Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
50. Hari Minggu Hari Cemburu


__ADS_3

Beberapa hari belakangan Luna menghindari El dengan sengaja. Dia menolak untuk dijemput dan dia pergi ke perpustakaan terus-terusan bersama Jessika dan Tyo. Sambil belajar sambil menyusun rencana.


Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Hari permintaan maaf yang berkedok hari hang out. Luna tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi dia sudah menyiapkan peralatan P3K di tasnya untuk jaga-jaga saja.


Luna sengaja berangkat lebih pagi, memang rencananya begitu, dia takut kalau dia keluar setelah adik-adiknya, Bunda tidak akan mengijinkannya pergi. Tapi kalau adik-adiknya pasti diijinkan.


✉️ Kak, aku tunggu di supermarket biasa ya..


Oke. Kakak udah berangkat.


Luna menunggu dengan manis di kursi supermarket sambil makan roti. Dia tadi tidak sarapan dulu dan buru-buru pergi. Tak lama, El datang dan memarkirkan mobilnya. Luna langsung berdiri dan masuk tanpa menunggu El keluar.


"Hai, kak." Luna tersenyum.


"Hai, Lun."


Luna melirik El. "Eh, baju kita sama lagi."



Hari ini El memakai jeans dan kaos warna hitam, begitu juga dengan Luna. Tapi memang baju Luna ya jenisnya begitu-begitu saja. Dia pikir sudah cukup di sekolah memakai rok setiap hari, jadi kalau bukan ke sekolah lebih baik pakai celana saja.


"Jodoh mungkin..." El tersenyum sekilas. Luna yang mendengarnya malah terkekeh kecil.


"Kamu belum sarapan?" El melihat kantung plastik berisi makanan yang dipegang Luna.


"Hehe.. Iya, tadi aku buru-buru."


"Mau sarapan dulu?" El melirik ke sisi kiri kanan jalan, mencari restoran terdekat.

__ADS_1


"Boleh, kita makan bubur dulu yuk, kak. Di depan nanti ada tempat bubur yang enak, mudah-mudahan masih ada."


Luna menunjukkan arah tempat yang dimaksud kemudian El menghentikan mobilnya di sana.


"Aku pesenin dulu ya," Luna memesan dua mangkuk bubur sementara El duduk manis di kursi plastik tanpa lengan.


Di depan El ada 3 orang pemuda yang tampaknya baru selesai lari pagi. Mereka semua tampak menatap Luna kagum, dan El tidak suka itu.


"Ini kak," Luna meletakkan dua mangkuk bubur dan duduk di sebelah El. Di depan El terdengar desahan lega setelah Luna menyebut "kak".


Setelahnya pedagang bubur, Mang Asep, meletakkan dua mangkuk kerupuk dan dua gelas air. Luna langsung menyantap buburnya, dia lapar. Luna tidak menyadari pandangan 3 cowok di depannya, berbeda dengan El, dia sedang memperkirakan, sebentar lagi tampaknya mereka akan mencoba menyapa Luna.


"Ha--


"Luna!" suara El menutup sapaan yang baru saja keluar dari mulut pemuda yang duduk di depan Luna.


"Hati-hati nanti rambut kamu masuk," El memegangi rambut Luna yang terjuntai dan menciumnya sesaat, "..harum.." kemudian menyelipkannya di telinga Luna.


Kenapa ni orang?


Luna bingung tapi setelahnya Luna merogoh tasnya mencoba mencari ikat rambut. Setelah menemukannya dia merapikan rambutnya, mengikatnya tinggi ke atas.


Ini ga berhasil. Sekarang mereka malah jadi semakin berliur.


El menatap kesal orang-orang di depannya. Ingin rasanya dia memaki dan menyuruh mereka pergi. Mereka sudah selesai makan dari tadi tapi malah sengaja tetap duduk sambil memandangi Luna.


"Kak, kok belum dimakan? Aku udah habis ini." El melirik isi mangkuk Luna, sejak kapan isinya menghilang?


"Ya udah, yuk berangkat aja." El hendak berdiri tapi Luna menarik tangannya.

__ADS_1


"Ga akan dimakan?" El menggeleng.


"Kakak masih kenyang."


"Ya udah tunggu, aku aja yang makan." Luna mengambil alih mangkuk El.


El menghela nafas, sambil menggerutu dalam hati. Bukannya buruan pergi, malah lanjut makan.


"Ya udah, kakak bayar dulu," El memutuskan untuk membayar agar mereka bisa langsung pergi setelah Luna selesai. Dia tidak tahan lagi disini. Rasanya ia ingin membalikkan meja dan mencolok mata mereka satu-persatu.


"Hai, Luna! Boleh kenalan gak?"


Darah El rasanya mendidih mendengar suara dari belakangnya. Baru menoleh sebentar aja bisa-bisanya ambil kesempatan!


El langsung berbalik dan melihat Luna masih memegang sendoknya.


"El," El menggantikan Luna menjabat tangan yang terulur itu. "Kalau bisa kalian cepat pergi, kalian kan sudah selesai makan dari tadi." El menatap dingin. Pembeli di meja sebelah sudah mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Mulai terdengar bisik-bisik komentar.


"Ya ampun, gila! Sombong banget ni orang! Mentang-mentang kaya." Teman si cowok menyeletuk. El mengepalkan tangannya erat, matanya berkilat marah.


Aduh gimana, nih? Mau berantem gitu? Gue bawa P3K sih, tapi ya ga berantem disini juga. Ketemu Arga juga belom.


Luna mulai duduk tidak tenang, dia sungguh cemas dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Dia bahkan sudah membayangkan adegan baku hantam yang sering dia lihat di TV.


Tanpa diduga, El malah berbalik ke Luna dan langsung menggendongnya.


LAH?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2