
Chapter 64: Ruang Rindu
"Di ruang rindu, kita bertemu..."
Luna menatap tanah di hadapannya. Rasanya seperti terbang ke angkasa sebentar sebelum dihempaskan ke daratan. Ia tidak percaya, masih belum. Kenyataan di hadapannya sangat tidak masuk akal. Tubuhnya kaku dan otaknya tidak bisa berpikir.
SEMUA. TIDAK. NYATA.
Luna mengulang ketiga kata itu berkali-kali. Ia masih belum merasa kalau semua adalah nyata, sampai jemari hangat menyusup membentuk jalinan dengan jari-jari miliknya, menggenggamnya erat. Itu adalah tangan besar milik El. Luna menoleh ke arah lelaki yang kini berdiri sebelahnya, menatap seperti orang kebingungan. El yang melihat wajah Luna menarik gadis itu dalam dekapannya.
"Aku tau ini berat untukmu... Menangislah sayang..." El mengusap punggung Luna pelan. "Semua sudah terjadi, lebih baik kamu menerimanya..." Pelukan El semakin erat membuat Luna sesak. Perlahan memori itu muncul kembali dalam benaknya.
Luna kembali ke tempat Bunda dengan sekantung makanan penuh. Tidak lupa nasi Padang dan es krim. Dia tersenyum lebar lalu mengetuk pintu. Setelah beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, Luna menggerakkan pegangan pintu itu, dikunci. Ia mencoba beberapa kali, namun tidak ada hasil.
Apa Bunda keluar? Apa aku harus menunggu? Luna membatin penuh tanda tanya.
Beberapa menit menunggu, Luna mulai khawatir. Ia mengetuk pintu lagi dan memanggil beberapa kali, tidak terdengar jawaban. Ia yakin Bunda ada di dalam. Alas kakinya masih terpajang rapi di depan pintu, tidak berubah seperti saat ia pergi tadi.
"Bunda...." Beberapa kali Luna memanggil tanpa hasil. Teriakannya membuat tetangga yang tinggal di sebelah keluar dan menyapanya.
"Siapa ya?" tanya seorang wanita muda berusia sekitar 20 tahunan.
"Em... Maaf mengganggu..." Luna menunduk sopan. "Bundaku ada di dalam, tapi dari tadi aku panggil dia tidak menyahut..."
Melihat tatapan cemas Luna, wanita berambut panjang itu melewati pembatas kamar yang hanya berupa tembok setinggi betis dalam sekali langkah. Ia melewati Luna dan mendekat ke arah pintu, mengetuk dan memanggil beberapa kali kemudian mencoba menggerakkan gagang itu. Tapi hasilnya sama seperti Luna. Tidak ada jawaban sama sekali.
"Sebentar, aku panggil si Bapak Kos..." Ia berlari secepat mungkin ke rumah yang ada di belakang. Dan tak berapa lama, kakak itu kembali dengan seorang bapak gendut berkumis yang memegang kunci.
"Kamu siapa? Kamu anaknya?" Bapak itu menunjuk Luna. Luna mengangguk. "Benar dia ada di dalam?" Luna mengangguk lagi.
Melihat jawaban yakin dari Luna, bapak bersarung itu memasukkan kunci ke dalam lubang pintu lalu memutarnya perlahan. Dan saat mereka masuk, Dewi sudah terbaring dengan darah yang mengalir memenuhi lantai kamarnya.
Teriakan menggema terderngar dan para tetangga mulai berdatangan. Kantung yang sedari tadi dipegang Luna jatuh seketika, isinya berhamburan ke lantai tanpa diperdulikan pemiliknya. Luna tanpa berpikir mendekati Bundanya dan menggoyangkan badannya, berusaha menyadarkan dan terus memanggil, berharap akan ada satu sahutan lagi saja untuk dirinya. Tapi sayang, harapan itu mungkin terlalu sulit untuk bisa dicapai.
Mobil ambulans datang beberapa saat kemudian. Luna masuk ke dalam mobil dengan pakaian penuh bercak darah. Tatapannya kosong. Semua orang di sekitarnya sibuk, tak tau sedang apa. Luna tidak mengerti apa yang terjadi. Entah apa yang ia lewatkan. Beberapa menit yang lalu, Bunda masih berbicara dengannya, tapi kenapa sekarang terbaring seperti ini. Apa yang salah?
Ia menatap Bunda yang terbaring di hadapannya tak bergerak. Beberapa petugas kesehatan yang ada di dalam ambulan sibuk memberikan pertolongan. Luna hanya terdiam, seolah masih memproses semua di dalam kepalanya yang tiba-tiba seperti kelebihan muatan dan berjalan selambat siput.
Luna tersadar saat seseorang mengguncangkan tubuhnya perlahan.
"LUNA!" teriakan El akhirnya masuk ke dalam pendengaran Luna, membawa Luna kembali ke alam sadarnya. Luna mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menyadari kalau ia sudah berada dalam dekapan El sepenuhnya.
Luluh dalam pelukan El, Luna menggapai kembali ingatannya, dan tepat di saat itu, dokter keluar ruang tindakan dan memberitahukan hal yang sangat tidak ingin ia dengar. Nyawa Bunda sudah tidak tertolong lagi....
Setelah itu, Luna merasa ada di atas awan. Seperti sadar tapi juga tidak. Dia menggenggam erat selembar kertas yang berisi pesan terakhir Bunda. Hatinya hancur menjadi serpihan saat membacanya. Rasanya begitu tidak nyata, dan ia sangat terpukul harus menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya.
"Bukan salahmu, sayang..." El mengelus kepala Luna perlahan. "Kita boleh berharap, tapi Tuhan juga lah yang menentukan..." Luna masih tidak bergeming.
"Ikhlaskan lah Bunda... Dia sudah tenang..." Air mata Luna akhirnya menetes perlahan. Dia melepaskan pelukan El lalu terduduk di samping gundukan tanah basah itu. Luna mengelus batu nisan bertuliskan nama bundanya dengan sayang. Setelahnya, ia baru bisa menyadari keadaan sekitar. Ayah, Arga, Arka dan juga Arsya yang saling menguatkan. Bahkan ada Alex, Tyo dan Sweet Besties-nya.
Semuanya berkumpul, dan tentunya akan indah jika saja ini bukan pemakaman....
__ADS_1
"Sayang..." El mengelus kepala Luna. Gadis itu terus menangis sedari tadi.
"Sayang..." El memanggil sekali lagi, kali ini ia menarik Luna sedikit, meminta perhatiannya. "Hari sudah mendung, sebentar lagi hujan. Ayo kita pulang..."
Melihat Luna yang tidak bergerak, Ayah menghampirinya. "Ayo pulang, Luna..."
"Iya, kak... Ayo pulang..." Arga menyusul Ayah mendekati Luna, orang yang tampak paling tertekan di antara mereka.
Luna menatap Ayah dan Arga, serta adik-adiknya yang lain. Mereka sama sedihnya, sama tidak percayanya, dan sama terpukulnya seperti dirinya. Saat Luna masih meragu, El menarik tangannya berdiri. "Mereka semua menunggumu, sayang..."
Sedetik setelah Luna berdiri, Jessika langsung menubruknya, memberikan pelukan yang sedari tadi ia tunda. Selama berapa jam ia menunggu hingga hanya tinggal mereka. Ia memeluk Luna erat kemudian berbisik tepat di telinga Luna. "Inget, gue selalu sayang sama elo..." Jessika menyeka air mata Luna, lalu menatap Luna langsung ke matanya. "Dan bukan cuma gue, mereka juga..."
Di belakang Jessika, Reina dan Tiara menyusul memeluk mereka. "Ingat kita ya... Kita enggak cuma ada di saat elo senang... Panggil kita di saat elo susah... Karena untuk itulah kita ada...."
Tangis Luna tumpah kembali, ia terisak keras. "Makasih...." sahutnya dengan suara parau.
"Ada gue juga..." Tyo menepuk pundak Luna perlahan.
"Gue juga... Kita temenan, kan?" Sandi ikut menepuk pundak Luna.
"Jangan lupa, ada kita juga kak..." Luna tersenyum tipis melihat empat adiknya berjejer, Alex, Arga, Arka dan Arsya. Formasi mereka sudah seperti boyband saja.
"Terima kasih banyak..."
Hati Luna terasa hangat. Iya, ia tidak sendiri. Pasti, ia bisa melewati ini... Atau itu yang ia pikir akan terjadi...
***
Hari ini Arya keluar dari rumah sakit. Apakah Arya tau kalau Bunda sudah tiada? Tentu saja. Apa ia menangis? Pasti. Arya menangis sehari semalam setelah mendengar berita itu. Luna dengan sabar menenangkan adik kecilnya, walaupun hatinya sama pedihnya seperti Arya.
"Selamat datang, Arya...." Arka sengaja menyambut Arya berlebihan dengan senyum lebar mengembang. Arka memberengut sok tidak perduli.
"Selamat hari bisa makan segalanya..." Arga datang bersama Arsya yang memegang sekotak kue cokelat kesukaan Arya, membuat mata anak lelaki itu berbinar.
"Kamu boleh habiskan semua makanan.. Kita sudah beli banyak di dalam..." Arga menunjuk ke arah dapur.
"Asyik!" Arya berseru senang.
Luna mengajak Arya duduk sebelum ia menyantap kue itu. Arya menyambar sepotong kue yang ada di tangan Arsya tanpa ragu. Luna yang melihat ini tersenyum sesaat kemudian ikut menyantap kue dan minuman yang sudah disediakan adik-adiknya di meja.
El masuk setelah Luna dan adik-adiknya berkumpul. Ia sengaja menyusul, tidak ingin menganggu waktu keluarga mereka. Dan lagipula, ia punya beberapa hal yang mau dia urus, hal yang akan ia katakan setelah ini.
"Kakak ipar apa kabar?" Sapaan ramah Arka yang pertama kali menyambut El.
"Baik..." El tersenyum kemudian duduk di sebelah Luna.
"Minum dulu, kak... Jangan lupa dimakan kuenya... Enak loh... Tenang aja kita beli, kok, enggak buat sendiri... Jadi, dijamin aman!" Arsya membulatkan jarinya membentuk huruf 'O' untuk OK.
"Hahaha.. Iya..." El terkekeh pelan sebelum akhirnya mencicipi minuman dan makanan yang tersaji. Setelah beberapa saat berlalu, El merasa ini waktu yang tepat baginya untuk mengatakan hal itu.
"Arga, Arka, Arsya, Arya..." El mengabsen nama adik Luna satu-persatu.
__ADS_1
"Iya, kak..." Mereka menjawab hampir berbarengan.
"Kenapa?" tanya Arga kemudian.
"Aku dan Luna akan pindah ke rumah baru... Kalian ikut kami ya?" Mereka saling bertatapan bingung.
"Pesta pernikahanku dan Luna diadakan seminggu lagi. Setelah itu kita bisa tinggal bersama. Keluarga Luna adalah keluargaku juga. Dan kalian adalah adik-adikku yang manis..."
"Hahahaha..." Arga terbahak keras mendengarnya. Adik yang manis katanya? Beberapa bulan lalu mereka bahkan pernah adu tinju.
"Aku serius, Arga..." El memicingkan matanya tidak senang.
Arga menahan tawanya kemudian berucap, "iya aku tau, kakak iparku tersayang..." Ia sengaja mengucapkan nadanya seperti meledek. El gemas sampai menghadiahi Arga dengan sebuah jitakan pelan di kepala cowok itu.
"Aku sedang bertanya di sini. Apa kalian mau tinggal bersama aku dan Luna?" tanya El sekali lagi.
"Mau!" Arya yang menjawab pertama kali.
"Mungkin harus tanya Ayah..." jawab Arga.
"Eh, Ayah kemana?" celetuk Luna kemudian.
"Ada kok di kamarnya... Bentar aku panggil, kak..." Arga beranjak dari duduknya kemudian melangkah santai ke kamar Ayah.
Luna mengawasi Arga sampai menghilang dari pandangan kemudian ia kembali sibuk dengan kuenya. Hal yang tidak pernah membuat ia bosan, makanan.
BRAK!
Kegiatan mereka terhenti seketika saat mendengar suara keras dari dalam. El dan Arka segera berlari masuk, mendekati sumber suara, kamar Ayah Luna.
"Ada apaan, sih?!" Arka yang tadinya hendak marah dan mengatai kakaknya lebay diam tanpa suara saat melihat Arga yang terduduk di samping Ayah mereka yang sudah terbaring di lantai.
"Aku telepon ambulans!" El secepat kilat mengambil ponsel dari sakunya dan memencet serangkaian nomor. Keadaan berubah panik dan mencekam sampai petugas datang.
Arsya bersama Arya menunggu di luar. Luna dan Arka yang tidak sabar menatap tepat di balik pintu, menyisakan Arga dan El yang ada di dalam bersama petugas medis. Setelah memeriksa sesaat, salah satu petugas itu menggeleng. Luna terpaku.
Apa artinya itu? Jangan bilang...
"Maaf, sepertinya serangan jantung..."
Badan Luna luruh seketika. Arka yang menangkapnya. Luna tidak percaya ini. Apa tidak cukup kehilangan Bunda? Dan sekarang Tuhan mengambil Ayahnya juga?
"Kak... kak...!!!" Pekikan Arka adalah hal yang terakhir Luna dengar saat ia kehilangan kesadaran.
Arga menatap Luna sedih sambil meremas sebuah kertas di tangannya. Surat, sama seperti Bunda, Ayah juga menuliskan itu. Seakan tau, kalau ajalnya sebentar lagi menjemput...
Anak-anakku tersayang,
Luna, Arga, Arka, Arsya dan Arya... Anak-anak Ayah yang paling Ayah cintai... Kalian adalah titipan terbaik dari Tuhan untuk Ayah dan Bunda... Tetaplah jadi yang terbaik...
Untuk belahan jiwaku yang telah pergi,
__ADS_1
Terima kasih telah merawatku dan anak-anak kita... Aku berharap kamu pulang ke sisiku, tapi kamu memilih pergi ke tempat yang lain... Kamu tau, aku mencintaimu sebesar itu... Tunggulah aku di ruang rindu, sayangku...
Bersambung...