Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 7


__ADS_3

Chapter 7: Tanggung jawab


"Aku tidak akan memulai sesuatu, kalau aku tidak menyelesaikannya."


-El-


📞 Kak, can you do dirty things for me?


Dalam keluarga Rahardja, sebenarnya En adalah orang yang paling ahli dalam mengurus segala macam hal. Ah, sebenarnya ini rahasia. Tapi En mengurus masalah dari sisi gelap. Tidak, tidak seburuk itu. Dia tidak pernah membunuh seorang pun, dia hanya membuat mereka merasa lebih baik jika meninggalkan dunia ini lebih cepat. Atas kemauan mereka sendiri, tentu saja. Dan parahnya, En menikmatinya. Itulah mengapa El tidak suka jika Luna terlalu dekat dengan En. Takut jiwa psikopatnya menular.


Tapi sekarang El butuh bantuan seorang yang lebih berpengalaman darinya, yang bisa menyelesaikan masalah tanpa sisa.


📞 Ah! I'd love to! Itu favorit kakak! Tapi aku sangat sangat sibuk sekarang, El. Kamu masih ingat permintaan kamu yang kemarin kan?


Tampaknya, El meminta bantuan terlalu banyak. El tidak pernah tau caranya En mengurus sesuatu, dan dia memang tidak ingin mengetahuinya. Tapi dia tau, En memiliki banyak orang bersamanya. Orang-orang ahli, yang hanya menuruti perintahnya.


📞 Kalau gitu, bisa pinjam orang kakak?


📞 My people are pro. Orang-orang kakak profesional El, kamu pinjam saja sama kak An. Memang kamu ga punya orang sama sekali?


Berbanding terbalik dengan En, An tidak pernah memiliki catatan hitam. Dia harus sempurna dalam segala hal, karena itulah perannya. Sementara El? Saat ini dia belum punya peran yang berarti.


📞 Belum, kak.


📞 Raise your level, little brother. Go to mommy...


📞 ...


El memutuskan sambungan telepon. Dia mulai berpikir dalam. Pergi ke mami dan menaikkan levelnya berarti dia harus bertanggung jawab atas sesuatu. Dia harus meninggalkan kebebasannya dan gaya hidupnya yang santai. Apakah ia bisa?


"Mam..." El akhirnya menghampiri mami. "El mau ambil tawaran mami..." ucapnya sambil berjalan mendekat ke meja mami.


Mami tersenyum menatap anaknya. "Okay... Jadi kamu mau pilih perusahaan yang mana?"


Kalau ingin mendapatkan sesuatu, gue harus merelakan sesuatu juga.


El menarik nafas panjang. "Perusahaan ini, mi," jawabnya.


"Kenapa? Tidak mau yang lebih besar?" tanya mami. "Atau kamu mau ambil yang lain?" Mami El memberikan sebuah perusahaan seperti memberikan makanan ringan. Mudah sekali.


El menggeleng. "Hanya ini, biar El bisa sama Luna," jawabnya. "El juga sebenarnya ga mau perusahaan ini, El mau buat punya El sendiri."


Ucapan El bukan hanya omong kosong belaka. Sebenarnya, sekarang pun, dia bisa membuat satu miliknya. Dia punya cukup uang, tapi dia tidak mau terburu-buru. Dia tidak mau gegabah dalam melakukan sesuatu. Dia memang santai, tapi bukan berarti dia tidak serius.


Mami mengangkat bahunya sambil berucap, "baiklah."

__ADS_1


El menunggu kalimat mami selanjutnya.


"Besok kamu ikut rapat direksi untuk pengalihan jabatan. Mulai sekarang kamu ga bisa main-main lagi. Bekerjalah dengan serius, sesuai tanggung jawab kamu." Mami menjeda ucapannya sebentar, melihat ekspresi El yang tampak penuh dengan beban.


"Kamu jangan stres begitu, dong!" Mami tertawa renyah. "Santai saja..." sambung mami setelah melunakkan tatapannya ke El.


"El tidak bisa santai kalau begitu banyak orang di bawah El," ucapnya. El yakin betul ini tidak akan semudah kelihatannya. Apalagi untuk dirinya yang memang tidak pernah ikut andil dalam pengurusan perusahaan seperti kak An. Dia memang terlalu malas untuk melakukan itu tadinya. Sekarang dia seolah menyesali sikapnya itu.


"Kau bicara apa, El? Tentu saja mami akan membantumu. Sama seperti sebelumnya, kak An dan kak En juga. Apalagi papi, ia akan senang sekali," jawab mami mencoba menyemangati El.


"Berusahalah semampumu, Nak..." Mami menepuk pundak El beberapa kali.


Setelahnya, ia berdiri di depan El sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Jadi, sekarang... Bilang ke mami apa yang kamu inginkan?"


Inilah hal yang sedari tadi ditunggu oleh El. Tujuan utamanya datang kesini. "El mau beberapa orang untuk El..." ucapnya. "Orang yang bisa El percayai dan melakukan hal-hal untuk El."


"Ah..... Baiklah." Mami mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Semenit kemudian, seorang lelaki bertubuh tegap dengan kemeja abu-abu masuk ke dalam ruangan.


"Ini Kris. Panggil saja dia begitu." Mami mengenalkan sosok yang belum pernah dibayangkan El. Postur tubuhnya tampak biasa saja, tidak besar dan berotot. Wajahnya juga biasa, tidak berkumis atau menyeramkan sama sekali. El memandang tidak puas.


"Dia itu selalu mengawasi kamu." El tampak tak percaya mendengar ucapan mami barusan.


"Kamu tidak pernah merasa diikuti kan? Itu karena dia sangat hebat. Kamu tidak perlu meragukan dia. Dan kalau kamu butuh apapun, dia bisa mengurusnya untukmu." Ucapan mami akhirnya membuat El mengangguk percaya. "Jadikan dia tangan kananmu mulai sekarang."


"Iya, mi," ucap El.


"El pilih sendiri."


Mami tersenyum senang karena El ternyata sudah memiliki orang yang bisa dipercaya untuk dirinya. "Okay. Siapa?" tanya mami.


"Reza..."


***


El kembali ke ruangannya. Dia melirik Luna sesaat, masih tertidur. Dia duduk di sebelah Luna yang masih berbaring persis seperti saat ia meninggalkannya tadi. Luna memang biasanya tidak bergerak saat dia tidur.


Bzzztt..


Ada getaran, tapi bukan ponselnya. El, memeriksa saku Luna, rupanya milik Luna lah yang bergetar. Tadinya El mau membiarkannya saja, tapi getaran itu tak berhenti juga.


El mengambil ponsel dari saku Luna, mengeceknya. Jessika.


📞 Halo, Luna? Elo kemana aja? Elo kabur dari sekolah? Elo dimana sekarang? Elo ga tau gue udah kirim pesan! Gue udah telepon lebih dari sepuluh kali! Elo baru angkat sekarang, heh?!!!


Jessika berbicara sangat keras dan tanpa henti. El menjauhkan ponsel Luna dari telinganya. Ia masih tidak tau bagaimana caranya Luna bisa bertahan dengan suara seperti ini setiap hari.

__ADS_1


📞 Ini El.


📞 ...


Hening seketika.


📞 Ehm! Maaf Luna sama saya tadi.


Saat itu juga terdengar suara berisik dari seberang. Suara beberapa orang saling bersahutan. Teriakan dan makian. Lalu ada beberapa kata kasar sepertinya, kalau El tidak salah dengar. Sungguh anak muda yang bersemangat.


📞 Oh, iya om.


📞 Apa Luna perlu kembali ke sekolah sekarang?


📞 Tidak usah, om. Sekolah sebentar lagi selesai.


📞 Baiklah.


📞 Tapi... Luna tadi ada janji sama saya sepulang sekolah.


📞 Oh, begitu. Nanti saya beritahukan Luna kalau dia sudah bangun.


📞 Di-di-dia tidur?


📞 Iya.


El tau pasti Jessika ini sudah membayangkan yang iya-iya.


📞 Kalian habis ngapain?


Ciri khas Jessika, selalu penasaran.


📞 Kamu tidak perlu tau.


El memutuskan sambungan lalu tersenyum geli. Sekarang dia tau kenapa Luna selalu merasa senang bersama teman-temannya.


Luna terbangun beberapa saat kemudian, dia langsung terduduk lalu memandang sekeliling. Saat mulai tersadar, Luna merapikan rambutnya.


El teringat luka Luna lalu ia beranjak ke mejanya mengambil kotak P3K. Standarnya, selalu ada hal itu di setiap ruangan dikantor ini.


"Sini, kakak obatin," El membersihkan luka di dahi Luna. Luna meringis karena lukanya lumayan dalam, dan itu perih. Setelahnya El meneteskan obat dan menutup luka itu dengan plester.


"Sudah selesai," ucap El.


"Terima kasih," Luna tersenyum.

__ADS_1


Wajah El yang masih sangat dekat dengan wajah Luna malah semakin mendekat. Luna bisa merasakan tangannya yang ada di pangkuan kini digenggam oleh El. El meremas tangan Luna pelan, menyalurkan kehangatan, membuatnya tenang. Luna bisa merasakan hembusan nafas El di pipinya. El memiringkan wajahnya sedikit kemudian memejamkan matanya. Bibirnya sekarang sudah mendarat di bibir Luna. Luna bisa merasakannya, lembut dan sangat hangat.


Bersambung


__ADS_2