Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
8. Pria itu, EL


__ADS_3

Apa?


Diam sejenak.


APAAAAA?!?


Diam lagi.


WHATTT?!? Seriusan?


Luna menatap pria di hadapannya. Pria itu, EL. El adalah manager bagian pemasaran di salah satu perusahaan plastik besar tempat ayah Luna bekerja selama 15 tahun terakhir. Perusahaannya merupakan perusahaan plastik film yang memproduksi berbagai jenis plastik pembungkus ataupun label plastik. Benda yang sering kita pandang sebelah mata, tapi selalu ada di sekitar kita. Kebayang kan, seberapa banyaknya? Lihat saja kemasan makanan ringan, micin, kopi, hampir semuanya menggunakan bungkus plastik sekarang.


EL adalah anak bungsu pemilik perusahaan yang paling santai. Hidupnya selalu berkecukupan sejak lahir. Dia pun tidak perlu susah-susah banting tulang meneruskan perusahaan karena dia bukan anak pertama. Dia tidak punya keinginan atau ambisi. Motto hidupnya adalah 'Kalau bisa dikerjakan nanti, kenapa harus sekarang?'


Posisinya yang sekarang adalah pemberian maminya yang sudah bosan melihatnya terus di rumah. Dia menerimanya karena pekerjaan ini tidak terlalu menyibukkan. Manager pemasaran hanya bertugas mencari customer baru dan mempertahankan customer lama. Hal yang sangat mudah mengingat perusahaan ayahnya adalah perusahaan yang sudah berdiri sejak lama dan memiliki banyak customer tetap. Dia hanya perlu bekerja setiap ada tender besar. Sisanya hanya perlu mengawasi timnya bekerja.


Mami El berharap dengan memasukkannya ke perusahaan akan membuatnya memiliki ambisi dan mempunyai keinginan melakukan sesuatu. Namun satu-satunya keinginan yang dia miliki saat bekerja adalah, keinginan untuk pulang secepatnya.


"Ma-ma-maafkan saya, Pak..." Luna panik. Dia tidak menyangka kalau dia akan berurusan dengan seseorang yang memiliki kuasa. Apalah dirinya yang cuma seorang anak sekolahan biasa dengan orang tua yang pekerjaannya cuma pegawai biasa juga. Semuanya serba biasa untuknya.


"Saya tidak tahu kalau bapak manager..." Mukanya langsung berubah pucat. Ditatapnya sekali lagi El yang balas memandangnya. El malah tampak tersenyum senang, berbeda dengan Luna yang cemas bukan main. Luna memainkan ujung bajunya tegang. Dia tidak tau bagaimana harus bersikap di depan seorang manager. Berurusan dengan guru dan kepala sekolah saja sangat jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari.


Lihat itu, dia sampai ketakutan. Lucu banget mukanya.

__ADS_1


El terus menarik bibirnya membuat lengkungan yang lebih besar di wajah. Senyum yang lebar. Luna yang melihat senyum itu, sempat memuji ketampanan El dalam hati.


Menahan senyumnya, El beralih ke gelas yang sudah tergeletak di lantai. Benda itu sudah berbaring miring tanpa isi. Air berwarna kecoklatan di dalamnya sudah berpindah ke atas karpet. Diambilnya benda itu dengan sebelah tangan lalu diletakkan di meja hingga suara 'tuk' terdengar pelan. Luna menelan ludah, merasa was-was dengan gelagat El yang tidak marah sama sekali. Bukannya kalau tersenyum itu lebih menyeramkan?


"Enggak apa-apa, kok..." El berusaha bersikap seramah mungkin. Bahkan ia mencoba melembutkan suaranya. Tapi perangai Luna masih menunjukkan kalau dia ngeri melihat El, seolah El adalah guru yang telah menangkapnya ketika bolos sekolah.


Luna sibuk dengan pikiran-pikiran negatif yang memenuhi kepalanya. Dia mulai membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi setelah ini. Apa yang akan terjadi dengan hidupnya dan dengan keluarganya.


Gimana nih? Mati lah gue. Lupain first Kiss gue. Gue cium pak manager tanpa ijin. Gimana kalau ayah dipecat? Terus kita enggak punya uang, jatuh miskin. Kita harus tinggal di jalanan, ngemis, enggak punya makanan terus---


"Kenapa?" El menatap Luna yang tampak kebingungan dan ketakutan di saat yang sama. Luna sudah mengalihkan matanya ke segala arah, menghindari tatapan El. Dia sungguh takut kalau hal yang dibayangkannya benar-benar terjadi.


Luna kembali memandang ke El sekarang. Dia harus bertanggung jawab. Dia harus bertindak. Ini adalah murni kesalahannya, bukan kesalahan ayahnya apalagi anggota keluarganya yang lain. "Pa-pak, maafin saya..." Luna berucap lirih, masih terbata. Ditatapnya El dengan tatapan mengiba. El mulai tersenyum senang lagi melihat Luna yang bersikap manis di matanya. Gadis kecil yang sangat menarik, membuatnya bahagia hanya dengan melihat wajah lucu itu.


"Tolong jangan pecat ayah saya..." Luna mulai memohon.


El semakin tertarik dengan gadis itu. Begitu polos. "Pfft..." Ia mati-matian berusaha menahan tawanya. Pecat? Yang benar saja. Itu kan bagiannya HRD. Walaupun dia anak pemilik perusahaan, tapi dia tidak bisa seenaknya dan mengabaikan peraturan tertulis. El memang santai, tapi dia tau betul tugas, tanggung jawab dan wewenang nya.


El menatap tangannya yang dipegang Luna, merasa senang dengan hal itu. Dia memiringkan kepalanya sedikit lalu melemparkan senyuman ke Luna. Luna tersadar dan langsung melepaskan genggaman tangannya, salah mengartikan senyuman El. Itu malah membuat El menghela nafas kecewa.


Beg*! Ngapain pegang-pegang segala si! Luna mulai memaki dirinya sendiri. Apa dia memang orang yang sebodoh itu sampai nekat melakukan kontak fisik segala. Dia harusnya sadar kalau dirinya tidak pantas menyentuh orang ini.


"Ma-ma-maaf..." Masih terbata, Luna menundukkan kepalanya. Dia amat menyesal telah lancang memegang tangan El.

__ADS_1


"Saya tidak bermaksud pegang tangan Bapak..." Luna berusaha menjernihkan pikirannya. Dia harus bertindak dengan benar, tidak melakukan kesalahan lagi. Sekecil apapun tidak boleh. Dia mengalihkan pandangannya ke kanan dan kiri, berusaha meredam kegugupannya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam mencoba mengumpulkan ketenangan.


"Enggak apa-apa... Tenang aja, ayah kamu enggak akan dipecat, kok..." El mulai kasihan melihat Luna. Gadis itu benar takut sekali padanya.


Luna langsung menatap El dengan kedua matanya yang berkilat senang. "Benar, Pak?" tanyanya untuk memastikan.


El memandangi wajah Luna yang mulai berubah dari takut menjadi lega kemudian tersenyum tipis. Demi Tuhan, gadis di hadapannya ini membuatnya lemah. Pertahanannya bisa runtuh walau hanya dengan melihat senyuman itu. Belum lagi kedua matanya, memancarkan keluguan yang bisa membuatnya lupa daratan.


"Iya..." El mengelus kepala Luna, yang disambut dengan senyum yang lebih lebar dari bibir gadis itu, membuatnya semakin gila.


Imut bangettt... Mau bawa pulang, boleh enggak?


"Terima kasih banyak, Pak!" Luna berucap senang. Dia mengucapkan syukur banyak-banyak dalam hati.


"Bapak baik hati sekali..." Luna berusaha memuji. Dia tidak pandai mengambil hati orang lain. Setidaknya dia sudah berusaha menunjukkan kalau dirinya sangat berterima kasih pada El. El membalasnya dengan sebuah senyuman lagi, membuat Luna yakin kalau orang ini sudah benar-benar memaafkannya.


Luna mulai menyadari situasi saat ini. "Emmm... kalau begitu, saya pulang dulu.." Dia sudah dimaafkan dan ia ingin secepatnya kabur dari tempat itu, menenangkan jantungnya yang shock tadi.


"Oh ya, sudah mulai gelap..." El melihat pemandangan di jendela yang mulai temaram. Kenapa waktu bisa berjalan secepat itu? Ia masih belum ingin berpisah dengan Luna.


"Mau saya antar?" tanyanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2