Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
78. Akhir Badai


__ADS_3

"Tidak perlu, Yah. Luna sudah merasa mampu hidup sendiri. Dia tidak mau tinggal sama kita lagi. Ya kan, Luna?"


Luna tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Lidahnya sampai kelu dan tidak bisa berkata apapun.


Luna menarik Jessika pergi. Mereka terus berjalan sampai akhirnya Luna berhenti di depan sebuah supermarket di dekat rumahnya. Dia mengajak Jessika duduk disana.


Luna mengambil uang dari tasnya dan masuk ke dalam supermarket membeli sebotol air mineral.


"Jess, elo gapapa?" Luna menyodorkan botol air yang sudah dibuka. "Maaf ya..."


Jessika memejamkan matanya sebentar, kemudian dia membukanya lagi. "Gapapa, Lun."


Elo ga salah apapun.


"Ya udah, elo pulang aja sekarang. Bentar lagi hujan. Cepet minta Tyo jemput elo." Luna mencoba membuat suaranya tidak bergetar.


"Elo gimana?" Jessika menatap Luna. "Elo mau ke rumah gue lagi?"


Luna berusaha tegar. Dia menarik nafas dalam, kemudian menjawab Jessika. "Engga, Jess. Ga usah, makasih. Gue udah banyak ngerepotin elo."


"Elo yakin?"


"Iya, Jess." Luna mengangguk yakin. "Nanti bentar lagi juga gue balik kalau elo udah pulang."


"Bener?" Jessika bertanya lagi. Luna mengangguk lagi. "Ya udah, nanti kabarin gue ya. Kalau elo ga boleh masuk, elo ke rumah gue lagi. Jangan kemana-mana."


"Iya..."


"Ya udah, gue pesen ojol dulu."


Beberapa menit kemudian, ojek yang dipesan Jessika sampai, dia pun melambai pada Luna.


Sepeninggal Jessika, Luna tidak kembali ke rumahnya. Dia tetap duduk disana. Dia tidak kembali ke rumah. Luna berbohong pada Jessika. Dia tadi menarik Jessika pergi karena memang sudah tidak ada cara lain. Bunda sudah benar-benar mengusirnya dengan memberikan pertanyaan tanpa pilihan. Dia adalah orang yang paling paham akan hal itu.


Luna menatap kosong ke depan. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia terlalu malu untuk meminta bantuan pada Jessika lagi, apalagi setelah Bunda menampar temannya itu.


Sekarang harus bagaimana? Harus kemana? Harus tinggal dimana? Benar kata Bunda, mereka cuma anak sekolah yang bahkan masih menumpang pada orang tua. Tidak punya uang atau kekuatan apa pun. Harusnya tadi dia tidak berteriak pada Bunda. Harusnya tadi dia diam saja, menerima semuanya seperti biasa.


Hujan tiba-tiba turun, Luna berpindah tempat duduk ke tangga masuk supermarket, berteduh. Di tengah kesunyian, air mata Luna mulai berjatuhan tanpa ia sadari. Isakan Luna semakin keras seiring dengan derasnya hujan.

__ADS_1


***


"Bunda harusnya tidak seperti itu pada Luna..." Ayah masih tidak percaya kalau Bunda mengusir Luna. Dia sangat yakin kalau Luna bukan anak yang seperti itu. Tidak mungkin ia ingin keluar rumah. Walaupun memang kemarin Luna melakukan kesalahan, tapi itu adalah kesalahannya yang pertama. Dan dia yakin kalau Luna punya alasan untuk itu.


"Iya Bunda. Kak Luna ga salah." Arga dan ketiga adiknya yang lain juga ada di ruang tamu, mencoba berbicara pada Bunda setelah kejadian tadi.


"Kak Jessika kirim pesan ke Arga kalau kak Luna sakit dan dirawat di rumah sakit kemarin. Mungkin karena itu kak Luna ga bisa pulang."


"Kalau dia mau pulang, dia ga akan bawa tas sebanyak itu." Arga langsung terdiam mendengar ucapan Bunda.


"Mungkin dia cuma berniat menginap semalam..."


"Dia bahkan tidak meminta izin. Kenapa Ayah terus membela Luna?" Bunda mulai kesal.


"Karena Ayah yakin pasti ada alasannya. Apa Bunda pernah memberikan kesempatan pada Luna untuk menjelaskan?" Ayah mencoba menunjukkan kesalahan Bunda, tapi tampaknya itu tidak berhasil.


"Kalau dia mau pulang, dia pasti kembali. Tapi lihat saja, dia tidak kembali lagi kan?" Bunda sekali lagi membuat semua orang terdiam.


"Itu artinya memang dia mau pergi." Bunda mencoba meyakinkan semua orang kalau dia memang benar. Tapi Ayah hanya menatapnya sekilas kemudian menggeleng pelan.


"Arga, coba hubungi Luna. Suruh dia kembali." Walaupun Arga mendengar perintah Ayah, dia cuma diam. "Kenapa?"


"Bunda sudah menjual ponsel kak Luna. Terus dibelikan sepeda baru untuk Arya." Arka menunjuk sepeda berwarna merah yang ada di halaman rumah mereka.


Ayah tak percaya Bunda melakukan hal seperti itu. "Kenapa kamu jual? Kamu tau kan Luna butuh ponsel? Bukannya dia mau ujian sebentar lagi?"


"Bunda juga benar-benar ga kasih kak Luna uang jajan. Padahal Bunda tau kalau setiap hari kak Luna berangkat dan pulang sekolah sendiri, ga bareng kak Arga." Arsya akhirnya memberanikan diri untuk berbicara seperti kakaknya. Mereka mulai membuka kenyataan satu-persatu.


"Kenapa Luna ga mau bareng kamu?" Sekarang Ayah bertanya ke Arga.


"Karena kak Luna ada tambahan belajar, Yah. Dia harus berangkat lebih pagi terus pulang lebih sore. Dia pasti ga mau Arga nungguin dia lama."


"Di rumah juga yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu kak Luna, bukan Bunda."


Bunda melihat ketiga anak laki-lakinya dengan tatapan tidak senang. Mereka saling bersahutan mencoba melakukan konfrontasi pada dirinya.


"Kamu benar-benar keterlaluan." Ayah menghela nafas kesal.


"Lagipula..." Arka memotong kalimatnya sejenak. "Kalau Ayah tau, Kak Luna dihukum bukan karena dia benar-benar salah..."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Temen aku adiknya teman kak Luna. Dia bilang kalau kak Luna menampar orang itu karena dia bilang kalau kak Luna adalah *******."


"Astaga..." Ayah menggeleng tak percaya. "Apa kamu tidak pernah menanyakannya? Kamu tidak pernah bertanya pada Luna?"


"Tidak pernah Ayah." Arga menjawabnya. "Bunda selalu melihat kak Luna seperti melihat kesalahan."


"Kenapa kalian tidak pernah bilang ke Ayah?"


Arga, Arka dan Arsya saling bertatapan. "Karena kak Luna bilang ga boleh, takut kita dimarahi Bunda."


"Ya sudah, sekarang kalian cari Luna dan suruh dia pulang."


***


"Kamu ga akan pulang?" Sebuah suara menghentikan tangisan Luna. Dia mengangkat wajahnya, melihat orang yang berdiri di depannya. El.


El berjongkok menyamakan tingginya dengan Luna. "Kamu yakin ga akan pulang?"


Luna menatap El dengan mata sembab dan air mata yang masih mengalir.


El setia menunggu jawaban Luna, tapi Luna tetap diam seolah tak mau menjawab.


"Kan kakak sudah bilang, kalau ada masalah kamu harus bilang ke kakak. Kenapa kamu malah menangis sendirian disini?"


"Kakak bisa selesaikan semua masalah kamu. Tapi ada syaratnya..."


Luna menautkan alisnya.


"Kamu jadi pacar kakak. Kakak bisa urus semua masalah kamu sekarang juga."


El berdiri kemudian mengulurkan tangannya ke Luna yang masih duduk. Luna menengadah menatap El. "Kamu mau....."


Sesaat kemudian Luna berdiri dan memeluk El erat. "Mau..."


Hari ini, tepat 2 Minggu sebelum ujian akhir SMA dimulai, Luna punya pacar.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2