Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
74. Badai (7)


__ADS_3

"Iya, kita keluarganya El." Wanita di sebelah Luna berhasil membuat matanya membelalak lebar.


Keluarga pembaca pikiran?! Gimana dia bisa tau dugaan gue?


"Gimana dia bisa tau?" Wanita itu menyuarakan benak Luna.


Luna terperangah, menahan nafas. Wanita di sebelahnya itu mengucapkan hal yang sama dengan di pikirannya.


"Hahahaha... Dia lucu banget, El!" Tak tahan, wanita itu mencubit pipi Luna.


"Kakak!"


"Ups... Sorry..." Dia mengangkat tangannya ke udara.


"El?" Papi El membuka suara, menatap Luna.


"Ah!" El mengerti arti tatapan papi. "Luna, ini papi. Itu kak An. Yang di sebelah kamu Kak En." El memperkenalkan keluarganya satu per satu.


El kemudian beralih ke Luna, menggerakkan kepalanya sedikit, memberikan kode yang Luna tidak mengerti.


"Kenalin nama kamu." El akhirnya bicara langsung tanpa isyarat lagi.


Luna tampak panik, dia tidak menyangka akan disuruh berkenalan. El tidak bilang apapun!


Luna menatap mereka satu-persatu, dan mereka balik menatap Luna. Dia merasa nervous. "Sa-sa-sa..." El menggenggam tangan Luna yang sudah berkeringat dingin di bawah meja. Mencoba menenangkannya.


Luna menggigit bibir kemudian menarik nafas dalam. "Nama saya Luna Putri. Umur saya 18 tahun. Saya Kelas 12 IPA 1."


"Ahhahahahaha..." Kali ini Kak An yang tertawa puas.


Luna menatap El bingung, menerka apa yang salah.


Kak En menutup mulutnya menahan tawa, bahkan papi ikut tersenyum.


"Kenapa kak?" Luna bertanya pelan pada El, meminta penjelasan.


"Ga papa..." El mengelus kepala Luna.


Obrolan mereka harus berhenti saat MC membuka acara. Tanpa Luna sadari ruangan yang tadinya sepi sekarang sudah ramai, bahkan ada para wartawan sudah berkerumun di dekat panggung.


"Luna tunggu sini sebentar, ya."

__ADS_1


Tak lama papi El maju ke atas panggung disusul dengan seluruh anggota keluarga mereka. Luna bisa melihat kakak Reina, Reza berdiri di depan panggung, menjaga jarak aman para wartawan dengan beberapa orang lainnya, yang sepertinya adalah panitia acara.


Keluarga El tampak menyilaukan dengan lampu Blitz yang menerpa wajah mereka. Saat itu terlintas sebuah pertanyaan di benak Luna, apakah dia pantas bersama mereka?


Lihatlah kerumunan itu, mengerubungi mereka seperti sekelompok semut yang menemukan gula. Lalu suara riuh yang menggema untuk mereka, setia bersorak-sorai untuk apapun yang mereka lakukan. Suasana sekarang jelas membuktikan bahwa kehidupan kak El ada jauh di atas Luna. Hampir tidak tergapai.


"Jam berapa sekarang?" Luna teringat lagi dengan waktu pulang. Mungkin El benar, satu hal yang tidak pernah ia lupakan adalah jam pulang. Itu seperti sudah mendarah daging dalam diri Luna.


Mencari ke sekeliling, Luna tidak bisa menemukan jam yang terpasang. Luna tidak punya ponsel, dan jam tangannya tersimpan di mobil El bersama dengan baju yang tadi ia pakai.


"Apa harus tanya ke orang lain?" Jarak antar meja cukup jauh, jadi Luna harus berdiri dan beranjak dari meja jika ia ingin bertanya pada seseorang. Tapi El berpesan agar ia tidak pergi kemana pun.


Di tengah kebingungannya, apakah ia harus berdiri atau tidak, Reza datang menghampiri. "Kenapa Lun?"


Luna tidak menyadari sejak kapan Reza datang. "Kenapa kakak disini? Bukannya tadi disana?" Luna menunjuk ke arah panggung di depan mereka.


"Tadi Pak El nyuruh gue awasin elo. Jangan sampai bangun dari kursi, apalagi hilang."


Dahi Luna berkerut, bagaimana mungkin bisa hilang, disini bahkan cuma ada satu ruangan.


"Jangan coba-coba bangun pokoknya. Duduk diam aja disitu." Reza berdiri di samping Luna, menungguinya.


Menyerah, akhirnya Luna memutuskan untuk melihat El saja. Reza pun tersenyum puas.


"Hatchi!" Luna menutup mulut dan hidungnya saat dia bersin kedua kalinya. "Kak, punya tissu?" Dia bertanya pada Reza karena dia merasa cairan dari dalam hidungnya akan mengalir sebentar lagi.


"Sebentar." Reza mengangkat tangannya memanggil pelayan yang berdiri di sepanjang sisi ruangan. Seorang pelayan laki-laki segera menghampirinya.


"Ambilkan tissu."


"Iya, pak." Pelayan itu mengangguk mengerti dan langsung pergi.


Luna masih menutupi setengah wajahnya dengan tangan karena dia terus-terusan bersin dan tissunya belum datang juga.


"Dingin ya?" Luna merasakan sesuatu diletakkan di pundaknya. Luna menoleh ke belakang dan melihat El yang sedang tersenyum.


Luna mengangguk pelan. El merapatkan jasnya di badan Luna.


"Duh, aku juga kedinginan..." Kak En menggoda El. Dia sekarang sudah duduk di sebelah Luna. "Pinjem jas kakak dong..."


An menatap datar, tanpa ekspresi. "Kalau kamu bisa seimut dia, baru kakak kasih."

__ADS_1


Mami dan Papi yang baru datang langsung tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka.


En melengkingkan suaranya, membuatnya seimut mungkin. Dia memegang kedua pipinya, mencoba memberikan pose lucu. "Kakak~ Pinjemin dong... Aku kan kedinginan..."


"Hahaha.." Luna kelepasan. Dia tidak sadar dia tertawa. Itu karena suara En, sangat lucu, mirip suara kucing yang lagi marah.


Semua orang di meja menatapnya. Luna langsung menunduk malu, "maaf kak..."


"Hahaha.." Tawa An terbit kemudian. "Sudahlah, En. Kamu lebih cocok dengan wajah galak."


"Aku bisa imut, kak. Lihat ya." En tersenyum malu-malu, kemudian menatap semua yang ada di meja satu-persatu. "Ya kan? Aku lebih imut dari Luna, kan? Siapa yang lebih imut?" En menarik Luna mendekat hingga wajah mereka menempel.


Luna tersenyum canggung karena tiba-tiba jarak En dan dirinya begitu dekat.


"Tentu saja Luna!" El mendorong Kakaknya menjauh. Dia mengambil tissu yang diberikan Reza yang berdiri di sebelahnya kemudian mengelap hidung Luna.


En mengerjap tak percaya. "Astaga! Kak An, lihat! Lihat! Lihat dia barusan melakukan apa! Dia mengelap hidung Luna!"


En menarik wajah Luna dengan sebelah tangannya dan menolehkannya ke kanan dan ke kiri, mencoba memeriksa. "Kamu pakai apa sampai El mau melakukan sesuatu buat kamu?"


"....." Luna tidak mengerti pertanyaan En.


"Kakak berhentilah tarik-tarik Luna." El menepis tangan En dari wajah Luna.


En menutup mulutnya, "Kak An, ingat kan, waktu itu, kita masih sekolah. El menangis cuma karena tidak ada yang mau mengambilkan air buat dia. Dia terlalu malas untuk mengambil air sendiri. Padahal airnya ada di atas meja di sebelahnya. Rasanya baru terjadi kemarin!"


Akhirnya mami dan papi ikut tertawa bersama An dan En. El menutup telinga Luna, agar dia tidak mendengar. Tapi Luna sudah terlanjur tertawa.


Ternyata keluarga kak El seharmonis itu. Tidak seperti bayangan keluarga kaya yang ada di drama. Luna bisa tertawa bahagia bersama mereka. Rasanya sungguh menghangatkan hati.


Setelahnya, mereka sibuk membicarakan keluar biasaan El kecil yang sangat malas. Membuat Luna terus tertawa. Mereka baru bisa berhenti saat makan malam disajikan oleh pelayan.


Luna memperhatikan El sebelum mulai makan, dia tidak ingin melakukan kesalahan dan mempermalukan dirinya sendiri.


Acara makan malam dimulai dengan datangnya hidangan pembuka. Luna tidak ada masalah dengan itu. Kemudian datang hidangan utama dan makanan lain yang menyusul. Luna merasa asalkan ia meniru cara El makan semuanya akan baik-baik saja. Sampai beberapa menit setelah hidangan terakhir disajikan Luna merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.


Luna menatap El sambil memegangi dadanya. "Kak El, sesak..." Luna menunduk menahan sakit, dia mendekatkan dirinya ke El. Sekarang seluruh bagian tubuhnya sudah menghadap El. "Sesak..." Luna berkata lirih sekali lagi. Dia mencengkram dadanya semakin kuat.


El menatap Luna panik. "Luna?" El memanggil Luna. Kepala Luna sekarang sudah bertumpu di dada El. El mengangkat wajah Luna, melihatnya kesakitan. "Luna kamu kenapa?"


"Aku telepon ambulans sekarang." En langsung mengambil ponselnya. "Kamu bawa dia ke bawah, El."

__ADS_1


Kesadaran Luna semakin lama semakin menghilang. Dia sudah terkulai lemas di dekapan El.


Bersambung...


__ADS_2