
Chapter 14: Balasan
"Kau selalu memberikan lebih dari apa yang aku harapkan." -El-
"Will you marry me?"
Arga mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ucapan El membuat ia sungguh terbakar api cemburu. Tapi ia harus menghadapi kenyataan, saat ini ia sudah dikelilingi beberapa orang yang mengawasinya.
Wajah Arga mulai mengeras, saat ini setiap detik bagai neraka baginya. Ia berharap Luna menjawab tidak, walaupun kemungkinannya cuma 0,000001%. Selama bukan nol sempurna, dia masih akan berharap. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Tidak perlu khawatir, mereka cuma bertunangan...
Luna masih menutup mulutnya tak percaya, tapi tak bisa dipungkiri kalau ia sangat bahagia. Ia menggigit bibir bawahnya karena terlalu senang. Apa yang harus ia jawab? Iya atau tidak? Tidak kah? Luna memikirkan statusnya yang masih pelajar dan umurnya yang sangat muda. Atau terima saja?
"Yes," Luna menjawab lalu tersenyum lebar. Jawabannya disambut oleh tepuk tangan yang riuh rendah serta kilatan kamera yang menyilaukan mata tanpa jeda. Luna tidak mau munafik, memang orang bodoh mana yang akan menolak pria seperti El? Yang pasti bukan dirinya.
El membalas senyum Luna lalu memakaikan cincin yang sangat berkilau di jari gadisnya itu. Dia membiarkan balon yang mengikat cincinnya terbang tinggi seperti perasaan bahagianya sekarang. Lelah yang ia rasakan selama ini terbayar dengan cara yang sangat indah.
El memeluk Luna erat, kemudian memandang Arga dengan tatapan mengejek. Dia seolah bisa mendengar suara beberapa hati yang patah.
Setelah puas merendahkan, El melepaskan pelukannya dan merangkul Luna mesra, membiarkan para wartawan mengambil beberapa foto dirinya dan Luna.
Lampu yang meredup sudah kembali normal, sekarang Luna bisa melihat keadaan sekelilingnya dengan baik. Tapi ada hal yang lebih menarik perhatiannya daripada apapun yang ada di ruangan ini, tentu saja itu El.
"Kak," panggil Luna.
"Iya," jawab El.
"Jadi kakak yang kalah ya, kan kakak yang nyamperin aku duluan," ucap Luna sambil terkekeh kecil.
"Kamu bicara apa, Luna? Kan kamu yang datang kesini menghampiri kakak." El menggoda Luna.
Luna menggembungkan pipinya sebal. "Kakak curang, kakak paksa aku kesini."
"Baiklah, kakak kalah. Kakak kangen sekali sama kamu." El mengelus kepala Luna sayang. "Jadi apa saja yang kamu lakukan selama ini?"
Luna mengangkat bahunya, "tidak banyak..." jawabnya singkat.
El mengangkat sebelah tangannya dan menjetikkan jari, seketika semua orang bisa melihat foto Luna dalam slide yang sudah terpampang di layar. Lagi-lagi Luna terkejut, bagaimana bisa?
"Kenapa kakak bisa....?" tanya Luna tak percaya, masih memandangi foto-fotonya. Tapi tidak hanya sampai disitu, di akhir tayangan tampillah sebuah video yang diambil Alex. Apalagi kalau bukan cover musik yang selama ini mereka kerjakan.
(Kalau kalian penasaran videonya akan mirip seperti cover Kiss me milik @freeacoustic, credits: YouTube)
"Kakak ga tau kamu punya bakat sebagus itu." El membimbing Luna berjalan ke arah panggung musik. "Bisakah kau tunjukkan ke kakak?" tanya El lalu mengambil sebuah gitar dan memberikannya pada Luna.
Luna tampak ragu untuk menyambut gitar itu. El yang mengetahuinya, menatap Luna sambil tersenyum.
"Kakak ingin mendengar suaramu langsung, boleh kan sweetheart?" tanya El.
Luna akhirnya menerima gitar dari tangan El dan berjalan ke panggung, sementara El menjauh memberi ruang untuk Luna. Luna mengambil mikrofon berwarna hitam itu lalu menuju ke operator musik yang bersiap. Dia membisikkan sesuatu yang dijawab dengan anggukan.
Luna meletakkan gitarnya. Ia berbalik dan mencari keberadaan El. Dilihatnya El sedang duduk di sebuah kursi yang tak jauh darinya. Ia menarik nafas dalam, mengucapkan mantra. Semua bukanlah manusia kecuali kak El.
Luna membentuk jarinya menyerupai huruf L.
__ADS_1
🎤L, is for the way you look at me...
El tampak tak menyangka kalau Luna akan menyanyikan lagu yang berbeda. Dia terkejut sebentar kemudian tersenyum bangga.
Berjalan selangkah, Luna sekarang membentuk huruf O.
🎤 O, is for the only one I see...
Luna tersenyum pada El, lalu melangkah lagi.
🎤 V, is very, very extraordinary...
Selangkah lagi, Luna berjalan.
🎤 E, is even more than anyone that you adore can...
Alunan piano mulai terdengar, Luna mengambil sebuah balon berbentuk hati yang tak jauh darinya.
🎤 Love is all that I can give to you,
🎤 Love is more than just a game for two,
Luna terus melangkah dan sekarang ia ada di hadapan El.
🎤 Two in love can make it,
Luna memberikan balon di tangannya pada El.
🎤 Love was made for me and you...
El bangkit berdiri menerima balon itu dengan senyum merekah sempurna.
Musik terdengar semakin jelas, Luna menarik tangan El menjauh dari meja dan kursinya, mengajaknya menari sesaat sambil tertawa kecil.
🎤 L, is for the way you look at me,
O, is for the only one I see,
V, is very, very extraordinary
E, is even more than anyone that you adore can...
🎤 Love is all that I can give to you,
Love is more than just a game for two,
Two in love can make it,
Take my heart and please don't break it,
Love was made for me and you,
Love was made for me and you,
__ADS_1
Love was made for me and you...
Luna mengakhiri nyanyiannya dengan memeluk El. El mengecup puncak kepala Luna. "Love you too, sweetheart..."
***
Setelah puas makan, beberapa tamu mulai menghampiri mereka, menghampiri El tentu saja. Luna mengikuti El yang sudah berdiri dari kursinya, menyapa, dan berkeliling, sampai ia bisa melihat teman-temannya.
"Jessika!" Luna menghampiri Jessika yang datang bersama Reina dan Tiara. Mereka berteriak heboh.
"Luna!" teriak Jessika histeris. "Gue ga nyangka, secepat ini elo laku, Nak..." ucap Jessika lalu menepuk bahu Luna berkali-kali.
"Gue juga ga nyangka, kalian bisa ada disini. Padahal tadi pagi kalian tidur kayak orang mati..." sindir Luna sambil balas menepuk bahu Jessika.
"Ahhahahahaha..." Jessika tertawa disusul dengan Reina dan Tiara.
"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Luna.
"Tadi pas kita lagi makan nasi goreng, kita dijemput sama orangnya si om," jawab Reina.
"Pasti pakai baju item," tebak Luna.
"Kok tau?" tanya Tiara. "Elo juga ya?"
"Iya, gue kira gue diculik. Tapi pas dipikir lagi siapa yang mau nyulik gue, kan gue kere..." ucap Luna yang langsung disambut oleh tawa teman-temannya.
"Si anzel imajinasinya tinggi banget emang," Tiara menarik rambut Luna pelan.
"Hai," El memutuskan untuk bergabung dengan Luna dan teman-temannya karena tidak tahan melihat Luna yang tertawa bahagia bersama mereka.
"Eh, hai om..." Jessika menjawab.
Keadaan hening seketika.
"Ah, apa saya mengganggu? Kok tiba-tiba jadi diam?" tanya El. Dia jadi merasa seperti pengganggu.
Jessika tersentak. "Ah, engga kok. Kita cuma penasaran aja, kok om mau ya sama temen kita ini?" sindir Jessika.
"Tentu saja, siapa yang ga mau sama Luna yang menggemaskan ini..." jawab El jujur. Wajah Luna langsung memerah saat itu juga.
"Deuh,,, selalu geli gue liat muka elo!" Jessika sudah akan menjitak Luna kalau saja El tidak menatapnya.
"Jadi rencana kapan nikahnya?" Tiara sudah mengedip-ngedipkan matanya menggoda.
El dan Luna saling bertatapan.
"Saya sih, terserah Luna." El menjawab sambil tersenyum penuh arti pada Luna. Terserah kalian mau mengartikannya seperti apa.
"Hmmm... Besok?" Luna tertawa lepas.
"Anzel gatel banget Lo!" Luna diserbu oleh teman-temannya tanpa ampun.
Bersambung
__ADS_1