
Luna pikir hari ini akan menjadi lebih heboh. Dia pikir Angel akan mengganggunya lebih parah dari kemarin. Tapi ternyata hari ini tenang? Damai? Lihat, ini sudah jam istirahat, tapi tidak ada tanda-tanda dari Angel ataupun Alex.
Luna diam-diam bersyukur senang dalam hatinya.
"Tumben engga ada si malaikat gila sama pacarnya yang sinting itu?" Jessika seperti bisa membaca pikiran Luna, atau memang pikirannya yang terlalu mudah dibaca oleh orang lain?
"Ga tau. Gue sih bersyukur banget dia ga ada. Udah tobat kali?" Luna menyahuti Jessika. Setelahnya dia menyuapkan baksonya yang penuh sambal.
"Dia ga bakal muncul tiba-tiba lagi kan? Bisa jantungan gue!" Jessika melirik ke belakang, lalu ke kanan dan kiri, memastikan keadaan aman.
Baru saja Jessika bernafas lega, tiba-tiba meja mereka sudah bergetar lagi. Seseorang telah menendang keras meja mereka hingga bergeser.
Mereka langsung menoleh ke pelaku. Monika.
"Kenapa elo?" Tyo menatap cewek di depannya dengan aneh. Monika, yang tampaknya ia lihat kemarin bersama Angel, sekarang muncul bersama Sandra dan Lena.
"Gue mau ngomong sama temen elo yang sok polos ini," Monika menggeser Tyo kemudian duduk di hadapan Luna. Hari ini tidak ada Reina dan Tiara bersama mereka, karena Luna sengaja menyuruh mereka begitu.
"Tenang aja, gue ga seperti Angel. Gue ga suka main kasar. Nanti kuku gue rusak." Monika sengaja memandangi jari-jari tangannya yang sudah terhias indah.
"Mau ngomong apa?" Luna akhirnya menjawab setelah menghentikan makanannya. Luna menatap malang mangkuk baksonya. Belakangan ini dia selalu tidak menghabiskan makanannya karena banyak gangguan. Sungguh sayang sekali. Untung saja setiap pulang bersama kak El, dia selalu diajak makan, jadi dia tak sampai kelaparan.
"Elo hebat banget ya," Monika malah memuji Luna. Luna menunjukkan wajah bingung. "Sampai bisa bikin temen gue langsung berhenti berulah. Gue mau tau gimana caranya elo bisa begitu."
"Maksud elo apa? Gue ga ngerti. Ngomong langsung aja, ga usah muter-muter." Luna malas berpikir untuk hal seperti ini, menurutnya mengerjakan PR masih lebih berfaedah.
"Elo ngaduin temen gue ke siapa, hah?" Monika memukul meja keras, membuat beberapa orang menonton mereka, membuat kerumunan semakin ramai.
"Gue ga ngapa-ngapain ya. Dari tadi gue disini aja sama temen-temen gue."
"Bukan hari ini, kemarin." Monika menatap Luna tajam. "Kemarin sore temen gue telepon sambil nangis-nangis. Gara-gara elo."
"Kok elo nyalahin gue? Temen elo halu lagi?" Luna tersenyum miring.
"Elo ga tau apa pura-pura ga tau?" Monika mendekatkan wajahnya ke Luna, Luna balas menatapnya lurus.
"Oke, karena elo kayaknya emang ga tau apa-apa, gue kasih petunjuk." Monika berbisik pelan, "Rahardja."
Mata Luna langsung melotot. Hatinya mencelos dan keberaniannya tiba-tiba hilang ditelan bumi.
__ADS_1
"Gue acungin jempol gue karena elo bisa dapet backingan mereka." Monika memundurkan wajahnya menjauh dan melipat tangannya di depan dada. Saat ini memperhatikan ekspresi Luna yang berubah pucat sungguh sebuah hiburan untuk dirinya.
"Elo bisa senang karena kita ga akan main kekerasan lagi sekarang." Monika tersenyum sinis kemudian memperhatikan wajah Luna lagi. "Tapi---
Monika sengaja menjeda ucapannya. "Tapi gue ga nyangka ternyata elo ga sepolos itu. Elo itu beda, ga kayak kita, karena elo mainnya sama om-om. Oh, God! Haruskah gue nanya." Monika mendecak. "Elo bukan lont* kan?"
***
Setelah Monika pergi dari meja mereka, Luna cuma bisa diam. Dia sekarang bisa mendengar berbagai macam komentar dan hal-hal yang sungguh ia tidak ingin dengar.
Luna segera berdiri dan berlari pergi, tidak menghiraukan Jessika yang memanggil namanya.
Luna berlari hingga bagian belakang sekolah yang sepi, ke bagian tempat penyimpanan kursi dan meja yang rusak. Dia mengatur nafasnya sejenak, kemudian mencari tempat duduk untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Harusnya tadi dia tidak langsung pergi, jadinya tambah mencurigakan, kan?
Saat Luna sudah menemukan tempat duduk, dia mendengar suara grasak-grusuk. Karena penasaran, dia mengeceknya. Takut sih, tapi disini kan terang, di luar ruangan pula.
Luna terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Alex?" Luna menangkap basah Alex yang baru saja akan turun dari atas tembok sekolah.
Alex langsung meloncat turun. "Hai, cantik." Alex mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan mendekati Luna. "Elo ngapain disini? Nyariin gue? Mau ngajak berduaan? Gue sih oke. Apa sih yang engga buat elo?"
"Jangan pegang-pegang." Luna memperingatkan, lalu perlahan melangkah mundur.
"Enggak." Luna menjawab ketus.
"Serius melulu sih, Lo!" Alex mencubit pipi Luna gemas kemudian dia menyadari sesuatu. "Elo nangis?" Alex bisa merasakan tangannya sedikit basah saat memegang pipi Luna.
"Enggak." Luna memalingkan wajahnya.
"Sama si Angel? Bukannya dia ga masuk sekolah ya?" Alex tampak berpikir sebentar. "Sorry ya belakangan ini gue ada urusan."
"Elo bolos sekolah?"
"Enggak. Gue kadang masuk pas jam istirahat."
Luna langsung menautkan alis, yang disambut oleh tawa renyah Alex.
"Udah, ga usah dipikirin." Alex mengajak Luna duduk di kursi bekas di sebelahnya. "Elo kenapa nangis, heh? Masa cewek yang berani nonjok gue ternyata cengeng gini?"
"Diem Lo!"
__ADS_1
"Kalau itu gara-gara Angel atau temen-temennya, cuekin aja. Mereka emang pada ga punya otak."
"Emang elo punya? Elo sendiri temennya mereka kan?"
Alex tertawa puas lagi mendengar tanggapan Luna. Setelah puas tertawa, Alex memasang wajah serius. "Iya nih, gue juga ga punya. Apa gue boleh temenan sama elo biar gue punya otak?"
Luna yang mendengarnya langsung terheran-heran.
Dia segila itu.
"Udah, mending elo balik ke kelas. Temen-temen elo pasti nyariin. Yuk, gue anterin." Alex mengulurkan tangannya. Luna cuma menatapnya saja.
"Oke, silahkan jalan duluan, princess.." Alex memberi jalan untuk Luna. Mereka berjalan beriringan.
Dan benar saja, saat sampai di kelas, Jessika langsung menghambur memeluk Luna.
"Lun, elo ga papa? Elo kemana aja? Gue sama Tyo nyariin dari tadi. Tiara sama Reina juga masih keliling nyariin elo. Bentar gue kasih tau mereka dulu."
"Kenapa elo sama Alex?" Tyo menatap Alex yang berdiri di belakang Luna dengan curiga.
Alex langsung mengangkat tangannya. "Eittss.. Gue ga ngapa-ngapain loh, ya. Gue justru nyuruh dia balik."
"Bener Lun?"
Luna mengangguk.
"Tuh, kan." Alex menunjuk Luna dengan senyum kemenangan. "Ya udah, gue balik ya. See you.." Alex melambai.
Luna balas melambai kemudian tersenyum. "Iya, thank you..."
Jessika dan Tyo menatap Luna bingung. "Elo habis ngapain sama Alex? Kok jadi akrab gitu?"
"Gue ga ngapa-ngapain." Luna duduk di kursinya.
"Ya udah, ay. Luna udah ketemu kan, aku balik kelas ya." Tyo yang melihat Jessika mengangguk lalu pergi.
"Elo beneran ga ada apa-apa?" Jessika meneliti wajah Luna. "Tapi emang si Monika tuh kurang ajar banget deh mulutnya. Masa temen gue imut gini dibilang perempuan ga bener?! Elo kan cuma lagi laku keras aja, ya kan Lun?"
Gue pingin cekik dia sekali, boleh ga?
__ADS_1
Bersambung..