Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 8


__ADS_3

Chapter 8: Kemana saja


"Ga perlu ikut kemanapun aku pergi, karena kau selalu ada di hati." -Luna-


"Bu, maaf ibu ga boleh masuk sekarang." Reza menghalangi pintu masuk ke ruangan El.


Mami menatap sebal. "Kamu apa-apaan sih?!Kan saya atasan kamu! Kamu mau saya pecat?!"


"Ja-jangan Bu!" ucap Reza.


"Kalau begitu, awas!" Mami berusaha menggeser badan Reza dari depan pintu. Tapi, tidak berhasil.


Reza melebarkan tangannya. "Bu, tolong tunggu sebentar, 5 menit...."


Mami melotot tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Reza.


"Satu menit deh, Bu..." ucap Reza memelas. Mami masih memelototinya. "Atau beberapa detik lagi, Pak El masih butuh privasi sekarang...."


"Kamu ini bicara apa! Minggir atau saya pecat!"


Reza menelan ludah. Dia akhirnya menyingkir dari depan pintu. Berdoa dalam hati mudah-mudahan saja bosnya itu sudah menyelesaikan urusannya. Tadi dia sudah membuka pintu dan melihat hal yang seharusnya tak dia lihat. Dia langsung berbalik dan menutup mukanya tak percaya. Dan saat itulah mami muncul.


"El, ada yang lupa mami bilang---


Luna terlonjak saat mendengar suara. Refleks, dia langsung mendorong tubuh El hingga El terjungkal jatuh dari sofa.


"Maaf!" Luna memekik panik dan langsung menghampiri El, membantunya duduk. El mengusap kepalanya yang terbentur lantai.


Mami keluar ruangan dan menutup pintu di belakangnya. Dia menatap Reza kesal.


"Belum selesai ya Bu? Kan saya bilang kalau tunggu sebentar lagi..." Reza terkekeh kecil.


"Siapa nama kamu?" mami melirik tanda pengenal yang menggantung di leher Reza. "Oh,, kamu yang namanya Reza..." ucap mami mengangguk mengerti.


Cukup bisa dipercaya.


"Nanti saja saya kembali lagi, saya mau ke ruangan saya," ucap mami lalu melangkah pergi. Percuma bicara sekarang, dia sampai lupa apa yang mau dia katakan tadi.


"Maaf, kak..." Luna mengelus kepala El yang terbentur tadi.


"Tidak apa, Luna." El meraih tangan Luna kemudian membawanya dalam genggamannya.


"Oh iya, tadi Jessika telepon kamu. Katanya kamu ada janjian sama dia setelah pulang sekolah..."


Petir menggelegar di kepala Luna. Dia lupa kalau dia kabur dari sekolah. Tasnya bahkan masih disana!


Luna menjambak rambutnya. "Aku bolos dari sekolah!"

__ADS_1


"Ya sudah, tidak apa," jawab El santai.


"Tapi aku mengulangi kesalahan yang sama! Dua kali!" pekik Luna tak percaya dia sebodoh itu.


"Ga apa, belum tiga kali..." ucap El masih santai.


***


Luna turun dari mobil El menghampiri Jessika yang sudah menunggunya di warung dekat sekolah.


"Bagus, elo ya! Udah berani bolos! Ga kasih kabar! Tas ditinggal lagi! Nyari kerjaan gue aja!" omel Jessika.


"Maaf nyonya..." Luna tertunduk merasa bersalah.


"Elah, gak usah akting!" Jessika mendengus sebal. Luna langsung nyengir.


"Ya udah, ayo langsung berangkat..." Luna menarik tangan Jessika mendekat ke mobil.


Luna membukakan pintu di sebelah pengemudi. "Silahkan masuk, Nyonya..." ucapnya sambil menunduk sopan.


"Ish!" Jessika mendecak sambil menarik rambut Luna kesal. Yang ditarik malah tertawa senang.


Luna kembali ke kursi belakang untuk duduk bersama El. Saat ini yang menyetir adalah supir, tapi bukan Pak Ahmad yang Luna kenal. Tadi El mengenalkannya pada Luna, namanya Kris. Dan dia tidak banyak bicara, tidak bicara sama sekali malah. Apa bahkan dia bisa bicara? Dia cuma mengangguk sekali selama sejam ini? Bagaimana bisa dia hidup seperti itu?


Keadaan di mobil sangat hening, dan Jessika cuma bisa mendengar teman baiknya dan pacar barunya yang sedang tertawa kecil. Oh, sekarang dia tau rasanya menjadi Luna, menjadi orang ketiga antara dirinya dan Tyo. Sangat menyebalkan. Tak tahan, dia memutuskan memakai earphone-nya saja.


"Kak," Luna menatap El tajam. El iseng sekali menggelitik telapak tangannya sedari tadi. Tidak ada kerjaan.


Oh, God. Jantung gue lemah. Kalau kayak gini terus apa gue bakal mati muda?


"Kakak yakin mau temenin aku hari ini?" tanya Luna. Dilihatnya El mengangguk cepat.


"Yakin ya? Kakak yang mau ya?" tanya Luna lagi. Seolah memberikan kesempatan pada El untuk merubah jawabannya.


"Iya, Luna. Kakak mau sama kamu hari ini," ucap El. "Karena setelah ini, mungkin kakak akan sedikit sibuk."


Ekspresi Luna langsung berubah, ia menunjukkan muka sedih. "Kita ga akan bisa ketemu lagi?" tanyanya kemudian.


"Hm.... mungkin? Akan kakak usahakan?"


Apa yang tadi itu ciuman perpisahan?


"Jangan mikir yang aneh-aneh," ucap El mencubit pipi Luna.


El tersenyum miring, ia menatap Luna sesaat. "Kalau kamu ga kuat, kamu bisa datang ke tempat kakak..." goda El.


"Kakak yang akan duluan ke tempat aku..." balas Luna.

__ADS_1


"Oh, kita lihat aja nanti..." El tersenyum tak mau kalah.


"Udah sampai!" seruan Jessika mengagetkan Luna dan El. Jessika sudah turun lebih dulu. El dan Luna menyusulnya.


"Kakak yakin ya? Kalau udah mau ikut, ga boleh balik lagi!" Luna sudah memperingatkan.


"Iya, kakak akan pergi kemanapun kamu mau..." jawab El.


"Oke..." Luna menggenggam tangan El dan menariknya masuk ke dalam sebuah pasar. Jessika jalan terlebih dahulu, karena memang dia yang mengetahui tempatnya.


El melangkah hati-hati. Jalan di dalam pasar sangat sempit dan tidak rata, banyak orang lalu lalang. Beberapa kali ia menyenggol bahu Luna tak sengaja.


"Udah sampai, nih. Gue masuk duluan ya," ucap Jessika.


El menatap kios di depannya. Matanya langsung membulat tak percaya, dia kemudian menatap Luna.


Luna tersenyum mengejek ke El. "Katanya mau temenin kemana aja...."


Ya, tapi ga ke toko pakaian dalam juga!


***


Selama di dalam pasar El hanya diam menunggu di depan kios. Beberapa ibu-ibu bahkan sempat menggodanya, membuat ia semakin malu. Tapi Luna tidak sejahat itu, dia segera menyelesaikan urusannya dan cepat pergi dari sana. Masalahnya cuma.... Jessika yang terus-menerus berhenti untuk membeli apapun yang menarik perhatiannya. Waktu yang dihabiskan Luna untuk belanja, 5 menit. Waktu yang dihabiskan Jessika, 45 menit. Siapa sebenarnya yang minta diantar di sini?


"Udah, jangan cemberut terus, kak. Udah sebentar lagi sampai, nih." Luna menunjuk rumah Jessika yang sudah terlihat di ujung jalan.


Akhirnya mobil berhenti sempurna. Jessika mengucap terima kasih sebelum turun dari mobil.


Luna mengelus kepala El. "Makasih ya, hari ini..." Ia mencoba tersenyum semanis mungkin agar El tidak bete lagi.


El tersenyum sedikit. Ia menarik tangan Luna, agar tak langsung turun. Luna pun menatapnya bingung, seolah bertanya ada masalah apa.


"Ini, buat kamu." El memberikan sebuah kartu ATM pada Luna. Luna mengernyitkan dahinya. "Kita mungkin ga bisa ketemu. Disitu ada cukup uang, pakailah kalau kamu perlu. Pass-nya tanggal lahir kamu..."


Tunggu dulu, bagaimana kak El bisa tau tanggal lahir gue? Gue ga pernah bilang? Dan terus tanggal lahir dia kapan? Gue belum pernah nanya.


Luna sudah akan mengembalikan kartu itu sebelum El mencegahnya. "Kamu pegang saja, kamu tidak perlu memakainya kalau tidak memerlukannya," ucap El. Luna hanya diam.


"Ya?" bujuk El. "Kita ga bisa ketemu, jadi kakak mau kamu baik-baik saja."


Akhirnya Luna mengangguk pelan. "Good girl," ucap El sambil mengelus kepala Luna.


Luna turun dari mobil dan saat ia mau menutup pintunya, El menarik tangannya. "Kenapa kak?" tanya Luna.


"Hati-hati ya..." ucap El.


Luna mengangguk kemudian menutup pintu mobil.

__ADS_1


Sepeninggal Luna, wajah El berubah serius. "Kris, ingat tugas yang saya berikan tadi kan?" Pertanyaan El dijawab dengan anggukan dari Kris. "Jaga Luna lebih dari kamu menjaga nyawamu sendiri."


Bersambung


__ADS_2