Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 6


__ADS_3

Chapter 6: Peraduan


"Padamu, aku bisa menunjukkan semuanya."


-Luna-


Luna menggosok bibirnya kasar sepanjang jalan. Dia kabur dari sekolah. Karena waktu sekarang masih jam istirahat, pengawasan guru lebih longgar dan Luna bisa keluar tanpa masalah.


"Elo mau kemana?!" Alex menarik tangan Luna. Dia daritadi hanya mengikuti Luna, tapi sekarang Alex merasa dia perlu menghentikannya karena mereka sudah terlalu jauh dari sekolah.


Luna menatap Alex dalam diam. Dia sedang tidak ingin bicara apapun.


"Tunggu disini! Gue anter!" Alex mengancam Luna.


Gue mau pergi.


"Gue udah nyelametin elo! Diam disini sebagai ucapan terima kasih!" ucap Alex lalu langsung berlari pergi, kembali ke arah sekolah.


Luna mendengus kesal. Dia marah, dia kecewa dan kesal luar biasa. Luna menendang angin sembarangan. Dia sungguh tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Dicium oleh adiknya sendiri! Apa itu masuk akal?! Bahkan kalau Alex tidak menolongnya tadi, hal yang lebih buruk mungkin saja terjadi!


Menjambak rambutnya kasar, Luna menggeram frustasi. Adiknya sudah mendorongnya ke tepi jurang. Dia sudah diusir dari rumah, dan kalau hal ini sampai terbongkar apalagi yang lebih buruk mungkin terjadi?


Luna memikirkan El. Kak El yang sudah jelas-jelas pacarnya saja belum pernah menciumnya, apalagi mencium dengan paksa! Kak El pasti kecewa,,, atau marah?? Apa kak El akan membuangnya juga?


Luna sudah berjongkok di tepi jalan, dia masih menarik rambutnya kesal. Apa yang akan dikatakan El kalau dia tau? Kalau Bunda mungkin langsung menamparnya, tapi kak El?


Luna bangkit berdiri, dia menenangkan dirinya. Mungkin dia tidak perlu bilang ke El? Mungkin dia lebih baik bersikap tidak terjadi apa-apa? Tapi El selalu tau apapun yang Luna pikirkan! Mana yang lebih baik? Mengaku atau berbohong?


Alex memarkirkan motornya di samping Luna. Dia memberikan jaket dan helmnya. "Pakai," ucapnya.


Luna memakai helm itu, tapi mengembalikan jaketnya kepada Alex. "Elo lebih butuh, nanti elo bisa sakit," ucap Luna.


Salah satu poin lebih yang tidak disadari Luna ada pada dirinya adalah keperdulian. Dia selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.


"Elo lebih butuh, gue bisa liat dada elo dari sini." Alex menunjuk ke seragam Luna yang sudah tak berbentuk. Lengannya sobek dan kancing paling atas sudah pergi entah kemana.


Luna terkesiap lalu memegangi seragamnya erat, menutupi bagian dadanya yang ia tidak sadari dari tadi. Ia mengambil jaket hitam itu kemudian memakainya. Tampak kebesaran untuk badan kecilnya, tapi tak masalah. Alex malah tersenyum puas melihatnya.


"Naik," ucap Alex sambil membantu Luna naik ke atas motor besarnya.


Luna sudah duduk di motor Alex lalu berpegangan pada seragam Alex yang berkibar saat motor berjalan.


"Elo mau kemana??" Alex berteriak kencang untuk mengalahkan suara angin yang menerpa mereka.


"Gedung Andhra Karya," jawab Luna tak kalah kencang.


Alex mengangguk mendengarnya kemudian melajukan motornya semakin cepat.

__ADS_1


***


Luna menepuk pundak Alex. "Udah di sini aja," ucapnya langsung turun dari motornya.


"Elo mau kemana?" tanya Alex.


"Gue mau masuk. Elo balik sekolah ya, belajar lagi. Thank you." Luna melambai pada Alex, dan tanpa menoleh lagi dia langsung masuk ke loby kantor El.


"Mbak, saya mau ketemu Pak El." Luna melapor pada resepsionis yang berjaga di meja depan.


"Maaf dengan siapa?" tanyanya sopan.


"Luna," ucap Luna sambil mencoba tersenyum setulus yang ia bisa. Sungguh, ia sedang tidak bisa tersenyum saat ini.


"Lu-Lu-Luna?" Sang resepsionis malah langsung tergagap. Dia menunduk lalu langsung menghubungi lantai 8. "Silahkan langsung ke lantai 8," ucapnya.


"Terima kasih," Luna langsung menuju lift dan naik.


Dia menyusuri lorong ke ruangan El. Luna sudah mengingat jalan ke sana, dia yakin tidak akan tersesat.


"Luna?" tanya Reza antara percaya dan tidak. Sang resepsionis memang bilang Luna, tapi dia pikir mungkin Luna lain karena ini masih jam sekolah.


"Hai, kak." Luna sungguh tidak ingin berbasa-basi sekarang. "Kak El ada?" tanyanya langsung.


"Ada...." belum selesai Reza menjawab Luna sudah berjalan melewatinya.


Luna langsung masuk ke dalam, melihat El yang sedang serius di balik layar laptopnya.


Mendengar suara pintu dibuka, El menoleh.


"Luna?" El tentu saja tidak menyangka Luna akan datang sekarang. Ia meletakkan dokumennya kemudian berdiri mendekat ke Luna.


"Ada apa?" El bisa merasakan ada yang tidak beres dengan Luna sampai dia datang tanpa memberi kabar.


Luna berlari menghambur dalam pelukan El. Tangannya melingkari badan pria itu erat. "Kakak..."


"Kenapa?" tanya El sambil membelai rambut Luna lembut. "Katanya ga mau bolos?"


Luna menggeleng. Dia membenamkan kepalanya di dada El. "Kakak, aku sayang sama kakak."


El terkekeh kecil. "Ayo duduk dulu," ucap El. Dia berjalan pelan karena Luna tidak mau melepaskan pelukannya dari tadi. Luna menyeret kakinya mengikuti langkah El.


Luna sudah duduk di sebelah El dengan tangannya yang masih setia di tubuh El, enggan untuk berpindah. Kepala Luna sudah bergeser sedikit, dari depan ke samping badan El.


"Kenapa, hm?" pertanyaan El membuat Luna mengangkat kepalanya. Luna menatap mata El, langsung ke matanya.


"Kamu mau coba baca pikiran kakak?"

__ADS_1


Oh, ini tidak akan berhasil.


Luna melepaskan pelukannya, duduk tegak di samping El, menghadap ke pacarnya itu. "Kak, cium aku."


Oke, mata dibalas mata kan?


El tercengang mendengar ucapan Luna. Dia berpikir sejenak, meneliti di kedalaman tatapan Luna, mencoba mencari alasan di sana. "Kenapa?"


"Karena aku mau!" jawab Luna. Luna terkejut dengan ucapannya. Bisa-bisanya dia menjawab seperti itu. Tapi dia ingin segera menyelesaikan rasa bersalahnya ini.


El mendekatkan wajahnya ke wajah Luna. "Kamu yakin?" tanya El. Yang langsung dijawab oleh anggukan oleh Luna. Luna langsung menutup matanya erat.


Luna menunggu, tapi tidak terjadi apapun. Maka, ia pun membuka mata. Wajah El sudah ada di depannya, sedang tersenyum.


"Kamu ga perlu melakukan itu, bilang saja apa yang kamu mau...."


Kata-kata El membuat pandangan Luna mengabur, kemudian disusul dengan tetes air mata yang berjatuhan. Suara isakan Luna terdengar setelahnya. Tuhan mungkin terlalu baik pada Luna, Dia telah memberikan orang sebaik El dalam hidupnya.


Luna memeluk El dan menangis sejadi-jadinya. El mengelus punggung Luna pelan, sampai Luna lelah menangis dan tertidur di sana.


Setelah suara isakan Luna menghilang, El membaringkannya di sofa. Sebenarnya kenapa dia sesedih ini, batin El. Dia bahkan sampai minta dicium. El memperhatikan bibir Luna, ada luka lecet di sana.


Tunggu, kenapa bisa ada luka disini?


El akhirnya memeriksa wajah Luna seksama. Dan betapa terkejutnya ia melihat sebuah luka sobek di dahi Luna dengan bekas darah yang sudah mengering. Dia tidak menyadari luka itu tadi karena tertutup oleh rambut hitam Luna.


Jangan sampai--


El membuka jaket yang dipakai Luna. Dia yakin itu bukan jaket Luna karena itu lebih terlihat seperti milik seorang laki-laki.


El menurunkan resletingnya perlahan. Dia bisa melihat seragam Luna yang tak terkancing, membuat rahangnya mengeras. El melanjutkan menurunkan resleting itu sampai habis, lalu menyibakkannya ke sisi, melihat bagaimana baju pacarnya itu sedikit koyak.


Memasangkan kembali jaket Luna, El sudah bisa memperkirakan apa yang sebelumnya mungkin terjadi. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya marah besar. Dia ingin menyiksa, kalau perlu sampai sekarat, orang yang telah melakukan ini pada gadisnya.


El mengepalkan tangannya kuat, mencoba mencegahnya menghancurkan apapun yang ada di sana karena bisa membuat Luna terbangun. El tak habis pikir bagaimana bisa seseorang menyentuh sesuatu yang sudah jelas-jelas ia jaga. Sungguh orang itu tidak menyayangi nyawanya lagi.


El berdiri dan meraih ponselnya di meja kerja.


📞 Halo?


📞 Halo, kak En?


📞 Ada apa El?


📞 Kak, can you do dirty things for me?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2