Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
Prolog Season 3


__ADS_3

PROLOG


"Ada yang bilang, hidup harus mengikuti arus takdir... Dan untuk saat ini, kemanakah takdir membawa hidupku?" -Luna-


Luna menatap sekali lagi buku yang ada di hadapannya. Dia pasti sudah gila...



Apalah semua ini kalau bukan karena Alex yang mengajaknya? Kuliah di luar negeri? Yang benar saja? Bekerja pasti lebih baik...


Luna menyimpan buku panduan yang baru saja ia dapatkan dari pameran pendidikan yang ia datangi bersama Alex. Mereka sekarang sudah resmi lulus dari Sekolah Menengah Atas, harusnya memang melanjutkan kuliah. Tapi.... tapi.... Luna sudah berulang kali mengatakan kalau ia tidak ingin melanjutkan kuliah.


Terserahlah, paling juga tidak akan lulus tes...


Setelah memasukkan buku itu, ia menutup laci mejanya dalam sekali hentakan. Karena lelah, Luna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Belajar di luar negeri... Ah, pasti menyenangkan...


***


"Kak...."


Luna menolehkan kepalanya ke arah Alex. Saat ini, mereka sedang membakar ayam di depan kolam renang di rumah Papi El. Seluruh adik Luna datang, lengkap dengan gurauan dan kerusuhan yang mereka bawa bersama mereka.


"Aku mau tanya sama kakak..." Alex mengambil kuas oles dari tangan Luna lalu meletakkannya di meja. Ia menarik Luna menjauh dari kerumunan. El yang melihatnya sedikit mengernyitkan dahi, tapi ia membiarkannya. Alex bukan orang lain.

__ADS_1


"Tanya apa sih? Sampai mojok segala..." Luna merasa aneh pada Alex. Padahal kan sedari tadi juga dia sendirian, kenapa harus melipir lagi? Tidak ada yang akan mendengar mereka.


"Mana ponsel kakak?" tanya Alex sambil menengadahkan tangan.


"Di kamar... Kenapa? Kamu enggak punya pulsa?"


"Dih..." Alex memutar matanya. "Di sini kan ada WiFi, kenapa juga aku harus minta pulsa..."


"Eh iya... Terus kenapa?" Luna bertanya lagi. Kalau bukan pulsa lantas apa.


Alex mengeluarkan ponselnya dari saku. Layar menyala terang saat ia mengaktifkannya. Dia membuka email yang masuk lalu menunjukkannya kepada Luna. "Apa kakak mendapatkan mail ini?"


Luna menatap Alex sambil menutup mulutnya rapat.



"Em... Entahlah.. Kakak belum cek..." Jawab Luna singkat.


"Ceklah dulu, kak... Atau kakak log in saja di punyaku. Nih..." Alex menyodorkan ponselnya, tapi Luna menolaknya. "Cepatlah kak, aku penasaran..."


"Paling juga tidak diterima Lex... Aku bahkan mengerjakan tesnya asal..."


"Yah, lihat saja dulu..."


Pasrah, Luna mengangguk lalu meraih ponsel milik Alex. Ia mengetikkan beberapa kata lalu layar ponsel itu merubah tampilannya dalam sekejap.

__ADS_1


"Mana? Mana?" Alex yang tak sabar merebut ponsel dari tangan Luna, setelahnya ia mulai bergumam sendiri.


"Kak..." panggilnya pelan.


"Hm..." Luna tampak tak begitu tertarik, ia sudah mengambil langkah ke meja tempatnya mengoles mentega tadi.


"Kakak diterima!" Pekik Alex senang. "Kakak juga dapat tawaran beasiswa!!! CURANG!"


"Apa? Apa kamu bilang barusan?" Luna secepat kilat merebut ponsel yang ada di tangan Alex, kemudian membacanya perlahan.


Tidak mungkin... Tidak mungkin kan...


"Wah, kakak ternyata sepintar itu..." puji Alex.


Tidak mungkin kan... Lalu bagaimana dengan adik-adik? Arga? Arka? Arsya? Arya?


"Aku iri, kakak bisa gratis... Tampaknya ini azab malas belajar... Hahahaha..." Alex mulai berbicara dan tertawa sendiri.


"Bicara apa?" El yang dari tadi penasaran akhirnya mendekat. Dia melihat layar ponsel yang dipegang Luna menyala terang.


"Kamu daftar di sana?" El bertanya pada Luna.


"Iya, kak... Diterima, loh... Dapat tawaran beasiswa pula... Ternyata kakak bukan cuma cantik, tapi juga pintar... Andai saja bukan kakakku..." Alex terus berkomentar senang, mengabaikan kedua orang di depannya yang saling tatap.


"Kamu mau kuliah di sana?" El bertanya pada Luna yang tampak tidak bergeming. Luna menatapnya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Sydney... Lalu, bagaimana dengan kak El?


Bersambung


__ADS_2