
Chapter 53: Yang Terbuang
"Harapan dan janji yang tak terwujud adalah kombinasi menyakitkan yang bisa berujung pada keputusasaan hidup..." -El-
Arga, Arka, Arsya dan Arya datang bersama Kris. Tak lama kemudian, Ayah pun datang bersama Reza. Semua sudah berkumpul.
Luna menyambut Arya dengan senyum selebar yang ia bisa. Ia menarik Arya ke dalam pelukannya, melepas rasa rindu karena sudah lama sekali tak jumpa dengan adik bungsunya itu.
"Kakak kenapa tidak pernah pulang?" Pertanyaan Arya membuat Luna ingin menangis. Luna harus menarik nafas panjang agar air matanya tak keluar.
"Kak Luna sibuk kerja sama kakak, Arya..." jawab El membantu Luna. Dia mengelus kepala Arya lembut lalu ikut memeluknya juga.
"Ohhhhh... Jadi kak Luna sekarang kerja?" tanya Arya polos. "Aku kira kakak enggak sayang kita lagi karena enggak pulang-pulang..."
El meraih kepala Luna dan menariknya dalam pelukannya. Dia yakin sebentar lagi Luna pasti menangis. Dan benar saja, setelah itu tubuh Luna bergetar pelan. El mengusap punggung Luna sambil berbisik. "Jangan sekarang..."
Luna mengatupkan mulutnya rapat. Ia mengangguk dalam pelukan El kemudian mencoba mengalihkan perhatiannya pada apapun yang menyenangkan. Kapanpun selain saat ini.
"Pasti sayang dong..." jawab El pada Arya. "Nanti Arya main ya ke rumah kakak... Kakak siapin makanan yang banyak buat Arya."
Mata Arya langsung berbinar mendengarnya. "Benar kak?" tanyanya bersemangat.
El mengangguk. "Tentu saja... Nanti kakak jemput ya..." El mengusap kepala Arya lagi, kemudian memberikan kode pada Reza untuk mengurus Arya. Reza saja, dia butuh Kris. Lagipula Reza lebih jago untuk urusan bermuka ramah.
Anzay... Gue disuruh jadi baby sitter. Gue sekretaris woy....!
Menghela nafas kasar, Reza mendekat ke Arya. "Mau jajan enggak? Kakak mau keluar nih, ikut yuk..."
"Es krim?" tanya Arya penuh harap.
"Oke..." Reza membentuk huruf 'o' dengan jari telunjuk dan jempolnya. Mereka pun bergandengan tangan menuju pintu keluar ruangan.
Setelah kepergian Arya dan Reza, suasana berubah canggung. Arka dan Arsya menjadi pihak yang paling bingung di sini. Sedangkan Ayah dan Arga masih meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi.
"Silahkan duduk dulu..." Alex mencoba menjadi tuan rumah yang ramah sekarang. "Biar saya siapkan minumannya..."
Sebenarnya Arga sangat heran saat tiba-tiba ada telepon masuk dari kak Tyo, yang memintanya untuk segera pergi ke rumah Alex. Dia mengabaikan saja pesan yang berisi tautan petunjuk arah menuju alamat yang harus ia datangi. Tapi tak beberapa lama setelah memejamkan matanya, suara ketukan di pintu membangunkannya. Yang ternyata itu adalah Arsya, mengatakan bahwa mereka harus segera bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
Arga yang heran melangkah keluar kamar dan mendapati sumber masalah itu. Yang tentu saja adalah orang suruhan si om. Menghela nafas lelah, dia masuk lagi ke kamarnya untuk berganti baju dan bersiap. Seperti itulah, mereka sampai di rumah Alex dengan pikiran kosong.
Hal yang tak jauh berbeda terjadi pada Ayah. Dia sedang berkutat dengan komputernya saat tiba-tiba saja entah darimana Reza muncul dan memintanya untuk berhenti bekerja. Ayah yang bingung tadinya tidak merespon apapun, tapi Reza mengatakan kalau ada hal yang harus ia kerjakan dan mereka harus berangkat secepatnya. Ayah merapikan isi tasnya dan tanpa ragu menuju tempat yang dimaksud oleh Reza. Lalu mereka sampai di rumah ini. Semakin bingung lah ia saat tau kalau ini bukan masalah pekerjaan. Pastinya bukan, karena ia melihat seluruh anggota keluarganya ada di sini juga.
El memulai pembicaraan setelah semua orang di sana memilih tempat duduknya masing-masing. "Maaf sebelumnya kalau saya mengganggu waktu kalian..." El menunggu sejenak, menunggu respon dari semua yang ada di sana. Sebagian dari mereka mengangguk pelan dan sebagian lagi menatapnya penuh tanya. Sudah cukup baik.
"Selamat datang di rumah Pak Daniel..." El menunjuk Daniel yang kemudian memberikan senyum canggung. Ia diperkenalkan untuk dibuat malu nantinya, batin Daniel. Semoga saja tidak separah itu.
"Iya, selamat datang di rumah saya. Anggap saja rumah sendiri..."
Arka yang tak sabar langsung nyeletuk. "Kenapa kita dipanggil kesini, kak?" tanyanya langsung seraya menatap El lurus. Dia merasa tidak mengenal Daniel.
El hampir lupa. Arka benar, mungkin baru Luna saja yang tau mengenai hal ini. Yang lain belum mengetahui apapun.
"Ehm... Maaf kalau saya lancang..." El menatap pada Ayah dan Bunda Luna sekilas kemudian melanjutkan ucapannya. "Saya akan memberitahukan beberapa hal pribadi, yang saya harap kalian tidak keberatan..."
__ADS_1
El menggenggam tangan Luna saat ia bicara. Dilakukannya untuk membuat Luna tenang selama pembicaraan ini berlangsung dan juga sebagai penahan emosinya. Saling mendukung tentu saja.
"Sebenarnya, Luna adalah anak tiri. Daniel adalah Papa Luna." Beberapa orang terlihat kaget, terutama Arka dan Arsya. Mereka yang paling tidak tau apa-apa.
"Jadi... Kak Luna bukan... anak ayah?" Pertanyaan Arsya yang terlalu polos membuat Arka menutup mulut bocah itu.
"Diam saja dan dengarkan. Berkomentar nanti..." bisiknya. Yah, tentu saja semua orang mendengarnya. Keras bisikannya itu.
Arka membuka bekapannya setelah Arsya mengangguk pelan. Mereka kemudian menatap El, mengharapkan lanjutan informasi.
"Pak Daniel adalah ayah kandung Luna. Selain Luna, Alex juga adalah anak kandungnya...."
"Ja---
Arsya langsung menutup mulut karena ditatap Arka dengan tajam. Padahal dia baru mengucapkan satu suku kata. Baiklah, dia khilaf kali ini. Arsya menutup mulutnya dengan tangannya sendiri agar kejadian yang sama tidak berulang untuk ketiga kalinya.
Berbeda dengan Arka dan Arsya yang bertingkah konyol, Arga memasang wajah yang kesal luar biasa. Dia tidak suka kenyataan ini. Dia tidak suka dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa dalam dirinya dan Luna mengalir darah yang sama. Ternyata harapannya memang terlalu muluk untuk menjadi nyata.
Ayah pun menekuk wajahnya tak suka. Setelah El memberitahukan masalah Daniel, kepingan masa lalu mulai berputar di kepalanya seolah melempar ia jauh ke masa itu. Masa antara dirinya dan istrinya. Kenangan yang terukir antara Hendra dan Dewi.
***
"Kamu kenapa?" tanya Hendra ragu. Dilihatnya teman baiknya itu sedang menunduk sambil menangis.
Dewi hanya menggeleng sedih. Hendra memang temannya, tapi ia merasa belum yakin untuk menceritakan masalahnya pada lelaki itu.
"Ceritakan saja, mungkin itu akan membuatmu lebih baik," bujuknya. "Aku janji tidak akan memberitahukannya pada siapapun." Hendra menepuk punggung Dewi pelan, berusaha untuk menenangkan perempuan itu. Dia tampak kusut dengan mata yang sedih. Hendra tidak tega melihatnya.
Setelah nafas panjang, ia memutuskan untuk mengungkapkan rahasianya. "Aku hamil..." ucapnya singkat.
Hendra menghabiskan beberapa detik setelahnya untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Dewi. Dia mulai mengerti masalah yang terjadi. "Siapa...." tanyanya pelan. "Siapa yang melakukannya?"
Dewi menatap Hendra sambil terisak. Dari kedua sudut matanya sudah ada air mata yang mengalir deras. "Daniel..." jawabnya lirih.
Benar si playboy itu...
Hendra memaki dalam hati. Daniel, adalah seorang pemuda tampan anak band. Penampilannya yang keren dan tubuhnya yang ideal menjadi idaman setiap wanita. Belum lagi statusnya sebagai anggota grup musik, membuatnya digilai kaum hawa tanpa pandang bulu. Popularitasnya kian meningkat, membuat Daniel seolah memanfaatkan keadaannya saat ini untuk mendapatkan segala hal yang ia mau dan apa pun yang ia inginkan.
Dan Dewi, adalah satu dari sekian banyak wanita yang pernah dia pacari. Entah apa yang merasuki pikiran temannya itu. Sudah tau kalau Daniel adalah lelaki buaya, tapi dia tetap saja menempel dan rela ditipu daya secara sadar.
"Kamu sudah bilang padanya?" tanya Hendra tak sabar. "Kalau dia tidak mau bertanggung jawab biar aku yang menghajarnya nanti..." Hendra mengacungkan tinjunya ke udara, membuat gerakan-gerakan seperti orang berkelahi.
Dewi menggeleng pelan. "Belum... Aku takut..." lirihnya. Ini membuat Hendra semakin sebal. Kenapa harus takut saat dirinya adalah korban? Tapi mungkin juga tidak. Mereka pasti sama-sama mau melakukannya. Tidak ada yang bisa dianggap sebagai korban.
"Jadi kamu mau bagaimana?" Hendra membalikkan pertanyaan itu pada Dewi. Gadis itu tampak murung dan bingung. Pastinya ia juga tidak tau apa yang harus ia lakukan. "Bilang saja pada Daniel. Aku akan menemanimu..."
Dewi merespon bujukan Hendra yang kedua kalinya. Ia menatapnya bertanya. "Apa kamu mau membantuku?"
"Tentu saja..." Hendra memberikan senyum terbaiknya, berusaha menaikkan semangat Dewi.
"Bagaimana kalau ia tidak mau?" tanya Dewi parau. Ia dilema sekarang.
"Dia pasti mau... Kamu kan pacarnya..." Hibur Hendra. Memang, Dewi adalah salah satu wanita beruntung yang bisa menjadi pacar resmi Daniel. Jujur saja, Dewi sangat cantik. Bahkan salah satu dari gadis paling populer di sini. Dia bertubuh langsing ideal dengan kulit putih mulus. Rambut panjang hitam bergelombang miliknya membingkai wajahnya yang manis. Hidung mancung, mata bulat dan bibir tipis yang sempurna bahkan tanpa perlu berusaha. Dia juga memiliki kepribadian yang baik. Ramah dan pengertian. Hendra pasti sudah menembaknya kalau dia tidak sadar diri bahwa mereka ada di level yang berbeda.
__ADS_1
"Baiklah.. Aku akan mencoba bicara padanya." Dewi mengangguk yakin. Hendra mengacungkan kedua jempol untuk semangat temannya itu. Ia senantiasa mendoakan yang terbaik.
Setelah lama tak berjumpa, Dewi menemui Hendra. Dia menceritakan semua yang terjadi.
"Makasih ya kamu udah semangati aku tempo hari..." Mata Dewi berbinar bahagia. "Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih enggak berani bilang sampai sekarang..."
Hendra ikut tersenyum. "Jadi gimana? Dia mau, kan?" tanyanya. Dilihat dari wajahnya saja, Hendra sudah tau kalau jawabannya iya.
"Iya, dong..."
Tuh, kan....
"Kita akan menikah secara agama dulu minggu ini. Makanya sekarang aku cari kamu. Aku mau undang kamu juga. Harusnya, sih, keluarga saja yang hadir. Tapi kalau bukan karena kamu, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi..." Dewi sangat berterima kasih dengan Hendra. Dia bersyukur dia bercerita pada Hendra bukan ke yang lain.
"Sama-sama, Dewi... Aku usahakan datang...."
Namun ternyata takdir berkata lain.
Pagi itu, Hendra sudah berpakaian rapi, dengan celana panjang hitam dan kemeja batik. Dia akan berangkat menuju rumah Dewi, menghadiri pernikahan temannya itu. Tangan kanannya memegang sebuah kantung berisikan kado pernikahan. Mudah-mudahan saja Dewi suka, batinnya.
Setelah motor terparkir rapi di halaman rumah Dewi, Hendra masuk ke dalam. Pintu rumah memang terbuka lebar, ia masuk tanpa ragu. Baru saja mau mengucapkan salam, dirinya sudah disambut dengan hingar-bingar orang yang memaki marah.
"Ada apa?" tanya Hendra bingung kepada seorang yang paling dekat dengannya.
"Enggak tau, dek..." jawab ibu itu. "Saya cuma tetangga di sini yang ikut bantu. Barusan saya dengar katanya mempelai cowoknya tidak datang."
Hendra kaget bukan main. Bisa-bisanya cowok itu lari di hari pernikahan.
"Kenapa enggak datang Bu?" tanyanya sambil mengepalkan tangan erat. Awas saja kalau alasannya itu tidak bisa diterima. Hendra sendiri yang akan menghampiri Daniel dan memukulnya habis-habisan. Memang dasar penjahat kel*min tak tau diri!
"Enggak tau saya, Mas..." Ibu itu mengangkat bahu. "Coba saja tanya sama keluarganya di sana..." Ditunjuknya seorang bapak yang memakai batik sama seperti dirinya. Ia juga melihat Dewi yang ada di sebelah lelaki itu. Dewi terlihat sangat cantik hari itu, dengan kebaya putih dan riasan make-up tipis. Begitu alami dan manis, Hendra sampai tidak bisa menahan degupan yang bertalu di dalam dadanya.
Perlahan, setelah bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar, Hendra melangkah menghampiri Dewi, hendak menyapa sekaligus bertanya tentang apa yang terjadi.
"Dewi..." panggilnya pelan. Perempuan itu menoleh dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Dewi tampak marah dengan kilatan emosi di matanya. Hendra mendekatinya perlahan, menepuk pundaknya sekali kemudian bertanya. "Ada apa?"
Dewi mengepalkan tangannya erat. "Daniel..." Suara Dewi terdengar parau di telinga Hendra.
"Kenapa? Apa dia tidak datang? Biar aku ke tempatnya dan menyeret dia kesini..." Hendra tidak terima dengan sikap Randy yang pengecut. Cowok tak beradab.
"Dia tidak datang. Dia mengirimkan surat undangan...." Dewi memberikan surat itu kepada Hendra. Hendra yang penasaran segera membukanya dan membaca isi surat itu.
Nama Daniel tercetak jelas di sana, namun tidak bersanding dengan Dewi. Nama perempuan lain. Seolah itu saja belum cukup menyakitkan, ada fakta lain tertulis di sana. Hendra melanjutkan membacanya. Dan dia sangat kaget. Ternyata tanggal yang tertera di sana adalah tanggal hari ini. Sangat jelas kalau menurut Daniel, Dewi hanyalah lelucon. Bisa-bisanya dia memilih tanggal pernikahan yang sama dengan dua calon. Satu yang dipilih dan satu lagi yang dibuang. Dewi adalah orang yang masuk dalam opsi kedua, yang dicampakkan.
"Dia sungguh kurang ajar!" Ingin rasanya Dewi menampar cowok itu, menonjoknya dan menendangnya sampai sekarat. Sungguh keterlaluan. Apakah selama ini Daniel cuma menganggap dirinya sebagai pilihan cadangan? Tidak dibutuhkan jika pilihan pertama sudah terpenuhi.
Hendra mengelus lengan Dewi untuk membantu meredakan amarah perempuan itu. Belum saja Dewi memaki, sebuah suara memanggilnya. "Maaf lalu bagaimana ini?" tanya seorang lelaki berumur dengan pakaian batik rapi dan peci hitam di atas kepalanya.
"Apakah calon mempelai prianya sudah datang?" Dewi menelan ludah susah payah. Ia memandang Hendra lekat.
"Ini pak, calonnya sudah datang." Ditariknya lengan Hendra sampai ke depan penghulu.
Bersambung
__ADS_1