
"Jessika...."
Hari masih pagi tapi Luna sudah tidak sabar untuk mengadu pada Jessika. Dia sudah datang dari tadi. Arga tidak diijinkan Bunda sekolah sampai luka-lukanya membaik, Luna juga tidak mau merepotkan El, jadi dia berangkat dengan ojek.
"Kenapa? Kangen?" Jessika meletakkan tasnya lalu duduk manis.
"Ish! Ga pake bercanda. Gue serius."
Jessika menunjukkan muka serius.
"Nyebelin mula Lo!" Luna mengacak muka Jessika.
"Ni anak maunya apa sih? Tadi disuruh serius! Muka gue udah serius ini!" Jessika menepis tangan Luna. "Buruan cerita, mumpung gratis. Entaran mah gue tagih biaya curhat."
Luna menjambak rambut Jessika gemas.
"AW!" Jessika mengusap kepalanya. "Sensitif banget sih, Lo! Emang mau cerita apaan sih? Adek Lo? Apa si om?"
"Dua-duanya.."
"Oke, tarif dobel ya..." Luna baru saja hendak menjambak Jessika lagi, tapi dia langsung menahan tangan Luna. "Oke, tenang. Cerita sekarang."
"Arga, Jess...."
"Iya, gue tau Arga. Kenapa dia?"
"Arga berantem...."
Gayanya kayak preman sih emang.
"Sama siapa?"
"Sama kak El..."
__ADS_1
Entah kenapa gue ga kaget.
"Terus?"
"Ih, kok elo ga kaget sih?"
"HAH?? APA?? Kok bisa?" Jessika pura-pura kaget.
Luna langsung manyun.
"Jessikaaaaaa!" Luna menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Iya.... Gue ga bercanda lagi." Jessika menahan senyumnya. "Terus gimana?"
"Ya terus makanya gue nanya sama elo, gue harus gimana...."
"Udah minta maaf?" tanya Jessika mulai mengeluarkan bukunya. Dia menadahkan tangan ke Luna.
"Terus?" Jessika mulai menyalin PR.
"Terus dia malah marah, bilang bukan salah gue, tapi salah adek gue."
"Lah iya, dia bener."
"Terus gimana dong??? Elo sama sekali ga membantu!" Luna menarik PRnya kesal.
Jessika memegangi buku Luna. "Ya suruh adek elo yang minta maaf, lah. Gitu aja ribet."
"Harus gimana? Gimana caranya? Arga kan juga masih babak belur mukanya, ga boleh sekolah dia sama Bunda. Terus Bunda juga pasti ga setuju dan yang ada malah nyalahin gue."
"Bunda elo suruh makan micin banyakan," Luna langsung menjitak Jessika.
"Gue serius." Luna melotot sebal.
__ADS_1
"Ya elo pikir lah, gimana caranya biar adek-adek elo itu minta maaf ke si om-om tanpa perlu Bunda elo, tau. Ga harus minta maaf detik ini juga, kan? Nanti gapapa, besok-besok masih bisa." Jessika menutup buku Luna, mengembalikannya. Kecepatan Jessika menyalin PR lebih cepat dari kecepatan penyebaran gosip tetangga.
"Oh gitu..." Luna mengambil bukunya dan meletakkannya di atas meja.
"Iya lah. Yang penting sekarang elo baik-baikin aja tuh si om-om, biar nanti dia maafin adek-adek elo. Bisa berabe kalau dia minta ganti rugi."
"Gimana caranya?"
"Pagi--
Luna dan Jessika langsung menoleh ke arah suara yang memotong pembicaraan mereka.
"Hai..." Luna dan Jessika melambai.
"Boleh duduk disini?" cewek itu menunjuk kursi di depan Luna.
"Boleh," Luna menjawab sambil tersenyum. "Ada apa Rei?"
Reina, teman sekelas Luna dan Jessika yang duduk di pojok belakang. Gadis cantik berambut pendek.
"Engga, pingin gabung aja. Ga boleh ya?" Reina memasang muka sedih.
"Boleh kok..." Luna menganggukkan kepalanya.
"Kalian lagi ngomongin apa?" Reina mencoba ikutan. Luna menatap Jessika, memberi kode untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka.
"Engga, si Luna lagi curhat aja. Katanya gimana caranya baikin pacarnya yang lagi marah---
Luna langsung membekap mulut Jessika.
Asem! Ember banget nih orang.
Bersambung...
__ADS_1