
Sudah beberapa hari ini kehidupan sekolah Luna berjalan normal. Luna dengan langkah ringan berjalan menuju kantin bersama kedua temannya, Tyo dan Jessika. Dan ya, dia tidak perduli kalau harus menjadi orang ketiga sampai mereka lulus nanti.
"Mau pesen apa Lun?" Jessika hendak berdiri memesan.
"Pesenin jus mangga, dong." Luna memberikan uang pada Jessika, kemudian membuka bekalnya hendak makan.
Setelah kejadian dimarahi Bunda, Luna sudah tidak bareng Arga lagi, baik waktu berangkat ataupun pulang sekolah. Dia juga selalu membawa bekal sendiri. Lagipula, minggu ini kelas 12 sudah memulai pelajaran tambahan. Jadi Luna perlu berangkat lebih pagi dan pulang sekolah lebih lama.
Kabar baik buat para siswa yang sudah punya gandengan, mereka bisa leluasa pulang pergi dengan pacar mereka tanpa dicurigai. Buat para jomblo, mereka semakin tersiksa melihat pemandangan yang menusuk mata.
Putus karena fokus ujian? Itu cuma mitos, buktinya Tyo dan Jessika semakin lengket bagai lem tikus dan tikusnya.
"Nanti mau ke perpustakaan kota lagi, Lun?" Jessika bertanya pada Luna yang belakangan ini rajin ke perpustakaan buat minjemin buku soal ujian, jadi uangnya bisa ditabung.
"Engga ah, buku yang kemarin juga belum selesai, Jess." Luna menerina jus mangga dari Jessika. "Thank you."
"Padahal gue juga baru mau ikut minjem buku di sana."
"Minjem buku apa mau hotspot gratis?" ledek Luna ke Jessika yang duduk di sebelah kirinya.
__ADS_1
"Jessika minjem buku, gue menikmati hotspot gratis, lumayan sebabak..." Tyo duduk di seberang Luna, sibuk makan bakso sambil liatin ponsel.
"Main terus,,, kapan belajarnya?" Luna berucap ketus kemudian mengambil paksa ponsel Tyo.
"Emang kalau belajar gue harus bilang-bilang sama elo?" Tyo mulai sewot dan merebut ponselnya kembali.
"Habis kalian pacaran terus, kapan belajarnya coba?" Luna mengingatkan.
"Kita ga pacaran terus. Elo aja selalu ngikutin kita kemana-mana. Gimana mau pacaran?" Tyo membalas Luna sengit.
"Udah ay, kamu kayak cewek PMS aja, berisik tau." Jessika berusaha melerai.
Selesai makan, Luna dan Jessika kembali ke kelas. Sedangkan Tyo kembali ke kelasnya sendiri.
"Lun, sorry ya. Tyo ngomong gitu ke elo." Jessika meminta maaf saat mereka duduk di kursi mereka di kelas.
"Gapapa, Jess. Gue salah juga, gue ga sadar kalau selama ini udah ganggu kalian." Luna menghela nafas panjang. "Gue kira selama ini kalian ga keberatan sama kehadiran gue..."
"Ga kok, Lun." Jessika menepuk bahu Luna. "Tyo lagi bete aja karena dia disuruh belajar terus sama ortunya. Terus elo nyuruh dia belajar juga, makanya dia jadi gitu." jelas Jessika.
__ADS_1
"Iya, gapapa Jess. Santai aja..." Luna mengecek ponselnya, melihat sebuah pesan masuk. Dari Tyo.
✉️ Sorry Lun, gue ga maksud ngomong gitu.
Gapapa Yo.
Kirim.
Kayak ada yang kelupaan. Belakangan ini gue sibuk apa ya? Kok kayaknya ada yang lupa gue lakuin?
"Kenapa? Elo nungguin telepon?" Jessika melirik layar ponsel Luna. "Eh iya, tumben si om-om yang jemput elo itu ga telepon-telepon lagi pas istirahat?"
Itu dia! Pantesan gue berasa ada yang kelupaan. Biasanya gue sibuk bales pesan dari kak El yang banyaknya ngalah-ngalahin penagih utang. Kemana dia? Tumben...
Bersambung...
EPILOG
Luna udah merasa kehilangan gue belom ya?
__ADS_1
El mengaktifkan ponselnya yang sedari tadi sengaja ia matikan agar dia bisa menahan diri untuk tidak mengirim pesan.