Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
54. Main


__ADS_3

"Oke, kakak ipar," Arka langsung mengacungkan jempolnya. Arsya dan Arga langsung menoleh tak percaya.


Segampang itu?!


"Apa sih? Kenapa kalian ngeliat gitu?" Arka balas menatap. "Dia kan udah memenuhi kriteria dari gue!"


Kriteria Arka adalah ganteng, kaya dan tidak pelit.


Arga memutar bola matanya jengah.


"Oke, kakak ipar." Arsya menyusul Arka.


"Kenapa elo ikut-ikutan?" Arga protes.


"Boleh liat KTP om?" El bingung, tapi dia menunjukkannya kepada Arsya. "Dia juga kayaknya udah memenuhi kriteria gue, bos." Arsya melanjutkan.


"Elo ga bisa percaya gitu aja dong, Arsya..." Arga tak rela.


"Kriteria apa yang kalian maksud?" El meminta jawaban.


Arga mengeluarkan kertas dari tasnya. "Elo, penuhin dulu syarat disini. Baru gue bisa panggil elo KAKAK IPAR."


El meneliti kertas itu sebentar. "Oke, kalau gitu, hutang kalian sisa sejuta ya."


"Kak!" Arka dan Arsya yang tidak terima berteriak kesal pada Arga.


"Udah lah, bilang aja sih. Ribet banget." Arka mendengus kesal.


"Iya kak, darimana coba uang segitu? Lagian kasian kak Luna. Kak Luna pasti kepikiran terus." Arsya sudah berniat menyelesaikan masalah ini secepatnya.


"Oke, CALON kakak ipar." Arga menyerah.


"Good boy," El mengusap kepala Arga.


"Kakak ngapain?" Luna heran karena saat dia datang, El malah sibuk mengelus kepala Arga.


El mengambil minuman di tangan Luna, meminumnya santai. "Kalian udah baikan?" Luna masih bertanya tak percaya.


"Udah kak," Arsya menjawab sambil tersenyum senang.


"Aku pesenin makanan ya," Arka bangkit dari kursi. "Kakak ipar mau makan apa?"


Luna yang mendengar itu langsung melongo.


***

__ADS_1


"Mana? Kumpulin bonnya!" Jessika menjadi koordinator dadakan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghitung jumlah yang harus dibayarkan. "Totalnya lima ratus delapan puluh enam ribu. Sini, pada bayar."


Belum sempat mereka mengeluarkan uang, El tiba-tiba memanggil kakak Reina, "Reza,"


"Iya, Pak." Reza refleks menyahut.


Lah, sekarang kan bukan jam kerja!


Kepalang tanggung, Reza menghampiri El. "Tolong bayar," El memberikan enam lembar uang seratus ribuan. Reza mengambil uangnya lalu mengambil semua bon di depan Jessika.


"Makasih om," Jessika yang pertama sadar keadaan langsung berseru senang, disusul oleh teman Luna yang lain.


Dasar kalian semua muka gratisan! Luna menjerit dalam hati.


Setelah selesai berbincang, mereka memutuskan untuk main di game center. El lagi-lagi memfasilitasi mereka. Ia membelikan mereka beberapa kartu bermain setelah mengisi saldonya.


"Luna mau main apa?" El menjauhkan Luna dari kerumunan.


"Kakak mau main apa?" Luna balik bertanya.


"Ah, kakak tau kamu mau main apa..." El menarik Luna ke tempat 'Whack a Mole'.


El memberikan Luna palu untuk memukul. "Hewan apa yang paling kamu benci? Kecoak, tikus atau lalat?"


Luna berpikir sejenak lalu menjawab, "kecoak." El meraih tangan Luna yang memegang palu kemudian memukulkan gambar kecoak yang ada pada layar.


Luna mencoba memukul secepat yang dia bisa, tapi dia langsung kalah sejak babak pertama.


"Ah... Engga bisa," Luna langsung manyun.


"Ya udah sini kakak bantuin," El menggenggam tangan Luna dengan palu plastiknya berwarna kuning cerah itu. "Siap ya..." Luna mengangguk tegang. Setelah itu yang Luna rasakan cuma tangannya yang digerakkan El dengan cepat kesana kemari.


"Sakit kak," Luna menunjukkan tangannya sehabis bermain ke El, berwarna kemerahan.


"Ah, sorry. Kakak pasti terlalu kencang." El meraih tangan Luna dan meniupnya. Senyum Luna langsung mengembang. "Masih sakit?"


Luna menahan senyum. "Masih." Dia berbohong, dia cuma ingin El meniup tangannya saja.


"Kakak beliin obat aja ya," El hendak berjalan pergi sebelum Luna menariknya.


"Jangan!" Luna mulai panik. El sudah berlebihan. " Udah ga sakit, main yang lain aja yuk, kak."


"Aku mau coba itu, ajarin." Luna menunjuk game shooter.


"Pernah main?" El bertanya sambil menyiapkan game nya untuk Luna.

__ADS_1


"Belum."


"Berdiri sini, kakak ajarin." El memberikan pistol plastik ke Luna, kemudian berdiri tepat di belakang Luna. Tangan kanan dan kiri El memegang tangan Luna yang memegang pistol.


"Siap siap..." El mulai fokus pada tampilan di layar.


Gue ga siap.


Kaki Luna mulai terasa lemas. Dia memang sering bersama El, tapi belum pernah sedekat ini. Ini seperti El yang mengurung Luna dengan badan tegap dan tangan besarnya.


Satu babak selesai, El beralih ke Luna. "Udah bisa?"


"Hah?" Luna menatap layar, sudah menang. Bagaimana bisa? Sedari tadi rasanya dia cuma mendengar suara detak jantungnya saja.


"Kamu kenapa?" El melihat Luna yang mematung. Semburat merah muncul di pipi Luna. "Kamu sakit?" El mengecek kening Luna.


"Aku maluuuuu....!" Luna mendorong badan El menjauh. "Kakak jangan dekat-dekat."


AW, imut banget.


"Oke, kakak udah menjauh nih, 5 meter." El terus melangkahkan kakinya mundur.


"Jangan jauh-jauh," Luna menghampiri El dan menarik ujung bajunya.


El terkekeh kecil. "Ya udah, kita main yang lain aja. Kamu mau main apa lagi?"


Luna menunjuk game Dance Revolution. "Kalau ini aku udah tau caranya." Luna langsung naik ke alat itu.


"Sini, tas kamu. Kakak pegangin." Luna memberikan tasnya tanpa ragu, lalu mulai bermain. El memperhatikan Luna yang sesekali meloncat dan menginjak kesal. Dia kalah.


Luna turun sambil manyun. "Kalah."


El tertawa lepas. "Ya udah, main yang lain aja, yang engga ada kalah menang. El melihat sekeliling. "Kalau main itu gimana?" El menunjuk roller coaster dalam ruangan yang lewat di atas mereka. "Udah pernah coba?"


Luna menggeleng. "Itu serem kan?" Luna tampak tak yakin.


"Gak kok, ga setinggi itu. Ini kan masih di dalam ruangan." Mereka pun mengantri untuk naik.


Saat sudah duduk di atas kereta, Luna memegang tangan El sekencang-kencangnya. "Teriak aja kalau kamu takut."


Kereta berjalan, Luna beberapa kali membuka dan menutup matanya ketakutan. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, tapi tangannya sibuk memukul badan El. El malah tertawa senang melihat ekspresi Luna yang ketakutan sambil memukulinya.


Gue mau muntah....


Permainan akhirnya selesai. Kereta berhenti dan mereka pun turun. Luna tampak oleng ketika turun. El memeganginya. "Kak, pusing." El mencari tempat untuk duduk.

__ADS_1


"Harusnya kamu teriak aja, ga usah ditahan." El memandang muka Luna yang pucat. "Masih takut?" Luna mengangguk. Mereka duduk di kursi kayu. "Sini," El menyandarkan kepala Luna di bahunya, mengelus kepala Luna sesaat lalu menutup mata Luna dengan telapak tangannya yang hangat. Luna menikmatinya dan membiarkan waktu berjalan.


Bersambung...


__ADS_2