
"Om apain teman saya??" Kemarahan Jessika sudah memuncak sampai di ubun-ubun. Bagaimana bisa saat berangkat tadi Luna tampak senang dan baik-baik saja, dan sekarang malah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Sabar, ay..." Tyo menghalangi Jessika, berdiri di antara mereka.
"Maaf, saya ga tau kalau akan jadi seperti ini. Kalau saya tau, saya tidak akan pernah mengajak Luna."
Jessika yang tadinya ingin langsung menjambak El, mengurungkan niatnya. Karena saat diperhatikan lagi, penampilan El benar-benar terlihat tidak karuan. Dia seperti baru saja selesai tawuran. Jessika malah merasa kasihan. Dia akhirnya memutuskan untuk mendengar penjelasan El.
"Kenapa bisa begini?" Gayanya sudah seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
"Tadi saya mengajak Luna makan malam. Tapi ternyata dia punya alergi pada sesuatu yang ada di makanan itu. Dia tiba-tiba sesak nafas lalu pingsan."
Jessika menatap El lagi, dia bisa melihat mata El yang memerah dan wajahnya yang sungguh menyesal.
"Apa separah itu?"
El menggeleng. "Dokter bilang dia sudah baik-baik saja. Cuma menunggu dia bangun dan menghabiskan botol itu." El menunjuk botol infus yang tergantung.
Jessika menghembuskan nafas lega. Tyo menepuk bahunya perlahan.
"Saya hampir saja akan membunuh om kalau terjadi sesuatu sama Luna." Jessika mengangkat tangannya, membuat gerakan seperti ingin mencekik El.
"Kamu boleh melakukannya kalau saya memang seperti itu." El menatap Jessika lurus. Dia serius.
"Awas aja kalau om main-main sama teman saya, ya!" Jessika memperingatkan El. "Luna benar-benar suka sama om. Kalau sampai om buat teman saya nangis---
"Benarkah?" El memotong kalimat Jessika.
"Apa?"
"Luna suka sama saya?" Mata El berbinar bahagia.
"Iya."
"Kamu tau darimana?"
"Dia bilang sendiri." Jessika melanjutkan kalimatnya. "Makanya, kalau om macam-macam---
"Saya juga sayang banget sama Luna."
Dia bener-bener ga dengerin omongan gue.
"Ya udah, kalau gitu om tembak aja lah dia! Udah nunggu-nunggu dia, tuh."
El langsung tersenyum senang.
"Makanya kalau om macem-macem, saya--
"Saya akan jaga Luna lebih dari menjaga nyawa saya sendiri."
Jessika tidak melanjutkan kata-katanya karena ia sudah merasa itu percuma. "Baiklah. Saya pegang janji om." Sepertinya memang om ini bersungguh-sungguh.
Tyo menyenggol lengan Jessika, Jessika mengangguk.
"Om jagain Luna disini, kan?" El mengangguk.
"Sebenarnya tadi saya kabur dari rumah, ga ijin dulu ke mama saya karena buru-buru. Saya mau pulang dulu sekarang. Besok saya datang lagi." Jessika berdiri malu-malu. "Titip Luna ya, om... Kalau ada apa-apa, telepon saya aja."
__ADS_1
"Iya. Makasih kalian sudah datang."
Jessika mengernyit bingung. "Tentu saja kita datang, Luna kan teman kita."
***
Tyo sudah mengantar Jessika ke rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Jessika membuka pintu yang belum dikunci dan menaiki tangga perlahan.
"Kamu darimana Jessika?" Mama muncul dari kegelapan yang ada di sudut ruang tamu. Hebat sekali, Jessika sampai tidak menyadarinya.
"Maaf ma, tadi aku panik. Tiba-tiba dapat kabar teman aku masuk rumah sakit..."
"Hah siapa? Mama kira kamu pergi pacaran."
"Makanya mama jangan negative thinking. Memang kerjaan aku cuma pacaran?" Jessika melipat kedua tangannya di dada.
"Memang iya. Itu yang kamu lakukan setiap malam Minggu."
"Iya, maaf ya ma..." Jessika melebarkan senyumnya.
"Terus siapa yang sakit?"
"Luna..."
"Yang tadi pagi datang? Yang bilang mau menginap itu?" Mama tampak tak menduganya. Tentu saja, Jessika pun tidak menyangka.
"Iya ma. Makanya aku kaget, tadi aku langsung ke rumah sakit." Mama mengangguk mengerti. "Ya udah ma, aku mau ke kamar mau kabarin keluarganya dulu."
Jessika masuk ke kamarnya, melepaskan jaketnya. Setelah duduk di sisi ranjang, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Arga dan langsung meneleponnya.
Jessika memutuskan untuk mengirim pesan saja, tapi cuma ceklis satu. Mungkin saja ponselnya sengaja dimatikan karena sudah malam. Jadi dia memutuskan untuk tidur saja sekarang. Besok ia akan mencoba menghubunginya lagi sambil memberitahukan teman yang lain.
***
Jam 7 pagi di rumah sakit, El masih setia menggenggam tangan Luna dan duduk disampingnya. Walaupun dengan mata terpejam. Semalaman ia menunggu, berharap Luna akan segera bangun. Tapi tampaknya Luna masih belum mau membuka matanya.
En dan Mami masuk ke ruangan membawakan baju ganti dan makanan untuk El.
El terbangun karena mendengar suara berisik. "Mami sama kakak kapan datang?"
"Baru saja." Mami menyiapkan makanan untuk El di atas meja. "Sini, kamu makan dulu." Mami menepuk lembut bagian sofa kosong tepat di sebelahnya.
El menghampiri mami kemudian makan dalam diam. Banyak hal melintas dalam benaknya.
"Habis makan kamu mandi." En meletakkan kantung berisi baju ganti di sebelah El.
"Nanti saja, kak. Aku mau tunggu Luna bangun dulu."
"Kamu harus mandi El. Lihatlah cermin dan sadarlah kalau kamu bahkan lebih mengerikan daripada artis komedi di TV." En menekankan nada pada kalimat selanjutnya. "KAMU-GA-GANTENG-LAGI."
El cuma melengos malas.
"Mandi sana, kalau kamu ga mau Luna mencari cowok lain yang lebih muda dan lebih tampan dari kamu."
"Kakak!" El tidak suka mendengarnya.
"Mandi, El. Kamu bau, dan baju kamu belum diganti dari kemarin. Sudah kotor. Kamu mau memberikan kuman penyakit ke Luna?" Mami menengahi anak-anaknya.
__ADS_1
El bangkit dengan kesal dan menuju ke kamar mandi.
"Yang lama, El. Sampai wangi dan ganteng lagi!" En mendorong El masuk ke kamar mandi karena dia berjalan sangat lambat.
Selesai mandi, El keluar dengan pakaian lengkap dan wangi semerbak. Dia kemudian mengeringkan rambutnya dan menyisirnya rapi.
"Nah, gitu dong... Kamu seperti manusia akhirnya." En tersenyum puas.
El tidak memperdulikan perkataannya dan langsung menghampiri Luna. Dia menaikkan badannya ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Luna.
El menghadapkan badannya ke Luna, dia menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya dan tangan yang satu lagi sibuk mengelus kepala Luna lembut. "Luna cepat bangun, dong..."
"El, kamu berlebihan." En sudah ada di sisi ranjang, memperhatikan adiknya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Biarkan aja, kak. Siapa tau kalau begini dia cepat bangun." El memeluk Luna dengan sebelah tangannya.
"Luna itu cuma tidur, El. Bukan koma. Astaga.... Kalau begini kamu malah ganggu tidur dia." En mencoba menyadarkan adiknya itu.
Mami akhirnya berdiri dari kursinya. "Turun, El. Sempit, kasihan Luna. Kamu buat dia sesak."
"Turun, El!" En baru saja akan menyeret El turun sebelum dia tiba-tiba berhenti. "Luna bangun..."
En menunjuk jari tangan Luna yang bergerak sedikit. Lalu mata Luna terbuka perlahan.
"Luna!" El memekik senang. Dia langsung meletakkan kepalanya di bahu Luna, bersandar disana. "Kamu tidur lama sekali..."
"Kak El..." Luna mengelus kepala El yang bersandar di bahunya.
"Kamu tidur lama sekali Luna. Kakak khawatir nunggu kamu bangun..."
"Iya, maaf kak..." Luna masih mengelus kepala El. "Aku seperti bermimpi mendengar kakak memanggil..."
"Kalau begitu, kenapa kamu ga cepat bangun?"
"Ehm!" Sebuah dehaman terdengar. "Maaf Pak, bisa turun dulu? Saya mau periksa pasien..." Dokter sudah berdiri tepat di belakang mereka.
"Maaf dokter," El yang merasa malu langsung turun.
"Jadi bagaimana dokter? Sudah tidak apa-apa?"
Dokter mengangguk.
"Aku bisa pulang sekarang?" Luna bertanya pada dokter itu.
"Boleh. Tunggu perawat yang akan melepas jarumnya..."
Luna mengangguk dan membiarkan sang perawat melepas apa yang menempel di tangannya. Setelah dokter keluar, Luna langsung memanggil kak El.
"Kak El,"
"Iya, Luna?"
"Bisa kita pulang sekarang? Aku takut Jessika tungguin aku kalau kita pulang kemalaman." Luna menunjuk jam dinding yang menunjukkan angka 9.
"Luna, sekarang jam 9 pagi bukan jam 9 malam...."
Bersambung...
__ADS_1