Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
47. Jalan Pintas


__ADS_3

Setelah selesai istirahat hingga pulang sekolah, Reina selalu menempel pada Luna dan Jessika.


Tyo tidak keberatan, bahkan dia malah senang, jadi Luna sibuk dengan Reina sehingga dia tidak punya orang ketiga lagi.


Sekarang sudah jam pulang sekolah, mereka sedang duduk nongkrong di warung seperti biasa, menunggu Luna dijemput.


"Si om masih lama Lun?" Jessika menyedot susu cokelat yang diberikan Tyo padanya barusan.


"Bentar lagi kayaknya. Dia bilang otw." Luna mengecek ponselnya, sementara Reina sibuk mengepang rambut Luna.


Mereka sudah mulai menerima Reina. Apalagi setelah mendengar kabar kalau ternyata Alex dan Angel dikenakan hukuman skorsing, berarti kepala sekolah bersikap adil. Walaupun tidak sampai dikeluarkan atas pertimbangan bahwa mereka sama-sama kelas 12. Tapi kedua belah pihak orang tua sudah mengetahui dan menjamin tidak akan ada kejadian seperti itu lagi kedepannya. Luna, Jessika dan Tyo bisa bernafas lega.


"Mana nih? Kalian katanya mau bantuin gue? Ga ada usul?" Luna membahas masalah adiknya lagi. Reina mendengarkan tapi tidak ikutan, dia mengerti batas bahwa sebaiknya tidak ikut campur kalau tidak diminta.


"Iya udah gampang, tar kita bantuin. Elo janjian aja sama si om dimana, nanti kita bawa Arga sama yang lain kesana. Beres kan?" Jessika mengacungkan jempol.


"Bener ya? Hari Minggu ini ya?" Luna mengancam Jessika dan Tyo.


"Iyaaaa..."


"Di mall mentari ya?"


"Iyaaaa...."


"Jam 11 ya, sekalian makan siang."


"Iyaaaa..."


"Gue boleh ikutan, gak?" Reina tiba-tiba menyela.

__ADS_1


Jessika langsung menatap Luna. "Boleh... Untuk antisipasi, lebih banyak orang lebih baik. Mana tau terjadi hal-hal yang tidak dinginkan.."


"Yeeiii~" Reina berseru senang. "Eh, udah selesai, nih, Lun."



"Wah, bagus banget, Rei." Jessika memuji gaya rambut Luna. "Nanti buatin gue juga, dong!"


"Oke." Reina mengacungkan jempol. "Gue pesen ojol dulu ya, udah sore. Gue duluan gapapa kan?"


"Iya gapapa, santai aja kali."


Tak berapa lama ojek pesanan Reina datang dan dia pun melambai pergi. Tersisa Luna, Jessika dan Tyo seperti biasa.


"Eh Yo, biasanya kalau lagi marah, elo maunya dikasih apa?" Luna bertanya penasaran. Kak El kan satu spesies dengan Tyo, dia merasa wajib meminta referensi.


Hal ini tentu dia lakukan karena sebelumnya dia sudah bertanya pada mesin pencari paling canggih, tapi belum juga menemukan jawaban yang cocok.


Luna mulai tidak sabar. "Lama banget sih elo mikirnya!"


"Sebenarnya tergantung sih, yang bikin marah siapa dulu. Terus marahnya kenapa. Kalau gitu baru gue bisa jawab."


"Ya, anggap aja kayak gue ngerusakin motor elo. Elo bakal maafin kalau gimana?"


"Ya kalau ganti rugi, lah!"


"Kalau belom bisa ganti gimana?"


"Ya, belom bisa gue maafin berarti."

__ADS_1


"Kalau dikasih hadiah yang lain dulu gimana? Dikasih makanan misalnya atau barang?"


"Ya gue terima, tapi tetep gue suruh ganti rugi." Tyo menjawab datar.


"Ish!" Luna mendecak kesal.


"Lagian elo mikir ribet banget, sih!" Tyo melanjutkan penjelasannya. "Cowok itu, ga perlu yang ribet, ga perlu jalan muter-muter, langsung aja jalan lurus ke intinya."


"Maksud elo apa sih? Gue ga ngerti."


"Gampang lah, Lun. Si om itu kan suka sama elo. Suka banget malah kayaknya."


"Yakin banget elo!" Luna menyangsikan perkataan Tyo.


"Heh! Udah pernah terbukti ya." Tyo menyipit tak senang. "Elo ga inget insiden telepon kemaren?" Luna terdiam, dia ga mau terlalu percaya diri. "Pokoknya elo ikutin saran gue, dijamin semua beres."


Luna manyun. "Ya udah kasih tau caranya buruan."


"Pakai jalan pintas." Tyo menahan nafas. "Elo cium aja dia sekali, langsung lunas semua hutang elo!"


"Halah! Itu mah elo aja yang pengen!" Luna dan Jessika menjitak Tyo bersamaan.


"Engga percaya elo ya?!" Tyo masih mencoba meyakinkan. "Kalau sampai ide gue gak berhasil, elo tinggal---


"Tinggal apa?"


"Tinggal coba cium aja sekali lagi--


"Mamam nih tissu"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2