
Chapter 45: Kejutan
"Tuhan mengawasi setiap ucapan, jadi jagalah perkataanmu..." -Luna-
"Apa kalian sudah saling mengenal?" Papa Daniel sumringah saat ia melihat Keisha yang tampaknya tidak asing dengan Alex.
"Maaf, siapa ya?" tanya Alex pura-pura bodoh. Astaga, Luna ingin mencolok mata nista yang menatapnya dengan pandangan meremehkan itu.
"Mereka satu sekolah, Pa..." El menjawab santai. "Mereka juga teman dekat, ya kan?" Ditatapnya satu-persatu Alex dan Luna. Luna cuma diam sementara Alex sudah mendecak kesal. Ia ingin memaki dirinya sendiri yang dulu pernah menghujat Arga. Sekarang ia merasakannya. S*alan!
"Benarkah, Lex?" tanya Papa Daniel. Dia benar tidak mengetahui kalau kedua anaknya ini memang sedekat itu. Mungkin kalau tau, ia tidak akan bersusah-payah datang ke tempat mantan kekasihnya.
"Kenapa papa perduli?!" sinis Alex.
Untuk Alex, papa hanyalah kata semu yang tercetak di kartu keluarga. Jabatan yang tidak pernah melakukan tugas apa pun selama hidupnya. Dia sungguh geram saat papanya mulai main rumah-rumahan dengannya. Sungguh, sudah terlambat 18 tahun untuk itu.
"Jaga bicaramu, Nak..." Papa Daniel merasa malu dengan ucapan kasar Alex, apalagi saat ini mereka sedang berada di hadapan El. Walaupun masih muda, El cukup disegani di kalangan eksekutif. Ia belakangan ini mendapat sorotan sebagai wajah baru pemimpin muda.
Tapi nampaknya Alex tidak perduli. Seolah darah panas sudah tercampur rata dalam jiwanya yang bar-bar. Ia malah membalas perkataan itu dengan wajah super menyebalkan. "Tak bisakah menjaga satu burung? Sembarangan menebar benih!"
Luna refleks bangkit dari kursi dan mendorong muka Alex seperti biasa, mengacaknya tanpa ampun. "Kotor banget tuh, mulut..."
Papa Daniel yang tadinya ingin marah menjadi tertawa melihat Luna yang seberani itu. Alex yang berpenampilan preman terlihat seperti anak kucing yang manis di depan Luna.
"Elo kan udah janji itu mulut dipakein filter!" Luna mendesis marah. "Lupa, heh?!"
Alex tidak tahan dengan mata bulat Luna yang melotot dan pipinya yang menggembung marah. Sama sekali tidak menakutkan, Luna malah terlihat semakin imut. Alex mengulurkan tangannya hendak mencubit gemas pipi gembil itu.
"Maaf ya, yang ini punya saya..." El menarik wajah Luna mundur menjauh dari jangkauan Alex. Dibawanya Luna ke dalam dekapannya, tanpa memperdulikan tatapan siapapun yang melihat.
__ADS_1
Alex ingin memutar balikkan meja di hadapannya melihat kemesraan dua sejoli ini. Haruskah ia membakar restoran ini saja? Emosinya sudah menggelegak tak bisa dikendalikan lagi.
BRAK!
Gelas-gelas berjatuhan di atas meja dengan isinya yang sudah mengalir kemana-mana. Alex memukul meja sedemikian kerasnya sampai semua orang menatap mereka sekarang. Memandang dengan penuh rasa ingin tau atas keributan yang mereka dengar.
"Terima kasih untuk papa yang telah mengambil kebahagiaan hidupku SEKALI LAGI!" Alex melangkah keluar tanpa menoleh. Luna yang melihat itu segera mengejarnya untuk menghentikan teman lucknut yang kurang ajarnya tidak pakai takaran.
"Alex!" panggil Luna. Susah payah ia berlari dengan menggunakan sepatu hak tinggi. Ia hampir saja terjungkal memalukan barusan.
"Jangan kejar!" serunya marah. Alex berbalik dan menatap Luna yang sekarang sudah bertelanjang kaki dengan kedua sepatu yang sudah ada di tangannya.
"Gue enggak akan kejar, kalau elo gak lari!" balas Luna tak mau kalah.
Alex bisa melihat El yang menyusul di belakang Luna. Terbesit sebuah ide jahat di pikirannya. "Ayo kita lari sama-sama!" Ditariknya tangan Luna, dalam sekejap mereka sudah berlari kencang tak tentu arah. Luna yang belum bisa berpikir lurus mengikuti kemana arah Alex membawanya.
"Sumpah, asyik banget barusan." Alex ternyum lebar. Mereka ada di sebuah ruangan kosong, sepertinya ruang untuk staf. Alex tadi hanya asal membuka pintu saja. Karena pintu itu terbuka dia langsung masuk tanpa ragu dan menguncinya dari dalam. Sepertinya ia beruntung karena di sini tidak ada siapapun.
Luna menarik kursi lalu duduk di sana. Kakinya terasa mau copot karena Alex menariknya tanpa belas kasih. Hari-hari biasa saja dia masuk golongan finish terakhir kalau ada praktek lari di sekolah. Aktivitas yang mengandalkan kecepatan tidak cocok untuknya.
"Capek ya?" tanya Alex yang menyusul duduk di sebelah Luna.
"Menurut elo?!" balas Luna kesal. Dicubitnya gemas sebelah pipi Luna, membuat yang punya melotot marah.
"Menurut gue, elo cantik..." Alex mengedipkan sebelah matanya menggoda Luna. Sedetik kemudian ia tertawa keras melihat Luna yang mengeluarkan muntah transparan.
"Hahahaha... Elo bener enggak bisa digombalin ya?"
"Hoekkkk...! Eneg gue." Luna mengibaskan tangan tak perduli. Ia merebahkan kepalanya di meja yang ada di depan kursi. Sepertinya ini adalah ruang rapat. Ada sebuah meja besar yang dikelilingi banyak kursi. Luna dan Alex duduk di salah dua kursi itu.
__ADS_1
Alex ikut merebahkan kepalanya di samping Luna. Mereka saling bertatapan sekarang. "Gue serius. Elo cantik..." ucap Alex sekali lagi. Kali ini tanpa embel-embel kedipan genit, membuat Luna sedikit baper.
"Masa sihhh.....?" guraunya.
"Bener. Elo beda. Imut dan menggemaskan di saat yang sama." Sekarang tangan Alex sudah mengelus pipi Luna membuat cewek itu merasa tak nyaman. Ia mengangkat kepalanya. Sebagian dirinya memperingatkannya untuk waspada.
Alex bisa merasakan kegelisahan Luna. "Tenang aja, gue enggak akan ngapa-ngapain elo, kok. Kalau elo enggak mau." Luna membuang nafas lega. "Tapi kalau elo mau gue selalu siap..."
"Tidak, terima kasih..." Luna mengibaskan tangan menolak.
"Lun..." Luna terperanjat saat Alex menariknya begitu saja. Dengan mudahnya dia sudah ada di dalam pelukan cowok itu.
"Woi, lepas! Gue tonjok, nih!" Luna keberatan didekap orang lain. Dia memberontak tapi semua usahanya kalah dengan kekarnya lengan Alex yang mengurungnya.
"Lun, dari semua orang kenapa harus elo sih yang jadi kakak gue?" tanya Alex. Luna terdiam mendengar suara cowok itu yang kini berubah parau, menunjukkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Dia merasa saat ini Alex hanya butuh didengarkan.
"Pertama papa udah ngambil mama, orang yang paling gue sayang. Sekarang, elo juga!" Alex terdiam sejenak. Luna yang masih ada dalam dekapannya akhirnya menggerakkan tangannya ke punggung Alex, mengelusnya pelan.
"Gue enggak rela kalau harus jadi adik tiri elo." Alex melepaskan pelukannya, dan menatap Luna dalam.
"Ini bukan cuma sekedar ditolak. Status ini berarti penyiksaan seumur hidup buat gue..." Luna tidak bicara, ia cuma balas menatap mata Alex. Mata sendu itu memancarkan kasih sayang tulus untuknya.
"Bisa enggak, sekali aja---
Luna menelan salivanya susah payah. Beragam kemungkinan mulai berlarian di otaknya. Sekali saja.... apa....?
"--sekali aja... Malam ini, jadi pacar gue..."
Bersambung
__ADS_1