Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 59


__ADS_3

Chapter 59: Perpisahan


"Tidak ada kata berpisah, selama kita saling mengingat..." -Luna-



"Jadi, kenapa kalian ada di sini juga?" tanya Alex sambil memicingkan mata ke arah Luna dan ketiga sahabat perempuannya, Jessika, Reina dan Tiara.


"Ya... Jadi... OSIS tadi baru kasih tau kalau ada pengisi acara perpisahan yang tiba-tiba batalin. Katanya anggota mereka ada yang cedera parah di rumah sakit, jadi enggak akan bisa isi acara minggu depan..." Luna menjadi juru bicara sekarang. Mereka sedang berada di studio musik Alex. Hampir setiap hari memang Luna berlatih di sana untuk mengisi acara saat perpisahan mereka nanti.


"Terus...?"


"Ya, terus kita mengajukan diri buat menggantikan yang harusnya tampil itu..." Luna tersenyum tegang. Rasanya seperti diadili saat ia tidak mengerjakan PR dengan alasan lupa.


Luna menarik nafas panjang, lalu memasang wajah polos memelasnya. "Bantuin kita..." lanjutnya. Dengan penuh harap.


Alex menaikkan sebelah alisnya. "Jadi... Kalian pikir, ada yang bisa kalian lakukan untuk mengisi acara? Dengan waktu latihan seminggu...?" ejeknya. Luna meminta hal yang sangat sulit. Manggung dengan banyak orang amatir yang bahkan belum pernah tampil? Dengan waktu latihan cuma seminggu? Kalau tidak mustahil, maka perlu ada proses dengan darah dan air mata.


Hati Luna sampai mencelos karena ucapan Alex. Dingin dan menusuk. "Ya sudah kalau enggak mau bantu gak usah ngeledek!" Luna menendang kaki Alex kesal. Dia juga sadar kalau hampir tidak mungkin. Tapi, dia bisa apa? Tak kuasa dia melihat Reina yang datang dengan mata berkaca-kaca padanya. Memelas dan memohon agar ia bisa membantu Arga yang kesulitan mencari pengganti untuk perpisahan nanti. Luna paling tidak kuat dengan tatapan memelas. Ia langsung mengiyakan saja dan akhirnya mereka terdampar di sini.


"AW! Sakit, kak!" Alex mengaduh sambil mengusap bagian kakinya yang baru saja ditendang Luna. Tidak begitu sakit, sih, dia hanya berakting saja barusan.


"Entah kenapa gue selalu kaget dan gak terima setiap Alex manggil elo 'kak'...." Jessika mendecak kesal. Kesal dan iri di saat yang sama. Sebagai tambahan, rasa ini berkelanjutan.


Gerutuan Jessika cuma disambut dengan senyum tipis Alex. Cowok itu kemudian berdiri di hadapan keempat gadis berseragam SMA. Badannya yang menjulang membuat mereka mundur selangkah. Entahlah, hanya refleks semata karena tiba-tiba ada perbedaan besar di antara mereka, membuat mereka ciut.


"Aku tanya dulu, kakak mau aku bantuin apa?" Alex bertanya balik kepada Luna dan teman-temannya, memandangi mereka satu-persatu, menunggu jawaban. Tapi setelah beberapa menit berlalu, tidak ada suara sedikit pun, membuat Alex terpaksa menghela nafas. "Kalian bahkan enggak tau mau minta bantuan apa...." Alex memutar bola matanya malas.


"Menyanyi.....?" Luna akhirnya menjawab. Menyanyi adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Entah bagaimana dengan teman-temannya yang lain. Ia harap mereka bisa juga.


"Menari?" tanya Tiara. "Gue pernah ikutan modern dance waktu SMP dulu..." Dia mengelus dagunya sedikit, mencoba mengingat-ingat masa itu. "Tapi gue jarang masuk, sih... Hehehe..."


Minta dicium sendal ini bocah... Luna membatin kesal. Dia mulai hilang harapan. Ditambah dengan rasa malu yang ikutan menerjang. Gayanya saja yang keren, minta bantuan. Yang ada malah nanti menjadi bantuan 99% dengan 1% bakat.


"Gue bisa main piano..." Jawaban Reina membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya. Bakat terpendam yang tidak pernah diucapkan Reina. Penyelamat dari rasa rendah diri untuk Luna.


"Serius?" Ada binar bahagia di mata Alex. Reina mengangguk mantap. Setidaknya ada seorang yang memiliki 'sesuatu'.


"Gue belum pernah mencoba melakukan sesuatu dalam hidup gue..." Jawaban jujur Jessika membuat Alex menghela nafas panjang, lagi. Teman Luna yang ini, selain setia kawan, Alex tidak mampu melihat kelebihan apapun dalam dirinya.


"Tapi gue bisa make up..." ucap Jessika mencoba menyelamatkan harga dirinya.


Setidaknya dia cukup pandai dalam melakukan sesuatu, selain makan dan tidur. Luna sudah pasrah.


Sekarang Alex mengusap dagu, ia berpikir keras. Menyanyi + Menari + Piano + Make up \= ....


Mamvus, gue enggak bisa mikir... Lelaki itu memaki dalam hati.


Alex melangkah pelan ke pintu keluar. "Gue keluar beliin minum buat kalian dulu. Duduklah..." Ia mencoba kabur dari sana. Kalau saja yang meminta bantuan itu bukan Luna, pasti dia sudah menolak dan mengusirnya.


"Apa ya..." Alex benar-benar merasa buntu. Dia menyerah dan memutuskan untuk melakukan kecurangan dengan bertanya pada situs pintar di jagat maya. Jarinya mengetikkan kata kunci pencarian.


Setelah hampir setengah jam mencari, Alex semakin bingung. Mereka, setengahnya, 2 dari 4 orang, sepertinya hampir tidak memiliki bakat yang layak untuk ditampilkan. Alex harus memilih jalan pintas. Cara cepat dan cerdas. Dia harus ikut membantu...


Alex mengambil empat botol minuman yang ia beli, lalu melangkah mantap kembali ke ruangan tempat ia keluar tadi. Dilihatnya semua perempuan itu sedang duduk dan mengobrol tanpa dosa. Mereka bahkan tidak terlihat berpikir sama sekali. Detik ini, untuk pertama kalinya, Alex merasa kalau dirinya rajin. Dia bekerja di saat yang lain santai. Teladan.


Alex duduk di tengah ruangan dengan kaki bersila. Ia melambaikan tangannya, memberikan isyarat, meminta semua perempuan itu mendekat padanya. "Kesini..." perintahnya tanpa ragu.


Luna menyusul Alex duduk di atas karpet tebal itu. Temannya yang lain mengikutinya di belakang. Tampaknya sudah dimulai. Alex akan memberikan bantuan, memberi tau apa yang harus mereka lakukan. "Dengarkan dan jangan bicara kecuali gue kasih kesempatan..." Alex cukup seram, membuat mereka otomatis mengangguk patuh.


"Kalian.... Gue bakal bantu jadi backing kalian... Kita... Kita bakal tampilin lagu, tapi dengan tambahan akting..."


"Maksud?" Jessika menyela pembicaraan, membuat Alex menatapnya tajam. Karena Alex tampan, Jessika setuju untuk diam dan mengunci mulutnya.


"Menampilkan sebuah lagu... Seperti drama musikal, tapi tidak sekompleks itu..." Luna mengangguk mengerti. Teman-temannya pun juga sepertinya sudah paham maksud Alex.


"Ini lagunya..." Alex menunjukkan ponselnya yang menyala, menampilkan sebuah judul lagu di sana. Semuanya tampak kaget melihat judul itu. Mereka sepertinya lupa atau malah tidak tau apa pernah mendengarnya atau tidak.


"Tugas kalian sekarang, cari cover lagu ini yang bisa kita adaptasi buat manggung. Gue yang bakal atur lirik yang kalian nyanyiin. Sejam beres ya. Habis itu kita langsung latihan. Gue mau dengar suara kalian..."


"WHAT?!" Jessika dan Tiara memekik bersamaan. Ada kalanya memang mereka kompak, seperti sekarang.


"Gak kecepatan tuh..." protes Tiara.


"Kalian mau gue bantuin enggak? Kalau mau jangan banyak bac*t!" Bentakan Alex membuat Jessika dan Tiara terdiam.


Hilih, galaknya...


***


Hari perpisahan tiba. Luna merasa perutnya mulas sedari tadi pagi. Selalu begini kalau demam panggung. Dan hari ini lebih parah, karena ia harus tampil di depan teman-temannya sendiri, yang jelas-jelas mengenal dirinya. Tekanannya 100 kali lipat lebih berat dibanding ngamen di jalan.


"Hhhh....." Alex tidak bisa mengabaikan helaan panjang yang berasal dari Luna. Pasti lagi nervous, batinnya.


"Tenang aja..." Alex menepuk pundak Luna beberapa kali. "Anggap--


"Anggap mereka semua sayuran!" Luna mengucap mantra ajaib. "Atau mungkin udara lebih baik... Udara tidak terlihat..." ucap Luna, berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Tidak..." Alex menggeleng lalu mengusap kepala Luna perlahan. "Untuk kali ini tidak begitu, kakakku sayang..." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Untuk hari ini spesial. Lihatlah mereka apa adanya, dengan sebenar-benarnya. Mereka adalah teman yang selama ini sudah berjuang bersama-sama..." Luna terhenyak sesaat. Ia mengerti maksud Alex. Ini adalah acara perpisahan. Saat terakhir mereka bersama, dalam balutan pakaian serupa. Luna menatapi seragam putih abu-abu yang melekat di badannya.


"Saat terakhir ini, buatlah menjadi yang paling berkesan... Yang paling baik diantara yang terbaik... Itu tugas kita sekarang..."


Alex menoleh ke sekeliling. Ada Jessika, Reina dan Tiara di dekat mereka. "Itu berlaku untuk kalian juga. Anggaplah ini yang terakhir. Lakukan yang terbaik. Karena ini adalah perpisahan. Kita ingin memberikan ucapan terakhir yang menyenangkan, yang akan membuat kita tersenyum...."


"Siap bosqu...." Tiara mengacungkan kedua jempolnya.


"Reina, pastikan semuanya lancar ya..." Alex menunjuk Reina sebagai yang paling dapat dipercaya. Entah mengapa dia tidak bisa yakin dengan dua Jessika dan Tiara, mereka terlalu... terlalu... santai...


"Gue sama Luna masuk duluan... Setelah itu, kalian, Sweet Besties, masuk..." Reina, Jessika dan Tiara mengangguk mengerti. Mereka harus siap sekarang. Penampilan perdana, Sweet Besties, yang mungkin bisa jadi yang terakhir juga... Haha...


"Tos dulu," ajak Tiara. "Biar kompak...."


Kelima orang itu menyatukan tangannya di tengah-tengah mereka. "Satu, dua, tiga....SWEET BESTIES!!!"


Alex terkekeh setelahnya. "Untung aja gue sweet... Kalau enggak udah pada muntah kali..." Tawa mereka membahana setelahnya.


"Giliran selanjutnya, masuk..." Koordinator acara memanggil Alex dan Luna. Sekarang waktunya mereka tampil.


Alex menggandeng Luna menuju panggung. Setelah sampai di posisi mereka, Luna menatap ke segala arah. Lautan anak SMA, teman-temannya yang selama ini selalu bersama. Dia tersenyum kecil. Dan semakin melebar ketika melihat ada satu yang berbeda. Siapa lagi kalau bukan suaminya, El, yang tampak mencolok dalam setelan casual. Bersyukur ia membawa tim keamanan bersamanya, kalau tidak pasti lelaki itu sudah dikerebungi cewek ABG labil.


Alex memulai aksi panggungnya. "Beratus hari yang terlewat bersama kalian, sekarang nampak semu..."


"Tapi satu hal yang nyata ada di genggamanku... Dalam hati kita... Itu bernama persahabatan yang satu..."


(Sebuah Kisah Klasik-Sheila on 7)


Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali🎶


Kita berbincang tentang memori di masa itu🎶


Peluk tubuhku usapkan juga air mataku🎶


Kita terharu seakan tidak bertemu lagi🎶


Bersenang-senanglah🎶


Karena hari ini yang 'kan kita rindukan🎶


Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan🎶


Bersenang-senanglah🎶


Karena waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua🎶


Semoga kita selalu🎶


Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan🎶


Semoga kita selalu🎶


Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan🎶


Bersenang-senanglah🎶


Karena hari ini yang 'kan kita rindukan


Di hari nanti🎶


Mungkin diriku masih ingin bersama kalian🎶


Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian🎶


Suasana berubah haru saat Luna dan Alex menyanyikan penutup lagu. Tapi sayang, yang barusan bukan akhir. Suara musik ceria kembali berdentum. Jessika muncul sambil melangkah riang dalam seragam sekolah mereka, disusul dengan Reina dan Tiara.


"SWEET BESTIES!!!!" Pembawa acara mengumumkan kedatangan mereka.


(Ingatlah Hari Ini-Project Pop)


Jessika mulai menyanyi pertama. Dia melangkah ke tengah panggung.


Kawan dengarlah🎶


yang akan aku katakan🎶


Tentang dirimu🎶


Setelah selama ini🎶


Ternyata kepalamu🎶


Akan selalu botak🎶


Eh, Kamu kaya gorila🎶


Jessika menunjuk ke arah Tiara, yang disambut dengan bibir cemberut.


Tiara membalas ledekan Jessika.

__ADS_1


Cobalah kamu ngaca🎶


Itu bibir balapan🎶


Jessika membalas Tiara lagi.


Dari pada gigi lu🎶


Kayak kelinci🎶


Dia melanjutkannya ke Reina.


Yang ini udah gendut🎶


Suka marah-marah🎶


Dan sekarang meledek Luna.


Kau cacing kepanasan🎶


Reina menjadi penengah dan masuk di antara mereka.


Tapi ku tak perduli🎶


Kau selalu di hati🎶


Reina merangkul ketiga temannya lalu mereka tersenyum bersama. Setelahnya keempat perempuan itu mengambil posisi di tengah panggung, menghadap penonton seolah berbicara pada mereka semua.


Kamu sangat berarti🎶


Istimewa di hati🎶


Selamanya rasa ini🎶


Jika tua nanti Kita t'lah hidup masing-masing🎶


Ingatlah hari ini🎶


Sekarang bagian Reina, dia memasang muka sedih dan menyanyi. Suara lembutnya nyaman didengar telinga.


Ketika kesepian menyerang diriku🎶


Gak enak badan resah tak menentu🎶


Ku tahu satu cara sembuhkan diriku🎶


Ingat teman-temanku🎶


Luna datang merangkul Reina, memeluknya.


Don't you worry just be happy🎶


Temanmu di sini🎶


Reina menuju sudut panggung, tempat ia menyimpan bertangkai-tangkai bunga mawar merah. Diambilnya semuanya, lalu ia bagikan pada Luna, Jessika dan Tiara. Mereka turun ke panggung lalu membagikan bunga itu satu-persatu kepada penonton, yang tak lain adalah teman mereka juga. Kali ini, giliran Alex yang menyanyi, menjadi backingan mereka. Terus bernyanyi sambil menutup acara.


Kamu sangat berarti🎶


Istimewa di hati🎶


Selamanya rasa ini🎶


Jika tua nanti Kita t'lah hidup masing-masing🎶


Ingatlah hari ini🎶


Bersambung


Untuk Sahabat Online dewiluna..


@Joyz (uyut yang lucu)


@Papi (sekelompok makhluk aneh)


@Fasih (kakak yang baik hati)


@Didi (Abang yang paling gemes)


@Eyja (onty tersayang)


@Khay (saudara kembar tercinta)


@Gemini (gege admin kesayangan)


@Kikan @Peyyem @Glad (n the gank 😂)


@Semua anggota Black Swan ✨BS✨dan teman-teman lain yang maaf kalau aku tak bisa sebutkan satu-persatu.. (kalian semua spesial buatku)


Percayalah, kalian LEBIH dari sekedar teman... Terima kasih atas waktu indah bersama kalian... Love you more... ❤️

__ADS_1


__ADS_2