati kelaparan, ia tidak peduli.


TOK TOK.


Baru saja Luna membuka mulut untuk menikmati suapan pertama, pintu rumah diketuk. Luna terpaksa meletakkan sendoknya lagi.


"Siapa ya?" Luna melihat dua sosok pria berpakaian rapi dalam balutan jas hitam saat ia membuka pintu.


"Nona Luna...?" tanya salah satu orang di hadapan Luna. Luna merasa ngeri, kedua orang ini sangat mencurigakan.


"Bukan..." Luna baru saja akan menutup pintu ketika salah seorang dari mereka menahannya. Dia menahan pintu dengan sebelah tangan, padahal Luna menggunakan kedua tangannya. Kuat sekali!


Pintu terbuka sempurna. Luna hendak berteriak. Tapi ia kalah cepat. Mereka bisa menghentikannya, bahkan sebelum Luna membuka mulutnya. Ia mundur selangkah. "Siapa kalian?!"


Penculik???


"Kita diminta Pak El jemput nona."


Jawaban itu sontak membuat Luna melotot. Kak El?


"Tunggu dulu! Gue belom bilang temen gue!" Luna mencoba memberontak. "Ponsel gue!!!" teriak Luna.


"Nona tidak butuh itu..." Mereka sudah mendudukkan Luna di dalam mobil, lalu segera menutup pintunya.


CEKREK! CEKREK!


Luna berusaha membuka pintu itu, tapi tidak berhasil. Tentu saja. "Gue belum mandi!" teriakan Luna lagi-lagi diabaikan. "Nasi goreng gue!!!! Aaaaaaaaaa!!!! Kalian jahat!"


Setelah lelah berteriak karena sama sekali tidak digubris, Luna menekuk wajahnya. Dia sangat kesal. Dia lapar dan dia bahkan belum mandi.


Luna memperhatikan jalan yang ia lewati. Mau kemana ia sebenarnya? Mereka memasuki tempat parkir, tampak seperti sebuah hotel?


Pintu dibukakan oleh kedua penculik tadi, dan Luna sungguh kaget saat turun dari mobil ia melihat kak En baru saja keluar dari sebuah pintu kaca di hadapannya.


"Kakak!" Luna langsung berlari memeluk En. Satu-satunya orang yang ia kenal. Luna sebenarnya daritadi tidak percaya kalau dua orang seram tersebut suruhan kak El, tapi dia menurut saja karena tidak bisa melawan. Dan Luna sangat lega saat melihat En sekarang, bahwa ternyata ia tidak diculik.


"Hai Luna!" En menyapanya riang.


Luna melepaskan pelukannya. "Kak, siapa mereka? Aku pikir aku diculik. Aku belum mandi, aku belum makan. Aku lapar sekali." Luna curhat dalam satu tarikan nafas, kemudian perutnya berbunyi keras.


En terkekeh lalu mengelus kepala Luna. "Masuk dulu, yuk..."

__ADS_1


Luna menurut dan berjalan di belakang En. En membawanya ke sebuah kamar hotel dan memesankan makanan untuk Luna lewat telepon. Luna duduk tidak nyaman. Masalahnya dia masih memakai baju tidurnya, celana pendek dan kaos belel. Dia bahkan belum cuci muka dan sikat gigi. El pasti akan kaget kalau melihatnya seperti ini.


"Kak El dimana, kak?" tanya Luna.


"Nanti sebentar lagi juga kalian bertemu," jawab En.


"Ini dimana kak?" tanya Luna.


"Hotel," jawab En.


"Kenapa kita disini, kak?" tanya Luna lagi.


"Ya ampun, kamu kok nanya terus, sih?" En mencubit pipi Luna.


"Maaf, kak." Luna memasang wajah menyesal.


"Gak apa..." jawab En. Ini terasa seperti mengurus bocah asli. Kalau dipikir lagi, El sungguh sabar. Tapi ya, dia kan juga bocah.


Tak lama pintu diketuk dan makanan datang. "Kamu makan dulu saja, setelah itu mandi. Nanti kakak kesini lagi." En berjalan menuju pintu.


Luna mengangguk lalu melambai pada En. Setalah itu, dia langsung menyantap makanannya. Ia sangat lapar.


Tapi betapa kagetnya Luna saat ia membuka pintu kamar mandi setelah selesai mandi, ada dua orang wanita yang menunggunya.


"Siapa kalian?" tanya Luna.


Tunggu, ini berasa deja vu, gak sih? Gue kayaknya udah ngomong begini tadi.


"Nona Luna, kan?" tanya salah satu dari mereka. Perempuan berambut pendek.


"Bukan," jawab Luna berbohong. Dia memperhatikan kedua perempuan itu, mereka memakai baju yang sama, sepertinya seragam. Perbedaannya cuma di rambut.


Perempuan berambut panjang tersenyum geli mendengar jawaban Luna, seolah dia sudah tau kalau Luna berbohong. Dan memang benar.


Kedua perempuan itu saling memandang. "Kita diminta Pak El merias nona," ucap si rambut pendek.


Ada apa sih sebenarnya hari ini?!


Sementara itu, di kamar hotel yang lain...


"Ini, Pak." Kris memberikan ponsel ke tangan El.


El meraih ponsel itu dan melihat foto-foto Luna di dalamnya. "Ah, dia lucu sekali... Aku tidak sabar mau bertemu..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2