Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 57


__ADS_3

Chapter 57: Aku Sayang Kamu


"Cukup tiga kata untuk mengubah aku dan kamu menjadi kita..." -El-


Reina menggerakkan sepatunya, ke kanan dan ke kiri. Dia saat ini sedang menunggu Arga selesai.


"Hhhh..." Gadis itu menghela nafas panjang. Dia bucin. Bucin yang setia luar biasa. Lihat saja bagaimana sabarnya ia menunggu beberapa jam sampai cowok itu keluar kelas. Duduk manis di kursi dekat gerbang sekolah sambil sesekali melihat jam tangan dan melirik ke arah pintu masuk.


Menit berlalu tanpa ada tanda kalau sekolah akan berakhir. Menyerah dengan rasa bosan, Reina mengeluarkan ponsel miliknya. Jarinya yang sudah terlatih, memasukkan password dengan cepat dan langsung menuju aplikasi pemutar video online, YouTube. Mendengarkan beberapa lagi bisa membantu mengurangi rasa bosan, pastinya.


Tangan Reina merogoh masuk jauh ke dalam tas, mencari earphone miliknya. Setelah beberapa detik meraba, ia menemukan kabel panjang itu. Dipakainya sisi kiri dan kanan ke telinganya, lalu fokusnya kembali ke benda pipih di tangan. Jari Reina yang lincah menelusuri beranda. Ada beberapa video musik yang menarik di sana. Dia memutar acak, mencari lagu yang mungkin sesuai dengan isi hatinya. Entahlah, bagi para pejuang galon (gagal move on), semua lagu terasa sama seperti kisah hidup mereka. Reina tersenyum kecut sesaat sebelum ia menekan tombol putar dan mulai terhanyut dalam merdunya musik yang menyapa telinganya.


Suzy-I love you boy


geudael bogi wihae meon gireul geonneowassneyo🎵


Aku menempuh perjalanan jauh tuk bertemu denganmu


himdeun girin geol almyeonseodo geujeo georeossjyo🎵


Meskipun aku melewati jalan terjal tapi aku terus berjalan


I fly for you nungamado


boiji anhdeon nae mame niga dagawa🎵


Aku terbang kepadamu, tapi kau datang ke hatiku yang tak terlihat


because I love you boy🎵


Karena aku mencintaimu


nae gyeoteuro dagawayo 🎵


Datanglah kepadaku


because I need you boy 🎵


Karena aku membutuhkanmu


kkumeseodo geuriungeol 🎵


Juga merindukanmu


Remember I love you boy🎵


Ingatlah bahwa aku mencintaimu


dasin *** su eopsda haedo🎵


Meskipun aku tak bisa melihatmu lagi


because I love you boy🎵


Karena aku mencintaimu


because I love you boy🎵


Karena aku mencintaimu


sarangheyo saranghaeyo🎵


Aku mencintaimu aku mencintaimu


neowa hamkkehan gieokdeuri barame nallyeo🎵


Kenanganmu terbang terbawa oleh angin


jichin nae mame naeryeoanja nareul usge hae🎵


Dan jatuh di hatiku, membuatku tersenyum


angae sogeul hemeideon🎵


Perasaanku yang belum terungkapkan


jeonhaji moshan nae mami nege dagaga🎵


kini sedang mendatangimu


nae chagaun mameul umjigyeossdeon🎵


Kau menggerakkan hatiku yang dingin


gaseumeul ulge haessdeon🎵


Kau membuat hatiku menangis


geu sarami geudaengeoryo🎵

__ADS_1


Itu adalah dirimu


jeongmal ijeuryeogo haedo jiwonaeryeohaedo🎵


Aku coba lupakan, aku coba hapuskan


nae sarangeun geudaejyo🎵


Tapi cintaku adalah dirimu


(I fly for you)


Reina refleks menelan tombol jeda pada video saat melihat seorang siswa melangkah keluar. Pastinya bel sudah berbunyi saat dia mendengarkan musik tadi. Dicopotnya segera kedua penyumbat telinganya itu, disimpan asal di dalam tas. Ia segera mengancing tasnya lalu memakainya cepat. Sedetik setelahnya, Reina langsung berdiri dan melongok, mencari sosok yang ia tunggu sedari tadi.


Belum ada...


Reina berdiri dalam diam, memperhatikan lautan siswa yang berjalan ke arahnya, melewatinya untuk menuju gerbang sekolah. Menit berlalu bagaikan jam, akan tetapi matanya tetap memandang lurus ke depan.


Lalu, sosok itu muncul. Pandangan mereka bertemu. Sesaat keadaan sekeliling mendadak sunyi. Kedua pasang mata itu saling menatap. Perlahan, suara musik mulai terdengar di telinga Reina. Ia mengambil satu langkah mendekat.


because I love you boy🎵


Karena aku mencintaimu


nae gyeoteuro dagawayo 🎵


Datanglah kepadaku


because I need you boy 🎵


Karena aku membutuhkanmu


kkumeseodo geuriungeol 🎵


Juga merindukanmu


Datang padaku...


Reina menghentikan langkahnya lalu menunggu. Dia ingin Arga yang datang padanya. Tidak melulu ia yang mendekat. Sengaja ia menatap Arga lekat, ingin tau apakah lelaki itu mengetahui apa yang ia inginkan. Berlanjut atau berhenti....


***


Arga menatap Reina. Gadis itu pasti sudah lama sekali menunggunya. Pantang menyerah dan juga kepala batu. Arga melihat Reina berjalan mendekat ke arahnya. Tapi setelah satu langkah, Reina berhenti. Membuat Arga bingung dan penasaran. Cewek itu terlihat bimbang. Apa Reina memutuskan untuk tidak melanjutkan ini? Berhenti? Sekarang? Tapi Arga tidak mau begitu.


Gin bami omyeon tto gireul irheo niga eomneun nan 🎵


Saat malam yang panjang datang, aku tersesat lagi, tanpamu


Aku berkelana dalam sebuah mimpi yang tak pernah kumiliki sebelumnya


Nal kkaewojul geudaega eomneun gose🎵


Di sebuah tempat tanpamu, yang bisa membangunkanku


Na meomchwoseo neol gidarigo isseo🎵


Aku disini, menunggumu


I need your love nal deryeoga🎵


Aku butuh cintamu, bawa aku pergi


I need you now kkok anajwo🎵


Aku butuh kau sekarang, peluk aku erat


Da notchyeobeorin gieokdeure honja ulgo inneun na🎵


Dalam kenangan yang hilang, aku menangis sendiri


I need your love ni pumeane🎵


Aku butuh cintamu, dalam pelukanku


I need you now kkok anajwo🎵


Aku butuh kau sekarang, peluk aku erat


Neomani nal kkaeul su isseo🎵


Hanya kau yang bisa membangunkanku


(Eddy Kim-When Night Falls)


Reina bagai pelitanya. Ia memberikan cahaya dan kehangatan untuk Arga. Gadis yang selalu ada untuknya. Menemaninya tanpa pernah mengeluh.


DIA MEMBUTUHKAN GADIS ITU.


Arga memulai langkah pertamanya. Yang paling sulit. Dia berhenti, sesaat kemudian memandang lurus ke depan, melihat Reina yang masih tidak bergerak. Tatapannya pun masih sama, tepat ke arah dirinya.

__ADS_1


Ingin bersama.


Arga mengepalkan tangannya. Ia sudah mengambil keputusan. Kakinya bergerak tanpa ragu ke arah Reina. Terus berjalan sampai ia berada tepat di depan gadis itu.


"Kak..." sapanya pelan. "Tunggu aku ya?" tanya Arga dengan wajah datar. Ia ingin tersenyum tapi rasanya masih sulit.


"Hmm..." Reina hanya menggumam tanpa mengangguk atau menggeleng. Mengangguk akan membuatnya terlihat menyedihkan, menggeleng akan mengubahnya menjadi pembohong. Jadi dia mengambil jalan tengah, menatap lurus.


"Maaf tadi aku ke toilet dulu, ngantri..." Arga meraih tangan Reina, membawanya dalam genggaman. Hal ini tentu saja membuat jantung Reina menggila. Belum-belum sudah digandeng saja. Tidak bisakah tersenyum atau memberi aba-aba dulu.


"Tak apa..." Reina menjawab pelan. Namanya juga sedang jatuh cinta, Reina membiarkan saja tangannya tertaut dengan cowok itu.


Setiap langkah yang Reina ambil terasa seperti ia sedang terbang. Mengerikan, apa yang ia rasakan saat ini persis seperti monolog dalam hati pemain FTV saat sedang kasmaran. Lebay dan membuat jijik.


"Kak... Mau makan dulu?" Pertanyaan Arga membuat Reina kaget lagi. Sejak kapan cowok itu menjadi perhatian padanya. Seingatnya terakhir kali ia mengajak makan, Arga tetap berjalan sambil lalu. Tidak perduli sama sekali.


"Hmm..." Karena terlalu tegang cuma gumaman saja yang keluar dari mulut Reina. Dia sungguh diuji kali ini. Isi hatinya sebenarnya ingin meledak keluar, tapi mulutnya tertutup rapat. Berkebalikan.


Sebenarnya Arga bingung juga dengan arti kata 'hmm'. Tapi instingnya memberitahu kalau itu artinya iya. Ditariknya tangan lembut itu ke gerobak mi ayam yang ada tak jauh di depan mereka. Ini seperti keadaan mereka terakhir kali. Reina duduk di kursi yang kosong. Ia membiarkan Arga yang memesan.


Dalam sekejap dua mangkuk makanan tersaji di depan mereka. Reina menatap mangkuk itu sesaat, Arga yang melihatnya memilih untuk membuka suara. "Kakak baru sembuh kan? Makanlah jangan sampai sakit lagi..."


Kalau Arga sebaik ini, ingatkan ia untuk terus sakit. Kebaikan dan perhatian Arga membuat Reina semakin ingin memiliki lelaki itu. Sebenarnya apa hubungan mereka saat ini? Apa namanya? Hubungan tanpa status?


Reina menyantap makanan di depannya. Lebih baik mengunyah daripada terus-terusan berpikir hal yang tidak tau jawabannya apa. Dia tidak ingin bertanya, lagipula kalaupun ditanya apa akan ada jawaban?


Arga yang melihat Reina menyuap makanan, ikut melakukan hal itu juga. Mereka makan dalam diam sampai beberapa orang berseragam sama ikut duduk di depan mereka.


"Arga? Ketemu lagi..." Itu Iksan dan Bagas, teman sekelas Arga. Ah, sial sekali dia malah bertemu dengan dua orang yang ia kenal.


"Wah, kita ganggu kayaknya," celetuk Bagas. Ia memandangi Reina, membuat Reina risih dan membuat Arga kesal.


"Berisik..." Arga cuma mengucap satu kata itu kemudian mempercepat makannya. Harus segera angkat kaki sebelum dua bocah ini berbicara hal yang aneh. Dia bisa percaya Iksan, tapi tidak Bagas. Mereka tidak kenal sedekat itu. Oke, ia memang tidak dekat dengan kedua orang ini. Tapi muka Bagas lebih seperti kriminal dibandingkan Iksan.


"Pacaran kah?" Bagas mencuri pandang ke arah Reina. Ia ingin tau siapa perempuan yang diajak Arga makan bareng. Langka masalahnya.


Muka Arga sudah masam mendengar pertanyaan itu. Teman yang tidak pengertian.


"Namanya siapa?" Bagas terus bertanya karena Arga tidak menjawab. Ingin rasanya ia mencekik temannya itu. Dasar tak tau malu.


Reina yang mendengar pertanyaan itu memandang Bagas sesaat. Ia lalu tersenyum dan menjawab, "Reina..."


"Wah.. Suaramu imut sekali..." Duh, sekarang Arga betulan ingin menonjok makhluk di depannya. Ternyata muka kriminal ini adalah penggoda cewek.


"Bagas." Ia mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Reina menyambutnya, dan ini membuat Arga dongkol.


"Iksan..." Dan temannya yang satu ini juga malah ikut-ikutan kenalan. Minta ditendang juga rupanya.


"Kelas berapa? Kok kayaknya kita gak pernah liat?" tanya Bagas penasaran. Ia tertarik dengan Reina. Cewek ini terlihat kalem. Tipenya.


"Kak, cepat makannya nanti kita telat..." Arga memotong pembicaraan karena telinganya gatal sedari tadi mendengar Bagas mengoceh terus. Reina mengangguk lalu melanjutkan makannya kembali.


"Kak?" tanya Bagas heran. "Dia kakak kelas?" tunjuknya. "Kelas 12?"


Arga sudah sampai di tahap dimana ia ingin melemparkan Bagas ke dasar jurang karena tak berhenti bertanya.


Karena Reina dan Arga sama-sama diam dan tidak memberi jawaban, Bagas dengan santainya bertanya lagi. "Kakak elo?"


Arga menarik nafas lalu menghembuskannya. Panjang, seolah sudah terjadi suatu peristiwa yang membuat kekesalannya menggunung dan ia sedang mencoba tabah serta mengendalikan diri. "Iya... Kakak gue..."


Hati Reina tercekit mendengar jawaban Arga. Dia ada di senior zone. Naik sedikit daripada dianggap bukan siapa-siapa. Tapi tetap saja terasa menyedihkan.


Tak.


Reina meletakkan sendoknya. Dia sudah selesai makan. Arga yang melihat itu segera mengambil tasnya dan bangun dari kursi. Ia ingin segera menarik Reina pergi dari sini. Dengan kecepatan cahaya kalau bisa.


"Buru-buru amat, Ga..." Bagas mulai berulah lagi. "Gue belum sempat minta nomor telepon..."


Arga meradang mendengarnya. "Dia cewek gue kam*ret..."


Bagas memegangi tangan Arga yang sudah mencengkram kerah bajunya, memaksa badannya berdiri.


"Tadi elo bilang kakak, sekarang cewek. Yang bener, G*la!" Bagas mengomel. Dia tidak mengerti Arga. Dikibaskannya tangan Arga dari bajunya. Reina yang melihat ini merasa ngeri, takut kalau-kalau terjadi baku hantam tanpa bisa dicegah. Diraihnya tangan Arga menjauh.


"Jangan berkelahi..." ucap Reina. Ia harus memperingati Arga. Bagi Reina, berkelahi tidak akan menghasilkan apapun selain euphoria sesaat yang berlebihan.


Arga melihat gadis itu, menatapnya. "Aku sayang kamu..."


Panah cinta tak kasat mata yang ditembakkan Arga berhasil membuat Reina kembang kempis kehabisan nafas. Ia berkedip tak percaya mendengarnya.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, kak. Apa kakak masih tetap mau jadi pacarku?"


"Tentu saja mau..." Reina tersenyum lebar. "Sayangi aku, ya..."


Bersambung


Bonus Pict


*** Antara Arga dan Reina ****

__ADS_1



__ADS_2