
Chapter 38: Hubungan
"Tidak perlu semerah darah untuk jadi saudara. Selalu bersama sudah cukup." -Luna-
"Jessikaaaaaa......!" Luna berteriak seperti orang gila saat melihat Jessika di hari pertama masuk sekolah setelah seminggu libur.
"Lunaaaa......!!!!" Jessika berlari ke arah Luna. Kemudian mereka berpelukan dan meloncat bersama.
"Meh! Bocah!" sindir Tyo, menghancurkan suasana.
"Resek!" Luna menendang kaki temannya sampai Tyo mengaduh dan mengusap kakinya beberapa kali.
"Untung cewek, kalau bukan udah gue bales elo, Lun." Tyo mengangkat tangannya seolah-olah ingin memukul Luna.
BUK.
Luna menendang kaki Tyo lagi, kali ini lebih keras. "Berani elo sama gue?" tantangnya.
"Eh, si anj*rrrrr..." Tyo hendak menangkap Luna tapi ia gagal. Luna sudah bersembunyi di balik punggung Jessika. "Ay, minggir ay..."
Jessika cuma menatapnya lurus.
"Ay, aku mau jitak si Luna nih. Dia nyebelin." Tyo sudah menggapai-gapai Luna, tapi Jessika malah ikutan menendangnya.
"AW! Kok kamu jahat, ay?" Tyo meringis mengusap kakinya lagi.
"Habis kamu bilang kita bocah!" Jessika menarik Luna pergi meninggalkan Tyo yang meratap sendirian.
Luna, Jessika, Tiara dan Reina sedang duduk berdekatan di kelas sekarang. Kelas ramai dengan suara riuh para siswa yang entah membicarakan apa. Untuk kelas 12, memang jam bebas. Mereka tinggal mengikuti remidial dari beberapa guru, yang nilainya bagus hanya tinggal bersantai.
"Kalian mau lanjut kuliah enggak?" tanya Tiara.
"Mau lah," jawab Jessika.
"Kita barengan yuk. Samaan kampusnya." Tiara sudah memelas.
"Elo mau ambil jurusan apa?" tanya Reina.
"Belom tau," jawab Tiara. "Jurusan apa aja boleh asal kampusnya sama kayak kalian..."
__ADS_1
Luna mendesah tanpa suara. Jauh di lubuk hatinya dia masih bimbang, akan melanjutkan kuliah atau tidak. Kalaupun kuliah, dia juga tidak tau harus mengambil jurusan apa.
"Ortu gue nyuruh gue masuk akutansi. Jurusan paling aman buat cari kerjaan katanya. Tapi gue enggak minat..." Tiara mencibir kesal. Dia menyobek tissu di tangannya menjadi kecil-kecil kemudian menggulungnya menyerupai bola.
"Gue sih, mau ambil jurusan Bahasa kayaknya. Ortu gue ngebebasin, kok." Reina tersenyum senang. Dari dulu ia memang sudah tertarik dengan Bahasa, lebih daripada pelajaran lainnya.
"Kalau gue, apapun yang enggak ada matematikanya." Jessika mulai berpikir. "Bahasa kayaknya enggak akan ada matematika, deh. Masa iya, bikin kalimat pakai rumus aljabar...."
"Ngaco, Lo!" Luna menyenggol lengan Jessika. Ia ikut-ikutan membuat bola-bola tissu kecil seperti Tiara.
"Elo sendiri, Lun?" tanya Jessika. "Elo bakal kuliah, kan? Si om kasih ijin dong?" Jessika juga mulai membuat bola. Sekarang mereka berempat sudah melakukannya.
"Tadinya gue mau langsung kerja aja. Tapi malu sama keluarga kak El kalau cuma lulusan SMA." Luna memajukan bibirnya.
"Kalau gue jadi elo, gue duduk santai di rumah aja berkipas pakai duit..." Jessika tertawa renyah, diikuti temannya yang lain.
"Secara, laki udah sultan..." Tiara menyambung kalimat Jessika.
"Hus!" Luna melempar bola-bola tissu itu ke wajah Jessika dan Tiara bergantian. "Ngomong sih, enak..."
"Kuliah aja, Lun. Bareng sama kita. Gue bakal seneng banget kalau kita bisa sama-sama terus setelah kita lulus." Reina memberikan senyumnya kepada ketiga temannya itu.
"Iya, kita harus satu kampus. Kalau bisa satu jurusan. Satu kelas kalau perlu. Awas kalau kalian berkhianat," ancam Jessika.
Luna, Tiara dan Reina cuma bisa tertawa kecil mendengar ancaman Jessika. Tertawa karena dia mengancam dengan menggunakan penghapus.
***
"Lamaaaaa... Sumpah!" Jessika dan Luna menunggu Tyo yang memanggil Alex. Mereka akan pergi bareng ke mal untuk nonton dan makan-makan sekarang. Luna mengajak Alex sebagai ucapan terima kasih untuk honor live kemarin. Dia sebenarnya sudah mengirimkan pesan, tapi karena sangat lama, Tyo menjadi korban perintah pengecekan kedua tuan puteri ini. Jessika dan Luna ingin cepat berangkat.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. "Boseennnn..." Luna ikut mengeluh. Tiara dan Reina menontoni mereka yang bertingkah tidak jelas.
Wajah Luna dan Jessika semakin lama semakin tak enak dilihat, membuat Tiara ingin mengabadikannya.
"Kenapa kita enggak jalan duluan aja, sih?" Reina memberikan ide yang sangat luar biasa. "Elo dijemput kan, Lun?" tanyanya.
"Iya, ditungguin gue," jawab Luna. Ditunggu dan dijaga ketat oleh seorang penggila warna hitam, karena pakaian Kris selalu hitam-hitam. Dia selalu melihatnya dengan warna itu. Luna curiga Kris cuma punya pakaian dengan warna hitam saja. Jangan-jangan sampai pakaian dalamnya juga warna hitam.
__ADS_1
"Iya, Elo bener, Rei. Duluan aja, yuk. Mereka juga naik motor," Tiara sudah menyampirkan tasnya.
"Iya, kirim pesan. Ketemu di sana." Jessika mengeluarkan ponsel, begitu juga dengan Tiara dan Luna, mengabari partner masing-masing. Untuk hari ini Reina sendirian, karena Arga sekolah sampai jam pelajaran berakhir.
"Kenapa enggak dari tadi..." Luna memutar matanya.
"Elo juga kagak bilang apa-apa, Bambang..." ucap Jessika.
"...Udin..." lanjut Reina.
"...Michael..." sambung Tiara. Ketiga temannya menoleh ke arahnya. "Salah gue kalau gue suka nama Michael?"
Luna, Jessika dan Reina mendengus bersamaan, tidak ingin menjawab, hanya mengambil tasnya dan melangkah pergi ke parkiran sekolah.
Karena macet, Luna dan teman-temannya malah sampai setelah para cowok. Tiket sudah dibeli untuk penayangan film jam 14.30, mereka bisa makan dulu sekarang.
"Ayam!" Luna bersikeras ingin mencicipi ayam dengan keju leleh seperti yang ada di media sosial. Dia sampai terbawa mimpi. "Kalian bayarin gue!" Ditunjuknya Jessika dan Tyo. "Udah janji. Bohong, gue santet..."
"Serem amat, Lun." Alex sampai cekikikan mendengarnya.
"Itu enggak seberapa, Lex," tukas Luna. "Elo enggak tau mereka ninggalin gue di hutan. Untung aja badan gue utuh."
Alex malah tertawa. "Untung aja elo enggak ngompol di celana, ya..."
Luna ngeri karena ia tau kalau Alex cuma bercanda, tapi ucapannya benar. Miris. Dia tidak melayani ucapan Alex, dilanjutkannya langkahnya untuk masuk ke dalam restoran.
Di dalam restoran terjadi debat kusir mengenai pembagian pembayaran. Kris yang tadinya cuma berniat mengawasi akhirnya memutuskan untuk membayarnya. Semuanya merasa senang kecuali Luna. Harusnya kan Jessika dan Tyo yang bayar, bukan suaminya!
Setelah makan, mereka lanjut nonton film horor. Sungguh tidak beradab para cowok ini. Sengaja memilih film yang menakutkan untuk melancarkan modus mereka.
Alex duduk di kursi paling ujung di sebelah kanan Luna, sedangkan Reina duduk di sebelah kirinya. Di sebelah Reina ada Jessika, lalu Tyo, Sandi dan Tiara. Mereka duduk dalam baris yang sama.
Luna menutup matanya berkali-kali tetapi juga mencoba mengintip. Dia takut dan penasaran. Pasti nanti malam dia tidak bisa tidur. Terkutuklah kalian yang membuat film semacam ini.
"Aaaaa...!" Luna menjerit tertahan saat ada adegan hantu keluar tiba-tiba. Tangannya tanpa sadar sudah menarik lengan Alex kencang dan wajahnya berpaling dengan mata terpejam rapat. Seram sekali! Kalau jantungnya bisa keluar, pasti kalian bisa melihatnya sudah melompat ke langit-langit saking kagetnya.
"Haha..." Alex mentertawakan Luna pelan. "Takut Lo?" Dia menutupi wajah Luna dengan sebelah tangannya, karena sebelah tangan yang lain masih dicengkeram Luna.
"Merem aja, entar gue ceritain ada apaan." Alex mengelus pelan kepala Luna, sesaat kemudian gadis itu mengangguk pelan, gemetaran.
__ADS_1
Bersambung