Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 49


__ADS_3

Chapter 49: Reina


"Ada yang tak terlihat selain udara. Itu adalah perasaan sayangku di matamu..." -Reina-


Reina menghela nafas yang sangat panjang. Sepanjang yang ia bisa. Langkahnya tertatih mengikuti Arga yang jauh di depannya. Mereka baru saja selesai melakukan rehabilitasi yang dipesan khusus oleh El. Si om nyatanya sebaik itu.


"Arga... Bisa kita makan dulu? Aku lapar..." Keluh Reina.


"Makan aja sendiri. Gue enggak lapar..."


Reina mendengus lelah. Semakin lama sikap Arga semakin tidak sopan. Kalau dulu ia masih menggunakan aku-kamu, sekarang tanpa ragu menggunakan elo-gue. Terkadang Reina berpikir, apa harusnya ia menyerah saja...


Semenjak kejadian tertangkap basah oleh Luna, keadaan berubah. Arga menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Seluruh usahanya selama ini berubah menjadi sia-sia. Teleponnya sudah tidak pernah diangkat, dan pesannya tak kunjung dibalas. Meski begitu ia bersyukur Arga tidak memblokir dirinya. Untuk bertemu sekarang saja ia harus rela menunggu berjam-jam sampai Arga keluar dari sekolah. Iya, jam pelajaran Arga lebih lama dan dia sengaja menunggu di sekolah sampai sepi. Reina berulang kali menolak ajakan pulang bersama dari teman-temannya demi menemani cowok ini, yang bahkan meliriknya saja pun tidak.


"Arga..." panggil Reina. Ia tertinggal. Ia berusaha menyamai langkahnya dengan Arga. Namun dalam sekian detik Arga sudah jauh di depan. Ia lelah. Dan memilih berdiri diam, menunggu. Berharap Arga menyadari kalau mereka sudah tidak melangkah bersama lagi. Ia akan mengucapkan syukur kalau sampai Arga berpaling dan menunggunya. Tapi semua tampak terlalu muluk untuk Reina.


Arga menghilang dari pandangan. Benar-benar tidak menyadari kalau gadis itu sudah tidak bersamanya lagi. Reina berjalan ke sisi jembatan yang baru saja mereka lewati. Ia berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya, melihat air yang mengalir di bawah. Suara gemericik itu membuat hatinya sedikit tenang.


Reina memejamkan matanya sesaat, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Gadis Transparan


Aku memanggil, kau bisu


Aku diam, kau berlalu


Apakah aku tak kasat mata untukmu?


Setiap sentuhan bagai mimpi


Perkataan bagaikan ironi


Terabaikan olehmu aku menjadi sangat ahli


Perasaan ini membuatku tercekik


Harapan membuat dadaku terhimpit


Harus melakukan apa agar kau tertarik?


Salahkah jika hati ini berlabuh padamu?


Aku bisa apa kalau aku terjatuh untukmu?


Tak mampu berpaling dan setia menunggu?


Sekali saja pandanglah


Setelah itu rasakanlah


Terakhir milikilah


Ya, sesederhana itu memang mimpiku


Serendah itu harapanku


Dan senista itu diriku yang selalu mengejarmu


Aku ingin kau melihatku


Aku ingin kau melihatku


Aku ingin kau melihatku


Lihatlah aku si gadis transparan...

__ADS_1


Benar-benar tidak kembali. Reina membuka matanya. Hanya untuk mendapati jalan yang kosong. Ia melangkah lagi, kali ini sendiri.


Sengaja Reina berjalan pelan. Untuk apa terburu-buru, Arga pun sudah pergi. Reina tersenyum kecut. Ia menundukkan jalan sambil menunduk, sesekali menendang kerikil yang dekat di kakinya.


Tuk....


Batu kecil itu bergulir jauh ke sisi jalan, menabrak sepasang sepatu milik seseorang. Ia mengenali sepatu itu, tapi apakah ia harus berharap sekali lagi?


Reina mendongakkan wajahnya, melihat sosok Arga yang mengisap sesuatu yang mengeluarkan asap. Kau tentunya tau apa. Bukan, bukan obat nyamuk bakar. Ini adalah sesuatu yang panjang, yang iklannya selalu disensor di televisi. Sesuatu yang seperti itu.


"Apa kau menungguku?" tanya Reina ragu. Ini seperti hatinya yang sudah dibuang lalu dipungut lagi. Baru dipulung, belum diputuskan nantinya akan disimpan atau tidak.


"Aku cuma menghabiskan ini..." Arga mengacungkan benda yang dijepit antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


Reina tersenyum kecil, bukan hanya karena Arga menunggunya. Tapi karena dia menggunakan kata "aku" lagi untuk Reina.


Ini salah. Reina menggelengkan kepalanya kencang. Tidak baik jika ia terlalu senang. Harapannya nanti kembali lagi. Reina memajukan bibirnya, cemberut berusaha mengacuhkan Arga. Ia berjalan melewati cowok itu, meyakinkan hatinya kalau ini yang terbaik. Lepaskan dan relakan. Ikhlaskan....


Reina terus berjalan tanpa menoleh. Sengaja, walaupun Reina bisa mendengar langkah kaki di belakangnya. Ya, Arga mengikutinya.


Ini seperti bermain layang-layang. Saat ia menarik mendekat, Arga menjauh. Saat ia menyerah pergi, lelaki itu kembali. Seperti itu Arga menarik dan mengulur perasaannya. Tidak mengizinkannya mendekat, tapi juga tidak memperbolehkannya pergi. Lelaki ini sungguh pintar mempermainkannya.


Reina ada di persimpangan jalan yang lebih ramai. Perutnya berbunyi keroncongan. Energinya habis saat menunggu Arga, dia tidak berani jajan sama sekali tadi siang, takut kalau-kalau Arga pergi meninggalkannya. Akibatnya perutnya meronta sekarang.


Diliriknya sisi jalan, ada sebuah gerobak bakso yang berhenti di sana. Ia akan mampir ke sana sebentar. Semangkuk bakso pasti bisa membuatnya kenyang.


"Apa kakak mau makan?" Arga tiba-tiba saja berdiri menghalangi di depannya.


Reina menghela nafas pasrah. "Iya...." jawabnya pelan. Apa Arga sudah lupa? Baru beberapa menit lalu dia mengajak Arga makan, yang langsung ditolak cowok itu dengan sadisnya.


"Aku makan bakso di sana dulu, ya... Kamu enggak apa kalau enggak mau nungguin aku. Aku bisa pulang sendiri..." Reina mengucapkan ini untuk jaga-jaga. Ia mencoba meyakinkan Arga bahwa ia tidak menaruh praduga kalau Arga akan menemaninya. Biarkan saja dirinya sendiri, sudah biasa.


Ternyata Arga setia mengekor Reina. Dia pun ikut memesan makanan dan duduk di samping gadis itu. Membuat Reina terheran-heran, padahal jelas tadi dia mengatakan kalau dia tidak perlu ditemani dan tidak berharap ditunggui.


Dua mangkuk bakso sudah tersaji di depan mereka. Reina menyantapnya dengan lahap. Arga meliriknya sesaat. Reina yakin cowok itu melakukannya. Dia punya mata di belakang kepala, haha... Bercanda...


Selesai makan mereka menaiki kendaraan umum menuju ke rumah lama Luna, tempat Arga tinggal. Terasa aneh, tapi selama ini memang Reina yang mengantar Arga. Setelah yakin cowok itu masuk ke dalam rumah, barulah ia memesan ojek online untuk pulang.


Mereka berjalan bersisian lagi masuk ke dalam komplek perumahan. Reina menatap lurus ke depan. Kali ini ia melambatkan langkah, sengaja ingin melihat apakah lelaki itu meninggalkannya seperti biasa? Ternyata tidak, ia menyamakan langkahnya. Menyenangkan sekali, harusnya dari dulu ia melakukan ini.


Kedua kaki Reina berhenti tepat di depan pagar rumah Arga. Dia menatap Arga sesaat, menunggu cowok itu masuk. Tanpa kata lagi. Arga menyentuh pagar itu dengan enggan kemudian masuk ke dalam. Ia melihat Reina yang menungguinya sampai masuk ke dalam rumah. Mereka saling bertatapan selama lima detik, sebelum akhirnya Arga membuka mulutnya.


"Bye, kak..."


Dua kata yang berhasil membuat Reina tersenyum selama 24 jam penuh.


***


Arga melepaskan tas dari bahunya. Ia berbaring di atas ranjang tempat Luna dulu. Iya, setelah kamar itu tidak berpenghuni, Arga yang menempatinya. Tanpa bertanya atau meminta persetujuan siapa pun, ia pindah saja. Bunda pun tak keberatan dan malah merapikan barangnya, menyingkirkan semua milik Luna tanpa berpikir dua kali.


Arga berbaring miring. Ia teringat lagi kejadian barusan. Apakah ia keterlaluan? Kak Reina memang selalu ada di sisinya, bahkan tidak meninggalkannya sama sekali walaupun sudah tau kelakuan bejatnya.Tapi hari ini ia melihat ekspresi lelah di wajah gadis itu.


Bangkit dari rebahan, Arga duduk di tepi ranjang. Ini sedikit membuatnya penasaran. Apakah terjadi sesuatu dengan Reina? Apa dia sedang ada masalah makanya terlihat selesu itu?


Diraihnya ponsel dari dalam tas. Arga menekan tombol pembuka kunci layar dan memasukkan password di sana. Dia meneliti dan mengecek lagi semua pesan yang Reina kirimkan. Menganalisa apakah ada kejanggalan di sana. Semua pesan dari Reina yang sedang ia tatap saat ini hanya ia baca tanpa dibalas. Tega memang, tapi Arga sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukan itu. Dia membiarkannya terjadi begitu saja. Dan saat ia sadar, sudah sejauh ini.


"Hhh...." Arga menghela nafas panjang kemudian membanting dirinya di atas kasur membuat bunyi bruk kecil. Ia menatap layar ponsel sambil berbaring, melihat bolak-balik pesan Reina. Haruskah ia membalas? Tapi kata-kata apa kiranya yang tidak mencurigakan? Tepat sasaran dan tidak berlebihan? Apa ia harus mencari referensi di mesin pencari?


Sinar dari benda pipih itu menerpa wajahnya, ia membiarkannya saja sambil terus berpikir. Beberapa menit kemudian Arga menyerah, ini lebih sulit dari dugaannya.


Saat itulah Bunda mengetuk pintu kamar dan masuk untuk menyuruhnya makan malam. Sudah selama itu ia berpikir ternyata.


"Kenapa kamu belum mengganti bajumu?" protes Bunda. Sudah malam dan Arga belum membersihkan dirinya. "Bunda siapkan air hangat. Kamu mandi dulu baru makan," ucapnya perhatian.


"Iya, Bun..." Arga menyahuti ajakan Bunda dan melangkah keluar kamar dengan ponsel yang masih setia ada di tangannya.

__ADS_1


Arga mengalungkan handuk di leher sambil terus mencari tau kata-kata yang cocok untuk membalas pesan Reina yang terakhir. Pesan itu dikirim sekitar jam 12 tadi siang. Sudah berlalu lebih dari 6 jam dari waktu saat ini.


Arka dan Arsya yang baru saja keluar kamar bergabung duduk di kursi sebelah kiri dan kanan Arga. Ikut mengintip layar ponsel Arga, penasaran dengan apa yang dilakukan kakaknya.


"Cieeee... Yang punya pacar...." ledek Arka. "Pantas saja setiap hari pulang telat.. Mojok dulu rupanya..."


Arka dan Arsya sebenarnya sudah tertinggal jauh dengan keadaan yang terjadi saat ini. Kedua adiknya tidak tahu-menahu drama apa yang sudah terjadi.


"Diam elo, berisik.." Arga mengibaskan handuknya mengenai wajah Arka yang membuat ia berteriak marah.


"Perih, kak..." Arka mengucek matanya. Tak sengaja Arga mengenai tempat itu tadi.


"Sorry, makanya jangan bawel," ketus Arga.


"Jadi pacar kakak siapa?" tanya Arsya. Semenjak tidak berbagi kamar, mereka tidak melakukan rapat dan bergosip lagi. Arga seperti menjauh secara alami.


"Kak Reina... Kakaknya Rayya..." jawab Arka mewakili. "Temannya kak Luna juga," sambungnya.


"Ah, kangen sama kak Luna. Sudah lama tidak jumpa. Kak Arga curang masih bisa bertemu di sekolah," cibir Arsya.


"Iya, sama. Apa kita tidak bisa berkunjung ke rumahnya?" tanya Arka. "Ingin bertemu, bukan cuma kirim pesan dan telepon...."


Arga terhenyak. "Kalian sering chat?" tanyanya tak percaya.


"Tentu saja... Memang kakak tidak?" Arka balik bertanya.


Arga mendecak kesal. Kak Luna pilih kasih sekarang. Bukannya dulu dirinya lah adik yang paling disayang?


"Sering, kok...." dusta Arga.


"Halah, bohong pasti!" sindir Arka. "Buktinya tadi kaget..." tuduhnya.


"Bawel..."


"Hadeh, sensi gitu juga! Aduin ke Rayya ya, kelakuan kak Arga. Biar cepat diputusin!"


Arga melengos. Ternyata Reina belum jujur kepada adiknya kalau hubungan mereka sudah berakhir. Tunggu, apakah memang telah selesai? Apa salah satu dari mereka mengatakan putus?


Berapa kali pun ia memutar otak, Arga tidak bisa menemukan ingatan tentang itu. Sepertinya belum. Mereka tetap jalan bersama seperti biasa. Bahkan kalau dipikirkan lagi, dirinya dan Reina tidak benar-benar saling menyatakan suka.


"Bilang saja..." balas Arga.


"Duh, kakak..." keluh Arka. "Padahal aku udah berkorban merelakan Rayya karena kakak jadian sama kak Reina..."


"Dih...." Arga geli mendengarnya. "Kalau suka ya jadian aja..." protesnya.


"Ya gimana mungkin? Kita adik kakak pacaran sama adik kakak juga?" gerutu Arka sambil memutar mata. Rayya memang cewek favoritnya selama ini. Gadis itu orangnya supel dan tidak manja seperti kebanyakan. Dia juga suka bermain game seperti Arka, mereka selalu satu tim.


"Memang enggak boleh ya? Bukannya tidak mengapa? Sampai menikah pun tidak mengapa rasanya..." Arsya mengelus dagunya berpikir.


"Nikah lagi..." Arka melengos malas. Dia beranjak mengambil piring untuk makan. Arga pun mengikuti Arka membubarkan gerombolan itu. Dia mematikan kompor dan menuang air panas untuk mandi. Arsya yang melihat kedua kakaknya berpencar ikut-ikutan ngeloyor pergi.


Selesai mandi, Arga mengusap pelan rambutnya yang basah. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dan memasuki kamarnya. Diliriknya lagi benda pipih itu. Masih tidak ada notifikasi pesan masuk. Padahal dia sudah menunggu cukup lama.


Jempol Arga sudah bersiap menekan beberapa tampilan tombol huruf. Sudah yakin dengan pesan yang akan ia kirimkan.


mengetik....


Selamat


Arga menghentikan jarinya. Apa tidak mengapa? Dia menggigit bibirnya ragu.


mengetik...


Selamat tidur kak.

__ADS_1


Mungkin tak apa kalau cuma sekali.


Bersambung


__ADS_2