
Chapter 42: Kabar
"Kalau kau mencintaiku, sayangi juga keluargaku..." -Luna-
Luna dan El sudah tiba di rumah sejak tadi. Sekarang El sedang menunggu Luna keluar dari kamar mandi. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berlapis sprei berwarna navy polos itu.
CKLEK.
Pintu terbuka dan Luna keluar dengan pakaian lengkap. Selalu seperti itu, membuat El menghela nafas kecewa. Tidak pernah ada momen ia melihat Luna hanya terlilit handuk saat keluar dari kamar mandi.
"Sini, Luna." El menarik tangan Luna sampai gadis itu duduk di sebelahnya.
"Kenapa, kak?" tanya Luna. Ia memegangi handuk di kepalanya karena rambutnya masih basah. "Aku mau keringin rambut dulu." Luna menunjuk-nunjuk pengering rambut yang ada di atas meja riasnya.
El cemberut sesaat kemudian terpaksa mengiyakan. Suara dengungan halus dari mesin yang mengeluarkan uap panas itu bergema di seluruh kamar. El hanya memperhatikan Luna dari balik tab yang dipegangnya. Hatinya masih dongkol saat sebelumnya ia mendapati gadisnya sedang dirayu lelaki lain.
Huh! Teman apanya!
Belum selesai Luna mengeringkan rambut, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dia menghentikan kegiatannya sejenak kemudian mengambil ponsel yang masih ada di dalam tasnya. Luna menatap layar ponsel yang berkedip menampilkan nama Reina.
📞 Halo?
📞 Lun, tolongin. Gue ada di kantor polisi.
📞 APA?!
Luna memekik kaget. Ia berdiri seketika tanpa disadarinya.
El melarikan bola matanya ke arah Luna. Pekikan Luna tentu saja mencuri perhatian El, tapi ia hanya mengawasi dalam diam.
📞 Jangan nangis. Gue kesana sekarang.
Panggilan terputus.
Dalam secepat kilat Luna mengeringkan rambutnya, kemudian menyambar pakaian di dalam lemari. Ia berlari ke kamar mandi untuk berganti baju dan sudah siap beberapa saat kemudian. El masih menatapnya, menunggu apakah Luna akan berbagi masalah dengannya, yang ia harap seperti itu.
__ADS_1
Langkah Luna terhenti sesaat. Ia menatap El ragu, lalu menghampiri pria itu perlahan.
"Kak," panggil Luna pelan.
"Hm?" El sengaja masih memfokuskan pandangannya ke layar persegi panjang itu.
"Bisa bantu aku?" tanya Luna pelan.
El meletakkan benda hitam itu kemudian menatap Luna yang matanya sudah dipenuhi kekalutan. "Ada apa?" tanyanya.
"Teman aku, ditangkap polisi."
El melotot tak percaya. Dia tidak menyangka masalahnya akan seserius ini. "Tunggu," ucap El seraya mengelus kepala Luna sekilas. Ia segera bersiap dan menggandeng Luna saat ia selesai.
Perjalanan berlangsung hening. Luna tak henti-hentinya memanjatkan doa dari kursi penumpang dalam mobil yang dikendarai Kris. Dia tidak tau apa yang terjadi dan mudah-mudahan saja ini tidak seburuk bayangannya.
Setelah tiba di sana, Luna malah menggumam tak karuan. Otaknya sudah hang. Dia sudah tidak memikirkan apa pun saat melangkah masuk ke dalam bangunan itu. Untung saja El memeganginya erat, kalau tidak dia sudah terseok-seok saat berjalan tadi.
Luna merasa sangat takut, ini levelnya jauh lebih tinggi dibandingkan Ruang BP ataupun Ruang Kepala Sekolah. Anak baik-baik sepertinya tidak pernah bermimpi untuk masuk kesini.
"Rei..." Luna menggenggam tangan Reina erat. Tangan yang sama besarnya dengan miliknya itu memiliki suhu yang berbeda, lebih dingin.
"Lun, so-sorry. Gue enggak tau apa-apa...." Reina berbicara diiringi isak tangis tertahan. Luna mendengarkan dengan sabar.
"Gue enggak tau, tiba-tiba polisi datang terus bawa kita kesini..." Luna memeluk Reina, mencoba menenangkannya.
"Arga ternyata make... Gue enggak ngerti karena gue enggak tau," sambung Reina. Reina mendekap Luna semakin erat, membiarkan air matanya membasahi baju temannya itu.
Luna mencerna kata-kata Reina satu-persatu. Kata 'Arga' dan kata 'pakai'. Sesaat setelah ia sadar, ia menarik badan Reina menjauh. "Maksud elo? Arga...?"
Reina mengangguk sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya. Luna menutup mulutnya tak percaya. Dia tidak menyangka kalau adiknya sudah tersesat terlalu jauh.
El yang dari tadi hanya diam membaca suasana mulai memberikan perhatiannya saat Luna menarik ujung bajunya.
"Kak..." El bisa mendengar suara Luna yang menggema lirih. Begitu saja sudah membuat hatinya trenyuh.
__ADS_1
"Tolongin adik aku," pinta Luna.
El terdiam. Ia memandangi Luna yang sekarang sudah bermata sendu. Tangannya menggapai wajah Luna lalu mengelusnya sayang.
"Kakak sayang sama aku kan?" tanya Luna pelan. Ditatapnya El, langsung ke kedua bola matanya yang berwarna cokelat tua itu.
El tidak menjawab, ia tau apa yang ada di dalam pikiran Luna. Luna meletakkan tangannya di atas tangan El yang sibuk mengelus pipinya. "Kakak Langit enggak sayang sama Luna?"
El mengatupkan mulutnya rapat, ia masih belum ingin bersuara.
"Kalau kakak sayang sama aku, kakak harus sayang sama keluarga aku juga..." Luna yang tadinya berniat tidak ingin menangis, akhirnya air matanya luruh juga.
El memperhatikan tetesan air mata yang jatuh perlahan di pipi Luna. Ia menggerakkan kedua tangannya bersamaan, menyentuh pipi Luna, mengusapnya pelan untuk menghapus air mata itu.
"Tentu saja kakak sayang sama kamu..." El menarik Luna dalam pelukannya.
"Sudah jangan menangis..." El menepuk punggung Luna pelan. "Setiap tangisanmu menusuk hati kakak, sayang..." Dikecupnya ujung kepala Luna.
Luna yang sudah tenang menjauh dari El, menatap El, menuntut jawaban. "Iya, kakak tau," jawab El. Dia sudah mengerti apa yang diinginkan Luna, membebaskan adiknya dari tempat ini, mengeluarkannya sekarang juga.
Ia membiarkan Luna duduk kembali bersama Reina. Luna cuma bisa menatap El dan Kris yang pergi masuk ke bagian gedung lain, meninggalkan Reina dan dirinya di sana.
Luna beralih ke Reina. "Rei, sekarang, elo harus ceritain ke gue, semuanya. SE-MU-A-NYA. Jangan ada yang ditutupi satu pun."
Reina menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya pada Luna. Dia mengambil nafas banyak, mengatur suaranya agar bisa terdengar jelas.
"Ta-tadi, gue minta jemput sama Arga. Karena dia enggak datang juga, gue telepon. Gue samperin ke tempatnya." Reina menarik nafas panjang. "Terus gue lihat dia kayak gitu, gue enggak ngerti. Habis itu polisi datang..."
Luna mengusap pundak Reina pelan. "Iya udah... Enggak apa... Itu bukan salah elo..." Dipeluknya tubuh Reina lagi, mencoba mengalirkan ketenangan. Padahal dirinya pun sama paniknya, sama sedihnya dan sama kalutnya.
"Lun, gue mau minta maaf sama elo." Reina menghapus air mata di pipinya. "Gue sama Arga udah bohong. Kita enggak pernah benar-benar jadian. Gue yang manfaatin Arga. Gue bilang kalau elo pasti cemburu kalau dia jadi pacar gue."
Luna sudah menduganya, dia merasa aneh kalau adiknya tiba-tiba pacaran.
"Arga belum bisa terima elo jadi milik orang lain, Lun..." Reina berucap pelan. "Elo harus yakinin dia, kalau kalian cuma saudara. Enggak bisa lebih..."
__ADS_1
Bersambung