Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
57. Hari tenang itu hanya mitos


__ADS_3

Hari ini sekolah masuk seperti biasa. Luna sedang senang karena El dan adik-adiknya sudah berbaikan. Dia pun puas tidur semalam. Hari-hari yang tenang pun datang kembali.


"Hai, Jess." Luna menyapa Jessika sambil tersenyum.


"Seneng banget tuh kayaknya. Awas sobek tuh, mulut." Jessika meledek Luna.


"Iya, seneng banget elo, Lun." Tiara duduk di depan Luna.


"Iya lah, kan habis jalan sama si om..." Reina ikut duduk di sebelah Tiara.


"Sut ah! Sirik aja kalian." Luna mengeluarkan PRnya. "Jess, pinjem PR, ketiduran gue semalem."


"Mana lah gue udah kerjain PR. Sibuk gue," Jessika menepuk tangan Luna yang menengadah.


"Pacaran melulu sih, Lo!" gerutu Luna.


"Heh, kayak elo engga aja, Bambang..." Jessika menarik rambut Luna.


Luna melirik Tiara, lalu menggeleng sejenak, dia beralih ke Reina. "Rei, pinjem PR."


Reina mengambil PRnya dan duduk di tempatnya semula. Setelahnya tangan Luna dan Jessika mulai bekerja.


"Gue ga pacaran, gue kan belum punya pacar." Luna baru menjawab pertanyaan Jessika.


"Lah, si om apa kabar?" Jessika mengibaskan tangannya di depan Luna, mencoba menyadarkan temannya itu.


"Dia bukan pacar gue, deh." Luna menjawab kalem.


"Kenapa?" dahi Tiara sudah berkerut bingung.


"Ya bukanlah, orang dia juga belum nembak gue."


"Kalian udah sedekat itu tapi dia belum nembak juga??" Jessika memekik tak percaya.


"Terus kenapa emang?" Luna memandang Jessika sebal. Terlalu berisik. "Mungkin dia juga cuma anggap gue kayak adiknya aja."


"Gue ga ngeliat seperti itu." Tiara tidak setuju.


"Iya, kakak gue ga pernah, tuh, traktirin temen-temen gue, rangkul gue, atau bahkan bawain tas gue." Reina diam sejenak, mencoba mengingat kebaikan kakaknya. "Emang elo kalau ke adik elo gitu?"


"Engga juga sih." Luna selesai mengerjakan PR. "Terus kalian mau gue gimana? Nembak duluan? Pede gila..."


"Ya kalau elo mau, kita dukung." Jessika mengusulkan dengan penuh semangat.


Luna terdiam, dia mengacak tasnya, mencari earphone, lalu memasangnya.


Jessika mencak-mencak, "Lun, elo ga mau dengerin gue???!!!"

__ADS_1


***


Luna dan Jessika, serta 2 orang pengikut barunya, Reina dan Tiara, menyusuri lorong menuju ke kantin.


Jessika masih keukeuh dengan embel-embel mendukungnya. Luna jengah mendengarnya. Dia pun menyumpal telinganya lagi, yah, daripada menyumpal mulut Jessika.


BUK!


Luna tiba-tiba terjatuh dengan lutut dan kedua tangannya menyentuh jalan. Ponselnya sudah terlempar jauh.


Dia menoleh ke belakang, sebuah kaki sengaja membuatnya jatuh. Luna menatap tajam yang orang yang melakukannya.


Gue baru sembuh terkilir, tau!


"Ah, maaf... Gue ga sengaja." Suaranya terdengar dibuat-buat, dan itu sungguh menyebalkan.


"Elo sengaja kan!" Jessika mulai emosi. "Ga usah pura-pura! Kita semua lihat, kaki elo sengaja nyandung Luna!" Jessika menunjuk-nunjuk kaki Angel.


Ya, Angel. Dia sudah selesai diskors. Tapi malah membuat masalah lagi.


Sabar Lun, sabar. Orang waras harus ngalah.


Luna memungut ponsel dan earphonenya, lalu memasukkannya ke saku. Dia lalu menarik lengan Jessika, "temenin ke UKS."


Angel tersenyum menang saat melihat Luna dan Jessika pergi. Reina dan Tiara masih mengikuti.


"Elo tuh ya, malah diam aja! Bukannya dilawan!" Jessika masih ngomel-ngomel.


"Berisik tau gak, sih Lo!" Luna mengecek ponselnya yang tadi jatuh. Pelindung layarnya retak dan sisi ponselnya tergores.


Kampret si Angel deh, ga ada kerjaan banget, sumpah.


"Gue laper nih, jadi ke kantin ga?" Luna mengajak Jessika lagi. Bagaimanapun, dia perlu makan. Jam pulang sekolah masih lama dan dia tidak membawa bekal hari ini.


"Hayu, lah." Jessika memimpin jalan. Tiara dan Reina tampak ragu mengikuti mereka.


"Kalian mau ikut ga?" Luna menyadari kebimbangan mereka.


"Ikut!" Reina dan Tiara langsung menyusul di belakang Luna.


"Jess, telepon Tyo. Suruh dia ke kantin cepetan. Gue males kalau sampe ketemu Angel lagi." Luna menggenggam ponselnya. Kalau saja tadi ponselnya sampai rusak, dia mau mencekik Angel. "Lagian tumben amat dia ga ke kantin bareng kita."


"Iya, tau. Daritadi gue chat juga belum dibaca." Jessika mengecek ponselnya, sekali lagi mengirimkan pesan. "Nanti gue mampir ke kelasnya deh abis kita makan."


"Sip," Luna mengangguk setuju. "Entar gue temenin."


Setelah itu, mereka berhati-hati agar tidak bertemu Angel lagi, tampaknya aman.

__ADS_1


"Buruan, Lun. Gue kan mau ke kelas Tyo." Jessika mulai merengek. Kalau keadaan biasa aja dia sudah berisik, apalagi waktu dia lagi ngerengek. Telinga Luna sampai berdengung.


"Iyaaaa.... Bawel, sumpah! Sakit kuping gue." Luna menyelesaikan makannya. "Kalian mau ikut?"


Reina dan Tiara saling tatap. Mereka lalu mengangguk.


Di dekat kelas Tyo malah ada kerumunan, sebagian berbisik, sebagian berseru-seru.


"Cepet woy, ada yang mau berantem di belakang kelas."


Sekilas gerombolan Luna bisa mendengar apa yang diributkan. Jessika langsung menoleh ke Luna. "Perasaan gue ga enak, Lun."


Luna, Jessika, Reina dan Tiara langsung berlari mengikuti anak-anak lain. Mereka sampai di kerumunan. Luna langsung mencari jalan ke tengah. Benar saja, Tyo sedang berhadapan dengan Alex. Tapi, sayangnya bukan hanya berdua, Alex bersama dengan dua temannya. Dan Tyo, sedang bersama Arga.


"Si Anjay... Ngapain dia disitu?" Luna langsung berdiri di depan Arga, menatap Tyo dan Alex di depannya.


"Gue ga pernah ganggu urusan Lo, kenapa elo ikut campur urusan gue?!" Lagi-lagi situasi dimana Alex menyambar kerah Tyo berulang di hadapan Luna.


"Kak," Arga memegangi tangan Alex. Teman-teman Alex sudah menatap Arga dan siap menerjang jika Arga melanjutkan gerakannya sedikit saja.


Keadaan menjadi semakin tegang, Jessika sudah menggigiti kukunya cemas. Luna tidak bisa berpikir jernih, dia langsung maju ke depan.


Tepat saat Alex mengalihkan cengkeramannya dari kerah baju Tyo ke tangan Arga, Luna langsung bertindak.


DUAK!


Sebuah pukulan dari Luna mengenai pipi Alex.


"Ah, sorry." Luna sendiri kaget dengan apa yang dia lakukan. Begitu pun dengan orang-orang di sekitarnya. Langsung terjadi keheningan total.


"LARI!" Luna langsung berteriak sambil menarik tangan Arga. Arga menyambar tangan Tyo, dan Tyo meraih tangan Jessika. Mereka langsung memecah kerumunan dan berlari sejauh-jauhnya.


"Kak!" Seruan Arga menyadarkan Luna. Luna langsung berhenti. Nafasnya terengah-engah.


"Kita mau lari sampai mana?" Mereka saat ini berada di depan ruang guru yang ada di dekat gerbang masuk sekolah. Luna hampir saja menyeret mereka lari keluar. Jessika dan Tyo ikut berhenti di belakang mereka.


"Sorry, sorry." Luna merapikan rambutnya. Tangannya gemetaran dan kakinya baru terasa lemas sekarang.


"Kakak ga papa?" Arga memegang kedua pundak Luna, mencoba meneliti wajah kakaknya yang masih terlihat panik. Arga memeluk Luna sesaat kemudian menepuk punggungnya. "Tarik nafas,,, pelan-pelan..."


Luna sudah tidak gemetar lagi, dia melepaskan pelukan Arga kemudian mendapati Tyo dan Jessika menatapnya.


Bersambung..


EPILOG


"Pak, saya mau lapor." Luna duduk di depan meja guru piket. "Saya habis nonjok orang--

__ADS_1


__ADS_2