
Jatuhnya jus mangga menjadi peristiwa tragis yang ditonton oleh siswa yang ada di tempat parkir sekolah. Beberapa dari mereka sudah mulai bergumam-gumam sendiri.
NGAPAIN DIA KESINI?!
"Siapa Lun?" Jessika yang tadi berada tak jauh dari Luna langsung menghampiri nya dan mencoba menyadarkan temannya itu.
"Luna!" Belum sempat Luna menjawab, El sudah berdiri di sampingnya. "Kamu kebiasaan deh, jatuhin minuman lagi."
"K-k-kak- kak El," Luna terbata-bata lagi saking kagetnya mendapati El sudah ada di sekolahnya.
El tidak bisa menahan senyumnya melihat ekspresi kaget Luna. "Kakak bikin kaget ya? Maaf deh, nanti kakak beliin lagi minumannya."
"Ke... kenapa kesini?" Akhirnya kata-kata itu berhasil keluar dari mulut Luna.
"Panas banget nih," mengalihkan pembicaraan. El mengusap dahinya. "Ke mobil yuk,"
MOBIL?! Jessika yang dari tadi menonton terkejut bukan main. Siapa sih ni orang??
Melihat Luna yang masih terpaku kaget, El menarik tangan Luna dan membawanya ke dalam mobil.
Sementara di tempat parkir, keadaan mulai ricuh.
"Kakak katanya," ucap salah satu murid yang menonton.
"Keren, kakaknya ganteng banget," sambung yang lain
"Bawa mobil dong..." sambung yang lainnya lagi.
"Argaaaaaaa!!!!" Jessika langsung mencari Arga panik.
"Kenapa kak Jess?" Arga baru sampai di tempat parkir karena dia habis dari toilet tadi.
"Lu-luna..." Jessika tarik napas. "Luna dibawa om-om!!"
"Apa?!" Arga membelalak kaget. "Dimana??"
"Tempat parkir," Jessika tarik napas lagi. "Sedan item. Buruan! Elo ikutin, gue bareng Tyo."
***
__ADS_1
Di dalam mobil...
"Lun," El menyadarkan Luna.
"Iya kak?" Luna berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaran nya.
"Pakai seat belt."
"Oke, kak." Luna langsung memakainya.
El pun melajukan mobilnya.
"Kak El, kenapa cari Luna?"
Kangen.
"Ga papa. Hari ini lagi ga sibuk aja, jadi ke tempat kamu,"
Emang ga pernah sibuk, sih.
"Oh, pasti kakak mau ambil jas kakak ya?" Luna baru ingat dengan laundry itu.
"Nanti aku kabarin kakak kalau udah selesai dari laundry," sambung Luna.
"Oh gitu.." El menjawab santai. "Kalau gitu minta nomor telepon kamu," El menyodorkan hapenya.
"Kenapa?"
Ini bukan lagi modus kan? Luna
Kalau modus emang kenapa? El
"Cepet, tangan kakak pegel nih,"
"Iya, kak," Luna mengambilnya dan memasukkan nomor telepon.
"Aku telepon ya," El mendekatkan hapenya ke telinga dan mendengar nada sambung disana.
Luna mengeluarkan hapenya dari tas dan menunjukkan ke El. "Udah masuk, kak."
__ADS_1
"Oke." El menutup sambungan. "Simpan ya nomor kakak. Tulis, Kak El."
Maksa sih....
"Iya, kak." Pasrah.
"Kakak laper nih, makan yuk,"
Tidak lagi..
"Kak!" Luna refleks memegang tangan El yang ada di kemudi.
"Aku harus pulang," Luna masih ingat bagaimana Bundanya marah terakhir kali dia telat. Dan sekarang dia masih dalam masa hukuman, paling tidak sampai beberapa hari ke depan.
"Tapi kakak laper, tadi belum sempet makan siang langsung ke sekolah kamu."
"Lain kali ya kak, aku janji." Luna mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
"Tapi aku laper banget,"
Tidak berhasil.
"Please kak... Pleaseeeeee..." Luna memohon.
Boleh, tapi cium pipi dulu sini.
"Boleh, tapi nanti kalau kakak chat bales ya."
"Iya, janji."
"Oke, kita ke Drive thru dulu ya,"
SAMA AJA DONG, UDIN.
Bersambung..
EPILOG
"Suapin dong, kakak lagi nyetir nih..."
__ADS_1
EALAHHHH....