
Chapter 44: Kenyataan
"Setiap masalah membawamu pada dua pilihan, kesengsaraan atau kedewasaan." -Luna-
Arga berjalan mendahului. Mereka baru saja keluar dari kantor polisi. El sudah mengurus semuanya. Logikanya, setelah dibebaskan, Arga akan mengucapkan setidaknya terima kasih walaupun dengan berat hati. Tapi sekarang anak itu malah menjadi semakin tidak tau diri dengan meninggalkan mereka seenak jidat.
"Arga!" Luna menarik tangan Arga hingga adiknya itu berhenti. Arga membalik badannya malas. Ditatapnya kakaknya itu dengan enggan sambil melengos. Anak itu bertindak seolah hilang ingatan, membuat Luna kesal.
"Setidaknya ucapkanlah terima kasih pada kak El! Dia sudah mengeluarkanmu!" Pekik Luna. Dia tidak suka dengan sikap Arga yang semakin lama semakin jauh dari kata lurus.
"Aku tidak minta dibebaskan."
PLAK.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Arga. Luna mengepalkan tangannya erat. Berbicara dengan Arga membuat dirinya ada di puncak tertinggi emosi. Bagaimana bisa adiknya berkata seperti itu? Dengan mudahnya bilang bahwa dia lebih baik ada di dalam sana? Apa dia tidak pernah memikirkan masa depannya?
Arga masih terdiam memandangi kakaknya yang sudah berkaca-kaca saat ini. Sebagian hatinya kesal tapi sebagian lagi tidak tega melihat Luna menangis.
"Aku bisa mengembalikanmu kesana kalau kau mau..." El menjadi penengah di antara mereka.
"Kak....!" protes Luna tak rela.
"Kenapa Luna sayang?" tanya El tak mau kalah. "Dia bahkan tidak menyayangi dirinya sendiri. Lalu untuk apa kamu bersusah payah?" sinis El.
Luna mengatupkan mulutnya rapat. Perkataan El menang telak.
"Dia harusnya segera sadar kalau hidup itu harus menerima kenyataan. Tidak bisakah adikmu ini berhenti bersikap kekanak-kanakan?"
Kali ini ucapan El membuat darah Arga mendidih. Dia meraih baju El emosi. "Elo gak pernah ngerasain jadi gue..." ucapnya tertahan.
"Saya tidak akan pernah jatuh cinta pada saudara saya sendiri," balas El.
"Elo tau apa?" balas Arga. "Dia bukan anak kandung.. Gue dengar sendiri."
"Kau salah!" Ditepisnya tangan Arga dengan kasar. "Luna itu kakakmu. Ibumu yang melahirkannya. Walaupun ayah kalian berbeda. Dia kakak tirimu!"
Arga terkejut. "Elo pasti bohong," tuduhnya.
"Whatever...." El mengangkat tangannya muak. Dia menarik Luna pergi, meninggalkan Arga yang masih diliputi tanda tanya.
"Kak... aku bukan anak kandung?" tanya Luna hati-hati. Sebagian hatinya menolak untuk percaya, tapi sebagian lagi seolah sudah menyeretnya dalam kesimpulan itu.
"Hm..." El mengangguk pelan.
"Siapa ayahku?" tanya Luna. Mungkin ia tidak akan sekaget ini kalau kabar yang diterimanya adalah dia memiliki ibu tiri. Tapi kalau ayah tiri terasa sedikit aneh.
"Kamu mau bertemu?" El balik bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja!" jawab Luna bersemangat. Dia penasaran sekali dengan orang itu. Seperti apakah ayah aslinya?
"Tidak akan menyesal?" tanya El lagi.
Luna terdiam sesaat. "Harusnya tidak..." Ditatapnya El. "Apa dia---
"Bukan, dia bukan orang jahat..."
Luna terdiam lagi. "Apa dia---
"Tidak, kamu tidak mengenalnya."
Luna mendecak kesal dengan jawaban El yang benar bahkan sebelum ia bertanya. Sama sekali tidak asyik. TIDAK KEREN.
"Kakak tau apa yang kamu pikirkan Luna sayang..."
"Astaga... Kakak enggak banget, deh..." Sengaja Luna mencubit perut El keras, tapi cowok itu malah tertawa senang lalu balas memeluknya.
"Maaf..." El mengecup pipi Luna sekilas. "Kamu tau? Ini sangat menyenangkan!" El mengulum senyum.
"Membaca pikiranmu sangat mudah. Kakak tinggal double-click, maka semua isinya akan tampil dalam sekejap." Luna memicingkan mata tak percaya.
"Bohong, kan?" tanya Luna. "Bohong pasti..." Ia menjawabnya sendiri.
"Lihisii..." ledeknya.
***
El menggandeng Luna dengan tangan kirinya, membawa perempuan itu masuk ke dalam sebuah hotel. Setelah menunggu lama, tadi siang El memberikan sebuah kabar yang entah baik atau buruk. Hari ini ia akan bertemu dengan ayahnya. Ayahnya yang asli. Bukannya Luna tidak menyukai Ayah tirinya, tapi tentu saja dia penasaran dengan ayah kandungnya.
Luna melangkahkan kakinya pelan di atas karpet tebal berwarna merah yang melapisi lantai ruang makan. Dia mengedarkan matanya ke penjuru ruangan. Tidak ramai, hanya ada beberapa orang saja. Dalam otaknya, dia mulai menebak-nebak siapa kiranya Ayahnya.
Mungkinkah botak?
Luna menatap pria tua dengan rambut tipis di sebagian kepalanya. Menyedihkan sekali kalau sampai orang itu ternyata ayahnya. Kalau bisa dia ingin yang lebih ganteng sedikit.
El masih belum berhenti, ia membimbing Luna melewati beberapa meja lagi. Luna melirik lagi, ia melihat seorang pria berperut buncit sekarang. Apakah itu ayahnya? Tidak bisakah lebih langsing sedikit?
Senyum senang tercetak di wajah Luna saat El melewati meja pria gemuk tadi. Syukurlah bukan orang itu, batinnya.
Luna tidak sabar, dia menjulurkan kepalanya berusaha mendapatkan gambaran di depan El. Punggung besar El menghalangi jarak pandangnya.
Saat ingin mencoba melongok lagi, El berhenti menggerakkan kakinya. Sekarang ia berdiri tepat di depan Luna. "Kamu siap Luna?" tanyanya sekali lagi.
Luna memantapkan hatinya. "Iya, kak..." Ia mengangguk kecil.
Merasa kalau Luna sudah siap, El berjalan lagi menuju meja bulat berlapis kain putih. Di meja itu ada seorang lelaki berumur. Ia berdiri seketika saat El dan Luna mendekat.
__ADS_1
"Malam..." sapanya. Luna lupa menjawab, ia hanya menatap pria itu dari atas hingga ke bawah.
Tidak botak.
Tidak buncit.
Malah tampan...
Apa benar orang itu adalah ayahnya? Kenapa penampilannya sangat menawan? Lelaki itu memakai setelan jas berwarna abu-abu terang dengan garis biru tipis yang melintang, hampir tidak akan terlihat kalau dari jauh.
"Malam..." El membalas salam pria itu karena sudah cukup lama Luna tertegun sambil membuka mulutnya tak percaya. Ia menyenggol lengan Luna, memberikan peringatan supaya cepat sadar.
"A-a-ah! Malam..." Luna jadi tergagap memberikan salam karena belum siap.
"Malam Luna..." Pria itu tersenyum ramah pada Luna. Orang baik pasti, pikirnya.
"Silahkan duduk..." Ia menunjuk kursi yang ada di samping El dan Luna. El menarik kursi untuk Luna lalu mempersilahkan gadisnya duduk lebih dulu, ia menyusul setelahnya.
"Luna, kenalkan. Ini Pak Daniel..." si pria mengulurkan tangannya, Luna membalasnya. Mereka berjabat sesaat.
"Hai, Luna..." Daniel mencoba berbicara sesantai mungkin. "Aku Daniel, ayah kandungmu..."
"Aku sangat senang memiliki seorang putri cantik sepertimu." Pujian itu membuat Luna tersipu.
"Aku hampir merasa ini mimpi saat suamimu menghubungi aku dan meminta bertemu." Daniel menatap El dengan ucapan terima kasih.
"Ibumu selama ini tidak mengijinkanku menemuimu. Bahkan untuk melihat wajahmu saja tidak boleh." Muncul sedikit rasa iba dalam hati Luna.
"Aku senang kita bisa bertemu sekarang..." Luna membalas senyuman pria itu, membuat Daniel tersenyum semakin lebar karenanya.
"Aku juga senang bisa bertemu bapak..." ucap Luna polos.
"Bisa panggil aku papa?" tanyanya. Luna mengangguk mengiyakan. "Papa juga datang bersama adikmu. Tolong jangan kaget, papa harap kalian bisa akur..."
Luna terperanjat kaget. ADIK?! dia akan punya adik lagi?
Tak lama, sosok yang dikenalnya datang dan duduk di sebelah papanya. "Ini adikmu..."
Luna melotot sampai bola matanya seperti mau keluar. Bagaimana tidak, kalian pun akan melakukan hal sama seperti Luna saat ia tau adiknya yang lain adalah Alex, tak lain tak bukan temannya sendiri.
"K-k-kau..." tunjuknya gemetar. Yang benar saja!
Untuk Tuhan,
Aku tak tau mengapa, tapi aku merasa kau sangat menyayangi aku. Aku sudah punya empat adik lelaki dan sekarang Engkau menambahkan satu lagi...
Tapi Tuhan, bukannya aku tidak mau bersyukur. Aku hanya bisa memohon maaf karena ini terlalu berat untukku. Aku rasa aku akan gila dengan lima adik seperti mereka. Aku mengajukan pengunduran diri....
__ADS_1
Bersambung