
"Jadi...." Arga menarik napas hendak memulai rapat di kamarnya.
Kamar Arga adalah kamar yang ditempati oleh Arga, Arka dan Arsya. Karena rumah Luna adalah rumah perumahan, di rumah Luna cuma ada 2 kamar tidur. Satu kamar dipakai grup PPL, dan kamar utama dipakai Ayah dan Bunda (tentu saja bersama si bungsu Arya), sedangkan kamar yang dipakai Luna adalah kamar untuk pembantu. Tidak ada lagi sisa kamar di rumah ini. Tentu saja dia tidak mungkin tidur di ruang tamu, apalagi kamar mandi. Terlalu basah.
"Pertama, kita harus minta maaf ke kakak..." Arga memulai agenda pertama rapat mereka di malam yang panjang ini.
"Setuju," jawab Arka cepat. Dia tidak memberi jeda walau sedetik.
"Setuju." Arsya juga menganggukkan kepalanya.
"Seharian ini kakak ngehindarin kita terus. Kalau ditanya pun cuma iya, enggak, iya, enggak. Enggak ada ekspresi gitu," gerutu Arsya. "Dua kata aja yang dia pake," lanjutnya.
"Iya, sama sekali ga asik..." Arka menambahkan. "Apa kakak bener-bener depresi?" Ditatapnya Arga, seolah meminta jawaban.
"Enggak tau, di sekolah juga enggak mau disamperin. Diajak pulang bareng enggak mau. Kalau berangkat pagi banget..." cibir Arga. Ia pun sama bingungnya. Alhasil dia cuma bisa pakai jastip (jasa titip) lewat Jessika, untung saja gratis.
"Udah seharian begini terus. Biasanya juga beberapa jam udah enggak marah lagi. Tapi ini udah lama bangeetttt...!!" Arka berteriak frustasi. "Banget... ngettt... ngettt... ngettt..." Dia memberikan efek gema pada suaranya sendiri. Arsya sampai geli melihatnya. Berlebihan sampai ke sum-sum tulang.
"Iya, pokoknya kita harus minta maaf! Yang ini udah fix." Arga melanjutkan ucapannya, sementara Arka dan Arsya manggut-manggut setuju. Memang itulah tujuan diadakannya pertemuan di atas kasur ini, kan?
"Terus yang kedua..." Arga mengambil jeda sebentar. "Gue kepikiran apa yang dibilang kak Jessika tadi siang." Dia mengelus dagunya, berpikir.
"Yang mana?" tanya Arsya. Mereka ngobrol banyak dengan Jessika tadi. Otak Arsya banyak dipenuhi dengan pelajaran, jadi ia membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memproses segala hal. Tidak seperti kedua kakaknya yang tampaknya hampir tidak memikirkan apa pun.
"Yang tipe cowok yang bener?" tanya Arka. Ia selalu jadi orang yang paling pertama yang tau tentang apa yang Arga pikirkan.
Arga mengangguk mantap ke Arka.
"Iya ya..." Arsya mulai tiba di tempat yang sama, arah yang dituju oleh kedua kakaknya. Arah pembicaraan yang benar, dia tidak tersesat.
"Selama ini kita juga cuma pikirin cara eksekusi aja. Kita enggak pernah bener-bener mikirin harus cari cowok yang kayak gimana buat kak Luna," ucap Arsya. Arka dan Arga setuju dengan hal itu.
"Jadi gimana?" tanya Arka. Ia menatap Arga lagi, meminta jawaban, sedang malas untuk mencarinya sendiri.
"Ya udah..." Arga mengangkat bahunya. "Kita harus pikirin kriteria cowok buat kak Luna." Arka dan Arsya mengangguk setuju.
"Jadi, ada ide?" tanya Arga.
Arsya mengangkat tangannya. "Cowok itu harus baik hati," jawabnya polos.
Arka dan Arga menghela napas bersamaan. Amatir.
"Terlalu general Arsya..." Arga geleng-geleng kepala. Tukang sampah pun bisa dibilang baik hati. Baik hati karena membantu menjaga kebersihan lingkungan.
__ADS_1
"Yang jelas dong, elo kira ini pelajaran PKn, baik hati..." Arka nyindir keras. Arka, spesialis sinisme dan hujatan tajam. Tidak perlu diragukan lagi.
Arsya menghela nafas kecewa. Usulnya tidak diterima. Ia berpikir lagi. "Penyayang?" tanyanya. Sepertinya itu sudah cukup sesuai.
"Nah, itu oke." Arga mengacungkan satu jempolnya untuk Arsya. Yang diberikan jempol langsung senyum kegirangan.
"Lanjut, ada lagi?" tanya Arga. Tidak mungkin hanya satu kriteria. Kalau bisa ia ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya, agar nanti pacar kak Luna adalah cowok baik diantara yang terbaik.
"Lembut,"
"Perhatian,"
"Bentar-bentar..." Arga menyela jawaban beruntun itu.
"Catat dulu, nanti lupa," ucap Arga. Ia menjentikkan jarinya memanggil Arsya, layaknya bos memanggil ajudannya. "Notulen, catet..." perintahnya.
"Siap, bos!" seru Arsya. Si ajudan berpangkat lebih rendah tentu saja harus mematuhi senior. Arsya mengambil buku tulisnya dan menyobek selembar kertas dari sana.
Ia menggoreskan tinta ke atas kertas putih itu. "Oke, nomor satu, penyayang..." Arsya mencatat dengan serius.
"Bagus, sekarang kita lanjutkan." Arga memandangi mereka. "Ucapkan ide-ide kalian, nanti Arsya tulis. Arsya, buat ide kamu sendiri langsung tulis saja." Arsya mengangguk mengerti.
1 jam kemudian..
"Kok banyak banget, sini coba gue liat..." ucap Arga. Direbutnya kertas itu dari tangan Arsya. Ia membaca list yang tertulis di sana.
"nomor
penyayang
lembut
perhatian
bukan perokok
bukan geng motor
bukan berandalan
bukan buronan
tidak memiliki penyakit mematikan
__ADS_1
bukan pemake
bukan pengedar
masih perjaka
seagama
setia
jujur
tidak bau
tidak jelek
tidak miskin
ASTAGA!! ini banyak banget sampai nomor 60!" pekik Arga. Dia cuma membaca sebagian saja, sisanya bla-bla-bla.
"Yaaa... Kan biar jelas dan lengkap. Katanya tadi harus jelas, jangan general..." Arsya memanyunkan bibirnya. Apa sih yang diinginkan kakaknya ini sebenarnya. Membingungkan tapi banyak maunya.
"Ya, iya..." ucap Arga. "Tapi enggak banyak gini juga." Arga menunjuk daftar yang berderet.
"Terus ini, seagama, kita kan cuma buat kriteria pacar, bukan suami!" Arga hampir tak percaya dirinya menemukan syarat semacam itu.
"Yaaaa... siapa tau pacaran nya sampai jadi suami.." Rupanya itu idenya Arsya.
"Terus ini, tidak bau, tidak jelek. Elo pikir kak Luna enggak punya mata enggak punya hidung, mau aja sama yang jelek dan bau," protes Arga.
Kali ini giliran Arka yang berkelit. "Ya.... Siapa tau aja bos. Cinta kan buta..." ucap Arka. Tak ingin kalah, ia balik menyindir Arga. "Gelap loh, cinta buta. Tak nampak apa pun dia..."
Arka balik menyerang Arga. "Daripada bos, bukan buronan, bukan pemake, bukan pengedar. Bos mau bikin surat catatan kepolisian apa gimana?" ledeknya. Nyelekit seperti biasa. Tidak ada tandingan, memang.
"Ahhhh...." Arga mendengus kesal dan meremas kertas daftar panjang tadi, membuat Arsya cemberut karena hasil tulisannya sia-sia.
"Kita ulang lagi. Jangan terlalu banyak. Satu orang 3 kriteria aja. Pikir baik-baik," ucap Arga. Dia mengubah haluannya. Arka dan Arsya mengangguk, mereka ikut Arga saja.
Setelahnya, ketiga anggota PPL itu mulai berpikir keras.
Pukul 12 malam.
"Udahlah, kriteria nya baik hati aja, ngantuk nih..."
__ADS_1
Bersambung