
Chapter 58: Tak Sesuai Harapan
"Hal yang kamu inginkan bukan berarti harus selalu kamu dapatkan..." -Luna-
**FLASHBACK**
Setelah mendapat telepon dari Luna, ia langsung menghubungi bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasinya istrinya itu. Dan alangkah kagetnya ia, kalau ternyata Luna tengah membeli alat tes kehamilan. Memang ada laporan kalau terjadi keributan, dan El sudah mengatakan untuk mengurus semuanya. Tapi bukan itu poin pentingnya di sini. Yang ia garis bawahi adalah benda yang Luna beli.
Seketika El melebarkan senyumnya. Ia merasa sangat senang saat itu. Ditatapnya Reza yang ada di depannya. Reza saat ini sedang berada dalam ruangan El, menunggu bosnya selesai memeriksa dan menandatangani semua berkas perjanjian yang ia bawa. Dirinya yang tak tau apa-apa, kaget karena tiba-tiba dipelototi. Ia merasa, pasti ada yang salah dengan bosnya ini.
"Kamu...."
Reza kaget mendengar suara El. Tidak kencang padahal, itu hanya karena dirinya yang sedang parno luar biasa.
"I... i... iya, Pak..." Reza mulai was-was. Seram sekali, pikirnya. Lelaki di depannya ini tersenyum miring tanpa sebab.
Pasti tentang Luna, ini... Enggak mungkin salah...
Apapun yang ada dalam otak El sekarang, Reza berharap tidak ada dirinya di dalam sana. Dia sedang tidak ingin terlibat apapun. Biarkan saja hidupnya yang datar dan damai seperti ini. Lebih menyenangkan.
"Bajumu jelek sekali..." ucap El.
"Hah?" Reza sampai menganga mendengarnya.
"Sepatumu juga sangat buruk..."
"Hei~~" Reza hendak protes. Apa-apaan maksud El? Tidak taukah bosnya itu kalau semua yang ia pakai sekarang sudah branded? Demi menjaga citra dirinya sebagai sekretaris bos besar, dia sampai menghabiskan jutaan untuk mendapat tampilan seperti sekarang. Awas saja dia akan meminta dana ekstra pada El atas hal ini.
El melepaskan jam tangannya, yang tentunya berharga fantastis. Benda yang dipakai bukan cuma sekedar untuk melihat waktu, tapi juga sebagai simbol kemakmuran. "Ambil ini untukmu, agar kamu terlihat lebih tampan..."
Reza memicingkan matanya. Curiga dan tak percaya. Ada apa dengan si setan ini? Makan apa dia barusan?
"Mau enggak?" El setengah membentak karena mendapati Reza yang tak bergeming.
Reza jelas ragu. Ia berpikir keras. Pasti ada udang dibalik balutan terigu. Ada sesuatu....
"Halah, lama!" El mendecak kesal, lalu menarik tangan Reza dan meletakkan jam itu di sana. "Aku mau pulang sekarang. Urus sisanya." El mengambil tas kerja dan juga jasnya, setengah berlari ke pintu.
Reza yang perlu beberapa detik untuk mencerna apa yang terjadi di sekitarnya akhirnya membuka suara. "PAK, JANGAN KABUR!!!" teriaknya kesal.
"Jangan ganggu, bye..." El seketika menghilang dari pandangan.
ASEMMMMM...
***
Luna membisu, ia menatap El yang matanya memancarkan harapan. Luna tentu saja sudah membaca petunjuk yang tertera di kemasan testpack tadi. Dia sudah tau cara menggunakannya dan juga paham artinya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" El bertanya penuh harap pada Luna. Ia tidak sabar untuk mendapatkan jawaban.
Luna melarikan matanya ke segala arah, mencoba menghindar. Tangannya gemetar sesaat setelah ia melihat garis yang tercetak dalam benda yang sedang dipegangnya. Ini sudah lewat dua menit pastinya, tapi tanda di benda itu enggan untuk bertambah apalagi berubah. Sepertinya memang hasilnya sudah ditentukan.
El yang tak sabar melongokkan kepalanya, melihat tanda di sana. Hanya ada satu garis, negatif. Tapi ia tidak percaya, ia ingin memastikan dengan berusaha mengambil benda itu dari tangan Luna. Ia sepertinya hanya tidak ingin menerima apa yang baru saja ia lihat. Ia berharap kalau matanya menipu dirinya.
Luna menjauhkan testpack yang digenggamnya dari pandangan El. Dia menyembunyikannya di belakang punggungnya. El yang terus berusaha merebut benda itu akhirnya berhenti bergerak setelah Luna menatapnya tajam. Pandangan sedih dan kecewa, melebur jadi satu, membuat El semakin percaya kalau memang apa yang ia lihat barusan benar adanya.
"Aku sudah bilang kan," ucap Luna lirih. Ah, dia tidak suka ini. Dia merasa sedih, dan di saat yang sama ia pasti membuat El kecewa padanya.
"Kakak harusnya tidak perlu tau jadi kakak tidak akan kecewa..." Luna merasa ingin marah pada dirinya sendiri karena dengan lancangnya memberikan harapan palsu pada El.
Tidak bisa dipungkiri kalau El memang merasa demikian. Dia merasa harapannya pupus seketika. Padahal sebelum ini ia sangat bersemangat dan senang luar biasa. Malah ia sempat berpikir, apakah anaknya perempuan atau laki-laki nantinya.
Luna terdiam. Matanya mulai memanas. Emosinya bercampur aduk, tidak dapat ia kendalikan lagi rasa bersalah yang mulai menjalar dalam dirinya. Ditambah dengan gerak-gerik El yang menunjukkan bahwa ia sangat kecewa.
Berharap itu mengerikan...
Melihat wajah murung El, Luna melangkah mundur perlahan. Dia berbalik kemudian berlari keluar kamar secepat yang ia bisa. Dibukanya pintu dengan keras hingga membuat suara berdentum yang terdengar ke seluruh penjuru rumah. Mami yang kebetulan sedang ada di rumah, sampai keluar dari kamarnya, melihat apa yang terjadi.
"Luna..." Panggilan mami diabaikan begitu saja oleh Luna. Entah dia benar-benar tidak menggubrisnya atau memang karena ia sedang berlari jadi tidak mendengar sama sekali. Mami hanya melihat kalau menantunya itu terburu-buru menuju ke pintu keluar.
Bertengkar, kah? Mami membatin curiga.
"El, istrimu kenapa?" Mami bertanya pada El yang baru keluar kamar. Ia menangkap El yang hendak berlari seperti Luna. Ia butuh penjelasan, anak ini tidak boleh kabur sebelum semuanya jelas.
"Kejar, Kris... Cari sampai ketemu..." Kris mengangguk dan mengikuti di belakang El, mereka berlari keluar dengan cepat.
***
"Dimana aku?" Luna tersadar saat ia berhenti. Nafasnya tersengal dan badannya lelah. Ia melihat sekeliling, mencari tempat ia bisa duduk. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah taman kecil, dia berjalan lurus ke sana. Ia bisa melihat ada kursi berjajar di kejauhan. Dirinya butuh duduk dan berisitirahat. Setelah beberapa saat, akal sehat Luna kembali.
Bodoh... Kenapa pakai lari segala...
Luna memukul kepalanya sendiri, beberapa kali, saking kesalnya ia pada dirinya. Disandarkannya punggung kecilnya di kursi taman yang terbuat dari besi itu. Kursi berwarna putih dengan motif bunga besar di tengahnya, mengeluarkan bunyi KRIET yang nyaring saat ia menghentakkan tubuhnya cukup keras di sana. Sudah cukup usang sepertinya.
"Hhh..." Luna mendongakkan kepalanya, menerawang langit yang mulai berubah kemerahan. Senja yang indah, batinnya.
Lamunan Luna dikagetkan dengan suara ribut dari samping. Ia segera menoleh dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata itu adalah El yang menyusulnya. Lelaki itu memasang wajah yang cemas luar biasa. Tadi dia sangat kaget saat Luna tiba-tiba berlari kencang, seolah hilang begitu saja.
"Luna..." El menghampiri Luna perlahan. Luna sebenarnya ingin lari lagi, tapi El membawa banyak bodyguard bersamanya. Jadi dia berpikir lebih baik diam saja. Sebagai bentuk penghematan energi, karena hasilnya pasti sudah jelas.
Luna mengawasi El yang duduk di sebelahnya. Ia menatap lelaki itu dalam diam, sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. Gabungan perasaan malu dan tidak enak memenuhi hatinya. Ah, harusnya tadi siang dia tidak usah menelepon El. Kalau saja tidak terjadi masalah, ia tidak akan meminta bantuan El. Ini pasti karena ia sudah terlalu bergantung pada El sehingga kalau sesuatu terjadi otaknya otomatis mengingat El.
"Luna..." El duduk di sebelah Luna. Pacar sehidup sematinya itu terlihat sedih sekarang. Harusnya tadi El lebih peka. Dia memang sedih dan kecewa, tapi pastinya Luna merasa lebih daripada dirinya.
"Maaf ya, kak..." Luna langsung mengucapkan apa yang mengganjal di hatinya, membuat El menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Tidak apa, Luna..." El mengelus kepala Luna. Sebenarnya ia ingin memberikan pelukan juga, tapi beberapa ibu-ibu di taman itu sudah menatapnya tajam, menuduhnya sebagai om-om genit. Astaga... Mereka tidak tau saja kalau perempuan di depannya ini adalah istrinya. Tunggu saja sampai tanggal untuk pesta pernikahan ditentukan. Ia akan pamer keliling komplek.
"Aku pasti buat kakak kecewa ya..." El panik ketika melihat Luna yang ingin menangis.
DUH!
El akhirnya meraih tangan Luna lalu menariknya ke dalam pelukan. "Tidak apa..." El mengecup kening Luna pelan. "Mungkin belum saatnya..."
Fix, sekarang semua mata tertuju pada mereka. Ini membuat El jadi salah tingkah, karena Luna masih dalam balutan seragam sekolahnya, dan El masih dalam baju kerjanya. Mereka seperti pasangan beda usia yang mengundang hujatan netizen.
"Ehm!" Luna yang sudah membalas pelukan El dengan erat sampai terkaget dengan dehaman keras El yang dibuat-buat. Luna mengangkat kepalanya, melihat El dengan mata memerah yang hendak menangis. El tidak tega sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Mereka sebaiknya melanjutkan ini di rumah, lebih aman dan lebih privasi.
"Pulang yuk...." El berbisik pelan di telinga Luna. Tanpa menunggu, ia bangkit dari duduknya dan berdiri di sebelah Luna. Ia menggenggam tangan cewek itu lalu menariknya pelan, mengajaknya berdiri juga agar mereka bisa segera pergi.
Luna mengerti apa yang diinginkan El, dia berdiri dan melangkah mengikuti, meninggalkan tatapan orang-orang yang sedari tadi penasaran dengan drama yang mereka buat.
Sesampainya di rumah, El langsung membawa Luna masuk ke kamar. Tapi mami sudah menunggunya di sana. "Ada apa?" tanyanya penasaran. "Kalian berlari kesana-kemari seperti sedang syuting film India saja..." Mungkin memang bukan waktu yang tepat untuk merasa begini. Tapi El berpikir ucapan mami itu lucu dan ia merasa sedikit terhibur dengan itu.
"Maaf mi, nanti saja ya..." El mendorong mami keluar kamarnya.
"Ada apa sih???" Mami protes. Ia merasa sebal, dialah satu-satunya orang yang tidak mengerti keadaan yang terjadi saat ini.
"Nanti ya, mi... Kita sibuk..."
El yang mencoba menutup pintu, dihalangi oleh tangan mami. "Sibuk apa???" tanyanya sambil berdecak kesal.
"Bikin anak..."
BLAM.
El menutup pintu cepat lalu menguncinya. Ia berbalik menghadap Luna sekarang dan memegang kedua tangan mungil itu dalam genggamannya. Dia menatap Luna sesaat. Perempuan itu tampak bingung, apalagi saat El menaikkan kedua tangan Luna ke wajahnya lalu mengecupnya pelan.
"Mungkin sekarang belum saatnya... Tapi nanti kedua tangan ini yang kelak akan merawat anak-anak kita..." El melepaskan kedua tangannya dari Luna, lalu beralih mengelus perut Luna. "Perut ini yang akan mengandung putra-putri kita..." Kemudian dipeluknya Luna tanpa ragu. "Dan wanita ini yang akan senantiasa menyayangi mereka sepenuh hati, selamanya..." Setelah itu El mengecup kedua pipi Luna dan keningnya.
Luna membalas pelukan El terharu. Dia menyayangi El sebanyak itu. Orang yang akan selalu ia cintai sampai ajalnya menjemput nanti...
Bersambung
❤️❤️❤️LANGIT untuk LUNA❤️❤️❤️
Selamat menikmati bonus gambarnya.. Jangan lupa tip, vote, like, comment dan rate ya... Terima kasih untuk semua dukungan kalian.. Maafkan kalau aku lambat dalam update, aku masih amatir.. Iya, aku masih perlu banyak belajar.. Maklumi keterbatasan aku..
Aku sayang kalian...
❤️love_dewiluna❤️
__ADS_1