Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 22


__ADS_3

Chapter 22: Aku jatuh


"Kalau tau akan jatuh, pasti aku lompat..." -Luna-


Tok Tok


Ada suara ketukan pintu. Arga melirik jam di layar ponselnya. Jam 9 pagi, harusnya tidak ada yang datang ke rumah jam segini. Bukankah sekitar 3 jam lagi Bunda baru pulang? Arka dan Arsya malah lebih lama lagi. Sepertinya memang tamu.


Arga keluar kamar dan membuka pintu. Ia sangat terkejut melihat siapa orang di hadapannya.


"Hai, Arga..."


"Kenapa kau kesini? Kak Luna sudah tidak tinggal disini!" ujar Arga kesal.


"Aku mencarimu," ucapnya tenang.


Arga melotot tak percaya. Yang benar saja! Dia memandang teman kakaknya itu lekat-lekat. Orang di hadapannya sekarang adalah teman kakaknya yang dulu pernah ia antar pulang. Tentu saja ia tidak akan punya urusan apapun dengannya.


"Kenapa kakak mencariku?" tanya Arga.


"Boleh aku masuk? Aku capek berdiri," Reina melangkah melewati Arga dan duduk di sofa tanpa menunggu persetujuannya.


Arga duduk di hadapannya. "Mau apa kakak sebenarnya?" tanya Arga lagi. Dia sungguh tidak mengerti apa yang diinginkan Reina.


"Apa kau ingat namaku? Aku Reina," ucap Reina.


Gue gak perduli.


"Katakan apa maumu." Arga sudah mulai kesal, karena Reina tak kunjung mengatakan apa yang diinginkannya.


"Kenapa kau tidak masuk sekolah?" tanya Reina.


"Kau tidak lihat wajahku? Aku tidak bisa pergi ke sekolah seperti ini," Arga menunjuk ujung bibirnya yang sedikit sobek karena ulah El.


"Ya, aku tau. Itulah kenapa aku kesini," ucap Reina. "Apa kau sudah mengobatinya?" tanyanya. Reina membuka tasnya untuk mengambil obat lalu berpindah duduk ke sebelah Arga.


"Akan kuobati," ucapnya. Arga diam tak menjawab dan membiarkan Reina melakukannya.

__ADS_1


"Apa kak Luna yang memintamu kesini?" tanya Arga.


"Tidak, dia tidak memberitahuku apapun," jawab Reina. Arga melengos. Tentu saja, apa yang ia harapkan.


"Kakakku yang memberitahu," ucap Reina.


Semalam Reza pulang dengan wajah cemas. Ia mulai menggumam tak jelas tentang seseorang yang apakah masih hidup atau mungkin sudah mati. Siang tadi setelah El mendapatkan telepon yang ia duga dari Kris, wajah El langsung berubah menyeramkan. Sedetik kemudian seluruh benda yang ada di meja jatuh berhamburan ke lantai. Untung saja ia berhasil menyelamatkan tab-nya. Setelah tab sebelumnya hancur berkeping-keping, Reza harus susah payah memulihkan datanya. Dia tidak mau hal yang sama terjadi. Makanya begitu melihat perubahan wajah El, ia langsung secepat kilat mengamankan tab itu. Reza langsung menjauh dari El, sejauh-jauhnya saat El melangkah keluar ruangan. Dia cuma bisa mendengar makian, terdengar seperti 'adik s*alan'.


Reina yang melihat wajah ketakutan kakaknya akhirnya bertanya. Reza menceritakan semuanya, dia berulang kali mengatakan kalau El bisa sangat baik dan menyeramkan di saat yang sama. Membuatnya bingung. Apa dia bipolar?


Reina yang mendengarkan cerita kakaknya tentunya mulai mengerti kemana cerita ini berjalan. Walaupun ia sedikit tak percaya, tapi ia memutuskan memberanikan dirinya dan akhirnya sampai di tempat ini sekarang.


"Tahan sebentar ya," ucap Reina. Dia mengoleskan obat perlahan, yang ia pikir Arga akan meringis atau setidaknya merasa perih. Tapi Arga hanya diam saja seolah tidak merasakan apapun.


"Apa tidak sakit?" tanya Reina.


Arga menatapnya tajam. "Ada yang lebih sakit daripada itu," jawabnya.


"Hatimu?" tanya Reina. Dan sekarang Arga hanya menatapnya tanpa jawaban.


Arga menautkan alisnya lalu tersenyum sinis. "Bagaimana kau mau menyembuhkannya?" tanyanya menantang.


"Berikan padaku," jawab Reina.


"Hah! Yang benar saja!" Arga menatap meremehkan. Dilihatnya lagi gadis di depannya. Rambut panjang lurus berwarna hitam dengan wajah yang biasa saja. Semua perempuan menjadi berwajah biasa saja untuk Arga, baginya hanya Luna yang cantik. Hanya Luna lah malaikat yang selalu ia inginkan.


"Kau tidak percaya?" tanya Reina. "Aku bisa melakukannya."


Arga mulai merasa semua yang dikatakan Reina hanyalah omong kosong. Dia akan berdiri dan beranjak pergi kalau saja Reina tidak menahannya. "Aku bisa melakukan apapun untukmu," ucap Reina.


Arga memandang Reina sesaat. "Apapun, hah?" ucapnya sinis. Reina mengangguk yakin. "Buka bajumu."


Arga bisa melihat wajah Reina yang terkejut kaget. Tentu saja ia hanya menggertak. Dia cuma ingin teman kakaknya ini segera angkat kaki dari sini.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Reina. Dia memegangi dress berwarna pink yang ia kenakan saat ini. Memegangnya erat sampai kusut.


Arga tersenyum miring. "Tak bisa, kan? Sudahlah, pulang saja." Arga berdiri, dan kali ini Reina tidak mencegahnya. Reina ikut berdiri dari sofa setelah Arga.

__ADS_1


Arga berjalan ke arah pintu dan membukanya, ia tanpa suara memberikan isyarat agar Reina keluar secepatnya. Reina melangkah ke arah pintu, membuat Arga tersenyum puas.


BRAK.


Reina menutup pintunya. Dia menatap Arga yang bingung di depannya. Reina membuka bajunya dalam satu gerakan, membuat Arga membelalak kaget.


"Apapun," ucap Reina dengan suara bergetar. Tangannya sudah mengepal erat di samping tubuhnya. Dia mencoba mengendalikan dirinya dan menguatkan kakinya agar tetap berpijak di sana.


"Aku bukan orang baik," ucap Arga menyerah. "Pergilah," Arga mengambil baju Reina dan memberikannya pada gadis itu.


"Berikan hatimu. Jadilah pacarku. Aku menyukaimu." Reina mengeluarkan isi hatinya. Dia tidak tau kapan ia jatuh untuk Arga, tapi sekarang sudah terlalu dalam.


"Pakai bajumu!" Arga berseru kesal. "Aku tidak mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu!"


Reina mengambil bajunya. "Aku tidak minta tanggung jawab, aku mau hatimu." Reina masih teguh pada pendiriannya. Dia sudah sampai sejauh ini, ia tak mau kembali sia-sia.


Reina meraih tangan Arga dan meletakkannya di dadanya yang hanya tertutup sepotong pakaian dalam berwarna hitam. "Hatiku sudah kuberikan untukmu," ucapnya.


Arga menarik tangannya. "Kau sudah gila!" pekiknya.


"Kau juga!" balas Reina. "Kita cocok bersama."


Arga merengkuh wajah Reina dan mulai menciumnya. Reina membalasnya dengan senang hati. Mereka melakukannya sampai nafas mereka tersengal. Arga akhirnya mendorong Reina menjauh.


"Pergilah," ucap Arga. "Pakai baju kakak."


Reina tak bergeming, dia masih berharap.


Terdengar suara pesan masuk di ponsel Arga, dia langsung mengeceknya. Dari Luna.


✉️ Apa kau baik-baik saja? Aku selalu sayang padamu, adikku..


Air mata Arga menetes seketika. Reina yang melihat itu, menghampiri Arga pelan dan menariknya dalam pelukannya. Arga tidak menolaknya dan membalas pelukan Reina seerat yang ia bisa.


Reina mengelus kepala Arga pelan dan membiarkan laki-laki itu menangis sepuasnya. Dia yakin, Arga tak memerlukan kata-kata ataupun penghiburan. Reina tau perasaan itu, dan ia ingin berada di samping lelaki ini. Menemaninya, ada di dalam setiap senang dan sedihnya, selalu bersamanya. Ia berharap Arga mau membuka hati, untuknya, sedikit saja...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2