Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 16


__ADS_3

Chapter 16: Luna si bocah


"Aku ga mikir apapun, cuma keingetan pelajaran biologi aja." -Luna-


"Ini... jalan ke rumah kakak?" Luna bertanya bingung saat melihat keluar jendela. Jalan yang rasanya pernah ia lewati.


Setelah akad pernikahan yang berakhir dengan situasi tegang, keluarga Luna pamit lebih dulu yang kemudian disusul oleh keluarga El.


Luna yang seperti anak ayam kehilangan induknya, tak tau harus melakukan apa dan akhirnya mengikuti saja kemana para pengawal itu membawanya. Sampai El mengetuk pintu kamarnya dan menyuruhnya bersiap pulang.


Gue pikir pulang ke rumah Jessika, tapi malah main ke rumah kak El.


"Hai, sayang," sapa mami saat membukakan pintu untuk El dan Luna. Mami memeluk Luna sebentar lalu mengajaknya masuk. "Duduklah dulu, kita makan siang bersama," ucap mami yang langsung menuju dapur.


Setelah beberapa saat makanan tersaji. Selama makan, Luna terus-terusan menatap El, berharap El akan berbicara sesuatu. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya disini. Tanpa belahan jiwa bersinyal (ponsel), Luna merasa hampa.


El meletakkan sendok dan garpunya dan langsung bangkit dari kursi menghampiri Kris yang menunggu di belakangnya selama makan.


"Kak," Luna akhirnya memanggil El.


El menoleh. "Kenapa Luna?" tanya El. Tapi Luna hanya menatapnya. "Tunggu sebentar ya," El yang mengerti maksud Luna mengelus kepalanya pelan. Dia pun naik ke lantai atas disusul Kris.


Luna pasrah, setelah makan ia mengikuti mami kembali ke ruang TV. Bukannya ingin terus menempel dengan El atau bagaimana, tapi kalau memang El sibuk kenapa tidak mengantarnya pulang saja?


"Coba ini," mami memberikan toples kepada Luna. Kasihan melihat menantu barunya yang cemberut sedari tadi.


Luna mengambil toples dari mami dan membukanya. Isinya kue cokelat berbentuk hati dengan butiran warna-warni. "Terima kasih, mami." Luna mencoba kue itu. Enak. Seenak itu.


Mami sedikit lega melihat Luna yang tersenyum memakan kuenya. Kalau begitu, dia bisa lanjut menonton TV dengan tenang.


Film sudah selesai, dan tanpa sadar Luna sudah menghabiskan isi toples itu. Mami terkejut dalam diam.


Luna melirik jendela yang menunjukkan hari sudah sore. Dan daritadi dia masih disini cuma menonton TV!


"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanya mami. Dia sudah bisa melihat Luna yang mulai bosan lagi.


Luna akhirnya sadar bahwa sedari tadi mami mengkhawatirkannya. "Ga mi." Luna menggeleng. "Luna boleh jalan-jalan di depan?" tanya Luna. Ia menunjuk ke arah pintu keluar. Mami tersenyum lalu mengangguk.


Mengitari halaman rumah El membuat kakinya cukup lelah. Sangat besar. Tidak terasa kalau mereka masuk dengan mobil, tapi kalau jalan kaki, cukup membuat keringatan. Luna merasa dia bahkan bisa main bola, bersepeda atau main petak umpet disini sekalian.


Luna duduk di kursi dekat gerbang rumah bersama Pak Ahmad yang sudah mengantarnya berkeliling. Rumah orang kaya memang beda, ada kolam renang, kolam ikan dan taman bunga. Kalau rumah Luna dulu hanya ada kolam jentik nyamuk saja.

__ADS_1


Hari mulai temaram, Luna ingin pulang. Tapi ia tidak membawa ponsel ataupun uang. Sampai dia menyadari sesuatu. "Pak, bisa antar aku?" tanya Luna pada Pak Ahmad.


"Bisa, nona. Nona mau kemana?" tanyanya.


Kenapa dia ikut-ikutan panggil begitu?


"Aku mau pulang." Luna bangkit berdiri. "Sebentar, aku pamit ke kak El sama mami dulu," ucap Luna. Belum sempat Pak Ahmad menjawab, Luna sudah berlari masuk ke rumah.


"Mami, boleh Luna ke atas? Luna mau bicara sama kak El." Luna bertanya kepada mami yang masih asyik menonton film selanjutnya.


"Tentu saja! Naiklah, mungkin El ada di ruang kerja. Ruangan di sebelah tangga," jawab mami.


Luna segera menaiki tangga dan menemukan El dan Kris sudah berdiri di depan pintu. Kris tampak menunduk pamit pada El lalu pada Luna dan melangkah turun.


"Kak," panggil Luna.


"Luna, maaf. Kakak pasti lama. Kakak cuma mau menyelesaikan pekerjaan, jadi nanti malam kakak bisa istirahat," keluh El. Dia sangat lelah karena kurang tidur belakangan ini.


Luna tersenyum. "Ga apa. Kakak pasti sibuk," ucap Luna. "Kak, sudah sore. Boleh aku pulang?" tanyanya.


El tertawa geli. "Kamu mau pulang kemana?" tanya El.


"Kakak jangan bercanda, ah..." Luna mulai merajuk. "Besok aku ada simulasi, aku harus belajar. Buku aku di tempat Jessika," ucap Luna.


"Kenapa?" Luna menahan tubuhnya, tidak mau mengikuti El.


"Masuk," ucap El sambil menarik tangan Luna. Luna masih tidak mau bergerak.


"Itu kamar kakak?" Luna menunjuk kamar yang dituju El.


"Bukan...." El mendorong tubuh Luna sampai ke depan pintu lalu membukanya. "Masuk," ucap El. Ia merangkul Luna erat agar Luna tidak kabur.


"Kakak bohong!" ucap Luna setelah pintu terbuka. Itu memang terlihat seperti kamar seseorang. Lihat saja tempat tidur besar dan lemari yang ada di dalam. Bahkan ada TV dan sofa juga. "Terus kamar siapa?" tanya Luna.


"Kamar kita," jawab El. Luna langsung melotot kaget. "Maaf tadi kakak lupa bilang. Sekarang kamu tinggal disini sama kakak," ucap El.


"...."


"Barang-barang kamu sudah ada di dalam."


"...."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu ke rumah Jessika lagi."


"...."


"Kan sekarang kamu istri kakak, jangan bilang kamu lupa. Kita baru menikah tadi pagi."


"...."


"Luna..." El mencoba menyadarkan Luna dari keterkejutannya.


"Sudahlah mandi dulu sana, kamu berkeringat." El mendorong Luna ke depan lemari dan membukanya.


Luna terpaku melihat sebuah lemari penuh berisi pakaian. Dia membuka pintu lemari di sebelahnya, berisi penuh sepatu dan tas yang tertata rapi. Ia mengambil baju dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Setelah ia selesai, El gantian masuk.


Mendengar bunyi pintu tertutup, Luna langsung berteriak tanpa suara.


Aaaaaaaaaaaaaa!!!


Luna sudah tidak tau dan tidak mau tau apa yang akan terjadi nanti. Dia menarik rambutnya gemas dan membenturkan dahinya ke sisi meja rias agar pikiran aneh dalam otaknya segera keluar.


"Hufff...." Sedikit mendapatkan akal sehat, Luna mengeringkan rambutnya dan menyisirnya rapi. Dia mencari buku-buku pelajarannya, dia harus fokus, jangan berpikir macam-macam, jangan berpikir--


Terdengar suara pintu dibuka dan Luna langsung menoleh ke sumber suara. El keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggang.


BRAK!


Buku-buku yang dipegang Luna terlepas seketika dan berhamburan di lantai. Ia berdiri tak bergerak.


Gue ga mikir apa-apa... kok.... bener....


El terhibur melihat ekspresi istri kecilnya. Dia tersenyum menggoda dan menghampiri Luna. Luna tak berkedip menatap dada bidang dan perut berotot milik El.


Glek. Luna menelan ludah.


"Kenapa? Kamu mau pegang?" tanya El.


"Iii-enggak!" Luna berteriak panik.


"Yakin?" El memegang tangan Luna dan mengarahkannya ke dadanya.


Pluk. Tangan Luna sudah mendarat.

__ADS_1


Luna menarik tangannya dan dalam sekejap berlari keluar sambil berteriak, "Aaaaaaaaaaa...!! Mamiiiiiiii.......!!"


Bersambung


__ADS_2