
Chapter 9: Pilihan
"Pilihlah yang sesuai kata hatimu, kalau sulit pilih jawaban A." -Luna-
"Ayo, buruan Jess..." Luna menyeret Jessika ke dapur setelah ia selesai mencuci bajunya, baju yang baru ia beli, dan tentu saja jaket Alex. Saat ini, hari sudah temaram.
"Lun, elo akan menyesal nyuruh gue masak!" Jessika menepis tangan Luna saat mereka sudah sampai di dapur.
"Gue bantuin Elo. Udah cepetan, jangan ngomel melulu, nanti keburu mama elo pulang." Luna mengeluarkan telur dari dalam kulkas.
Luna mulai membatin, sepintar-pintarnya dia, kalau cuma telur goreng pasti bisa kan? Ingat, ada majas ironi disini. Kata yang dicetak tebal.
Jessika masih melipat kedua tangannya saat Luna memberikan tiga buah telur. "Nih, pecahin terus simpan di mangkuk."
Jessika meletakkan telur dengan malas kemudian mengambil mangkuk. Luna sibuk mencuci daun bawang dan mengirisnya tipis. Setelah selesai, dia mengecek Jessika.
"Astaga... Elo ngapain?" Luna melihat Jessika sibuk mengetuk pelan telur itu di sisi meja. "Kalau begitu sampai sarapan juga ga bakal selesai!"
"Gue kan takut kekencangan, nanti kalau isinya berhamburan gimana? Ambyar! Elo tau artinya?" Jessika tidak mau kalah.
Luna mendecak kesal. "Ya udah, elo nyalain kompor aja sana!" Luna menggeser badan Jessika dan mengambil alih telur itu.
"Elo yakin nyuruh gue nyalain kompor?" Jessika bertanya takut-takut.
"Gue yakin elo ga mau rumah elo kebakaran," ucap Luna ketus.
Jessika berdiri di depan kompor lama, Luna mulai curiga.
"Tekan, putar ke kiri. Tekan, putar ke kiri." Jessika menggumam kecil seperti mengucap mantera.
"YA TUHAN...." Luna menggeleng tak percaya saat melihat temannya menonton video tutorial menyalakan kompor.
***
Luna menguap, dia ngantuk sekali. Apalagi saat sang guru menjelaskan panjang lebar tentang DNA, hanya untuk menjawab satu soal saja. Itu sungguh cobaan.
Luna melirik ke sebelahnya. Jessika bahkan sudah tertidur! Jessika hebat sekali bisa tidur dalam posisi duduk sambil memegang pena! Huh, bakat terpendam yang luar biasa!
Mereka mengantuk karena alasan. Apalagi kalau bukan karena kejadian sore kemarin. Luna masih ingat jelas. Setelah satu jam, kelas memasak selesai. Telinga Luna berdengung mendengar Jessika yang menjerit hampir setiap menit. Tapi,,, dia bersyukur karena tidak ada pecah (piring, gelas, ataupun semua benda di dapur), dan tidak ada darah (darah karena terpotong atau teriris). Semua jari-jari mereka masih lengkap dan pada tempatnya.
Luna sedang merapikan dapur dan Jessika menyiapkan makanan di meja. Mereka tinggal menunggu mama Jessika pulang. Dan bagai pucuk dicinta, mama Jessika pun tiba. Mereka duduk manis dan mulai berdoa sebelum makan. Mama Jessika memandang ke atas meja makan, ada sepiring telur dadar, dan tumis kangkung. Tampaknya bisa dimakan. Mama Jessika mengambil makan lebih dulu dan mereka membiarkannya, karena ingin mendengar penilaiannya tentu saja.
"Uhuk! Uhuk uhuk!" Mami Jessika tampaknya tersedak. Luna mulai curiga, ia pun mencoba makanan di hadapannya.
Telurnya manis! Dan sayurnya sangat asin... Luna ingin menangis karena merasa waktunya selama sejam berakhir sia-sia.
Akhirnya mereka memesan makanan secara online. Tidur mereka jadi telat karena Jessika terlalu pilih-pilih makanan.
Luna menguap lagi, dia mulai mencubiti tangannya sendiri. Bel akan berbunyi lima menit lagi tapi rasanya seperti lima jam! Mata Luna sudah semakin berat dan berat.
Lalu, antara sadar dan tidak, terdengar suara bel. Akhirnya...
Saat itu juga Jessika langsung membuka matanya dan mengajaknya ke kantin. Mereka keluar kelas bersama Reina dan Tiara.
"Tadi ngantuk banget gak, sih?" ucap Tiara sambil menuangkan sambal di mangkuknya.
"Banget...." jawab Reina dan Luna bersamaan.
"Gue sampai tidur malah," Jessika bicara tanpa dosa. "Gue udah ga tau lagi tuh guru ngomong apaan, udah absurd aja di otak gue," keluh Jessika.
__ADS_1
"Terus soal yang tadi, elo salah berapa?" tanya Tiara lagi.
"Gue salah satu," jawab Jessika.
"Hah?! Kok bisa?!!" Luna, Reina dan Tiara menatap Jessika tak percaya.
Kok Jessika lebih pintar daripada gue? Padahal kerjaannya setiap hari nyontek PR melulu, terus pacaran, makan. Bagaimana mungkin???
"Gue cuma bener tiga.." ucap Reina.
"Gue juga... Bener tiga dari sepuluh nomor! Apa otak gue ga mampu gitu?" Tiara memandang Luna sekarang. "Kalau elo, salah berapa Lun?"
"Gue salah empat..." jawab Luna. "Kok elo bisa cuma salah satu sih, Jess?!" Perasaan dongkol muncul dalam diri Luna karena temannya yang santai itu malah mendapat nilai yang lebih bagus darinya.
"Bisa dong..." Jessika menjetikkan jari. "Pilihan ganda itu spesialisasi gue..."
Luna, Reina dan Tiara tanpa sadar menunggu Jessika melanjutkan kalimatnya. Berharap ia memberitahu bagaimana dia bisa menjawab sebaik itu.
"Elo harus pakai trik..." Jessika menunjuk pelipisnya.
"Apaan triknya?" Mereka mulai tidak sabar.
"Pilih sesuai kata hati..." jawab Jessika.
"Anzelllll... Gue kira beneran!" Tiara melengos kecewa.
"Tau! Enggak bener Lo, Jess!" Reina mengibaskan tangannya tak percaya.
Luna merasa ketularan 'pintar' karena sudah mendengarkan kata-kata Jessika.
"Kalian ga percaya?! Lihat buktinya dong!" Jessika membuat mereka mengingat lagi soal tadi. "Dengerin sampai selesai makanya."
"Maksud elo?"
"Halah, susah deh ngejelasin sama orang-orang lelet kayak kalian," ucap Jessika.
Asem, sombong kali dia!
Jessika bangun dari kursi. "Gue duluan ya, gue mau cari Tyo dulu. Kemana tuh dia tumben ga nongol..."
Setelah Jessika pergi, tertinggal Luna, Reina dan Tiara. Tak lama, di ujung matanya, Luna bisa melihat Angel masuk ke kantin dengan Monika. Mudah-mudahan saja Angel sudah tidak cari masalah dengannya.
Angel menyadari kehadiran Luna, tapi sedetik kemudian ia cuma memalingkan wajahnya dan memilih pergi melangkah ke arah berlawanan.
Tumben, batin Luna. Ia mengamati Angel yang melangkah pergi. Dia ga ribut-ribut Alex lagi...
"Oh, iya!" Luna mengangetkan dua temannya yang sedang menghabiskan minuman mereka. "Anterin gue, yuk," ajak Luna.
"Kemana?" Tanya Reina.
"Kelas Alex..."
"Hah?! Ngapain?!" Tiara bertanya tak percaya. Buat apa cari-cari masalah, coba...
"Elo ga takut emang?" tanya Reina.
"Takut, sih... Tapi gue lagi ada butuh sama dia," jawab Luna. "Makanya kalian temenin gue, ya!" Luna setengah memohon.
Kedua temannya akhirnya mengangguk.
__ADS_1
Tak lama setelah pergi ke kelas dan mengambil jaket Alex di dalam Goody Bag warna pink yang pernah diberikan Alex untuknya, Luna menyusuri lorong bersama Reina dan Tiara.
"Kelas Alex yang mana?" tanya Reina.
"Gak tau gue," jawab Luna.
"Dia kelas berapa emang?" Tiara gantian bertanya.
"Gak tau juga gue..." jawab Luna lagi.
"LAH? Terus gimana ini?!" Tiara mulai enggak sante.
"Gue tanya orang dulu," Luna menghampiri seorang murid yang lewat.
"Elo pikir nanya random bisa ketemu?" omel Tiara. Yah, Jessika dan Tiara memang mirip. Kalau Jessika tidak ada, Tiara bisa menggantikannya sepertinya.
"Disana kelasnya, yang ujung," Luna menunjuk lurus.
Beneran ketemu? Tiara membatin tak percaya.
Percaya tak percaya mereka mengikuti jawaban anak yang tak sengaja lewat tadi dan masuk ke dalam kelas. Tampak ada beberapa murid di dalam. Luna bertanya kepada siswa yang duduk paling dekat dengan pintu masuk. "Eh, ada Alex gak?"
Cowok itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. "Enggak ada," jawabnya. "Tapi tadi kayaknya gue liat sih."
Luna menimbang sejenak. "Eh, boleh titip pesan ga?" Anak itu mengangguk. "Bilang tadi gue cariin dia, nama gue Luna."
"Oke..."
"Thank you, ya..."
Luna dan teman-temannya akhirnya memutuskan kembali ke kelas saja. Reina dan Tiara mengajaknya ke toilet dulu, mumpung searah. Luna mengangguk dan menunggu di luar, ia enggan masuk.
Karena dua anak itu sungguh lama di dalam, Luna memutuskan untuk duduk di tangga dekat toilet lalu mengeluarkan ponselnya.
"Kenapa cari gue?"
"MAK!" Luna menjerit kaget mendengar suara tiba-tiba. Ponselnya meloncat dari tangannya, untung saja Alex menangkapnya.
Luna memukul punggung Alex. "Elo mau bikin gue cepat mati, hah?!" Luna mengelus dadanya. "Jantungan gue..."
"Lagian elo serius banget, sih, lagi ngeliat apaan emang?" Alex memeriksa ponsel Luna. "Pekerjaan untuk anak SMA," Alex membaca keyword yang diketik Luna di mesin pencari.
Alex melipat dahinya. "Elo butuh duit?" tanyanya.
"Iya, kenapa emang?" Luna merebut kembali ponselnya.
"Buat apaan?" tanyanya lagi.
"Lagi butuh. Ngapain elo nanya-nanya?"
"Butuh banget?"
"He em..."
"Sekarang?"
"Iya... ya sekarang lah, masa iya 2 tahun lagi..."
"Ya udah, nanti ikut gue pas pulang sekolah."
__ADS_1
Bersambung