Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 32


__ADS_3

Aku tidak pernah menyerah menulis novel ini untuk para pembaca, aku harap kalian juga tidak menyerah dengan terus mendukung aku ya... Tips, Vote, Rate, Like dan Komentar kalian berarti banyak buatku... Aku sayang kalian... With love from dewiluna ❤️❤️❤️


Chapter 32: Bukan begitu


"Tolong urus aku yang seperti ini..." -Luna**-


"Lepas! Gue bisa jalan sendiri!" Luna berteriak marah.


Kedua orang bertubuh tinggi itu akhirnya melepaskan lengan Luna dan membiarkannya melangkah dengan kesal. Luna sudah menyumpah dalam hati. Sekarang, dia memutar otaknya. Dia sedang berpikir, harus bagaimana lagi untuk mendapatkan perhatian El.


Otak Luna buntu. Dia kehabisan ide. Andai saja disini ada sinyal, dia pasti sudah bertanya pada si 'Mbah' di dunia maya.


Masa iya gue harus guling-guling di tanah dulu baru dia mau lihat? Sampai segitunya?


Sepertinya Luna masih belum belajar mengenai 'menjaga ucapan'. Kakinya benar-benar terpeleset karena tidak melihat jalan menurun yang dipijaknya. Dia langsung terguling beberapa putaran. Untung saja Kris menahannya. Kalau tidak, Luna mungkin masih asyik berputar sampai tanah melandai beberapa meter di depan.


"Nona?" Kris membantu Luna duduk. Luna masih linglung. "Nona tidak apa-apa?" tanya Kris. Luna mengerjap kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, melihat celananya yang sudah penuh noda tanah berwarna cokelat, jaketnya juga.


"Apa ada yang sakit?" tanya Kris lagi. Luna menggeleng. Tidak sakit hanya malu. Secepatnya ia berdiri.


"Enggak apa-apa," jawab Luna. Ia membuang beberapa helai daun yang menempel, kemudian merapikan rambutnya.


"Elo enggak apa-apa, Lun?" Jessika yang ada di belakang Kris ikut mengkhawatirkannya. Tyo ada di sebelahnya.


Luna menggeleng pelan. "Sini, pegangan sama gue," ucap Jessika. Tangannya disilangkan di lengan Luna. "Kaki elo sakit? Elo jatuh terus dari tadi?" tanyanya.


"Dia mau punya adik lagi, kali..." jawab Tyo ngasal, seperti biasa.


Luna memutar bola matanya kesal. Demi Tuhan, empat adik saja sudah repot. Kalau bertambah satu lagi, ia akan mengajukan pensiun dini.


"Gue ngelamun tadi." Luna memegang erat tangan Jessika. "Jangan lepasin gue, ya," ucapnya.


"Tergantung, duit elo berapa banyak?"


Yang namanya teman durhaka itu, ya, yang seperti Jessika ini.

__ADS_1


"Bercanda, gue. Muka elo jangan sok polos gitu." Jessika menepuk punggung Luna. "Ayo, jalan lagi."


Mereka melanjutkan perjalanan. Mungkin sebaiknya seperti ini saja. Dia berjalan paling depan, setelah Kris. Dia tidak perlu tau apa, siapa, sedang melakukan apa di belakangnya.


***


"Capekkkk...."


Desahan nafas Jessika terdengar jelas di telinga Luna. Segera ia melepaskan lengannya dan membiarkan Jessika menikmati hamparan kebun teh di depan mereka. Hijau dengan langit biru muda dan matahari yang bersinar cerah.


"Foto, yuk." Tyo mencari Reza yang memegang kamera. Reza, si seksi dokumentasi segera beraksi.


"Bentar, gue buka jaket gue dulu. Kotor banget." Luna membukanya cepat kemudian tersenyum ke kamera, mengambil banyak gambar dengan Jessika dan Tyo.


"Hatchi!" Luna mulai bersin. Dia harusnya memakai jaket saja, di ketinggian seperti ini sangat dingin.


Baru saja ia akan mengambil jaketnya, teman-temannya yang lain bergabung untuk mengabadikan momen bersama. Tentu saja ia ingin ikut. Diletakkannya kembali jaket berwarna pink miliknya. Saat mereka selesai berfoto, air hidung Luna sudah menetes.


"Tissu, dong bagi," Luna menadahkan tangannya pada Jessika. Tapi Jessika malah lanjut swafoto.


"Ini," sebuah tangan terlihat di depan Luna, memberikan sebungkus tissu.


Luna tersenyum kecut. Biasanya El yang selalu menolongnya, memberikan sesuatu bahkan sebelum ia minta. Kenapa sekarang malah Kris? Luna mulai merasa kecewa pada dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk menendang pohon terdekat, meluapkan kekesalannya, karena saat ini tidak ada sendok. Belum puas ia mengeluarkan jurusnya, Kris sudah memanggil untuk berkumpul.


Hari yang mulai terik membuat Kris harus mengakhiri sesi foto mereka dan meminta mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama lagi mereka akan sampai.


Semuanya sesuai rencana. Mereka sudah tiba sebelum waktu makan siang. Perjalanan aman, damai dan tentram. Tidak ada lagi insiden yang terjadi karena Luna sudah tobat melamun.


Kris sudah menyiapkan makan siang mereka, mengajak mereka makan sebelum mengantar mereka pulang. Kalau dia membuka perusahaan event organizer, pasti dia sukses. Luna dan teman-temannya diurus dengan baik.


Di dalam mobil, tidak ada percakapan. Semuanya lelah dan memutuskan untuk tidur berjamaah.


"Makasih ya, Lun. Makasih ya, om. Makasih udah ajak kita jalan-jalan," ucap Jessika. Ia mengucap terima kasih mewakili teman-temannya. Mereka sampai dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun.


"Sama-sama." Luna tersenyum kemudian melambai pada semua teman-temannya. Setelah mobil berjalan, keadaan hening kembali. Hanya ada Luna dan El. Mungkin Luna harus meminta maaf sekarang.

__ADS_1


"Kak..." Luna memanggil El. Lagi-lagi El mengabaikannya.


"Kak..." Sekarang Luna sudah menggerakkan tangan El, meminta perhatian. El malah mengeluarkan ponselnya dengan tangannya yang lain.


"Kalau kakak masih cuekin aku, aku loncat dari mobil, nih." Luna sudah memegang handle pintu.


"Kamu enggak bisa buka pintu, dikunci." Akhirnya El bicara.


"Kak, aku minta maaf..." Luna langsung berbicara ke intinya saja.


Tidak ada jawaban.


"Kak, maafin Luna..." ucapnya lagi, mulai memohon.


Tidak ada jawaban sesi dua.


"Kalau kakak enggak jawab, aku.... aku...." Luna mulai berpikir apa yang bisa ia lakukan di dalam sini. "...aku buka jendela terus loncat, nih!"


"Jendelanya tidak bisa dibuka Luna..."


Menyebalkan sekali. "Kalau gitu, aku pecahin jendelanya!" Luna bersungut kesal. Dia memukul jendela itu, tapi yang ada malah tangannya yang terasa sakit. Luna mulai mengaduh tanpa suara. Diliriknya El, masih tidak menatapnya. Ini tidak berhasil.


"Kak, bukan begitu kejadiannya. Aku minta maaf." Luna menghentikan drama yang dibuatnya sendiri. "Ini bukan seperti yang kakak pikir." Ia mencoba menjelaskan. "Waktu itu, keadaannya tidak memungkinkan..."


"Kakak tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Luna..." El masih bersikap sedingin es batu.


Luna terdiam. El menunggu.


Dihelanya nafasnya panjang-panjang. "Maaf, aku anak nakal. Aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Luna. Dia menyerah. Dia berpindah ke kursi belakang, mojok disana, merenungi kesalahannya.


Tidak ada yang berbicara sampai mereka masuk ke dalam rumah. Bahkan di kamar pun sangat sunyi. El masuk ke kamar mandi saat Luna merapikan barang bawaan mereka. El masuk dan keluar tanpa kata-kata. Setelah El, Luna berjalan ke kamar mandi. Mengikuti El, masih tanpa suara.


El melihat Luna yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos. Banyak bercak biru bertebaran di kaki dan tangan Luna.


"Kamu istri nakal..." El duduk di sofa di sebelah Luna. Diraihnya salah satu tangan istrinya itu, dan dioleskannya obat ke bagian yang memar. El melanjutkannya ke tangan yang lain kemudian ke kedua kaki Luna.

__ADS_1


"Dimana lagi yang sakit?"


Bersambung


__ADS_2