
Chapter 10: Uang
"Kebutuhan primer manusia itu bukan pangan sandang papan, tapi uang." -Luna-
"Tempat apaan nih?" Luna menatap curiga bangunan dengan cat hitam dan merah di depannya. "Gue ga mau masuk, ah!" Luna membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi.
Setelah pulang sekolah tadi, Luna bilang ke Jessika kalau dia ada urusan. Sebenarnya, dia menemui Alex. Dan Alex malah membawanya ke tempat ini. Gedung mencurigakan yang tidak terlalu jauh dari sekolah, sekitar 10 menit menggunakan motor.
"Jangan bawel, ayo!" Alex hendak meraih tangan Luna, tapi Luna langsung mundur selangkah.
"Elo ga usah gitu ke gue, deh!" Alex mendengus kesal. "Kalau gue mau, dari kemaren gue ga usah nolongin elo!"
Luna masih ragu.
"Cepet! Katanya elo butuh duit!" Alex mulai tak sabar. "Masih butuh enggak? Kalau enggak butuh ya udah..."
"Masih, masih..." akhirnya Luna mengangguk dan mengikuti Alex masuk ke dalam bangunan itu. Yang ternyata itu adalah sebuah studio musik, banyak anak-anak sekolah seumuran mereka nongkrong di sana buat nge-band.
Alex melewati meja pendaftaran dan langsung masuk ke sebuah ruangan kedap suara yang lengkap dengan alat musik.
"Elo gak daftar dulu?" Luna heran karena mereka melewati beberapa orang yang mengantri tanpa dosa, dan langsung masuk dengan tatapan iri yang mengikuti mereka.
"Ngapain? Ini punya gue..." jawab Alex.
"Hah?!" Luna menggeleng tak percaya. "Elo sekaya itu?"
"Emang cuma cowok elo aja yang kaya?" Alex meledek Luna. "Kalau gue enggak kaya, ga mungkin Angel ngejar-ngejar gue..."
Bener juga, sih.
"Gue cari duit pakai ini," Alex mengambil gitar dan duduk di kursi yang ada dalam ruangan.
"Elo bisa nyanyi?" Luna masih tak percaya.
"Gue punya band, tapi bukan gue vokalisnya."
"Apa nama band elo?" tanya Luna.
"Elo ga bakal tau, kita main di underground." jawab Alex. Luna masih bingung.
"Udah lah, ga usah banyak nanya, pokoknya gue punya band dan gue sering manggung. Gue juga punya studio dan gue bisa bantuin elo dapet duit. Tapi.... elo harus nyanyi. Karena itu satu-satunya cara yang gue tau."
"Gue ga bisa nyanyi." Luna menggeleng.
"Semua orang bisa, asal tekniknya bener," ucap Alex. "Coba sekarang elo nyanyi, gue mau denger."
"Nyanyi apaan?" tanya Luna.
"Apa aja, gue mau dengar jenis suara elo."
Luna menarik nafas kemudian membuka mulutnya, "Entah apa yang merasukimu~~
BRAK!
Alex memukul kursi sampai Luna terlonjak kaget. "Elo yang serius, dong! Elo pikir gue bercanda?!"
Oh, dia menyeramkan...
"Tadi elo bilang lagu apa aja?" Luna protes sambil menunduk, dia takut tapi dia juga tidak mau disalahkan.
"Duduk sini, gue kasih tau." Alex meminta Luna duduk di sebelahnya, kemudian mulai menjelaskan. "Elo, nyanyi pakai perasaan..." Luna mengangguk.
"Sekarang coba buka ponsel elo, pilih satu lagu yang paling elo suka sekarang." Luna mengangguk lagi. "Keluarin earphone-nya sekalian."
Luna mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone-nya. Dia juga sudah membuka aplikasi pemutar musik.
"Sekarang, anggap gue ga ada. Rileks... Tutup mata elo, dengerin lagunya. Ikutin nadanya terus mulai nyanyi. Pakai perasaan." Alex membimbing Luna perlahan.
__ADS_1
Luna menarik nafas lagi, dia menyalakan musiknya dan memejamkan matanya.
"Ni nunape watjana
Naega yeogi itjana
Neoui ipsullo mareul haejwo
Say yes, say yes
Nado moreuge
Neoege gago innabwa
Buneun barame
Nae mam jeonhallae love is true..."
("Say Yes" by Loco & Punch)
Luna melanjutkan lagunya sampai selesai dan Alex mendengarkannya tanpa suara.
Luna membuka matanya. Dia melihat Alex tersenyum.
"Suara elo lumayan, walaupun gue ga ngerti elo nyanyi apaan," ucap Alex. "Tapi suara elo lembut banget, gue ga yakin elo bisa nyanyi nada tinggi."
"Gue emang ga bisa!" Luna mulai gemas. "Gue kan udah bilang gue ga bisa nyanyi."
"Tapi elo mau duit kan?"
"Mau!"
"Ya udah!" Alex meletakkan gitarnya. "Elo harus bisa nyanyi."
Alex mengambil ponsel Luna lalu mengetikkan beberapa kata di mesin pencarian. "Lagu ini cocok buat elo, coba nyanyiin.... Ga ada nada tinggi kok...."
"Kiss me out of the bearded barley
Nightly, beside the green, green grass
Swing, swing, swing the spinning step
You'll wear those shoes and I will wear that dress..
Ohhh....... Ohok ohok ohok!"
Luna malah terbatuk-batuk saat menyanyikan lagi milik Sixpence None the Richer yang berjudul Kiss Me itu.
"Kenapa elo? Baru nyanyi segitu aja udah bengek..." Alex meledek Luna, lagi.
"Haus, gue haus..." Luna mengusap lehernya.
"Iya, tunggu. Gue ambilin!" Alex bangun dari kursi dan melangkah ke pintu.
"Sekalian makanannya, Lex! Gue laper juga!" ucap Luna cengengesan.
"Dasar! Dikasih hati malah minta usus!" Teriak Alex sambil menutup pintu.
***
Luna sampai di depan rumah Jessika setelah diantar Alex dengan motornya. Sudah jam 8 malam. Luna mengetuk pintu dan Jessika membukakannya.
"Darimana aja elo?!" mulai menjadi emak-emak si Jessika ini.
Luna yang sudah terlanjur capek, tidak menjawab dan langsung masuk. Dia naik tangga menuju kamar Jessika.
Sesampainya di kamar, Luna langsung masuk ke kamar mandi, melakukan urusannya dan mengganti bajunya.
__ADS_1
"Ini punya siapa?" Tanya Jessika melirik sebuah gitar yang ada di sisi tempat tidur.
"Punya gue," jawab Luna.
"Buat apaan elo bawa-bawa ginian?" tanya Jessika penasaran.
"Buat cari duit." Luna mengeluarkan gitar dari tempatnya dan mulai berlatih.
"Elo ngamen?" Jessika semakin penasaran.
"Berisik elo!" Luna melempar Jessika dengan bantal. Dia membawa gitar dan ponselnya lalu keluar dan duduk di balkon di depan kamar Jessika.
Ini gara-gara si Alex itu, dasar Tirani!!!
Luna masih mengingat kata-kata yang diucapkan Alex tadi...
"Elo bisa main gitar?" Alex menatap gitar yang dipegang Luna.
Luna mengangguk. Tentu saja dia bisa. Mereka tidak tau saja sebesar apa usaha Luna untuk mendapatkan pacar.
"Lagu apa aja?" tanya Alex.
"Lagu nasional. Gue pernah main buat ngiringin padus..." jawab Luna.
"Ya udah, besok elo udah harus hafal lagu tadi sama chord-nya sekalian ya?"
"Elo udah gila?" Luna melotot tak percaya.
"Elo mau----
"Iya, gue mau duit!" Luna merengut kesal dan melanjutkan latihannya.
Luna menghela nafas. Kalau kesal begini, di jadi teringat Kak El. Apa yang sedang dilakukan kak El sekarang?
✉️ Luna...
Wah, pacar gue emang yang paling keren. Dia tau aja kalau gue nyariin.
✉️ Kamu lagi apa? Sudah tidur?
Belum, kak. Lagi mikirin kakak...
Luna mulai senyum-senyum sendiri.
Setelah pesan terbaca, ada nada dering panggilan masuk. Dari Kak El.
Luna langsung mengangkat teleponnya dengan penuh suka cita.
***
El terpaksa harus menghentikan percakapan dengan Luna karena sedari tadi Reza terus menyenggol lengannya, meminta perhatian.
"Apa?!" El bertanya tak senang karena Reza mengganggu waktu istirahatnya. Dia baru bisa istirahat dari tadi pagi. Ini sudah jam 9 malam, tapi ia masih harus berada di kantor dan mengurus banyak hal.
"Sabar, Pak. Saya juga mau pulang." Reza malah ikut berkeluh kesah. "Tapi ini data yang baru diberikan dari HRD, bapak harus cek sebelum rapat rencana program kerja besok."
"Cepet ya, Pak. Saya udah ngantuk, nih," ucap Reza. "Lagian Bapak kenapa jadiin saya sekretaris sih? Saya kan jurusan marketing."
El mendengus kesal. "Kamu mau saya pecat?"
"Ih, bapak galak banget. Saya kasih tau Luna, nih." Reza pura-pura mengancam El.
El langsung mengerjap tak percaya. "Tunggu 5 menit."
Yeeeeesssss!!! Reza bersorak dalam hati.
Bersambung
__ADS_1