Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
73. Badai (6)


__ADS_3

Terdengar dering ponsel Jessika. Luna meliriknya, Kak El. Dia langsung menyambarnya tanpa memperdulikan sang pemilik.


📞 Halo, kak El.


📞 Halo, Luna. Kakak udah di depan rumah Jessika. Kamu bisa keluar sekarang?


📞 Iya, kak.


Luna memutuskan telepon dan menarik Jessika. "Ayo, Jess. Kak El udah sampai!"


"Iye...." Jessika turun dari kasurnya. "Ga sabaran banget ni bocah."


Luna turun mendahului Jessika di belakangnya. Dia lalu membuka pintu.


El sudah berdiri di sana, tersenyum saat melihat Luna.


"Luna!" El melebarkan tangannya hendak memeluk Luna, tapi dia langsung berhenti setelah sekali melangkah. Sayang sekali dia tidak bisa memeluk Luna, padahal dia begitu rindu.


"Kak El!" Luna berseru senang.


Melihatnya saja sudah cukup.


"Jessika!" Jessika pura-pura memanggil namanya sendiri dengan antusias, menganggu kemesraan dua orang di depan pintu rumahnya ini.


Luna menatap sebal Jessika.


"Apaan sih? Ga usah pakai melotot segala. Udah sana pergi aja kalian." Jessika mendorong Luna keluar pintu. "Jangan lupa, jangan pulang malem-malem, entar engga gue bukain pintu!"


"Iya... Titip jemuran ya, Jess..." Luna melambai pergi.


Luna masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Kak El. Setelahnya, El menyusul masuk ke dalam.


"Luna," El melirik Luna sebentar, beralih dari kegiatan menyetirnya, "kakak kangen banget sama kamu."


Luna tersenyum senang. Sepertinya sudah cukup lama sejak dia terakhir sesenang ini.


"Kamu ga mau balas?"


"Balas apa kak?"


"Kamu ga kangen sama kakak?"


"Kan kita cuma berapa hari ga ketemu, kak."


Tapi serasa bertahun-tahun.


"Luna, kamu ga apa-apa?" El mengelus pipi Luna dengan sebelah tangannya. Sebelah tangan lainnya sibuk menyetir. "Kamu keliatan lebih kurus?"


El memperhatikan wajah Luna lebih dekat. "Muka kamu agak pucat, kamu sakit?"


"Aku gapapa kak. Aku kurang tidur aja kayaknya." Luna mengalihkan pembicaraan. "Kakak mau ajak aku ke acara apa?"


Mudah-mudahan tidak lama, gue ga enak sama ibunya Jessika.


"Acara makan malam sekaligus peresmian."


"Mulainya jam berapa kak?"


"Kamu mau tanya kapan selesai ya?" El sudah bisa menebak arah pembicaraan Luna.

__ADS_1


"Hehe... Maaf kak, aku cuma ga mau kemalaman.."


"Mulainya sekitar jam 7. Kamu cuma perlu lihat acara pembukaannya saja, setelah itu kakak bisa antar kamu pulang."


Luna membulatkan mulutnya. Sepertinya dia bisa usahakan pulang sebelum jam 9 malam. Tapi ada satu hal yang kemudian terasa mengganjal. "Kalau mulainya jam 7, kenapa kakak udah jemput aku sekarang?"


El tersenyum lebar, Luna mulai was-was. "Soalnya ada yang mau ngajak salon bareng.."


"Siapa?"


"Mami..." Luna sudah bisa menduganya.


***


Setelah beberapa jam di salon, akhirnya Luna dan mami selesai. Luna baru pertama kali melakukan perawatan tubuh, dan menurutnya itu sangat menyenangkan! Luna tak henti-hentinya mengamati dan meneliti cara para petugas kecantikan itu melakukan semuanya dengan sangat sempurna. Andai dia punya ponsel saat ini, pasti dia sudah merekamnya dari tadi.


Lihat ini, rambutnya sehalus ini. Luna mengendus lengannya, belum pernah seharum ini. Dan wajah ini? Dia tidak menyangka dirinya bisa secantik ini. Sekarang dia tahu, kenapa orang-orang kaya itu bisa terlihat begitu mempesona.


"Sudah selesai?" Pertanyaan El membuatnya terkejut. Luna tidak menyadari El sudah ada di belakangnya. Daritadi ia terlalu sibuk melihat pantulan dirinya di cermin.


"Kakak ngagetin aku!" Luna menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.


"Kamu ga pakai dress warna putih?" El bingung karena saat ini Luna malah memakai dress berwarna biru yang dipilih oleh mami sebelumnya.


"Kita sudah coba itu tadi." Mami muncul di samping El. "Masalahnya, Luna sangat cantik sampai mami merasa itu seperti gaun pernikahan!"


"Benarkah? El mau lihat."


"Wah, sayang sekali hanya mami yang bisa lihat. Mungkin mami akan coba pertimbangkan kalau kamu menerima tawaran mami."


"Ah tidak perlu, El nanti minta Luna memakainya sendiri." Mami menggerutu kesal melihat El yang malah mendekati Luna.


"Iya, ya kak?" Luna menatap El tak percaya. "Aku juga ga percaya aku bisa secantik ini!"


"Biasanya kamu juga cantik, babe..." Kalimat ini akan lengkap jika saja El bisa mengecup pipi Luna.


Tapi dia tidak melakukannya.


"Kak,"


"Ya?"


"Kakak bisa foto aku?"


"Tentu saja!" El meraih ponselnya. Dia kemudian merangkul Luna mendekat dan mengabadikan momen ini bersama. Saat ini, El juga sudah memakai baju pestanya, tuxedo berwarna hitam. Mereka tampak serasi dalam foto itu.


Tapi bukan itu yang Luna mau! " Kak, bisa foto aku sendiri? Hehe..." Luna malu mengatakannya. Tapi ia ingin sekali punya foto saat dirinya sedang cantik.


"Hhhh... Baiklah..." El menjauh dari Luna mencoba mencari tempat dimana dia bisa mengambil foto Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Siap ya?" El mengarahkan kamera ke Luna, Luna mengangkat tangganya dan membentuk simbol V dengan jarinya di sebelah pipi.


"Sudah," El mendekat.


"Kak, lagi ya... Please..." Luna memohon dengan kedua tangannya di depan dada.


El menyerah dengan puppy eyes Luna kemudian berjalan menjauh lagi. Saat akan mengambil foto kedua, mami menghampiri Luna.


"Cepet El, foto." Maminya sudah siap berpose.

__ADS_1


Terserahlah.


El kesal karena mami dan Luna tak menyelesaikan sesi fotonya walau sudah 10 menit berlalu. Akhirnya, El menegur mereka.


"Mi, nanti keburu telat."


"Ah, iya. Sorry." Mami mengembalikan ponsel El yang sedari tadi mereka pakai untuk berfoto. Udah fotonya lama, pakai kamera orang, orangnya disuruh nungguin lagi! Engga diajak foto bareng...


Akhirnya mereka tiba di hotel tempat acara setelah beberapa lama Pak Ahmad mengemudi.


Saat turun dari mobil, mami berbisik ke Luna. "Luna, bisa kamu pat El sedikit? Dia manyun terus daritadi, ga enak dilihat."


Luna tertegun sejenak, apa itu 'pat'?


Mami mengelus kepala Luna, "Pat...."


Luna mengangguk mengerti, kemudian dia mendekati El. "Kak El..."


El menoleh ke arahnya. Walaupun saat ini Luna sudah memakai heels yang cukup tinggi, El masih tetap lebih tinggi darinya. "Kenapa?"


Luna mengangkat satu tangannya ke atas kepala El, lalu mengelusnya pelan. El yang sebelumnya cemberut langsung tersenyum. Ia malah menahan senyumnya sedikit agar tidak terlalu lebar.


Oh, kak El suka di'pat'.


"Udah," El menarik tangan Luna dari kepalanya. "Masuk yuk." El menggandeng Luna masuk.


Mereka sudah ada di dalam ruangan. Belum terlalu ramai, masih terlalu awal sebelum acara dimulai.


Luna melihat sekeliling ruangan. Sebuah ball room yang sangat mewah, didominasi oleh warna krem pada dindingnya, dengan hiasan kayu berwarna cokelat. Lantainya sendiri telah dilapisi karpet merah, yang saat Luna menginjaknya terasa sangat empuk. Luna menengadah keatas, mengagumi langit-langit ruangan yang sangat megah, dengan banyak lampu hias besar menggantung di sana.


El membimbing Luna melewati beberapa meja sampai ke depan panggung. Kemudian El mengajaknya duduk di salah satu meja bulat yang paling depan. Meja yang telah dilapisi taplak berwarna merah yang menjuntai panjang ke bawah. Dan kursinya dilapisi dengan kain putih.


"Nanti, kamu disini aja ya. Jangan pergi kemana pun. Nanti kakak susah cari kamu." Luna mengangguk pelan.


Tak lama mami datang dan duduk dengan mereka, mengalihkan perhatian Luna yang sibuk mencari jam. Ia penasaran jam berapa sekarang.


"El!"


Luna kaget dengan teriakan tiba-tiba. Dia menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang wanita cantik dengan dress panjang berwarna hitam model sabrina. Dressnya memang panjang, tapi ada belahan di kakinya dari bawah sampai ke paha. Di sampingnya ada pria yang sangat tampan. Dia memakai tuxedo sama seperti El.


Apa mereka artis? Tapi gue ga kenal? Apa gue kebanyakan nonton film Korea sampai ga ngenalin artis sini?


Luna menatap wanita yang sekarang sedang cipika-cipiki dengan kak El, dengan tajam. Dia merasa iri, dia bahkan belum pernah melakukan itu!


Wanita itu kemudian duduk di sebelah Luna, dan yang pria duduk di sebelahnya lagi.


Ternyata masih ada seorang lagi menyusul di belakang mereka. Pria yang cukup berumur dengan wajah yang seram? Sensasi yang kau dapatkan saat bertemu guru BP.


"Sini, Papi." Mami menepuk kursi di sebelahnya.


PAPI???!!


Luna langsung melotot.


"Haha... Dia kaget tuh, El." Wanita di sebelah Luna menunjuknya sambil tertawa geli. "Kamu ga bilang kalau mau ketemu sama kita?"


Merasa panas dingin seketika, Luna dengan susah payah menelan ludah.


Jangan bilang kalau mereka----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2