
"Gara-gara Rangga?" Jessika menatap Luna mencari pembenaran. "Elo gagal lagi?" tanyanya. Harusnya kalau perkiraannya benar, Luna akan membuka mulutnya sekarang. Lihat saja.
Luna memainkan jari-jemarinya. "Iya..." jawabnya pelan. Jessika menghela napas, memandangi sahabatnya itu dengan tatapan kasihan.
"Tapi enggak apa-apa, gue udah enggak pingin punya pacar lagi." Luna melemparkan pandangannya ke depan, mulai menerawang jauh tanpa arah. Tampaknya cita-cita untuk memiliki pacar terlalu mewah untuk dirinya.
"Lagipula, nanti lagi kita mau ujian akhir. Gue udah nyerah," sambung Luna. Dia harus mendapatkan nilai yang baik. Memang Bundanya tampak tidak memperhatikan masalah prestasinya di sekolah, tapi setidaknya Luna harus menunjukkan kalau dirinya anak yang tidak akan membuat malu.
"Serius Lo?" tanya Jessika. Ia menyangsikan kebenaran pernyataan Luna. Pasalnya dia sudah mengenal Luna sejak kelas 10, dan dia tau banget kalau Luna pingin punya pacar. Kebelet.
Luna mengangguk.
Beneran ternyata.
Jessika mengelus kepala Luna pelan. Dia masih mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi kemarin sampai Luna menjadi desparate seperti ini. Dia harus bertanya dan memancing lebih dalam kalau sudah begini. Dia jadi sangat penasaran.
"Yakin enggak mau punya pacar lagi?" tanya Jessika. Ditatapnya Luna untuk kesekian kali, menunggu.
Keluarkan suara semuanya, gue nunggu ini. Jessika mengomel dalam hati. Lama sekali Luna mau curhat, nanti jam istirahat keburu selesai.
Hanpir habis kesabaran Jessika. Luna masih diam tidak ingin menjawab. Ia menutup mulutnya rapat sambil tetap bersandar ke dada Jessika. Digerakkannya kepalanya ke kiri dan kanan, mencoba mencari posisi yang paling nyaman di sana. Dia menyukai kehangatan dan kebaikan Jessika membuatnya lebih baik.
"Apa gara-gara adek-adek elo?" tanya Jessika, masih berusaha mengorek informasi dari Luna. Tidak perduli seberapa lama Luna diam, ia akan terus menginterogasi.
Jessika kembali memutar otaknya. Kenapa Luna jadi begitu tertutup sekarang? Apa beban hidupnya sudah seberat itu? Tidak mungkin, pasti Luna yang berlebihan. Dia juga terkadang berlebihan. Mereka bocah puber memang lazim bertindak seperti itu.
"Enggak kok. Gue pengen fokus belajar aja, biar cepet lulus, terus kerja deh..." ucap Luna. Jessika sampai melotot tak percaya mendengar pernyataan itu.
***
__ADS_1
Di warung dekat sekolah, Arga sedang duduk dengan Jessika. Tak lama kemudian, Arka dan Arsya datang. Mereka berjalan mendekat.
"Hai, Kak Jess..." Arka dan Arsya menyapa Jessika. Mereka kenal dengan Jessika, karena beberapa kali Jessika pernah berkunjung ke rumah. Beberapa kali dan datang dan semuanya untuk mengerjakan tugas kelompok yang sebenarnya hanya Luna yang mengerjakan. Jessika ingin terlihat ada usaha saja.
"Hai..." Jessika membalas melambaikan tangan. "Udah gede ya kalian." Jessika berbasa-basi.
"Jadi kak Luna kenapa kak Jess? Dia pasti marah sama kita ya?" tanya Arsya. Dia langsung saja memulai pembicaraan, tidak sabar.
"Dia enggak bilang apa-apa. Dia cuma bilang ga mau punya pacar lagi," jawab Jessika. Untuk sementara dia mau mempercayai jawaban ini. Ia sudah bertanya pada Luna berkali-kali dan jawaban Luna persis sama. Jessika mencium gelagat yang mencurigakan, tapi dia belum mau mencari masalah dengan Luna karena kadar stres Luna sedang tinggi tadi.
"Dia enggak bilang apapun tentang kita?" Arka terkejut heran. Begitu juga dengan kakak dan adiknya. Arka sudah mengira kalau Luna pasti akan membeberkan semua yang terjadi kemarin dan mulai memaki mereka di depan Jessika. Tapi nyatanya tidak sama sekali.
Jessika menggeleng. "Enggak. Emang kalian ngerjain Luna lagi kemarin?" tanya Jessika. Kadang kala, Luna memang bercerita tentang adik-adiknya yang 'baik' luar biasa ini. Baik dalam artian tertentu.
Arga, Arka dan Arsya saling bertatapan. Mereka merasa semakin bersalah sekarang. Akhirnya Arga maju dan buka suara tentang apa yang terjadi kemarin. Bagaimana pun juga dia bosnya, dia yang harus bertanggung jawab.
Memakan waktu beberapa menit untuk Arga menceritakan secara detail kejadian saat itu. Dia berusaha menggambarkannya dari sisi netral agar tidak ada penambahan atau pengurangan apa pun. Ia berharap Jessika bisa membantu mereka.
"Itu si Rangga lebay banget macem cewek aja," sambung Jessika. Mana ada cowok yang kasar ke cewek begitu. Lagipula, kenapa dia begitu marah? Antara Luna dan Rangga memang belum ada hubungan apapun.
Arga tidak menyangka hal itu yang akan diucapkan Jessika. Dia kira Jessika akan ikut marah ke mereka.
"Untung aja, dia ga jadian sama Luna." Jessika menyambung ucapannya. Dia tidak mau membayangkan temannya yang pasti akan menjadi budak cinta itu. Rangga mungkin akan menjadi cowok super posesif dengan bumbu KDRT. Lihat saja sekarang, belum apa-apa sudah menyiram temannya apalagi nanti.
"Kak Jess ga marah sama kita?" tanya Arga. Rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi. Jujur saja, ia yang paling merasa bersalah lebih dari siapapun.
"Sebel sih, tapi ya cowok itu juga ga worth banget buat Luna." Jessika melipat kedua tangannya di depan dada.
"Belum jadian aja udah gitu kelakuannya, gimana nanti kalau udah jadi pacar beneran??" Jessika ngomel-ngomel kesal. Dia kemudian melirik ke Arga, Arka dan Arsya.
__ADS_1
"Tapi kalian juga enggak boleh seenaknya gitu." Jessika menjitak ketiga kepala anak laki-laki di depannya.
"Maaf kak..." Arga, Arka dan Arsya menunduk merasa bersalah.
"Minta maaf ke Luna aja sana, ngapain ke gue!"
"Iya kak...." Mereka menyahut berbarengan.
"Lagian emang kalian enggak ada kerjaan? Gangguin Luna terus?" Jessika belum puas ngomel. "Kalian mau Luna jadi perawan tua?!"
"Engga gitu kak..." Arka menyela. "Habis selama ini cowoknya selalu enggak bener!" gerutu Arka.
"Iya, kan kita juga udah melakukan penyelidikan menyeluruh sama setiap cowok yang jadi gebetan kak Luna." Arsya menambahkan pernyataan Arka.
Penyelidikan? Mereka beneran ngelakuin itu?
Memang selama ini Arka dan Arsya yang bertugas menyelidiki si Mr. X. Sedangkan tugas Arga mengawasi Luna di sekolah.
"Terus kalau mereka enggak bener, gimana kriteria cowok yang bener menurut kalian?" Jessika bertanya balik.
Pertanyaan Jessika telak menampar mereka. Mereka tampak bingung dan saling menatap satu sama lain, mendadak kehabisan jawaban.
"Jadi kalian juga enggak tau?" Jessika mengibaskan tangannya. "Kalian berniat bikin Luna jomblo seumur hidup??"
Arga, Arka dan Arsya masih terdiam.
"Ya udahlah, pokoknya jangan lupa minta maaf..." Jessika bangkit dari duduknya dan menghampiri Tyo yang baru saja akan berjalan ke arahnya.
Ketiga adik Luna itu menatap kepergian Jessika. "Kayaknya nanti malam, kita harus rapat darurat," ucap Arga. Bos nomor 1 sudah memberi perintah.
__ADS_1
Setelah menjauh dari adik-adik Luna, Tyo membuka mulutnya. "Itu adiknya Luna kan? Kamu habis ngapain sama mereka, ay?" Tyo menggandeng tangan Jessika saat pacarnya sudah ada di sampingnya.
"Biasalah, brother complex akut.."