
"Luna," El memulai pembicaraan dalam mobil yang melaju.
"Iya, kak?" Luna menoleh ke arah El.
"Tadi siapa? Teman kamu?"
"Maaf kak, tapi teman aku waras semua."
El tertawa. "Terus kenapa dia kejar-kejar kamu?"
"Kak, aku ngerasa otak dia bukan cuma geser, deh. Mungkin otaknya udah pindah,"
"Ha?" El bingung dengan ucapan Luna.
"Otaknya udah pindah ke telapak kaki. Dia stres parah."
"Masa ya kak, dia ngikutin aku terus. Luna ke kantin yuk, pulang bareng yuk, minta nomor telepon dong."
El mengeratkan pegangannya pada setir. Dia kesal. Dia baru saja selesai dengan adik-adiknya Luna, dan sekarang malah muncul pengganggu baru. Yang benar saja!
"Terus kenapa dia kejar kamu?" Tawa dan senyum El sudah lenyap, berganti dengan nada datar.
"Aku ga sengaja nonjok dia, kak."
CKIT!!!
El mengerem mendadak. "Kamu apa?" El mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar.
Luna yang kaget dengan rem mendadak El, masih mengatur detak jantungnya. "Aduh kak, serem banget." Luna belum mau pergi ke surga sekarang.
"Kamu apa?" El meminta jawaban sambil menatap Luna lekat.
Luna jadi salah tingkah. Apa kak El marah?
Ragu-ragu, dia mengulang jawabannya. "Aku ga sengaja nonjok dia." El terdiam. "Tapi aku udah minta maaf, kok!" El masih diam. "Aku juga udah ngaku ke guru piket, dan aku udah dapat hukuman." Luna menunduk takut.
Ah! Kok jadi gue yang salah lagi, sih! Bilang sesuatu, dong! Serem banget, nih.
"Luna," El memanggil Luna pelan.
"I-i-i-iya, kak." Luna tegang seketika.
El meraih kedua tangan Luna, "Lain kali jangan pukul orang lagi." El mencium kedua tangan Luna. "Kalau ada yang cari masalah sama kamu, bilang aja ke kakak. Nanti kakak yang urus."
Meleleh gue.
"Ya?" El bertanya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Luna, mengelusnya pelan.
Luna mematung, dia masih bermain bersama awan.
"Ya?" El bertanya lagi sambil menggoyangkan tangan Luna, menyadarkannya.
"Iyahhh, kak~~"
ASTAGA! Gue ngomong apa barusan? Kok geli?
"Good girl," El mengelus kepala Luna, lalu kembali menyetir.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu pukul dia?" El melanjutkan pertanyaannya.
"Mereka yang duluan, kak. Dia sama ceweknya cari-cari masalah sama kita. Gara-gara kemarin kita pergokin mereka pas lagi M---"
"Em?"
Luna tidak melanjutkan ceritanya.
"Em?" El menoleh sesaat ke Luna.
Ah, gue kelepasan ngomong!
"Em apa?"
"Em.......ang gue pikirin.... Ahhahahahaha..."
"Luna, jawab yang benar. Dan jangan bicara ga sopan sama kakak."
"Iya kak," Luna menunduk lagi, merasa bersalah.
"Em apa?"
"Em-El..." Luna berbisik pelan.
"Gak terdengar Luna..."
Luna menarik nafas banyak-banyak lalu menutup telinganya. "ML!!" Dia berteriak kencang.
CKITT!!!
Tuh kan, tuh kan, ngerem mendadak lagi, kan...
"Gak usah, kak." Luna menolak El.
Mobil El sudah parkir di tempat parkir sebuah mall yang dekat dengan sekolah Luna. El mau membelikan Luna sepatu baru, karena dia tidak mau Luna pulang tanpa sepatu.
"Kakak kan antar aku sampai depan gerbang rumah, ya, nanti aku tinggal lari aja. Ga perlu beli sepatu." Luna masih menggeleng tidak mau.
"Lagian di rumah aku masih punya se......pa.....tu...." Luna mulai ragu. Dia baru ingat sepatu lamanya sudah jelek. Masih bisa dipakai, tapi sudah tak enak dilihat.
"Tuh, kan...." El sudah bisa menebaknya. "Kenapa kamu lempar sepatu kamu tadi kalau kamu ga punya sepatu lagi? Besok kan, sekolah."
"Em..." Luna memainkan jarinya. "Habis dia gangguin terus, sih. Aku kan mau pulang sama kak El..."
Jleb!
Hati El terkena panah tak kasat mata. Dia langsung merasa senang.
Tersenyum, dia membujuk Luna lagi. "Kakak kan mau ajak kamu makan dulu. Tadi belum makan siang waktu jemput kamu. Masa kamu ga pakai alas kaki?"
Tidak mendengar jawaban dari Luna, El keluar dari pintu mobilnya dan membukakan pintu mobil di samping Luna.
"Ayo naik," Luna terkejut melihat El yang sudah berjongkok di depannya.
"Kak, ini beneran?" Luna masih melihat punggung El yang lebar itu. "Kata kakak aku berat."
"Cepat,"
__ADS_1
Luna akhirnya naik ke punggung El, memeluk leher El dengan erat dari belakang. Dan wajah Luna sekarang tepat berada di samping telinga El. El bisa merasakan nafas Luna di tengkuknya.
"Udah?" Luna mengangguk. El kemudian berdiri dengan Luna yang digendong di punggungnya.
Mereka kemudian naik lift dari tempat parkir. Selama di lift, orang-orang memperhatikan mereka, bahkan ada yang berbisik-bisik. Yang tentu saja kedengaran!
TING!
Lift berbunyi, kemudian El dan Luna keluar. "Kak," Luna berbisik tepat di telinga El, membuat El kegelian. "Aku turun aja, deh."
"Enggak." El langsung menjawab singkat.
"Aku malu dilihatin orang..." Luna menoleh ke kanan-kiri, beberapa pengunjung mall memperhatikan mereka.
"Ga usah lihat. Tutup aja mata kamu." El terus melangkah santai.
El menikmati moment ini, bisa sedekat ini dengan Luna, dalam waktu yang cukup lama. Bisa merasakan hangatnya badan Luna. Detak jantungnya di punggungnya. Bisa merasakan tangan Luna yang melingkari lehernya erat. Dan wajah Luna yang menempel di bahunya. Dia tidak perduli jika semua orang melihatnya.
"Kak~" Luna merengek manja.
"Enggak, Luna. Kamu jangan banyak gerak, makin berat."
"Kakak turunin aku makanya."
"Enggak."
"Turunin."
"Enggak."
"Turunin."
"Enggak."
"Turunin."
"Aku gigit ya," Luna menggigit pelan telinga El. El yang tersentak kaget langsung menurunkan Luna.
El berjongkok menundukkan kepala, menutupi wajahnya.
"Kakak ga apa?" Luna mulai cemas. Dia mengintip wajah El yang kini sudah merah padam.
Harusnya jambak aja rambutnya, jangan digigit. Sebelah hati Luna mulai memaki.
Harus pegangan dong, nanti kalau jatuh gimana, hah. Balas sebelah hati yang lain.
Luna menenangkan suara hatinya yang sedang berdebat, lalu beralih memperhatikan El. "Kak?" Luna menggoyangkan lengan El yang menutupi wajahnya.
"Kak?" Luna mencoba lagi. Akhirnya El mengangkat kepalanya. Wajahnya benar-benar memerah.
El berbisik kepada Luna, "kamu jangan begitu, nanti kakak ga bisa tahan."
Itu daerah sensitif gue!
Dahi Luna cuma berkerut bingung mendengar ucapan El. Sedetik kemudian El langsung berdiri, membuat Luna kaget.
"Ayo!" Akhirnya El menggendong Luna ala bridal dengan kedua lengannya. Luna jelas berontak. Ini lebih memalukan dari sebelumnya. "Diam dong, kita bentar lagi sampai." El melihat toko sepatu yang ada beberapa meter di depannya.
__ADS_1
Bersambung..