Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
27. Informan


__ADS_3

"Malam ini kita rapat," Arga mendeklarasikan niatannya sesaat setelah makan malam selesai.


"Arka, Arsya, sini ngumpul." Arga menepuk kasur di sebelah kiri dan di sebelah kanannya.


"Siap, bos..." Arka mendekat sambil tetap memegangi ponselnya.


"Buruan Arsya!" Arga mulai kesal pada Arsya yang lelet.


"Sebentar bos, lagi kerjain PR nih, tanggung." seru Arsya.


"Dasar anak rajin." Arka menggerutu sambil terus lanjut membuat kill lebih banyak.


"Udah simpen dulu. Gue mau kasih tau berita hot." Arga beralih ke Arka. "Elo, juga. Cepet mati sana."


Arga mengganggu Arka sampai karakter game nya K.O.


"Ahhh!!! Rese, deh!" Arka mendengus kesal.


"Makanya, udah simpen buruan. Gue mau mulai nih."


"Iye, iye." Arka menyimpan ponselnya, dan tak lama Arsya menyusulnya.


Arga menjentikkan jari. "Notulen, catet ya, rapat hari ini."


"Oke, bos." Arsya bergegas mengambil selembar kertas dan pulpen.


"Oke, sip. Sekarang kita mulai, ya." Arga mulai menatap serius.

__ADS_1


"Jadi, siang tadi, gue dapet laporan dari informan terpercaya...." Arga memberi jeda sejenak, agar Arka dan Arsya bisa mencerna kalimatnya.


"Katanya, tadi pas di sekolah, Kak Luna dipanggil ke ruang Kepala Sekolah."


"Hah?? Kok bisa? Kak Luna ngapain?" Arka memandang kakaknya bingung.


Luna, terkenal sebagai murid teladan yang cukup pintar. Dia tidak pernah melanggar peraturan, bahkan hampir tidak pernah terlambat. Guru BP saja tidak pernah menyentuh nya. Kenapa tiba-tiba dipanggil kepala sekolah?


"Kak Luna ga dihukum, kan?" Arsya mulai khawatir ke Luna. Di rumah saja Luna sudah cukup dapat hukuman dari Bunda, dia ga mau Luna dihukum di sekolah juga.


Waktu dirinya jatuh dari sepeda, Kak Luna yang dimarahi Bunda, padahal Kak Luna sama sekali tidak tau kalau dirinya keluar rumah. Dia cuma pamit ke Bundanya.


Waktu Kak Arka terkilir pas main bola, Kak Luna juga yang kena getahnya. Jelas-jelas Kak Arka main bola dengan teman-teman nya di komplek, bukan main sama Kak Luna.


Yang lebih parah, waktu Kak Arga jatuh dari motor. Kak Luna sudah bilang kalau Kak Arga yang memaksa ingin mencoba mengendarai motor. Tapi saat mereka jatuh, yang dimarahi habis-habisan itu malah Kak Luna, padahal luka-lukanya lebih parah dari Kak Arga yang cuma lecet doang.


Kalau sekarang Kak Luna dipanggil kepala sekolah, apa dia dijadiin kambing hitam sama orang lain?


"Hhhh... syukur deh." Arka dan Arsya menghela nafas lega berbarengan.


"Gue juga lega setelah denger Kak Luna ga dihukum, tapi ada kabar yang ga enak setelahnya."


"Kabar apa bos?" Arka penasaran.


"Kak Luna dipanggil kepala sekolah gara-gara si om-om yang kita keroyok kemarin..."


"!!!!" Arka terkejut bukan main. "Kita dilaporin ke kepala sekolah gitu, bos?"

__ADS_1


"Tenang, tenang." Arga menenangkan suasana. "Menurut informan itu, Kak Luna sama sekali ga dihukum, dan kemungkinan bukan karena masalah itu dia dipanggil," jelas Arga.


"Jadi karena apa, bos?" Arka penasaran lagi.


"Informannya juga ga tau pasti. Tapi katanya Kak Luna sama sekali ga mengungkit masalah kita. Jadi kemungkinan kita aman."


Arka dan Arsya menghela nafas lega untuk kedua kalinya.


"Tapi ada informasi tambahan," Arga menggantung kalimatnya.


"Apa??" Arka berteriak ga sabaran lagi.


"Om-om itu kayaknya suka sama kak Luna.."


"Waduh..." Arka mulai komat-kamit ga jelas. "Apa kita harus eksekusi kode X lagi...?" Arka mulai ragu dengan perkataannya.


"Tapi kan Kak Luna marah banget terakhir kali. Dia juga ga mau kita ikut campur lagi," Arsya mencoba mengingatkan.


"Iya, gue juga ga mau buat Kak Luna nangis,," Arga setuju dengan Arsya.


"Jadi gimana bos?"


Bersambung..


EPILOG


"Informan bos pasti kak Jessika kan?" Arsya membuka rahasia umum.

__ADS_1



❤️Arsya yang peka❤️


__ADS_2