
Chapter 34: Masa Depan
"Pilihlah masa depanmu, dan yakinlah ada aku di dalamnya." -El-
✉️ Elo gak mau duit?
Pesan singkat dari Alex membuat sendok Luna terjatuh. Es krim blueberry vanilla di kotak ketiganya tiba-tiba terasa tidak manis lagi. Secepat kilat ia membalas pesan itu.
Mau, lah.
Mata Luna menatap layar ponselnya, sementara tangannya sibuk meraba kolong meja mencari keberadaan si sendok. Dapat.
✉️ Kenapa gak ke studio?
Elo enggak nyuruh.
Apa selama ini Luna salah? Jadi dia harusnya kesana setiap hari, begitu? Luna baru akan menyendok es krim lagi saat El merebut sendok di tangannya. Menggantinya dengan yang baru. Dia tersenyum senang karena El sudah kembali perhatian padanya seperti sebelumnya.
✉️ Jadi beneran udah enggak butuh ternyata.
Otw.
Dihabiskannya es krim itu dalam lima menit, segera Luna berdiri dan berlari ke kamarnya.
"Mau kemana?" tanya El saat Luna keluar kamar mandi dengan pakaian rapi. Celana jeans dan sweatshirt berwarna peach.
"Aku mau ke studio sebentar, kak." Luna memilih tas dan sepatu yang akan dipakainya. Diambilnya sneakers berwarna putih dan tas selempang kecil berwarna hitam.
"Sekarang sudah sore." El membuat Luna melirik jam dinding, jam empat lewat lima belas menit.
"Maaf kak. Aku akan pulang sebelum jam 9 malam," ucap Luna.
"Kakak ikut, tunggu!" Seruan El membuat segala kegiatan Luna berhenti. Dia harus menunggu El, tentu saja. Masih ingat kan, masalah penjara cinta? Luna tidak takut hal itu, tapi rasanya dia phobia kardus sekarang. Ancaman mami yang terukir di otaknya, bukan perkataan El. Luna tidak bisa membayangkan dirinya di dalam kardus yang dibuang di jalan.
Setengah jam berlalu, tapi Luna dan El masih dalam perjalanan. Macet. Kalau saja, kalau saja, tadi dia naik ojek online dan meninggalkan El. Mungkin dia sudah berada di tempat penampungan sampah sekarang.
Setelah satu jam duduk tak tenang di dalam mobil, mereka sampai di studio. Luna bergegas masuk dan mencari Alex di tempat biasa.
BRAK.
Pintu terbuka kasar. Dilihatnya sosok Alex sedang memainkan gitar dengan santai. "Sorry, macet." Luna mengatur nafasnya yang memburu. Dia duduk di sebelah Alex lalu ditepuknya lengan berotot itu. "Haus gue, haus. Bagi air," ucapnya.
"Nyuruh lagi, elo." Walaupun jutek, Alex memberikan sebotol air pada Luna.
"Thanks." Luna meneguk airnya hingga sisa setengah. Dia menatap Alex sekarang. "Mana duitnya?" tanya Luna menadahkan tangan.
"Malak?" tanya Alex dengan wajah garang.
"Maaf. Enggak, bos." Luna menurunkan tangannya, menunduk, merasa seperti bawahan kurang ajar.
__ADS_1
"Bagus deh kalau enggak." Alex tersenyum mengejek. "Tapi gue bingung, kenapa elo butuh banget sama duit?" tanya Alex.
"Butuh lah, gue."
"Buat?"
"Jajan, beli pulsa." Luna menghitung jarinya.
"Baju elo enggak kayak orang butuh duit, tau." Alex menunjuk Luna dari atas hingga bawah.
"Maksud elo?" Luna bertanya tak mengerti.
Ditunjuknya benda yang melekat di tubuh Luna satu-persatu. "Baju Gucci, kayaknya sekitar 10 juta. Sepatu sama tas elo juga keluaran sana. Gue ga tau harganya, tapi pasti enggak lebih murah dari baju itu..."
Luna melotot kemudian melihat bajunya baik-baik. Kaus seperti ini? Apa ini terbuat dari emas? Dia menyentuh baju itu sesaat, kemudian menghirup aromanya. Sama saja seperti baju biasa. Apa yang membuatnya begitu mahal?
"Dan elo kayaknya kaget." Alex mengamati wajah Luna. "Emang dapet darimana barangnya?" tanya Alex.
"Ada di lemari, gue pakai aja." Pertanyaan Alex dijawab jujur oleh Luna.
"Hah!" Alex mendecak tak percaya. "Lemari siapa yang elo maksud?"
"Ya lemari gue, lah..." Luna menjawab kesal. "Masa iya lemari istrinya Pak RT."
Alex melengos. "Udah lah, enggak usah dibahas. Gue tambah bingung. Nih, kerjaan hari ini. Besok langsung take."
KLEK.
El masuk sambil menatap Luna tajam. "Kenapa lari?" tanyanya.
Alex memperhatikan pria yang melangkah ke arahnya. "Siapa?" tanyanya pada Luna.
"Sorry, laki gue," jawab Luna.
"Ha...?" Alex menatap El lagi. Sepertinya memang benar, cowok yang waktu itu ia lihat menjemput Luna di sekolah.
Luna berdiri memegangi ujung baju El. "Maaf, aku kira kakak di belakang aku tadi," ucap Luna.
Aku? Sopan sekali!
"Kenalin, ini teman aku." Luna menunjuk Alex. Alex pun menjulurkan tangannya, menawarkan untuk berjabat tangan.
"Alex."
"El."
Sudah begitu saja. Perkenalan itu terjadi hanya dua detik. Setelahnya hening sempurna.
"Maaf, aku latihan sebentar kak." Luna mengambil gitar yang tergeletak di lantai dan mulai berlatih. Ia memutuskan untuk membiarkan kedua pria itu saling menatap. Biarlah, toh, tidak akan terjadi apapun. Tidak ada benda tajam disini, kan?
__ADS_1
El duduk dan hanya mengawasi Luna bersama Alex. Tampaknya baik-baik saja sejauh ini. Masih dalam jarak aman. Sepertinya lelaki normal. Oke, lah.
Latihan selesai setelah beberapa jam. Kini, Alex menyiapkan peralatan merekam. Dia memang selalu mengabadikan saat gladi, momen bersejarah menurutnya.
"Elo jalan yang bener, dong! Begitu aja oleng! Kaki elo panjang sebelah, emang?!"
Bentakan Alex membuat El beralih dari ponselnya. Ditatapnya makhluk hidup yang mengeluarkan suara nyaring itu. Beraninya ia membentak istrinya. Dia saja tidak pernah melakukannya!
"Ish! Santai dong, kambing!" Luna membalas tak kalah galak. Membuat El melengos. Begitu rupanya, ternyata mereka sama saja.
Beberapa menit berlalu dan El mulai yakin istrinya selama ini bermulut preman. Dia harus mengajarinya lebih baik nanti.
"Udah!" Alex melambaikan tangan, memberi tanda selesai.
Luna menghambur melihat kamera yang dipegang Alex. "Gimana? Bagus enggak?" tanya Luna. Wajahnya hampir menempel dengan Alex karena berusaha melihat layar belakang kamera yang kecil itu.
"Minggir!" Alex mendorong kening Luna dengan telunjuk. "Jangan deket-deket, gerah gue!" Luna membulatkan bibirnya cemberut dan bergerak menjauh.
Wow, El menyukai orang ini. Dia tidak memiliki motif apapun.
"Ya udah, sini, gue mau lihat!" Luna menghentakkan kaki tidak sabar. "Lama banget, kamvret lah..."
Sebegitu inginnya Luna dicium rupanya. "Luna...." El meletakkan tangannya di pundak Luna. "Kamu bicara apa ya barusan? Seperti nama hewan bukan, ya?"
Luna memandang El horor. "Aku bilang karpet, kak! Kakak salah dengar, loh..."
"Oh, bagus lah kalau begitu." El memberikan senyum mautnya, membuat Luna merinding.
"Ah, aku mau beli minuman dulu di depan!" Luna kabur secepat yang ia bisa. Tertinggal hanya El dan Alex dalam ruangan itu.
"Hai," sapa El.
"Kenapa?" Alex masih sibuk mengamati video yang baru saja diambilnya.
"Saya mau bertanya sesuatu," pancing El.
"Apa?"
"Apa kau bisa membantu Luna menjadi penyanyi?" tanya El. Dia ingin memastikan Luna bisa melakukan apa yang ia mau untuk masa depannya nanti.
"Tergantung..." Alex memberikan jawaban yang tak pasti. "Dia benar-benar mau melakukannya atau tidak," lanjut Alex.
"Kenapa begitu?" tanya El.
"Karena selama ini dia melakukannya cuma untuk uang...?" Alex bertanya balik kepada El. Membuat yang ditanya mengerutkan dahi.
Kemana semua uang yang ia berikan selama ini?
Bersambung
__ADS_1