
Luna bangun sekitar jam 4 pagi dan menyiapkan sarapan untuknya dan yang lain. Bunda belum bangun, jadi dia bisa bebas menggunakan dapur. Luna juga sering diminta membantu untuk membuat sarapan. Jadi sekalian saja dia buat yang banyak, sekaligus capeknya.
Dibukanya kulkas, tidak ada bahan makanan. Hanya tersisa beberapa butir telur di dalamnya. Sepertinya Bunda belum berbelanja. Luna mengecek penanak nasi, untungnya ada isinya. Dia akan membuat nasi goreng saja sekarang. Lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia mulai mengiris tipis bawang merah dan bawang putih yang ditemukannya di meja dapur. Setelah selesai, ia memanaskan wajan dan mulai memasak.
Harum makanan sudah menyebar ke seluruh sudut dapur, jam sudah menunjukkan pukul setengah 5. Luna harus segera menyelesaikan ini kalau ia tidak mau terlambat. Ia harus mandi sebelum adik-adiknya bangun. Kalau mereka sudah bangun, antrian akan menjadi panjang dan lama. Lima menit kemudian Bunda datang dan melihat Luna yang sedari tadi terus melirik jam. Diambilnya spatula itu tanpa sepatah kata, Luna membiarkannya. Bunda pastilah akan melanjutkan masakannya. Buru-buru dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit kemudian, Luna membuka pintu kamar mandi dan mendapati Arsya yang sudah berdiri menunggu di sana. Mereka belum bertegur sapa sejak kejadian kemarin, dan Luna belum berniat untuk melakukan itu saat ini. Dia memilih untuk melewati Arsya tanpa kata lalu masuk ke kamarnya.
Setelah berpakaian, ia menyiapkan tasnya, dimasukkannya buku-buku pelajarannya dan juga jas kak El. Dia tidak mau meninggalkan barang bukti di rumah, apalagi yang akan menimbulkan kecurigaan seperti ini. Lagipula dia harus mencuci jas yang sudah ia pakai dan mengembalikannya. Tidak mungkin dicuci di rumah, ia akan membawanya ke laundry di dekat sekolah hari ini.
Sebuah bungkus plastik berwarna putih keluar dari tas Luna. Dia memegangnya sesaat. Kemarin, ketika pergi hang out bersama Rangga dia beralasan mau membeli sesuatu. Tentu saja agar tidak terlalu kentara kalau dia cuma mau mendekati cowok itu. Alhasil, Luna membeli gantungan kunci zodiak untuk dirinya sendiri dan adik-adiknya. Diambilnya satu gantungan kunci, yang merupakan miliknya, kemudian sisanya dimasukkan lagi ke dalam plastik dan disimpan di dalam laci. Luna meraih jaketnya dan keluar kamar untuk sarapan.
"Kamu udah mau berangkat?" Bunda menyapa di balik meja makan. Ada Ayah di sana.
Luna duduk di sebelah Ayah. Ia mengambil sepiring nasi dari mangkuk besar nasi goreng yang tersaji di atas meja. Jangan terlalu banyak, adiknya yang lain belum makan.
"Iya Bun. Luna mau belajar tambahan sebelum masuk kelas," ucap Luna. Beralasan. Dia sedang tidak ingin berangkat bersama Arga. Jangan sampai nanti saat dia sudah menunggu, ternyata Arga meninggalkannya. Kan, tidak lucu. Lebih baik berangkat sendiri. Cewek mandiri itu lebih keren.
Acara makan hening karena Luna memang tidak ingin bicara. Ayah pun tampak tidak keberatan dengan kesunyian dan makan dengan tenang. Selesai makan, Luna menyiapkan sebotol air minum untuk dia bawa. Lumayan, untuk penghematan. Daripada ia membeli es terus-terusan, tidak baik untuk kesehatan dan juga keuangannya.
CKREK!
__ADS_1
Arga keluar kamar diikuti Arka yang masih menguap. Mereka menatap Luna yang sudah rapi. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Seperti apa yang dilakukannya ketika bertemu Arsya, Luna hanya diam saja. Dia mempercepat persiapannya.
"Kakak udah mau berangkat? Enggak bareng sama aku?" Arga menyapa Luna duluan. Ia bingung melihat kakaknya yang sudah rapi padahal jam masih menunjukkan pukul 5.30.
"Enggak..." Luna berucap pelan. Kemudian beralih pamit ke Bunda. "Berangkat dulu ya, Bun.." Dia melangkah cepat menuju pintu keluar.
***
"Elo kenapa sih Lun? Lemes amat, kayak batang seledri?" Tyo bergurau garing. Bahkan Luna sampai kehabisan kata-kata buat nanggepin celotehannya Tyo.
"Nggak papa, Yo... I am good..." Luna mengacungkan jempolnya, kemudian tenggelam lagi di mejanya. Sekarang waktu istirahat, Luna malas ke kantin, lagipula dia merasa tidak lapar.
"Makasih, sayang..." jawab Luna. Jessika yang mendengarnya bergidik seketika, bulu kuduknya sampai meremang. Dia tidak mau menjawab ucapan Luna. Lebih baik ke Tyo saja, yang jelas-jelas adalah pacarnya.
"Nih, ay, siomay pesenan kamu." Jessika memberikan sekantung plastik makanan yang berhiaskan bumbu kacang itu. Tyo tersenyum senang menerimanya.
Jessika pun membuka batagor jajanannya dan mulai makan, begitu pula Tyo. Mereka sengaja tidak nongkrong di kantin karena kasihan melihat Luna yang tampak sangat merana saat ini. Lihat saja kantung mata itu, dan wajah kucelnya. Pasti terjadi sesuatu.
"Elo kenapa sih Lun? Cerita sama gue bisa kali..." Jessika mulai sebal sama Luna yang tidak mengatakan apa pun walaupun dia sudah menunggu. Dia merasa aneh saat pertama kali masuk kelas dan melihat Luna sudah duduk manis di sana. Padahal kan Luna murid yang on time, tepat waktu, alias senang datang mepet.
"Enggak apa, Jess.... Ai em faiiinnnnnn...." Luna mengacungkan dua jempol sekarang.
__ADS_1
Jessika cuma bisa mendengus kesal. "Ya udah, minum jus elo tuh. Udah gue beliin capek-capek, sampe ngantri segala." Jessika mengomel bawel yang disambut dengan muka bahagia Luna sambil minum jus. Ia tidak mengatakan kalau jus itu dari Arga. Tadi waktu dia ke kantin, Arga mencegatnya dan meminta tolong padanya untuk memberikan jusnya ke Luna. Jus kesukaan kakaknya.
"Iya, makasih ya sayang..." Luna memeluk Jessika dan bergelayut manja. "Tadi aku udah bilang loh, sama ini udah dua kali."
"Apaan sih elo, Lun. Geli tau!" Jessika mengungkapkan kejijikannya kali ini, karena ia sudah tidak bisa menahannya. Temannya mulai bertindak menyeramkan. Dia masih suka laki-laki.
Tapi meskipun bilang begitu, Jessika tidak menolak Luna dan membiarkan Luna bermanja-manja di pundaknya. Sekali ini saja mungkin, karena ia sedang baik.
"Ah, kok gue merasa jadi orang ketiga sih?! Balik, ah!" Tyo angkat kaki karena merasa Luna butuh waktu bersama Jessika. Terkadang dia bisa menjadi teman yang peka dan perhatian, jika dia menggunakan otaknya.
"Jadi kenapa?" Jessika melepaskan tangan Luna yang masih bergelayut manja di pundaknya. Ditatapnya lekat kedua bola mata temannya itu. Tampak kesedihan di sana. Luna tidak menjawab, ia malah mengalihkan pandangannya dari Jessika.
Jessika memutar bola matanya jengkel. Kesal karena Luna masih bertingkah jual mahal segala. Dia mencubit kedua pipi temannya lalu menggoyangkannya gemas, membuat bibir Luna maju beberapa senti.
"Tyo udah pergi tuh, buruan cerita!" ucap Jessika. Luna masih diam.
Perlu dipancing rupanya...
"Gara-gara Rangga?"
Bersambung...
__ADS_1