Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 21


__ADS_3

Selamat 100 episode! Selamat membaca, semoga kalian suka... ❤️❤️❤️


Chapter 21: Keterlaluan


"Ada hal yang tidak bisa dimaafkan..." -Luna-


Cuaca panas, Luna sedang duduk cantik dengan Jessika sambil menunggu yang lain. Ini sudah hari terakhir ujian, mereka sudah bisa tidur nyenyak sekarang.


Saat sedang santai sambil makan basreng di kantin, ada sebuah panggilan masuk.


📞 Kak, tolong!


📞 Arga?!


Luna langsung bangkit dari kursinya dan berlari keluar kantin. Tidak memperdulikan Jessika yang berteriak memanggil namanya.


📞 Aku dikeroyok.


📞 Kamu dimana??


📞 Di belakang sekolah. Kakak di-


Luna memutuskan panggilannya dan segera berlari secepatnya kesana. Nafasnya sudah terengah-engah, dia melihat ke segala arah. Tak ada siapapun.


Luna mencoba menelepon nomor yang baru saja menghubunginya, namun belum tersambung seseorang sudah mendekapnya dan membuatnya tak sadarkan diri.


***


"Kak?"


Luna terbangun mendengar suara. Dia langsung duduk dan mendapati Arga sudah ada di depannya. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Luna panik. Dia menatap lalu mengecek dengan seksama apakah ada luka di badan adiknya itu. Karena tidak ada apa pun, Luna menghela nafas lega.


"Minum dulu, kak." Arga memberikan segelas minuman. Luna langsung menenggaknya hingga habis.


Saat sudah tenang, dia mulai melihat sekeliling. "Ini dimana?" tanya Luna.


"Di tempat teman aku," jawab Arga.


Luna memperhatikan sekelilingnya lagi, dia ada di atas tempat tidur kecil. Ada sebuah meja belajar dan kursi di sebelahnya. Juga ada sebuah lemari kecil dari plastik. Selain itu tidak ada barang apapun lagi.

__ADS_1


"Kalau kamu ga apa-apa, kakak pulang ya," ucap Luna. Dia baru sadar kalau ia harusnya tidak berada dalam ruangan tertutup hanya dengan Arga. Bagaimana mungkin dia sebodoh itu mengulangi kesalahan yang sama. Luna berdiri langsung melangkah ke pintu.


Arga menarik tangan Luna. "Pulang kemana kak?" tanyanya dingin.


Darah Luna serasa mengalir deras ke ubun-ubun. Dia takut.


"Ke rumah," jawab Luna. Tangannya yang bebas langsung mencari ponselnya di saku, tapi ia tidak menemukannya. Pasti terjatuh!


"Rumah mana yang kakak maksud?" tanya Arga. "Rumah om kaya itu?"


Luna semakin panik karena Arga semakin erat memegang tangannya. Dia sudah tersudut. Luna bisa merasakan dinginnya tembok di belakangnya. Parahnya lagi, kedua tangannya sudah berhasil ada di dalam genggaman Arga.


"Dek, jangan gini, dek. Please..." Luna memohon. Dia berharap agar adiknya itu cepat sadar.


"Gini gimana, kak?" Arga semakin mendekatkan tubuhnya. "Kakak takut sama aku?" tanyanya. "Kakak udah ga sayang sama aku lagi?"


Luna sudah menahan nafas karena Arga sangat dekat. Dia mulai merapalkan doa dalam hati.


Tolong Tuhan, siapapun. Keajaiban.


"Jadi kakak sekarang lebih sayang om itu? Lebih pilih dia daripada adik kakak sendiri?" tanya Arga.


"Ka-ka-kalau kamu adik aku, kamu ga akan kayak gini," Luna balas menjawab.


"A-a-adik..." Luna terbata-bata menjawab.


"Kalau gitu, dengarkan adikmu ini dan tinggalkan om itu," ucap Arga.


"Enggak bisa Arga," jawab Luna. "Dia udah jadi suami kakak."


"Cih!" Arga mendecak kesal. "Kalau begitu, kita bukan adik kakak." Arga tersenyum licik. Dia mulai menciumi wajah Luna bertubi-tubi.


Tapi entah mengapa Luna tidak memberontak dan malah menikmatinya. Tidak bisa begini, sekarang Luna ingin balas mencium Arga. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?


"Hhh..." Luna menghela nafas berat. Dia sudah tidak melawan dan membiarkan Arga menciumi lehernya.


"Apa kakak merasa kepanasan?" Arga tersenyum miring. "Aku akan membantu kakak." Arga membuka kancing seragam Luna satu-persatu sampai habis. Dia menyurukkan kepalanya ke dada Luna, mulai melancarkan aksinya di sana.


BRAK!!

__ADS_1


Pintu terbuka kasar. Arga terkejut bukan main. Dia kemudian melihat seseorang dari balik pintu, El.


"Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak El. Dia sudah sangat murka saat Kris memberitahunya bahwa Arga menculik Luna. Dalam sekejap ruang kerjanya langsung berantakan seperti habis disapu badai. Dengan langkah penuh amarah, El keluar kantor dan menyusul ke tempat yang diberitahu Kris. Dan sekarang ia malah melihat pemandangan seperti ini!


Sebuah pukulan keras melayang ke wajah Arga, membuat darah segar mengalir dari bibirnya.


"Kak, jangan!" Luna berusaha keras menjernihkan pikirannya saat ini. Dia melebarkan tangannya, menghadang El, berdiri di antara El dan Arga.


El menatap Luna, gadisnya itu tampak bertingkah aneh. Mukanya memerah dan nafasnya tidak beraturan. El menarik Luna ke sisinya. "Kamu ga apa-apa?" tanya El. Luna tidak menjawab, dia hanya menyandarkan kepalanya di dada El.


"Kau apakan Luna?" tanya El dengan suara bergetar, dia sudah berusaha menahan emosinya untuk tidak mematahkan satu pun tulang yang ada di badan Arga.


Arga tersenyum mengejek ke El. Kris sudah memeganginya sekarang.


"Luna, kamu kenapa sayang?" El menatap Luna dari dekat. Luna balas menatapnya dan sesaat kemudian menciumnya tanpa ragu.


El melepaskan ciuman Luna. "B*NG***!" Dia tau apa yang terjadi dengan Luna. Sekarang ia sudah benar-benar ingin membunuh Arga, tidak bisa hanya sekedar memukulnya atau membuatnya sekarat.


El hendak menghampiri Arga, tapi tangan Luna menahannya. "Kak, cium aku lagi..." ucap Luna, memohon.


"Kris, ikat dia kursi. Tutup mulutnya," perintah Arga. Dalam sekejap, tangan dan kaki Arga sudah terikat dan mulutnya sudah ditutup. "Kris, apa yang terjadi setelah ini, kamu tidak boleh melihatnya. Tapi saya mau anak ini melihatnya dengan jelas. Kalau dia sampai menutup matanya, kau harus membukanya." ucap El. Kris mengangguk mengerti.


"Dan kau," El menunjuk ke Arga. "Lihatlah dengan baik!"


"Maaf membuatmu menunggu sayang..." El mencium Luna ganas lalu menggendongnya ke tempat tidur. Dia terus mencium Luna sambil melucuti pakaian istrinya satu-persatu. Nafas Luna sudah tersengal-sengal, dia sudah tidak bisa memikirkan apapun saat ini, yang diinginkannya hanyalah sentuhan.


"Ah..." Luna mendesah tak karuan saat El bermain di dadanya, belum lagi tangan El yang sudah bebas menjamah seluruh tubuhnya yang polos.


Sementara itu, Arga memberontak dan mengguncangkan tubuhnya dengan kasar sampai kursinya berderit keras. Arga berteriak sekeras yang ia bisa, mungkin memaki atau menyumpah, tapi tentu saja tidak akan terdengar. Air matanya mulai menetes saat ia melihat El menanggalkan pakaiannya. El menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Luna.


"Kakak masuk ya, mungkin akan sakit sedikit..." ucap El.


Arga berharap dirinya tuli saat ia mendengar suara penyatuan itu. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar suara desahan kakaknya yang terus-menerus tanpa henti. Dipukuli mungkin seratus kali lebih baik daripada harus menyaksikan hal seperti ini.


Luna tertidur dalam pelukan El beberapa saat kemudian. Merasa kalau Luna sudah nyenyak, El bangkit dan kembali mengenakan pakaiannya. Ia menghampiri Arga yang sudah bersimbah air mata. El ingin membuka penutup mulut Arga dan membiarkannya mengucapkan sumpah serapah pada dirinya, tapi ia tidak ingin Luna terbangun. Sayang sekali, kesenangan ini jadi sedikit berkurang.


El tersenyum di hadapan Arga. "Berkat kamu, saya bisa melakukan itu dengan Luna. Terima kasih banyak," ucapnya. "Padahal saya sudah menjaga jarak dengan Luna karena dia belum mau disentuh," ledek El.


"Tapi kamu benar-benar baik, membuat saya bisa melakukannya," lanjut El. "Nah, sekarang berhentilah melakukan hal yang sia-sia. Dan tunggu saja calon keponakanmu beberapa bulan lagi." Ucapan El membuat Arga melotot marah, tapi ia tidak perduli.

__ADS_1


"Kris, siapkan kendaraan untukku pulang. Dan urus anak ini."


Bersambung


__ADS_2