Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 56


__ADS_3

Chapter 56: Aneh


"Aku aneh. Tapi kamu tetap sayang, kan..." -Luna-


Luna mondar-mandir di kamarnya. Pesta barbekyu sudah selesai beberapa saat lalu dan keluarganya sudah pulang semua. Keisha sebenarnya ingin mereka menginap, sayangnya besok masih hari sekolah. Karena melihat Luna yang terus menatap tak rela, akhirnya El mengundang mereka secara resmi untuk bermalam di rumah akhir pekan nanti. Setelah itu, baru Luna bisa sedikit tersenyum, hanya sedikit lengkungan dari bibirnya yang sebelumnya hanya berupa garis lurus.


"Kenapa sweetie?" El menangkap tangan Luna yang gelisah. Sedari tadi ia perhatikan, perempuan itu berkeliling tanpa arah, memutari meja tak jelas.


Luna menatap El horror. Dia tidak boleh lengah. Suaminya ini pembaca pikiran nomor satu. Ayo, dia harus membersihkan otaknya. Buang semuanya, biarkan kosong. Pikirkan yang lain.....!!


"Kamu kenapa?" Kali ini wajah El sudah sedekat itu dengan wajah Luna. Wah, dia menjadi semakin salah tingkah.


Pikirkan yang lain, apapun selain kata yang berawalan huruf H!


"Apa kamu mau sesuatu?" El menatap Luna tepat di depan wajahnya. "Masih lapar kah?" El meneliti ekspresi wajah Luna. Perempuan itu melarikan matanya ke segala arah, ia jadi tidak bisa menebak dengan tepat.


"Hei~" El memegangi kepala Luna, membuatnya lurus menghadap ke arahnya. Luna gelagapan karena tidak bisa menghindar lagi.


"Aku... aku..."


"Iya?" El menunggu Luna mengucapkan keinginannya.


"Aku mau..."


"Mau apa?"


Ah, p*rsetan saja lah!


"Aku mau pizza..."


El tertawa geli. Masih lapar rupanya gadis imutnya itu. "Iya, kakak pesankan ya..."


Luna ingin mati saja. Dia sudah kenyang, kenapa malah minta makan lagi. Dia mengutuk otaknya dalam hati. Tidak beradab memang, di pikirannya cuma ada makanan saja.


El berbalik ke arah Luna setelah ia selesai memesan pizza lewat telepon. "Kamu mau apalagi, sayang?"


Demi Tuhan, berhentilah bertanya aku mau apa!


"Jus mangga...?"


R.I.P. PERUT.


"Ayo, kita buat di bawah. Kakak sudah pesan untuk menyetok buah kesukaanmu itu di kulkas..."


Luna berjalan mengikuti El yang menggandengnya. Tidak ikhlas, dia bergerak dengan langkah terseok. Ingin menangis rasanya. Apanya yang diet, kalau begini terus badannya akan semakin melar.


El membuka kulkas lalu mengeluarkan beberapa buah mangga dan meletakkannya di atas meja. "Jangan terlalu banyak, kak!" pekik Luna. "Dua saja cukup..."


"Okay..." Dikembalikannya mangga itu ke dalam mesin pendingin, menyisakan hanya dua, yang besar dan ranum. Luna mengambil satu lalu menciumnya. Harum dan sangat segar. Dia tidak bisa menolak salah satu surga dunia yang ada di hadapannya saat ini.


Luna mengambil pisau lalu mulai mengupas. Dia sedang membayangkan betapa enaknya nanti cairan lembut berwarna oranye itu saat sudah menghampiri lidahnya.


"Ash!" Luna menjerit kecil saat permukaan tajam pisau menyayat sedikit kulitnya. El yang sedang mengisi air di gelasnya untuk minum seketika menghampiri Luna.


"Ada apa?" tanyanya khawatir. Dilihatnya jari tangan Luna yang sudah mengeluarkan darah. Dia menyeret Luna ke wastafel terdekat lalu membuka kerannya, membiarkan air yang mengalir itu membersihkan luka Luna. Ternyata luka itu lebih dalam dari kelihatannya, karena darah di jari telunjuk Luna masih saja terus keluar.


"Tunggu, kakak ambilkan obat dan plester," serunya panik. "Angkat tanganmu tinggi-tinggi."


Luna mengernyit bingung. "Kenapa?" Dia heran dengan El yang menaikkan tangannya tinggi sekali hingga melewati kepala.


"Biar darahnya gak cepat turun..." jawab El cepat. "Posisinya harus lebih tinggi daripada jantung."


"Bah..." Luna mendelik tak percaya. Tapi ia membiarkan saja. Sampai El berbalik tak melihatnya, Luna baru menurunkan jarinya lalu mengemutnya.


"Apa yang kamu lakukan?" El menarik tangan Luna lalu mengalirkan air bersih lagi ke atasnya. "Kalau begitu banyak kumannya kan?" El segera mengeringkannya lalu meneteskan obat dan menutupnya dengan plester.


"Apa??" sinis El. Lelaki ini memang berlebihan. Luka sekecil itu paniknya seperti ada banjir bandang melanda.


"Tidak apa-apa..." Luna menggeleng pelan. Dia mengambil pisau yang ada di meja, hendak melanjutkan pekerjaannya yang tertunda barusan.


"Jangan!" El merebut pisau itu. "Biar sama kakak, kamu duduk saja di sana..." Dia menunjuk kursi di depannya.


"Kakak yakin?" Luna bertanya sambil menatap El yang sudah mantap memegang pisau di tangannya.


"Sudah duduk saja. Kamu tidak percaya sama kakak?"


Tidak. Tidak sama sekali. Terakhir kali aku mendengar mami cerita kakak memotong wortel sebesar jari kaki.


"Aku tidak apa, kak. Cuma luka kecil." Luna berusaha mengambil kembali alat pemotong di tangan El, tapi langsung ditepis cowok itu.


"Luna, duduk..." Luna merengut kesal, tapi tetap menurut dan duduk manis di sana. Dia memperhatikan El yang sedang mengupas mangga dengan hati-hati, dengan sangat pelan. Luna mulai berpikir berapa lama waktu yang akan dibutuhkan oleh El jika dia terus melakukannya seperti itu. Setengah jam mungkin?


Saat Luna sudah bosan setengah mati menonton El yang mengupas mangga, pesanan pizza mereka datang. Satpam rumah El yang membawanya masuk. Luna ternganga melihat pria itu datang membawa tiga tumpuk pizza ukuran besar. "Kenapa kakak beli banyak sekali?" Luna tidak yakin apa perutnya ini masih bisa menampung semuanya.

__ADS_1


"Kamu makan duluan saja. Nanti kita makan bersama setelah kakak selesai dengan ini." Dia mengacungkan mangga di tangannya.


"Baiklah..." Luna memilih makan daripada melihat El. Dibukanya kotak pizza yang pertama. Matanya berbinar melihat potongan daging dan keju yang menggoda. Sejenak ia lupa kalau perutnya sudah kenyang.


"Ini jusnya..." El meletakkan jus mangga yang cuma berisi setengah. Luna heran padahal ada dua buah mangga, tapi kenapa hasilnya cuma sedikit? Apa daging buahnya juga ikut terkupas?


Tidak ingin banyak berpikir, Luna meneguk minuman itu saja. Tegukan pertama terasa sangat nikmat, tapi saat hampir habis, perutnya justru terasa aneh. Luna segera berlari ke kamar mandi saat ia merasa gejolak di perutnya tak bisa ia kendalikan lagi.


"Hoekk..." Dimuntahkannya jus yang baru saja ia minum berserta dengan pizza barusan.


"Kamu tidak apa-apa, Luna?" El masuk begitu saja karena tadi Luna tidak sempat mengunci pintu.


"Mau ke rumah sakit sekarang?" Lagi-lagi cemas berlebihan.


Luna menggeleng. "Tidak, tak apa. Sepertinya aku terlalu kenyang..."


Atau seperti itulah yang ia harapkan.


***


"Jess, gimana tampilan gue?" Luna meminta pendapat Jessika. Mereka sedang ada di seberang jalan, tak jauh dari apotik tempat Luna akan membeli sesuatu.


"No comment lah, gue mah..." Jessika memutar bola matanya malas. Luna bertindak tidak masuk akal. Dia meminjam cardigan milik Jessika dan topi milik Alex untuk menutupi wajahnya.


Alex yang sedari tadi cuma diam akhirnya membuka mulutnya. Dia merasa aneh saat pulang sekolah tadi, Luna tiba-tiba menghampirinya. Dan ternyata benar saja ia terseret kesini dengan Jessika dan Tyo, entah Luna mau melakukan apa.


"Lex, gimana tampilan gue?" tanya Luna pada Alex.


"Emang kakak mau ngapain, sih?" Alex tak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Hah? Kakak?" Jessika baru mendengar ini.


"Ish!" Luna memukul lengan Alex kesal. "Udah gue bilang jangan panggil kakak!" gerutunya marah.


"Sorry kelepasan..." Alex berujar santai. "Lagian cuma Jessika sama Tyo aja, kok."


"Woi, Luna elo panggil kakak, kok kita enggak?" protes Tyo. "Jangan pilih kasih, dong!"


"Ah elah, pilih kasih gimana?!" Alex menunjuk Luna. "Dia emang kakak gue?"


Dahi Tyo mengkerut. "Ya udah, gue pacar elo..."


"DIH!" Alex bergidik geli. Mimpi apa dia semalam dapat pacar seperti Tyo. Bahagia enggak, menderita iya.


"Maaf aku khilaf, ay...." Mendengar permohonan Tyo, Jessika menjulurkan lidah, bersikap bodo amat.


"Berisik kalian. Mending bilang gimana penampilan gue sekarang. Masih bisa ngenalin gue gak?" Luna berpose sebentar menunggu jawaban.


"Mon maap anda siapa?" Jessika pura-pura saja, biar Luna senang.


"Kakak percaya?" Alex mendecak kesal. Ada takaran juga untuk kadar kepolosan, terlalu banyak bisa membuat anda beg*.


"Kakak lagi..." Jessika menyela. "Kenapa panggil kakak sih?!"


"Iya, Alex adek tiri gue..."


"Elo kebanyakan hirup bau spidol gue rasa... Ayo kita cuci muka dulu..."


"Beneran anzay!" Luna menjambak rambut Jessika.


"Wah?! Enak banget hidup elo! Adek elo ganteng semua?!" Jessika menjitak kepala Luna gemas. "Bagi gue satu enggak bisa?"


"Enak aja.. Cari sendiri di tong sampah sana.." jawab Luna asal.


"Si gemblong..."


Luna mengibaskan tangannya. "Udah ah, gue mau kesana sekarang. Elo jangan cegah gue!" ancamnya serius. Seolah akan melakukan sesuatu hal paling penting dalam sejarah.


"Beuh! Siapa juga yang mau larang..." Jessika memutar bola matanya malas. Buat apa dia melakukan itu, dia bahkan tidak tau apa yang mau Luna lakukan. Tadi dia cuma bilang minta diantar saja. Bocah alien.


Luna melangkah mantap ke arah etalase apotek yang ada di seberang jalan. Dia akan membeli "itu".


"Mbak, beli testpack dong..." Ingin mati rasanya ia saking malunya. Tapi Luna penasaran. Dia sudah menjelajahi dunia maya, konsultasi dengan go*gle, tapi ia ingin jawaban pasti.


Si penjaga toko itu menatap Luna dari atas sampai bawah, lalu menggumam mengejek. "Ya ampun masih sekolah udah hamil aja..."


Luna ingin menangis rasanya, harusnya tadi dia ganti baju dulu. Kadang dia tidak bisa berpikir jernih kalau sedang panik.


"Masalah buat mbak? Ngiri ya karena mbak belum laku?" Alex sudah berdiri di sebelah Luna, tanpa ia sadari.


"Kamu cowoknya? Pantes, anak preman..." Dia melengos pergi mengambil pesanan Luna. Saat itu ingin sekali Alex menghancurkan rak kaca di depannya, kalau saja Luna tidak memeganginya dari tadi.


"Lex, jangan bikin masalah..." ucap Luna pelan.

__ADS_1


"Tapi dia duluan yang nyebelin, kak..." Alex mendengus tak terima.


"Biar saja..." Luna bersikap tak perduli, padahal hatinya sama sakitnya.


"Nih..." Diletakkannya benda persegi panjang itu di depan Luna dan Alex dengan angkuhnya. "Lain kali sekolah yang benar. Malah pacaran nyusahin orang tua aja! Bisanya cuma bikin aib!"


BRAK!


Alex tidak tahan untuk tak melakukan sesuatu. Ia menendang lemari kaca itu hingga retak sebagian. Sang perempuan penjaga memekik kaget. Tyo dan Jessika akhirnya lari menghampiri mereka.


"Ada apa?!" Jessika bertanya kaget.


"Dasar anak enggak tau sopan santun!"


Alex ingin mencekik perempuan itu, tapi sayang, Luna langsung menariknya menjauh.


"Kalian juga temannya bukannya dikasih tau, malah sama aja nakalnya!"


"WHAT?!" Jessika yang tidak tau-menau apa yang baru saja terjadi jelas kesal. "Mbak kurang micin apa gimana?" desisnya. Dia sekarang ingin menjambak si cewek jutek itu. Astaga, sombongnya melebihi Lady Gaga. Belum kenal pun sudah berani berkomentar.


Setelahnya terjadi perang mulut yang tak terhindarkan antara Jessika dan si mbak julid. Tyo puas menonton, dia suka bagian ini. Menurutnya Jessika paling keren saat sedang sewot.


Perhatian orang sekitar sudah tertuju ke arah mereka. Keadaan makin runyam saat Jessika memukul etalase itu, membuat retakan semakin besar dan kemudian pecah sebagian.


"UPS!" Jessika tidak menyangka akan jadi begitu. Tangan si wanita yang terangkat, membuat Luna refleks menangkapnya. Dia tidak mau Jessika ditampar untuk kedua kalinya di hadapannya. Apalagi sekarang juga untuk membela dirinya.


"Jangan coba-coba..." Luna menatap tajam wanita itu. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon El.


📞 Kak, bantu aku...


📞 Siap, sweetie...


Semenit kemudian seseorang dalam balutan kemeja dan celana hitam sudah ada di hadapan mereka. Dia melerai Luna dan si wanita.


"Siapa kamu?" Luna bertanya bingung.


"Saya Kai, adik Kris. Menjauhlah Nona. Ini mungkin berbahaya untuk anda..."


Luna sampai menganga tak percaya. Jadi selama ini ada yang mengawasinya? Kenapa dia sama sekali tidak sadar?


"Nona mau beli apa? Mau dibelikan tokonya juga?" tanya Kai tanpa dosa.


Alex mengambil bungkus berwarna biru yang masih ada di etalase. Dia lalu menendang sekali lagi dengan keras sampai rak kaca itu hancur berkeping-keping. "Beli saja. Sekalian bereskan, ya! Dia bikin kesal!" Alex menarik tangan Luna pergi.


"Aku antar kakak pulang saja..." Dia memberikan testpack itu ke tangan Luna. "Nanti kakak coba di rumah ya, terus kabari aku. Ayo naik..." Alex membantu Luna naik ke atas motornya. "Hati-hati..." gumamnya pelan.


"Jess, Yo. Makasih ya... Sorry bikin ribut..." Luna nyengir ke arah dua temannya itu yang sedari tadi mengekor mereka.


"Udah biasa..." jawab Jessika santai. "Ya udah, bye...."


Mereka berpisah jalan. Alex melajukan motornya perlahan sampai ke rumah El. Kemudian ia pamit, menolak ajakan Luna untuk mampir dulu. Dia cuma berpesan, "jangan lupa kasih tau hasilnya..."


Sekarang Luna sudah berada di kamar mandi dan ia sedang menunggu menit-menit saat benda pipih itu mengeluarkan garis.


BRAK!


Suara bantingan di pintu mengagetkan Luna. Rupanya itu El yang masuk sambil terengah-engah. Dia tidak percaya setelah mendengan laporan Kris kalau Luna membeli benda itu. Memang selama ini sikap Luna aneh dan berbeda, tapi dia tidak sadar kalau ternyata itu penyebabnya. Ditinggalkannya semua pekerjaan kantor lalu berlari ke tempat parkir, mengabaikan keadaan sekitar yang bising membicarakannya. Ia ingin tau sekarang juga, tidak bisa menunggu.


"Apa hasilnya?" El menatap tangan Luna. Dia mengambil benda itu tanpa bertanya.


Luna terkesiap melihat El yang muncul di rumah tiba-tiba. Seolah tau semuanya. Atau mungkin memang sudah tau.


"Tunggu semenit lagi aku rasa, kak..." ucap Luna pelan.


Ah, satu menit yang bisa membuat gila.


Bersambung...


Maafkan dewiluna yang jarang up.. 🤧


Ada beberapa hal yang tidak bisa aku tinggalkan... 🏃


Sebagai permintaan maaf, ada bonus gambar..


Semoga suka...❤️


 


**THE SIBLINGS**


 


__ADS_1


__ADS_2