
Insiden di restoran berakhir ricuh. Luna berkali-kali menutup wajahnya malu dan bersembunyi di balik punggung El karena mereka terlalu menarik perhatian.
El yang mengatasi keadaan kemudian menggandeng Luna keluar restoran dan masuk ke mobil.
Luna tertunduk malu. Wajahnya sudah panas dari tadi. Satu kata, memalukan. Bukan saja dia mengotori baju El yang putih bersih dengan minuman. Tapi juga membuat meja basah dan lantai becek. Luar biasa. Dengan sentuhan sedikit seperti itu saja bisa boom! membuat seakan baru saja terjadi gempa bumi.
Di dalam mobil, El langsung tergelak. Dia tidak bisa menahan tawanya.
"Memang kamu mau ngapain sih, Lun?" El tertawa lagi.
"Kamu emang paling bisa deh buat kehebohan..." El mengacak rambut Luna sambil masih tertawa geli. Luna rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi sekarang.
El akhirnya bisa meredakan tawanya dan melajukan mobilnya menuju rumah Luna. Sepanjang jalan El terus tersenyum sementara Luna tampak diam sambil mengutuk dalam hati.
Mereka akhirnya sudah sampai di depan rumah Luna. "Mau diantar, Lun?"
"Engga usah, kak." Luna menggigit bibir bawahnya gemas. "Sini deh kak, ada yang mau aku kasih tau bentar." Dia sengaja mengecilkan suaranya.
Gue udah terlanjur malu, sekalian aja ga usah tanggung-tanggung.
El mendekat ke arah Luna. Luna berbisik, "Lihat deh, di depan ada apa..."
El menoleh ke depan.
CUP!
Luna mengecup sekilas pipi El kemudian langsung keluar mobil dan kabur ke dalam rumahnya, lebih cepat dari kecepatan Jessika menyalin PR.
El yang sudah ditinggal Luna, masih diam mematung. Perlahan dia menyentuh pipinya kemudian melajukan mobilnya pelan seperti robot yang terprogram.
Ini mimpi, atau bukan.
Ini mimpi? Bukan, kok.
Ini mimpi bukan ya?
Bukan.
Ini nyata.
__ADS_1
Nyata....
El terus menggumam tentang mimpi atau kenyataan bahkan setelah ia masuk ke dalam rumahnya.
Sampai waktu makan malam tiba dan mami El merasa ada yang salah dengan otak El hari ini. Dia tampak error.
***
Keesokannya Luna agak tenang karena kakinya sudah tidak sesakit sebelumnya. Nanti dia tidak akan minta dijemput El, dia terlalu malu sejak kejadian kemarin.
Luna memegangi kedua pipinya saat mengingat-ingat apa yang terjadi antara dirinya dan El.
"Hai, Lun." Pagi ini saat masuk kelas, Reina sudah duduk di kursi di depan Luna. Malah sekarang dia membawa satu orang baru lagi.
"Hai, Rei." Luna balas menyapa kemudian duduk di kursinya. Jessika belum datang. Tampaknya Luna datang terlalu pagi.
"Eh, Lun. Ini Tiara." Luna tersenyum.
Iya gue tau dia Tiara. Tapi kenapa dia ada disini? Jangan bilang----
"Dia boleh ikutan hang out juga ga hari Minggu nanti?"
"Eh, Lun! Udah datang Lo?" Jessika langsung duduk. "Gue telat gitu?"
"Hai, Jess," Reina menyapa Jessika.
"Hai Rei." Jessika membalas. "Hai Ra, tumben. Ada apa nih?"
"Tiara mau ikut hang out juga besok, boleh ga?"
Jessika melotot sebentar kemudian menyibukkan diri mengambil PR dan meminta salinan kepada Luna.
Sialan. Dia ga mau bantuin gue mikir. Luna dilema. Dia tidak enak menolaknya.
"Boleh, kok..." dengan susah payah akhirnya Luna bisa menjawab.
"Yes!" Reina berseru senang. "Kita balik ke tempat kita dulu ya, udah mau masuk nih."
Jessika dan Luna mengangguk pelan.
__ADS_1
Setelah Reina dan Tiara menjauh, Jessika langsung protes. "Kok elo bolehin sih, Lun? Elo kan tau ini bukan jalan-jalan biasa."
Luna mendengus kesal. "Elo mau gantiin gue bilang engga boleh, hah?! Protes aja bisanya."
Jessika mendecak kesal tapi ia memutuskan tetap diam dan melanjutkan PRnya saja.
Sampai waktu istirahat ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi.
"Lun, kita bareng ya," Reina dan Tiara tiba-tiba duduk di depan tempat duduk Luna dan Jessika saat di kantin. Sekedar info, tempat yang mereka duduki adalah tempat Tyo tadinya.
"Ahhahahahaha.. Ya, duduk aja.." Luna tertawa maksa.
Jessika menatap Luna dengan pandangan yang seolah bilang: 'kok elo bolehin?'
Luna tak kalah sengit menatap Jessika: 'Elo mau bilang ga boleh? Bilang sana!'
Luna menggenggam tangan Jessika, seolah berkata, 'Ya udahlah, gapapa. Terima aja."
"Eh, gue pesen makanan dulu ya. Kalian mau nitip?" Tiara bangun dari kursi.
"Gue mau bakso." Reina menjawab.
"Gue sama Luna udah dipesenin kok sama cowok gue, tadi." Jessika mewakili menjawab.
Tak lama Tyo datang membawa pesanan. Luna sudah tak sabar ingin cerita masalah kak El kemarin. Kebetulan Reina tiba-tiba mengangkat telepon dan pergi menjauh.
"Yo," Luna memulai. "Kemaren gue udah ngelakuin kayak yang elo bilang."
"Ngelakuin apaan?"
"Itu yang buat lunasi hutang itu, yang elo suruh coba sekali lagi kalau ga berhasil, yang kita serbu elo pakai tissu itu--" Luna langsung menyembunyikan wajahnya malu.
Tyo langsung tertawa sejadi-jadinya. "Elo beneran ngelakuin? Gue cuma bercanda!" Jessika yang mengerti arah pembicaraan ikut-ikutan terkekeh geli.
Luna menggebrak meja. "JADI ELO CUMA BERCANDA, HAHH?!!" Luna mencekik Tyo marah sambil mengguncang tubuhnya kencang. "JADI ELO BOHONGIN GUE??"
Jessika mencoba melepaskan cekikan Luna. "Lun, jangan Lun. Nanti gue jadi jomblo dong..."
Luna melepaskan cekikannya lalu menatap Tyo. "NYEBELIN!!!!" Dia mulai menjambak rambut Tyo. Tyo malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Bersambung..