Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
58. Yang Tak Diduga


__ADS_3

"Si Arga peluk Luna, Ay." Jessika berbisik pada Tyo yang sekarang ada di belakang Luna.


"Iya, aku juga lihat." Tyo membalas dengan berbisik.


Telinga Luna gatal mendengarnya. "Elo berdua bisa diem ga sih?" Luna meradang. "Kalian bisik-bisik tapi kenceng banget, ya kali gue ga denger!"


Mereka sedang berada di depan meja guru piket. Sang guru sedang mencari Alex, dan membiarkan mereka menunggu di sana. Kelas sudah dimulai beberapa menit lalu, jadi sekolah sudah sepi.


"Ehm, sorry Lun." Jessika cuma nyengir.


"Arga, lain kali kamu jangan peluk-peluk kakak lagi," Luna yang tidak tahan dengan komentar netizen langsung menasihati Arga.


"Kenapa?" Arga tampak kesal. "Kenapa aku ga boleh? Tapi si om-om itu boleh!"


Luna memicingkan matanya tidak senang.


"Dia bahkan bukan siapa-siapa kakak!" Arga mengomel lagi.


"Elah, kita kayak lagi nonton prahara rumah tangga, Ay." Jessika nyeletuk tanpa dosa.


Luna langsung menjitak Jessika. Jessika pun memekik kaget. "AW!"


Luna menghela nafas dalam, kemudian beralih ke Arga. "Fine. Ga ada yang boleh peluk gue lagi, puas?" Arga tersenyum sekilas mendengar pernyataan Luna.


Tak lama, guru piket datang bersama Alex. Guru piket itu tak lain dan tak bukan adalah Pak Deni.


"Kalian lagi, ya." Pak Deni geleng-geleng kepala. "Jadi kali ini kenapa? Gimana ceritanya?"


"Saya yang salah, Pak." Luna memulai. "Saya yang nonjok Alex."


Gue ngerasa kayak penjahat padahal bukan gue yang jahat. Luna mengeluh dalam hati.


"Kenapa?" Pak Deni penasaran dari tadi.


Baru kali ini, dia menemukan murid yang jadi pelaku yang lapor, bukan korbannya.


"Habisnya, dia kayaknya mau nyerang adik saya, Pak. Jadi saya refleks..." Luna berusaha menjelaskan posisi yang terjadi tadi.


"Adik kamu yang mana?" Pak Deni mencoba menerka, lalu menunjuk Jessika.


"Bukan saya, Pak." Jessika menggeleng. "Ini nih, adik dia." Jessika menunjuk Arga.


Pak Deni terkejut kemudian berkomentar. "Adik kamu kayak gini sih, ngapain dilindungin," Dari segi manapun Arga tampak lebih kuat dari Luna, bahkan dia cowok.

__ADS_1


"Tapi kan dia tetap adik saya, Pak." Luna bersikeras hingga akhirnya Pak Deni manggut-manggut.


"Terus kenapa masalahnya sampai dia mau melukai adik kamu ini?"


"Dia cuma mau melerai Alex sama Tyo, Pak." Luna menjelaskan apa yang ia lihat tadi.


Sekarang Pak Deni beralih ke Tyo. "Jadi kenapa kamu bertengkar sama Alex?"


Tyo diam sebentar memandang Alex, kemudian mulai menjawab. "Saya ga bertengkar, Pak. Tadi dia yang tiba-tiba datang ke kelas saya terus narik saya keluar. Saya juga ga tau kenapa. Dia langsung marah terus narik kerah baju saya, gini nih, Pak," Tyo mencengkram kerah baju Pak Deni dan menariknya mendekat.


"Ya kamu ga usah contohin ke saya juga..." Pak Deni menepis tangan Tyo.


"Maaf, Pak. Saya terbawa suasana."


Enggak banget deh jawaban si Tyo. Luna cuma nyinyir dalam hati.


"Hm..." Pak Deni sekarang menatap Alex. "Nah, sekarang Bapak tanya ke kamu, kamu benar nyamperin dia ke kelasnya?"


Alex menjawab malas. "Iya, Pak."


"Kenapa?"


"Ya, saya mau ajak dia ngomong aja, Pak." Alex tersenyum mengejek ke Tyo. "Kita kan, teman lama..."


Si Tyo kebanyakan belajar gue rasa. Ngomongnya ngaco gitu.


"Kamu mau bicara apa ke dia? Kenapa pakai tarik-tarik kerah baju segala?" Pak Deni kembali ke inti permasalahan.


"Yah, namanya juga anak muda, Pak. Biar keren aja."


Plak. Jessika menepuk dahinya sendiri, respon saat mendengar jawaban Alex yang tidak masuk akal. Kegiatan itu sukses membuat mereka semua menoleh ke arahnya.


APA SIH?! Ga pernah lihat orang tepuk jidat apa? Jessika cuma berani protes dalam hati.


"Lain kali, kamu jangan seperti itu lagi. Kalau mau bicara, ya bicara saja. Tidak usah pakai tarik-tarik baju." Pak Deni mulai menceramahi Alex, yang diceramahi cuma senyum-senyum ga jelas.


"Lalu, apa kamu benar sudah dipukul?" Pak Deni bertanya lagi.


"Dipukul sama siapa, Pak?"


"Dipukul sama dia," Pak Deni menunjuk Luna yang tiba-tiba menjadi tegang. "Katanya, dia nonjok kamu tadi."


Alex memandang Luna, kemudian dia tersenyum menggoda. Luna merasa aneh.

__ADS_1


"Engga kok, Pak," Alex mengedipkan sebelah matanya ke Luna. Setelahnya dia beralih ke Pak Deni lagi. "Saya sih, ngerasa dia lagi ngelus pipi saya aja."


BLEH!


Luna mual mendengar Alex. Dia mau muntah saat itu juga. Tapi yang keluar cuma muntahan fana, alias ga nyata, alias cuma pura-pura muntah aja.


Alex tergelak melihat reaksi Luna. Biasanya, karena dia ganteng dan sikapnya yang kasar, membuat cewek-cewek penasaran kemudian memperebutkan dia. Tapi yang ini, didekati malah eneg.


"Kenapa kamu malah tertawa? Kamu pikir saya sedang bercanda??!!" Pak Deni mulai naik pitam.


Alex masih tetap tersenyum. "Ya sudah, karena masalahnya sudah jelas, kalian saya berikan hukuman ringan." Pak Deni tampaknya akan menyelesaikan sesi bicaranya.


Geng Luna tampak menghela nafas lega.


"Tulis di satu lembar kertas folio bergaris 'Saya tidak akan membuat keributan di sekolah'. Besok pagi kumpulkan ke saya." Tapi ternyata Pak Deni belum selesai. Dia menatap Alex datar. "Dan buat kamu. Tambahan untuk kamu adalah membersihkan WC setelah pulang sekolah. Nanti saya cek. Kalau kamu tidak serius, saya akan panggil orang tua kamu lagi. Mengerti?"


"Iya, Pak." Mereka berseru hampir berbarengan, kecuali Alex. Entah dia akan mengerjakan atau tidak.


"Ya sudah, sekarang kembali ke kelas kalian!" Mereka pun mengangguk.


Setelah meninggalkan ruang guru, Alex tampak masih mengikuti geng Luna.


"Elo mau ngapain ngikutin gue?" Tyo mulai merasa tak nyaman.


"GR banget elo! Siapa juga yang ikutin elo!" Alex kemudian menghampiri Luna, menjabat tangannya.


"Hai, Luna. Gue Alex. Nanti elo pulang sama siapa? Mau pulang bareng gue gak?"


Ajakan Alex sukses membuat Luna melotot.


Yang benar saja!


"OGAH!" Luna langsung mendorong wajah Alex dengan tangannya.


Alex malah terbahak, "Ah, lucu banget sih..." Dia memperhatikan Luna yang langsung berlari sejauh mungkin.


Bersambung..


EPILOG


"Terus kamu ngapain disini ya?" Pak Deni menatap Jessika saat sesi pertanyaan.


"Ahhahahahaha... Saya bagian hiburan aja, Pak."

__ADS_1


__ADS_2